KABARBURSA.COM – Danantara memulai langkah agresif pada Oktober 2025. Dalam tiga bulan pertama, lembaga ini akan menyalurkan investasi senilai USD10 miliar atau sekitar Rp165 triliun, mencakup kerja sama energi hulu dengan Pertamina, pembangunan desa haji di Arab Saudi, dan proyek pengolahan sampah menjadi listrik.
Skala ini menjadi injeksi modal terbesar yang pernah dilakukan entitas pemerintah di sektor migas nasional dalam waktu sesingkat itu.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menjelaskan kepada Reuters bahwa 80 persen dana tahap awal akan difokuskan pada proyek domestik, dengan porsi terbesar untuk eksplorasi dan pengembangan lapangan minyak serta gas Pertamina.
“Ini pertama kalinya kita deploy modal dalam skala besar. Dalam tiga bulan, targetnya sudah harus terserap USD10 miliar,” ujar Pandu dilansir Reuters.
Adapun fokus Danantara pada hulu energi dinilai strategis. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) tengah membuka peluang investasi baru lewat lelang tiga wilayah kerja (WK) migas: Gagah, Perkasa, dan Lavender. Dua WK pertama dibuka untuk kontraktor, sementara WK Lavender ditugaskan langsung ke Pertamina.
Porsi dana Danantara diyakini akan mempercepat pengembangan wilayah kerja tersebut sekaligus memperkuat target lifting minyak nasional yang stagnan di bawah 600 ribu barel per hari (bph).
Dari sisi pendanaan, Danantara memiliki tiga sumber utama. Pertama, dividen badan usaha milik negara (BUMN) senilai USD7 miliar yang dialokasikan untuk sektor strategis energi dan ketahanan nasional. Kedua, penerbitan patriot bonds Rp50 triliun untuk proyek transisi energi dan infrastruktur. Ketiga, pinjaman multi-currency USD10 miliar yang dikoordinasikan oleh DBS, HSBC, Natixis, dan Standard Chartered.
Bloomberg mencatat, fasilitas ini merupakan pinjaman tanpa jaminan terbesar di Asia Tenggara yang pernah diterbitkan oleh lembaga negara.
Bagi pemerintah, investasi ini menjadi tonggak pergeseran pembiayaan energi nasional dari pola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke model investasi institusional.
Danantara berperan bukan sebagai penyandang dana pasif, melainkan sebagai katalis bagi proyek dengan potensi pengembalian tinggi.
Dalam konteks ini, Pertamina menjadi mitra utama yang paling rasional karena memiliki cadangan besar, struktur operasi mapan, serta kapasitas eksekusi proyek yang luas.
Data Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan realisasi investasi sektor energi pada semester I 2025 mencapai Rp225,8 triliun. Artinya, komitmen Danantara senilai Rp165 triliun dalam satu kuartal setara dengan hampir 70 persen total investasi energi nasional selama periode yang sama.
Skala ini menunjukkan bahwa investasi sovereign fund mampu menggeser peta pendanaan energi Indonesia dari dominasi korporasi swasta menuju penguatan BUMN strategis.
Namun kecepatan penyaluran dana juga menjadi tantangan. Proyek hulu migas memiliki tingkat kompleksitas tinggi, sementara sebagian wilayah kerja masih menunggu izin teknis dan studi seismik.
Serapan dana yang terlalu cepat berisiko menimbulkan inefisiensi. Karena itu, sinergi antara Danantara dan Pertamina Hulu Energi (PHE) menjadi kunci agar penyaluran investasi tetap produktif dan terukur.
Di sisi pasar modal, langkah Danantara mempertegas arah baru kebijakan energi nasional. Pandu menegaskan komitmen lembaganya untuk juga berperan di pasar saham domestik sebagai penyedia likuiditas.
“Kita perlu pasar publik yang kuat untuk memungkinkan modal swasta masuk dan berputar kembali,” ujarnya.
Dengan visi itu, Danantara tidak hanya akan menjadi pemodal proyek fisik, tetapi juga penggerak likuiditas bagi saham-saham energi milik negara.
Dari sisi korporasi, arus modal USD10 miliar ke proyek hulu Pertamina akan menyebar ke sejumlah entitas di bawah grup. Pertamina Hulu Energi (PHE) menjadi penerima utama, karena mengelola sebagian besar wilayah kerja yang berpotensi dibiayai Danantara.
PHE menargetkan pendapatan USD13,7 miliar tahun ini, dan tambahan investasi akan mempercepat pengeboran serta optimalisasi sumur lama yang diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM 14/2025.
Dampak berikutnya akan dirasakan oleh PT Elnusa Tbk (ELSA) sebagai penyedia jasa pengeboran, seismik, dan well intervention bagi PHE. Proyek baru dan aktivasi sumur idle akan menambah kontrak kerja bagi Elnusa, memperlebar margin dan utilisasi aset.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) juga akan diuntungkan karena pengembangan lapangan gas baru seperti South Hub akan menambah volume distribusi dan kebutuhan infrastruktur pipa domestik.
Sementara itu, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berada di jalur yang berbeda tetapi tetap terkait. Fokus energi hulu Danantara pada 2025 diproyeksikan menjadi fondasi pembiayaan proyek energi panas bumi dalam fase berikutnya, yang akan menempatkan PGEO sebagai penerima manfaat langsung dari agenda diversifikasi energi Pertamina.
Dari semua anak usaha tersebut, PHE dan Elnusa akan menjadi penerima manfaat paling cepat, sementara PGAS dan PGEO berpotensi mencatat efek menengah hingga panjang.
Rantai nilai ini menjadikan Danantara bukan hanya pemodal, tetapi penggerak siklus bisnis Pertamina Group di bursa.
Pertamina di Tengah Ladang Baru dan Aturan Baru
Pusat investasi USD10 miliar yang disiapkan Danantara akan berlabuh di sektor hulu Pertamina. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan SKK Migas telah menyiapkan sejumlah proyek yang sedang dibuka untuk investasi eksternal sepanjang 2025.
Tiga wilayah kerja migas baru, yaitu WK Gagah, WK Perkasa, dan WK Lavender, resmi ditawarkan melalui lelang tahap pertama tahun ini. Dua di antaranya terbuka bagi kontraktor swasta, sementara WK Lavender ditugaskan langsung kepada Pertamina.
Dari sisi potensi, WK Gagah di Sumatra Selatan memiliki cadangan sekitar 173 juta barel minyak dan 1,1 triliun kaki kubik gas. WK Perkasa di Kalimantan Timur menyimpan potensi 228 juta barel minyak dan 1,3 triliun kaki kubik gas.
Pemerintah menawarkan skema bagi hasil baru yang lebih menarik, dengan porsi kontraktor mencapai 45 hingga 50 persen. Ketentuan ini menjadi sinyal bahwa proyek hulu kini mulai diarahkan untuk menarik investasi besar dan mempercepat eksplorasi.
Bagi Pertamina Hulu Energi (PHE), peluang ini datang pada saat yang tepat. Anak usaha Pertamina tersebut sedang memperluas aktivitas pengeboran dan eksplorasi untuk mengejar target pendapatan USD13,7 miliar tahun ini.
PHE memegang peran dominan dengan kontribusi 69 persen produksi minyak nasional dan 37 persen gas nasional. Tambahan modal dari Danantara akan membantu mempercepat pengembangan wilayah kerja baru serta mengoptimalkan sumur-sumur idle yang selama ini belum produktif.
Sinergi itu sejalan dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025, yang memberi ruang bagi kontraktor migas untuk bekerja sama dengan pihak eksternal dalam pengelolaan sumur tua dan lapangan idle. Aturan ini memungkinkan model kerja sama investasi tanpa harus melewati lelang wilayah kerja baru, sehingga mempercepat realisasi proyek.
Bagi Danantara, mekanisme tersebut menjadi jalan masuk yang efisien untuk menyalurkan dana dalam skala besar tanpa menunggu siklus eksplorasi penuh.
PHE juga tengah mengimplementasikan strategi efisiensi dan pembiayaan eksternal melalui metode cost recovery optimization yang dikenal sebagai “CR7”. Langkah ini berhasil menekan biaya operasional hingga Rp1,3 triliun pada semester pertama 2025.
Dengan tambahan modal dari Danantara, strategi efisiensi dan pendanaan eksternal itu akan mempercepat peningkatan produksi dan pengembangan lapangan baru.
Di sisi lain, SKK Migas menargetkan 15 proyek migas on-stream pada 2025 dengan total investasi sekitar USD753 juta. Mayoritas proyek tersebut dikelola oleh Pertamina Group, termasuk South Hub Project yang menggabungkan lapangan Rapak, Ganal, dan Muara Bakau.
Proyek ini ditargetkan menghasilkan tambahan pasokan gas sebesar 2.000 BSCF dan 19 juta barel kondensat. Dukungan Danantara di proyek ini akan memperkuat pasokan domestik dan memperpanjang umur produksi gas nasional.
Lembaga riset energi Wood Mackenzie menilai, Indonesia berisiko menghadapi defisit pasokan gas domestik jika proyek-proyek baru tidak segera dimonetisasi.
Saat ini permintaan gas stabil di kisaran 6 BCF per hari, sementara pasokan dari lapangan lama terus menurun. Dalam konteks itu, injeksi modal Danantara di proyek hulu Pertamina menjadi strategi penting untuk menghindari krisis pasokan gas dalam dekade mendatang.
Likuiditas, Valuasi, dan Reposisi Saham Energi
Kehadiran Danantara dengan investasi besar ke proyek hulu Pertamina tidak hanya memperkuat sisi produksi energi nasional, tetapi juga membawa dampak langsung ke pasar modal.
Komitmen modal senilai USD10 miliar dalam waktu singkat dinilai akan mengubah dinamika likuiditas saham-saham energi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pandu menegaskan bahwa lembaganya juga siap berperan aktif di pasar saham sebagai penyedia likuiditas. “Kita perlu pasar publik yang kuat agar modal swasta bisa masuk dan berputar kembali,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan strategi ganda Danantara: memperkuat pembiayaan proyek fisik dan memperdalam pasar modal domestik.
Saat ini, nilai transaksi harian BEI berada di kisaran USD1 miliar, jauh di bawah India yang mencapai USD10 hingga USD11 miliar per hari.
Dengan dana segar yang akan mulai beredar pada kuartal IV 2025, Danantara berpotensi menjadi katalis peningkatan volume transaksi terutama di saham energi milik negara.
Emiten seperti PGAS, PGEO, dan ELSA diperkirakan akan menjadi magnet baru bagi investor institusional.
Dari sisi valuasi, sektor energi Indonesia memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp2.084 triliun dengan rasio P/E 24,2 kali dan P/S 2,6 kali. Angka ini mencerminkan antusiasme pasar terhadap sektor energi, meski sebagian emiten masih diperdagangkan di bawah nilai intrinsik.
Dengan adanya tambahan proyek dan potensi kenaikan pendapatan dari investasi Danantara, saham-saham energi berpeluang mengalami re-rating pada paruh pertama 2026.
Bagi PGAS, dukungan modal negara melalui proyek South Hub akan menambah pasokan gas ke jaringan domestik dan meningkatkan regulated asset base. Kondisi ini dapat memperbaiki arus kas jangka panjang sekaligus mengurangi tekanan terhadap beban utang.
Untuk ELSA, lonjakan aktivitas eksplorasi dan pengeboran akan memperluas kontrak layanan lapangan, yang dapat memperkuat margin laba kotor perusahaan pada tahun depan.
Sementara PGEO, meski berada di sisi energi hijau, akan diuntungkan secara sentimen. Investor ESG global cenderung menyambut positif kolaborasi antara Danantara dan Pertamina karena memperlihatkan arah diversifikasi energi nasional.
Dengan tambahan kapasitas proyek panas bumi hingga 3 GW dalam pipeline, PGEO akan menjadi representasi langsung agenda transisi energi Indonesia di bursa. (*)