KABARBURSA.COM – Membaca ulang peluang PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, atau KRAS, menjadi hal yang menarik, terutama usai PT Danantara Asset Management menggelontorkan dana sebesar Rp4,93 triliun pada Desember 2025.
Dana tersebut tentu saja menjadi angin segar bagi KRAS untuk pemulihan operasi baja nasional yang sempat tertekand alam beberapa tahun terakhir. Apalagi, pendanaan ini dikemas dengan skema shareholder loan, dengan porsi terbesar dialokasikan untuk modal kerja jangka menengah. Sementara sisanya, digunakan untuk mendukung program restrukturisasi.
Dengan dana ini juga, KRAS dapat mengurangi ketergantungannya pada pembiayaan komersial berbiaya tinggi, khususnya untuk pengadaan bahan baku slab, hot rolled doil, dan cold rolled coil. Juga, perusahaan mampu meningkatkan utilisasi fasilitas utama seperti hot strip mill, cold rolling mill, hingga pabrik pipa.
Dan dalam laporannya, KRAS menargetkan penguatan kapasitas produksi. Rencana restart dan optimalisasi fasilitas produksi dianggap menjadi pendorong utama pertumbuhan volume dan pendapatan dalam dua tahun mendatang.
Kinerja Keuangan Masih Sensitif
Jika melihat dari kinerja keuangannya, ada perubahan yang sangat kontras dibanding tahun sebelumnya, terutama jika dilihat dari laporan kuartal III 2025. Setelah periode panjang tekanan kinerja dan rugi besar, angka-angka terbaru memperlihatkan pemulihan signifikan secara akuntansi dan operasional, meski belum sepenuhnya merata di seluruh indikator.
Dari sisi pendapatan, KRAS membukukan Rp4,02 triliun pada Q3 2025, meningkat dibanding Q2 2025 sebesar Rp3,73 triliun dan Q1 2025 Rp3,84 triliun. Kenaikan ini menegaskan adanya perbaikan volume penjualan yang sejalan dengan peningkatan utilisasi fasilitas produksi yang sebelumnya dilaporkan manajemen.
Dibanding Q3 2024 yang hanya Rp3,36 triliun, pertumbuhan pendapatan tahunan terlihat cukup tajam.
Namun, perbaikan top line ini belum sepenuhnya tercermin di kinerja operasional inti. Laba kotor Q3 2025 tercatat Rp314 miliar, lebih rendah dari Q2 2025 Rp347 miliar dan jauh di bawah Q4 2024 yang mencapai Rp674 miliar.
Beban pokok penjualan masih menyerap porsi besar pendapatan, sehingga margin kotor tetap tipis. Tekanan biaya ini membuat laba usaha Q3 2025 kembali negatif Rp253 miliar, setelah pada Q2 2025 juga masih mencatat rugi usaha Rp121 miliar.
Perubahan paling mencolok justru datang dari pos non-operasional. Pada Q3 2025, KRAS mencatat penghasilan lain-lain sebesar Rp2,43 triliun, berbalik drastis dari beban Rp836 miliar pada Q2 2025 dan Rp441 miliar pada Q1 2025.
Lonjakan inilah yang mendorong laba sebelum pajak menjadi Rp2,18 triliun dan berujung pada laba bersih tahun berjalan Rp2,12 triliun. Angka ini berbanding terbalik dengan rugi bersih Rp2,00 triliun pada Q3 2024.
Dari perspektif pasar, laba bersih ini membuat EPS kuartalan melonjak ke 109,41, setelah dua kuartal sebelumnya berada di zona negatif. Secara rasio, ROA Q3 2025 naik ke 4,50 persen dan ROE melonjak ke 28,22 persen, mencerminkan dampak besar dari laba bersih terhadap ekuitas.
Namun, rasio ini perlu dibaca dengan hati-hati karena pemulihan didorong oleh faktor non-operasional, bukan dari perbaikan penuh laba usaha.
Indikator lain menguatkan pembacaan tersebut. EBITDA Q3 2025 masih tercatat negatif Rp159,81 miliar, menunjukkan bahwa secara kas operasional, KRAS belum sepenuhnya pulih. Interest coverage ratio masih berada di -0,42, menandakan kemampuan menutup beban bunga dari laba operasional belum terbentuk secara konsisten.
Artinya, struktur keuangan masih sensitif terhadap tekanan biaya dan kewajiban utang.
Dana Danantara, Peluang atau Beban?
Secara faktual, masalah utama KRAS saat ini bukan lagi pada permintaan, melainkan pada kemampuan operasional menghasilkan laba yang berkelanjutan. Pendapatan Q3 2025 sudah naik ke Rp4,02 triliun, utilisasi fasilitas produksi meningkat, dan volume penjualan membaik.
Artinya, hingga saat ini mesin bisnis Krakatau Steel tidak mati, tetapi belum efisien. Hal ini terlihat dari laba usaha yang masih negatif Rp253 miliar dan EBITDA yang masih minus Rp159,8 miliar.
Di titik inilah peran dana Danantara menjadi krusial secara operasional.
Ditegaskan, dana tersebut bukan untuk ekspansi agresif, melainkan untuk modal kerja dan restrukturisasi. Dalam konteks KRAS, ini menyasar tiga bottleneck utama yang selama ini membuat operasional “mandek”.
Pertama, likuiditas operasional. Interest coverage ratio KRAS masih -0,42 pada Q3 2025. Ini berarti laba operasional belum mampu menutup beban bunga. Suntikan dana kerja memberi ruang bernapas untuk menjaga pasokan bahan baku, stabilitas produksi, dan arus kas harian, tanpa harus terus-menerus mengandalkan penjadwalan ulang kewajiban jangka pendek.
Kedua, efisiensi biaya produksi. Beban pokok penjualan masih menyerap hampir seluruh pendapatan. Dana restrukturisasi memungkinkan KRAS menata ulang rantai pasok, kontrak energi, dan biaya tetap, yang selama ini menjadi sumber margin tipis. Tanpa modal kerja yang memadai, efisiensi ini sulit dijalankan meski utilisasi naik.
Ketiga, transisi dari pemulihan akuntansi ke pemulihan operasional. Laba bersih Rp2,12 triliun pada Q3 2025 terutama datang dari penghasilan non-operasional Rp2,43 triliun. Dana Danantara berfungsi sebagai jembatan, agar perbaikan tidak berhenti di pos lain-lain, tetapi perlahan tercermin di laba usaha dan EBITDA.
Apakah ada risiko dana ini menjadi pemberat?
Secara struktur, risiko itu muncul hanya jika dana kerja digunakan untuk menutup kerugian tanpa perbaikan proses, atau jika beban keuangan baru ditambahkan tanpa penurunan biaya struktural. Namun, dari informasi yang tersedia, dana Danantara ditempatkan sebagai bagian dari skema restrukturisasi, bukan penumpukan utang komersial baru dengan tekanan bunga tinggi.
Karena itu, dana Danantara lebih rasional dibaca sebagai “modal pemulihan operasional”, bukan beban baru. Ia tidak otomatis membuat KRAS sehat, tetapi menghilangkan hambatan likuiditas yang selama ini membuat operasional tidak bisa bergerak optimal, meski permintaan dan utilisasi sudah membaik.
Bagaimana Pasar Membaca Peluang ini?
Pasar sepertinya cukup sensitif dengan kabar ini. Dalam layar perdagangan pada Selasa, 27 Januari 2026, KRAS bergerak menguat 4,24 persen ke level 344, dengan rentang intraday 324–354. Kenaikan ini tidak terjadi secara lonjakan tiba-tiba di akhir sesi, melainkan terbangun sejak awal perdagangan.
Saham dibuka di 326, lalu secara bertahap ditarik naik hingga bertahan di area atas. Pola seperti ini umumnya menunjukkan minat beli yang konsisten, bukan reaksi spekulatif jangka sangat pendek.
Pembacaan tersebut diperkuat oleh trade book intraday. Sejak menit awal, kurva buy bergerak lebih curam dibanding sell, dan jarak antara keduanya terus melebar. Titik paling menonjol terjadi menjelang pertengahan sesi pagi, ketika volume beli melonjak tajam tanpa diikuti lonjakan jual yang sepadan.
Hingga mendekati pukul 12.00 WIB, akumulasi beli sudah mendekati 200 ribu lot, sementara jual tertahan di kisaran 120 ribu lot. Selisih ini menunjukkan bahwa kenaikan harga ditopang oleh serapan nyata, bukan hasil tarik-ulur tipis.
Struktur orderbook juga mencerminkan sikap pasar yang berbeda dibanding fase sebelumnya. Di sisi bid, antrean beli terlihat rapat di 330–342, dengan konsentrasi terbesar di 336 dan 340. Artinya, pembeli bersedia menunggu dan menyerap di harga yang lebih tinggi dari pembukaan.
Sementara itu, di sisi offer, supply memang hadir, tetapi mayoritas menunggu di atas 350 hingga 362. Tidak terlihat upaya menekan harga di level berjalan, yang menandakan penjual memilih bersikap pasif.
Gambaran paling penting muncul dari broker summary. Di sisi pembelian, Stockbit Sekuritas Digital (XL) mencatat beli bersih sekitar Rp961,5 miliar dengan harga rata-rata 338. Mandiri Sekuritas (CC) menyusul dengan Rp487,1 miliar, dan MNC Sekuritas (EP) sekitar Rp433,7 miliar.
Ketiganya dikenal aktif pada fase awal perubahan sentimen, terutama ketika pasar mulai membaca peluang jangka menengah.
Sebaliknya, tekanan jual terbesar datang dari BJB Sekuritas (JB) dengan sekitar Rp3,5 miliar, diikuti UBS Sekuritas Indonesia (AK) dan OCBC Sekuritas (TP). Nilai jual ini relatif kecil jika dibandingkan daya serap di sisi beli, sehingga tidak membentuk tekanan distribusi agresif.
Dari kombinasi data tersebut, pasar tampak tidak membaca KRAS sebagai saham yang sudah “selesai naik”, melainkan sebagai saham yang sedang masuk fase penilaian ulang.
Peluang Harga Naik ke Area 400-410
Jika merujuk pada grafik PE Band (TTM), KRAS dalam periode panjang hingga pertengahan 2025 berada di zona PE negatif, seiring rugi bersih berkelanjutan. Lonjakan laba bersih pada kuartal III 2025 memang membuat PE bergerak naik secara tajam, tetapi kenaikan tersebut belum dibarengi pemulihan operasional yang sepadan.
Laba bersih pada periode tersebut ditopang oleh penghasilan lain-lain, sementara laba usaha dan EBITDA masih tercatat negatif, dan interest coverage ratio masih berada di bawah nol. Kondisi ini membuat PE menjadi sangat volatil dan kurang representatif sebagai acuan harga wajar jangka menengah.
Sebaliknya, PBV memberikan gambaran yang lebih stabil untuk membaca posisi pasar KRAS. Berdasarkan PBV Band tiga tahun, PBV KRAS saat ini berada di kisaran 0,89 kali, lebih tinggi dibanding rata-rata historis 0,53 kali.
Level ini juga sudah melewati +1 standar deviasi di 0,79 kali, namun belum mencapai zona ekstrem +2 standar deviasi di 1,05 kali. Secara statistik, ini menunjukkan bahwa harga KRAS sudah bergerak di atas rata-rata historisnya dan mulai memasuki area atas, tetapi belum berada pada fase over-valuation.
Dengan harga pasar di 344 dan PBV sekitar 0,89 kali, nilai buku per saham atau BVPS implisit dapat dihitung di kisaran 387. Dari angka tersebut, kisaran harga wajar berbasis PBV dapat diturunkan secara bertahap.
Pada PBV mean historis 0,53 kali, harga berada di kisaran 205, yang mencerminkan fase ketika pasar masih memandang KRAS sebagai emiten bermasalah. Pada PBV +1 standar deviasi 0,79 kali, harga berada di sekitar 305, menggambarkan fase pemulihan awal ketika risiko mulai berkurang tetapi laba operasional belum stabil.
Sementara pada PBV +2 standar deviasi 1,05 kali, harga berada di kisaran 406, yang secara statistik merepresentasikan fase re-rating penuh, di mana pasar mulai mengasumsikan restrukturisasi berjalan, utilisasi produksi berlanjut, dan laba operasional mulai terbentuk.
Dengan posisi harga saat ini di 344, KRAS sudah bergerak melewati zona mean dan +1 standar deviasi, sehingga dapat dibaca telah masuk fase penilaian ulang awal. Secara statistik, masih terdapat ruang menuju area 380–400, yang beririsan dengan PBV mendekati +2 standar deviasi.
Namun, struktur perdagangan menunjukkan bahwa supply mulai muncul di area atas, dan pasar belum sepenuhnya memperlakukan KRAS sebagai emiten dengan laba operasional stabil. Pergerakan harga yang terjadi sejauh ini lebih mencerminkan proses bertahap berbasis likuiditas, bukan akselerasi satu arah.
Secara keseluruhan, data PBV menunjukkan bahwa harga konservatif KRAS berada di kisaran 200–210, harga pemulihan awal di 300–310, dan harga optimistis secara statistik di 400–410.
Dengan harga saat ini di 344, pasar tidak lagi menempatkan KRAS sebagai saham distress, tetapi juga belum sepenuhnya memosisikannya sebagai emiten normal, melainkan masih berada di ruang transisi penilaian.(*)