KABARBURSA.COM - Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tengah berlari kencang, mencatat penguatan signifikan yang kembali menempatkannya dalam sorotan utama investor.
Lonjakan harga ini tidak hanya mencerminkan optimisme terhadap kinerja operasional perseroan, tetapi juga menyalakan kembali ekspektasi pasar akan pembagian dividen yang lebih besar.
Dengan rekam jejak konsistensi kenaikan dividen dalam tiga tahun terakhir, pasar membaca reli TLKM sebagai sinyal kuat bahwa imbal hasil bagi pemegang saham masih akan terus menguat.
TLKM Lari Kencang ke Level Rp3.320
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) kembali menunjukkan taringnya di lantai bursa. Pada perdagangan Senin, 25 Agustus 2025, harga saham Telkom ditutup menguat 2,47 persen ke level Rp3.320 per lembar.
Dalam sesi ini, saham sempat bergerak fluktuatif antara Rp3.250 hingga Rp3.350, sebelum akhirnya menutup perdagangan di zona hijau. Dengan kapitalisasi pasar yang kini mendekati Rp328 triliun, Telkom menegaskan posisinya sebagai salah satu emiten raksasa di Bursa Efek Indonesia.
Momentum kenaikan harga ini semakin menarik perhatian investor karena terjadi di tengah ekspektasi pasar terhadap dividen Telkom. Berdasarkan catatan historis, Telkom memang konsisten membagikan dividen dalam jumlah besar.
Pada tahun buku 2022, dividen per saham yang dibagikan mencapai Rp167,6 per lembar, lalu naik menjadi Rp178,5 per saham untuk tahun buku 2023, dan kembali melonjak ke Rp212,47 per saham untuk tahun buku 2024 yang dibayarkan pada Juli 2025.
Kenaikan dividen tersebut sejalan dengan kinerja keuangan Telkom yang terus bertumbuh, mencerminkan strategi diversifikasi bisnis digital dan konsolidasi anak usaha yang semakin matang.
Pertanyaan menarik muncul: apakah reli harga TLKM saat ini merupakan sinyal bagi dividen besar di masa depan?
Jika menengok pola historis, ada kecenderungan saham Telkom bergerak positif menjelang pembagian dividen. Misalnya, pada periode menjelang pembayaran dividen tahun 2023 dan 2024, saham TLKM sempat menguat karena investor mulai mengantisipasi imbal hasil dividen yang cukup tinggi.
Dengan dividend yield terkini di level 6,42 persen, salah satu yang paling atraktif di antara BUMN big caps, pasar tentu melihat peluang cuan ganda, baik dari dividen maupun potensi apresiasi harga.
Di sisi valuasi, TLKM masih berada pada posisi yang cukup rasional. Price to earnings ratio (PER) tercatat di angka 14,34 kali, level yang tidak bisa dibilang murah, tetapi masih wajar untuk saham blue chip dengan fundamental solid dan rekam jejak konsistensi dividen.
Yang lebih penting, pola kenaikan dividen dalam tiga tahun terakhir memberi sinyal bahwa manajemen Telkom memiliki komitmen untuk terus menjaga kebijakan bagi hasil kepada pemegang saham.
Dengan kinerja operasional yang tetap kokoh, terutama dari bisnis digital yang semakin menjadi penopang utama pertumbuhan, reli TLKM belakangan ini patut dibaca sebagai respons pasar terhadap prospek dividen yang kian tebal di masa depan.
Meski tentu fluktuasi jangka pendek bisa terjadi, arah jangka panjang saham Telkom masih menunjukkan karakter defensif sekaligus menjanjikan. Investor ritel maupun institusi tampaknya sepakat, lari kencang saham TLKM kali ini bukan sekadar euforia, melainkan gema dari prospek pembagian dividen besar yang terus terjaga.
Menerka Rentang Yield TLKM
Jika melihat tren historis, dividen Telkom menunjukkan pola pertumbuhan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir. Tahun buku 2022, Telkom membagikan Rp167,6 per saham. Tahun berikutnya, jumlah itu naik menjadi Rp178,5 per saham, dan melonjak signifikan menjadi Rp212,47 per saham untuk tahun buku 2024.
Artinya, ada kenaikan rerata sekitar 7–10 persen per tahun, dengan akselerasi lebih tinggi pada 2024.
Dengan harga saham saat ini di Rp3.320, dividend yield tercatat 6,42 persen. Jika Telkom mempertahankan tren kenaikan dividen tahunan di kisaran 7–10 persen, maka dividen tahun buku 2025 berpotensi mencapai sekitar Rp225–235 per saham.
Mengacu ke harga saham terkini, yield yang dihasilkan bisa bergerak di rentang 6,7–7 persen, level yang sangat menarik bagi investor, terutama di tengah kondisi suku bunga tinggi dan volatilitas pasar global.
Kenaikan dividen ini tentu tak lepas dari kemampuan Telkom menghasilkan laba yang stabil. Dengan portofolio bisnis digital, data center, hingga ekspansi Telkomsel dan Indihome yang kian terintegrasi, prospek profitabilitas masih cukup menjanjikan.
Apalagi, Telkom memiliki kebiasaan untuk menjaga payout ratio yang relatif stabil, sehingga setiap kenaikan laba hampir pasti tercermin pada peningkatan dividen.
Dengan demikian, reli harga TLKM belakangan ini tidak hanya mencerminkan optimisme terhadap kinerja operasional, tetapi juga ekspektasi pasar akan dividen yang semakin tebal.
Bagi investor jangka panjang, kombinasi capital gain dan dividend yield yang berpotensi lebih tinggi menjadikan Telkom tetap sebagai salah satu saham defensif paling menarik di IHSG.
Sinyal Beli jadi Rekomendasi untuk Investor
Saham Telkom Indonesia (TLKM) sedang berada dalam sorotan pasar, dan sinyal teknikal terbaru memperlihatkan dominasi sentimen positif yang sangat kuat. Hampir semua indikator dan moving average kompak mengarah pada sinyal beli, sebuah tanda bahwa momentum bullish masih terjaga.
Pada perdagangan 25 Agustus 2025 pukul 07:23 GMT, indikator teknikal merangkum posisi “sangat beli”, dengan 9 indikator menunjukkan tren akumulasi, hanya 2 yang memberi sinyal jual, dan tidak ada yang netral. RSI berada di 68, masih di bawah area overbought, sehingga ruang penguatan harga masih terbuka.
MACD menunjukkan perbedaan positif yang kian melebar, sementara ADX di 41 menandakan tren bullish yang solid. Bahkan indikator klasik seperti CCI, Williams %R, hingga Bull/Bear Power semuanya mengarah ke arah beli.
Hanya Stochastic RSI dan Ultimate Oscillator yang memberi sinyal koreksi jangka pendek, kemungkinan karena pasar sesekali melakukan konsolidasi setelah kenaikan cepat.
Dari sisi moving average, dukungan tren jangka pendek hingga panjang terlihat bulat. Seluruh MA, baik sederhana maupun eksponensial, dari periode 5 hingga 200 hari, berada di posisi beli.
Harga terbaru TLKM sudah konsisten menembus level resistance historis, dengan MA20 di sekitar 3.100 dan MA50 di bawah 2.900, menegaskan bahwa tren kenaikan harga tidak hanya sekadar spekulasi, melainkan hasil dorongan akumulasi berkelanjutan.
Pivot points menunjukkan area support terdekat berada di 3.210, sementara level resistance kuat berikutnya ada di 3.280 hingga 3.350. Dengan volatilitas ATR yang tinggi, investor harus mewaspadai fluktuasi harian, namun tren jangka menengah jelas masih condong ke utara.
Faktor fundamental turut memperkuat narasi bullish ini. Telkom dikenal sebagai salah satu emiten BUMN dengan kinerja stabil, ditopang bisnis digital, infrastruktur telekomunikasi, dan anak usaha Telkomsel yang menjadi mesin laba utama.
Isu mengenai pembagian dividen besar pada tahun ini semakin menambah daya tarik, karena investor institusional maupun ritel cenderung memburu saham dengan imbal hasil dividen yang menarik, apalagi di tengah suku bunga global yang mulai turun.
Dari sisi keuangan, Telkom konsisten membukukan laba bersih yang solid dengan arus kas operasional yang kuat, sehingga memberi ruang untuk ekspansi sekaligus menjaga komitmen membayar dividen. Hal ini menciptakan kombinasi antara potensi capital gain dari apresiasi harga dan pendapatan pasif dari dividen.
Dengan kondisi teknikal yang masih menunjang, fundamental yang sehat, serta sentimen pasar yang tengah dipacu oleh isu dividen jumbo, rekomendasi saat ini cenderung tetap “buy on strength”.
Investor yang sudah mengoleksi saham ini sebaiknya mempertahankan posisi, sementara bagi yang masih menunggu di luar, peluang masuk masih terbuka selama harga bergerak di atas level support 3.200.
Namun, perlu dicatat bahwa volatilitas tinggi bisa memicu koreksi sesaat, sehingga disiplin pada manajemen risiko tetap penting. Secara keseluruhan, TLKM saat ini berada dalam jalur bullish yang solid, dan masih menjadi salah satu pilihan utama di sektor telekomunikasi Indonesia.(*)