Asing Masuk Saat Ritel Masih Debat Right Issue
Di tengah riuh perdebatan ritel soal right issue jumbo dan harga pelaksanaan Rp300, pergerakan pasar justru menunjukkan cerita yang berbeda. Data transaksi sejak awal Januari 2026 memperlihatkan bahwa modal asing mulai masuk lebih awal ke IRSX, ketika sentimen publik masih bercampur antara euforia dan kekhawatiran.
Ringkasan broker periode 1 Januari hingga 15 Januari 2026 menunjukkan kecenderungan yang jelas ke arah big accumulation. Bukan sekadar beli sesekali, melainkan akumulasi bertahap dengan nilai yang konsisten. Empat broker asing—kita sebut saja BNI Sekuritas, Ciptadana Sekuritas Asia, Mirae Asset Sekuritas, dan MNC Sekuritas—muncul sebagai pembeli dominan dalam rentang waktu tersebut.
BNI Sekuritas tercatat mengoleksi sekitar Rp655,3 juta, dengan rata-rata harga di kisaran Rp593 per saham. Disusul Ciptadana Sekuritas Asia yang mencatatkan pembelian sekitar Rp248 juta di rata-rata harga Rp620, kemudian Mirae Asset Sekuritas dengan nilai sekitar Rp205 juta di kisaran Rp600, serta MNC Sekuritas yang ikut masuk sekitar Rp141,8 juta dengan harga rata-rata Rp567. Angka-angka ini bukan transaksi satu hari, melainkan akumulasi bertahap selama dua pekan perdagangan.
Pergerakan 15 Januari 2026 bisa dibaca sebagai potongan puzzle terakhir yang melengkapi cerita dua pekan sebelumnya. Kalau data akumulasi sejak 1 Januari menunjukkan asing mulai masuk pelan-pelan dan disiplin, maka transaksi di tanggal 15 Januari ini memperlihatkan fase lanjutan dari proses itu.
Di hari itu, UBS Sekuritas muncul sebagai pembeli terbesar dengan nilai sekitar Rp6 miliar, menyerap 82,1 ribu lot di harga rata-rata Rp725 per saham. Ini penting dicatat, karena harga rata-rata UBS sudah berada di level tertinggi harian, alias beli saat harga sudah naik signifikan, bukan nyomot di bawah. Pola seperti ini biasanya bukan strategi scalping harian, melainkan konfirmasi posisi bahwa level harga tersebut masih dianggap layak.
Di belakang UBS, Mandiri Sekuritas juga agresif dengan pembelian sekitar Rp2,8 miliar atau 37,8 ribu lot, di harga rata-rata Rp717. Lalu JP Morgan Sekuritas menyusul dengan nilai sekitar Rp700 juta di harga rata-rata Rp724, dan Mirae Asset masuk lebih kecil sekitar Rp63,9 juta di kisaran Rp717. Empat inisial ini membentuk satu kesan yang sama: mayoritas pembelian terjadi di harga atas, bukan di harga bawah.
Di sisi penjual, tidak terlihat ada satu broker besar yang benar-benar “muntah barang”. Penjualan tersebar tipis, mulai dari Sucor Sekuritas sekitar Rp238,4 juta, lalu Indo Premier Sekuritas, Trimegah Sekuritas, dan Tuntun Sekuritas dengan nilai puluhan juta. Artinya, tekanan jual tidak datang dari satu sumber dominan, melainkan cenderung ritelan atau profit taking kecil-kecilan.
Kalau data ini dibaca dalam konteks yang lebih luas, maka maknanya jadi lebih jelas. Selama dua pekan awal Januari, asing sudah lebih dulu mengoleksi di kisaran Rp560–620, seperti terlihat dari akumulasi BNI Sekuritas, Ciptadana Sekuritas, Mirae Asset, dan MNC Sekuritas.
Kalau ditarik lebih detail ke peta broker distribution per 15 Januari 2026, arus besar di IRSX terlihat makin terang. Dari sisi pembeli, Semesta Indovest Sekuritas tampil sebagai pemain paling dominan dengan nilai transaksi sekitar Rp32,74 miliar. Angka ini jauh melampaui broker lain dan memberi sinyal kuat bahwa ada satu tangan besar yang sejak awal Januari konsisten menyerap saham, bukan cuma ikut-ikutan euforia satu hari.
Di posisi berikutnya ada Stockbit Sekuritas, yang juga masuk agresif meski skalanya lebih kecil dibanding Semesta Indovest, yakni Rp30,86 miliar. Aliran beli Stockbit Sekuritas memperlihatkan pola serupa, yakni masuk bertahap di rentang harga yang terus naik, bukan menunggu koreksi dalam.
Sementara itu, KB Valbury Sekuritas melengkapi tiga besar pembeli dengan kontribusi Rp22,30 miliar. Meski nilainya di bawah Semesta dan Stockbit, kehadiran Valbury menambah lapisan keyakinan bahwa akumulasi tidak berdiri sendiri. Ada lebih dari satu broker besar yang bergerak searah, membentuk klaster akumulasi yang cukup solid.
Harga Naik, Asing Sudah Untung?
Penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, menjadi titik penting dalam membaca implikasi akumulasi ini. Saham IRSX ditutup di level Rp725, melonjak 25 persen dalam sehari dari area sebelumnya dan secara teknikal membentuk gap kenaikan yang tegas.
Jika dibandingkan dengan harga rata-rata akumulasi asing sejak awal Januari, posisi mereka sudah berada di zona floating profit. Ambil contoh BNI Sekuritas yang mengoleksi di kisaran Rp593, atau MNC Sekuritas di area Rp567—kenaikan ke Rp725 berarti potensi keuntungan kertas sudah berada di rentang 15–28 persen.
Pertanyaannya menjadi relevan, kalau sudah untung, kenapa belum keluar?
Jawabannya justru terletak pada karakter akumulasi itu sendiri. Asing biasanya tidak masuk lebih awal hanya untuk mengejar lonjakan singkat satu-dua hari. Terlebih, IRSX sedang menuju fase aksi korporasi besar. Right issue dengan nilai sekitar Rp3,7 triliun, disertai waran, bukan peristiwa kecil yang selesai dalam hitungan sesi.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga ke Rp725 belum tentu dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pemanasan harga sebelum fase-fase penting berikutnya, termasuk jelang ex-date right issue.
Masuknya asing di fase awal seperti ini memberi implikasi penting bagi pembacaan risiko. Pertama, ini memperkecil kemungkinan bahwa IRSX hanya dimainkan sebagai gorengan musiman murni tanpa rencana lanjutan. Modal asing cenderung menghindari saham yang selesai ceritanya tepat setelah aksi korporasi, kecuali ada ruang valuasi dan narasi lanjutan.
Kedua, akumulasi awal membuka kemungkinan adanya strategi bertahap, baik untuk mengawal harga jelang right issue maupun untuk memanfaatkan perubahan struktur valuasi pasca suntikan ekuitas baru. Dengan asumsi dana segar benar-benar masuk dan digunakan untuk ekspansi, pasar punya alasan untuk mulai menyesuaikan harga jauh sebelum right issue dieksekusi.
Namun, ini bukan tanpa risiko. Kenaikan cepat juga berarti volatilitas akan meningkat. Selisih antara harga pasar dan harga pelaksanaan right issue bisa memicu fase konsolidasi keras, terutama jika ritel masuk terlalu agresif di harga tinggi tanpa kesiapan modal tambahan.
Dari sisi teknikal, pergerakan IRSX sejak awal Januari hingga penutupan Kamis, 15 Januari 2026, memperlihatkan satu pola yang relatif rapi dan jarang terjadi pada saham berkarakter spekulatif. Harga IRSX ditutup di Rp725, melonjak 25 persen atau naik 145 poin dalam satu hari perdagangan.
Yang menarik, lonjakan ini terjadi setelah harga sempat bergerak mendatar cukup lama di bawah area Rp600, membentuk fase akumulasi yang relatif tenang. Level terendah sebelumnya tercatat di kisaran Rp505, sebelum harga perlahan naik, membentuk higher low bertahap.
Secara teknikal, harga berhasil menembus dan bertahan di atas MA 20 dan MA 100, dua garis rata-rata yang biasanya menjadi penentu arah tren jangka pendek hingga menengah. MA 20 yang sempat menjadi resistance kini berubah fungsi menjadi support dinamis, sementara MA 100 yang berada lebih rendah memperlihatkan bahwa tren menengah sudah berbalik naik.
Dari sisi indikator volatilitas, Bollinger Band (BB 20) terlihat melebar tajam di sesi kenaikan. Pelebaran band ini menandakan ekspansi volatilitas yang kuat, sebuah ciri khas ketika saham masuk fase impulsif. Harga juga berada di area upper band, menunjukkan momentum beli yang dominan. Namun, posisi ini sekaligus menandakan bahwa dalam jangka sangat pendek, ruang koreksi teknikal tetap terbuka jika tekanan beli mulai melambat.
Strategi Investor Ritel
Jika bagian teknikal menjelaskan bagaimana IRSX bergerak, maka analisis dari praktisi pasar modal sekaligus Founder Mikirduit, Surya Rianto, ini memberi konteks ke mana arah risiko dan valuasi akan berubah setelah right issue benar-benar terjadi.
Surya memulai dengan memotret dampak struktural dari right issue terhadap neraca perusahaan. Menurut perhitungannya, skema right issue IRSX berpotensi mengubah wajah valuasi secara drastis. “Skema right issue IRSX tersebut, perseroan akan mencatatkan total ekuitas baru sekitar Rp4 triliun. Dari situ, nilai buku per saham sekitar Rp216 per saham,” ujar Surya dalam analisanya yang dikutip Jumat, 16 Januari 2026.
Angka ini menjadi kunci karena selama ini IRSX diperdagangkan dengan PBV yang sangat tinggi, jauh di atas rata-rata emiten sejenis. Setelah right issue, struktur itu berubah. Surya menjelaskan, dengan mengacu pada harga saham per 14 Januari 2026, harga teoritis IRSX berada di kisaran Rp393 per saham. Dengan asumsi tersebut, rasio price to book value turun tajam.
“Sehingga tingkat price to book value dengan asumsi harga teoritis menjadi 1,82 kali dibandingkan dengan 12 kali pada saat ini,” kata Surya.
Dari titik ini, ia menyusun dua skenario valuasi. Skenario konservatif menempatkan IRSX pada PBV wajar 2,5 kali, yang berarti harga wajar berada di sekitar Rp540 per saham. Namun jika IRSX disetarakan dengan kompetitor di bisnis sejenis, yakni PT Digital Mediatama Maxima Tbk atau DMMX yang diperdagangkan di kisaran PBV 4,2 kali, maka ruang valuasi bisa melebar jauh.
“Jika menggunakan asumsi wajar setara dengan PBV DMMX sekitar 4,2 kali, berarti sekitar Rp907 per saham,” ujarnya.
Namun, Surya menegaskan bahwa angka-angka tersebut bukan janji kenaikan, melainkan kerangka baca risiko dan ekspektasi. Di sinilah strategi investor ritel mulai bercabang.
Dua Strategi yang Bisa Dipilih Investor Ritel
Dalam analisisnya, Surya memetakan dua pendekatan utama yang bisa dipilih investor ritel menghadapi right issue IRSX. Strategi pertama adalah bermain di fase pra-right issue, dengan pendekatan trading. Surya melihat ada pola yang berulang di saham-saham yang melakukan right issue jumbo.
“Dengan skema right issue IRSX, kami menilai ada potensi bergerak seperti INET. Ada potensi naik tinggi jelang ex-date, tapi nanti ada konsolidasi karena selisih dengan harga pelaksanaan meningkat,” jelasnya.
Ia menilai, pengendali tidak selalu berniat menyerap seluruh hak saham baru milik ritel. Dalam kondisi seperti itu, harga saham sering kali diangkat lebih dulu sebelum masuk fase konsolidasi. Dalam skenario ini, strategi yang ia anggap paling simpel adalah trading hingga mendekati periode ex-date.
“Strateginya trading sampai periode 5 Maret 2026, bisa keluar masuk atau pantau jika IRSX dibawa ke sekitar Rp470–490,” ujar Surya.
Strategi kedua adalah pendekatan mid-term dengan tetap menyiapkan dana untuk mengeksekusi hak saham baru. Namun, strategi ini datang dengan konsekuensi yang tidak ringan. Surya memberi ilustrasi konkret. “Misalnya, kamu punya 800 lot di harga per 14 Januari 2026 dengan modal Rp46,4 juta, berarti kamu harus siapkan modal setara Rp48 juta untuk eksekusi 1.600 lot hak saham barunya,” katanya.
Artinya, total dana yang harus disiapkan hampir dua kali lipat, dengan harapan ada kenaikan harga setelah proses right issue selesai. Namun, Surya memberi catatan penting. “Meski kami menilai ada risiko besar jika saham melakukan right issue jumbo dan ritel banyak eksekusi saham barunya, yakni harga saham cukup berat untuk naik ke depannya,” kata dia.
Ia menyarankan investor juga mencermati bagaimana saham lain seperti INET bergerak setelah right issue, sebagai pembanding dinamika pasca-aksi korporasi.
IRSX pada akhirnya lebih tepat dibaca sebagai cerita momentum, bukan kisah fundamental jangka panjang yang sudah matang. Daya tariknya hari ini bukan terletak pada kinerja bisnis yang sudah solid, melainkan pada kombinasi struktur aksi korporasi yang besar, perubahan valuasi yang signifikan, serta pergerakan modal yang tampak datang lebih dulu sebelum cerita resmi dimulai.(*)