KABARBURSA.COM – Ada kabar menarik dari PT Bukalapak.com Tbk atau BUKA. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada Jumat, 6 Februari 2026, BUKA berencana melanjutkan aksi pembelian kembali (buyback) saham.
Aksi ini merupakan lanjutan dari program buyback tahap II yang berlangsung pada 6 Oktober hingga 7 Juli 2025. Namun yang menjadi pertanyaan, aksi buyback tersebut tidak memberikan hasil signifikan terhadap gerak harga saham.
Sepanjang tahun lalu, saham BUKA justru tergerus hingga 11,39 persen secara tahunan atau year to date. Bahkan, jika ditarik lebih dekat, yaitu dalam waktu enam bulan terakhir, harganya terkoreksi lebih dari 16 persen.
Fungsi Buyback Bagi Saham Suatu Emiten
Tujuan buyback saham bagi suatu emiten pada dasarnya berkaitan dengan pengelolaan nilai perusahaan, struktur permodalan, dan stabilitas pasar. Buyback biasanya dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham ketika terjadi tekanan pasar yang tidak mencerminkan fundamental perusahaan.
Dalam kondisi volatilitas tinggi atau sentimen negatif eksternal, emiten dapat masuk sebagai pembeli untuk meredam tekanan jual dan mencegah penurunan harga yang terlalu dalam.
Buyback juga bertujuan meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Dengan berkurangnya jumlah saham beredar, laba per saham atau earnings per share (EPS) secara matematis akan meningkat, meskipun laba bersih perusahaan tidak berubah. Efek ini sering digunakan untuk memperbaiki rasio keuangan dan persepsi valuasi.
Dari sisi struktur modal, buyback menjadi alat untuk mengoptimalkan penggunaan kas. Jika perusahaan memiliki likuiditas berlebih dan peluang ekspansi terbatas dalam jangka pendek, membeli kembali saham dianggap lebih efisien dibandingkan menahan kas yang tidak produktif.
Buyback juga kerap dimanfaatkan sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan. Ketika manajemen membeli sahamnya sendiri, pasar sering membaca langkah tersebut sebagai keyakinan bahwa harga saham saat ini berada di bawah nilai wajarnya.
Dalam konteks kepemilikan, buyback dapat digunakan untuk mengendalikan struktur pemegang saham, di mana hasilnya menjadi treasury stock dan tidak memiliki hak suara. Jadi, secara relatif aksi ini meningkatkan porsi kepemilikan pemegang saham eksisting, termasuk pemegang saham pengendali, tanpa harus membeli saham di pasar.
Buyback juga berfungsi sebagai alat manajemen volatilitas. Emiten dapat melakukan pembelian bertahap untuk menyerap suplai berlebih di pasar, terutama ketika tekanan jual berasal dari faktor non-fundamental seperti forced selling, panic selling, atau rotasi portofolio institusi.
Namun penting dicatat, buyback bukan solusi fundamental. Efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi keuangan emiten, timing pelaksanaan, dan kejelasan tujuan. Jika fundamental perusahaan lemah atau arus kas terbatas, buyback justru berisiko memperburuk posisi keuangan.
Singkatnya, buyback bertujuan menjaga harga, meningkatkan nilai pemegang saham, mengoptimalkan kas, memberi sinyal kepercayaan manajemen, dan menstabilkan struktur kepemilikan—selama dilakukan secara disiplin dan transparan sesuai regulasi pasar modal.
Sisa Dana Buyback
Aksi buyback kali ini dilakukan BUKA lantaran masih memiliki sisa dana buyback sebesar Rp280,99 miliar. Dalam prospectus terbarunya, BUKA menyiapkan total anggaran sebesar Rp1,9 triliun untuk pembelian kembali saham.
Adapun buyback tahap ketiga ini akan dilaksanakan pekan depan, 9 Februari 2026, hingga 8 Mei 2028. Adapun harga pembelian yang dianggap wajar dan menguntungkan perusahaan.
“Sumber dana yang akan digunakan untuk pembelian kembali saham berasal dari optimalisasi kas internal Perseroan,” kata manajemen dalam keterbukaan informasinya, hari ini.
Fundamental Bukalapak
Gambaran fundamental PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) saat ini menunjukkan profil yang tidak lazim dibandingkan emiten teknologi lain di Bursa Efek Indonesia (BEI). Secara valuasi, BUKA berada pada posisi yang sangat terdiskon jika dilihat dari metrik konvensional.
Namun di saat yang sama, karakter bisnisnya sedang berada dalam fase transisi besar, terutama dari sisi struktur laba dan pengelolaan kas.
Dari sisi valuasi pasar, rasio price to earnings BUKA terlihat sangat rendah. PE annualised berada di level 3,67 kali, sementara PE TTM tercatat sekitar 7,27 kali, lebih murah dibanding median PE IHSG yang berada di kisaran 8,70 kali.
Earnings yield mencapai 13,76 persen. Secara matematis, laba bersih saat ini cukup besar terhadap kapitalisasi pasar. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp14,23 triliun dan enterprise value yang justru negative, sekitar minus Rp2,86 triliun, struktur valuasi BUKA sangat dipengaruhi oleh posisi kas yang besar.
Neraca Keuangan Kuat
Faktor kunci di balik anomali ini adalah neraca keuangan yang sangat kuat. Per akhir kuartal, BUKA memiliki kas sekitar Rp17,11 triliun, jauh melampaui total liabilitas yang hanya sekitar Rp852 miliar. Tidak adanya utang jangka pendek maupun jangka panjang membuat perusahaan berada dalam posisi net cash penuh.
Net debt yang negatif mencerminkan bahwa nilai kas saja sudah melebihi nilai perusahaan secara keseluruhan di pasar. Current ratio dan quick ratio yang berada di atas 32 kali memperlihatkan likuiditas yang sangat longgar, jauh di atas kebutuhan operasional normal.
Struktur solvabilitas ini membuat risiko finansial BUKA sangat rendah. Total liabilities terhadap ekuitas hanya sekitar 0,03 kali, dengan financial leverage 1,03 kali dan interest coverage mencapai lebih dari 129 kali.
Altman Z-Score yang berada di level 36,09 menempatkan BUKA jauh dari risiko kebangkrutan. Secara neraca, perusahaan berada dalam kondisi yang sangat aman dan defensif.
Laba Bersih Melonjak Tajam
Dari sisi kinerja laba, BUKA menunjukkan pola yang sangat fluktuatif secara historis. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan kerap mencatatkan rugi bersih, terutama pada 2020 hingga 2024. Namun, perubahan signifikan terlihat pada 2025, ketika laba bersih tahunan melonjak secara tajam hingga sekitar Rp3,88 triliun secara annualised dan Rp1,96 triliun secara TTM per kuartal III.
Lonjakan ini terutama tercermin pada margin yang terlihat sangat tinggi pada kuartal terakhir, dengan net profit margin kuartalan tercatat di atas 100 persen, sebuah angka yang mengindikasikan adanya kontribusi pendapatan non-operasional atau keuntungan satu kali, bukan murni dari aktivitas inti marketplace.
Hal ini sejalan dengan struktur laporan arus kas dan laba operasional. EBITDA TTM tercatat sekitar Rp1,26 triliun, sementara laba bersih mencapai Rp1,96 triliun, menunjukkan adanya faktor di luar operasi yang memperbesar laba bersih.
Free cash flow TTM berada di kisaran Rp252 miliar, relatif kecil dibandingkan laba bersih, memperkuat indikasi bahwa profitabilitas saat ini belum sepenuhnya ditopang arus kas operasional yang kuat.
Price to cash flow dan price to free cash flow yang masing-masing berada di atas 50 kali mencerminkan bahwa dari sisi arus kas murni, valuasi BUKA tidak semurah rasio PE-nya.
Dari sisi efisiensi operasional, perputaran aset BUKA masih rendah dengan asset turnover sekitar 0,23 kali. Model bisnisnya belum optimal dalam memonetisasi asetnya. Namun, siklus kas terbilang singkat dengan cash conversion cycle sekitar 16,78 hari.
Hal ini ditopang oleh inventory turnover yang tinggi dan days receivable yang relatif rendah. Di sini, sisi pengelolaan modal kerja BUKA cukup disiplin dan efisien.
Dari perspektif profitabilitas struktural, return on equity dan return on assets masih berada di kisaran satu digit, masing-masing sekitar 7,75 persen dan 7,49 persen. Angka ini belum mencerminkan perusahaan teknologi dengan daya ungkit pertumbuhan tinggi, melainkan lebih menyerupai profil perusahaan kas besar yang mulai menghasilkan laba namun belum konsisten.
Return on invested capital dan return on capital employed yang berada di bawah 5 persen menegaskan bahwa efisiensi penggunaan modal masih menjadi pekerjaan rumah utama.
Respon Pasar terhadap Saham BUKA
Pergerakan saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, memperlihatkan respons pasar yang cenderung berhati-hati. BUKA ditutup melemah 1,42 persen ke level 139, turun dua poin dari penutupan sebelumnya di 141.
Pelemahan ini terjadi setelah saham sempat bergerak terbatas di rentang 137 hingga 140. Di sini BUKA tidak mampu mempertahankan harga di area atas.
Sejak pembukaan di level 139, pergerakan harga BUKA relatif datar dan cenderung tertekan. Upaya naik ke area 140 tidak berlanjut menjadi penguatan berkelanjutan, sementara tekanan jual muncul bertahap hingga harga beberapa kali menyentuh level terendah harian di 137.
Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai dengan volume sekitar 801 ribu lot dan nilai transaksi mencapai Rp11,1 miliar. Frekuensi transaksi yang menembus 1.300 kali memperlihatkan partisipasi pasar yang luas, meski arah pergerakan harga tetap condong ke bawah.
Antrean Jual Mendominasi
Komposisi orderbook memperlihatkan ketimpangan tipis, di mana antrean jual sedikit lebih dominan di kisaran 139–141, sementara antrean beli menumpuk di level 137–138, menandakan pasar masih mencari titik keseimbangan harga.
Dari sisi arus broker, pola transaksi mengonfirmasi karakter perdagangan yang cenderung distribusi ringan. Di sisi beli, broker Mandiri Sekuritas (CC) menjadi pembeli terbesar dengan nilai sekitar Rp1,5 miliar di harga rata-rata 141, disusul UBS Sekuritas (AK) dan MNC Sekuritas (EP).
Namun tekanan datang dari sisi jual yang juga cukup agresif, dengan broker BCA Sekuritas (SQ) mencatatkan nilai jual sekitar Rp2,9 miliar di harga rata-rata yang sama, diikuti CGS International (YU) dan Stockbit Sekuritas (XL).
Ketimpangan ini membuat aliran transaksi bersih belum mampu mendorong harga kembali ke zona hijau.
Ke Mana Arah Gerak Selanjutnya?
Pergerakan saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) saat ini berada dalam fase yang krusial setelah tekanan jual beruntun mendorong harga turun ke area terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Pada perdagangan hingga siang hari ini, BUKA ditutup di kisaran 138–139, setelah sempat menyentuh level terendah intraday di sekitar 136. Pergerakan ini menandai pelemahan yang relatif tajam jika dibandingkan dengan fase konsolidasi panjang yang sebelumnya terbentuk di rentang lebih tinggi.
Jika ditarik dari struktur grafik harian, arah gerak BUKA sejak puncak di area 200–206 pada Oktober lalu telah membentuk tren turun yang rapi. Setiap upaya rebound selalu gagal membentuk puncak yang lebih tinggi, sementara dasar harga terus bergeser ke bawah.
Area 135–138 kini menjadi zona penopang terdekat yang sangat penting. Level ini terlihat sebagai area di mana tekanan jual sempat melambat dan pembeli mulai muncul, meski belum agresif.
Bertahannya harga di atas zona ini akan menentukan apakah BUKA mampu masuk ke fase konsolidasi baru atau justru melanjutkan pelemahan. Jika area ini ditembus bersih dengan volume yang meningkat, ruang penurunan lanjutan terbuka menuju area psikologis 120–125, yang sebelumnya menjadi basis pergerakan pada pertengahan 2025.
Di sisi atas, area 145–150 menjadi level yang harus ditembus untuk mengubah sentimen jangka sangat pendek. Rentang ini sebelumnya berfungsi sebagai support, namun kini berubah menjadi resistance.
Selama BUKA masih bergerak di bawah 150, setiap kenaikan berpotensi diperlakukan sebagai technical rebound dalam tren turun, bukan awal dari pembalikan arah. Resistance berikutnya berada di area 160–165, yang merupakan zona konsolidasi panjang pada November hingga Desember, dan akan menjadi penghalang berat jika harga mencoba naik lebih jauh.
Dari sisi volume, pola perdagangan belakangan memperlihatkan peningkatan aktivitas saat harga turun, sementara volume cenderung mengecil ketika harga mencoba naik.
Karakter ini memperkuat indikasi bahwa tekanan jual masih dominan dan minat beli bersifat selektif. Apalagi, tidak terlihat lonjakan volume akumulatif yang biasanya menjadi sinyal awal pembentukan dasar harga yang kuat.(*)