Insight Daily 28 May 2025 Penulis: KabarBursa.com

MBMA Menanjak Lagi, Sinyal Pasar dan Konsensus Analis Menguat

Saham MBMA mulai bangkit, ditopang akumulasi asing, sinyal teknikal positif, dan optimisme analis terhadap prospek hilirisasi baterai.

KABARBURSA.COM - Setelah sempat melorot panjang sejak awal tahun, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mulai menampakkan tanda-tanda pemulihan. Pada perdagangan, Rabu 28 Mei 2025, saham ini sempat menguat 6,21 persen ke level Rp376, sebelum akhirnya turun tipis ke harga Rp360 di sesi penutupan. Dalam sepekan terakhir, MBMA sudah naik 1,69 persen dan...

Harga saham MBMA menguat diiringi akumulasi asing dan sinyal teknikal positif, meski valuasi masih premium dan harga nikel belum stabil. Gambar dibuat oleh AI u
Harga saham MBMA menguat diiringi akumulasi asing dan sinyal teknikal positif, meski valuasi masih premium dan harga nikel belum stabil. Gambar dibuat oleh AI u

Insight Navigator

  1. 01 Cucu Emas MDKA
  2. 02 Investor Asing Tambah Barang, Lokal Ramai-ramai Cabut
  3. 03 Potensi Breakout MBMA Didukung Konsensus dan Sinyal Teknikal

Harga nikel dunia sedang ogah diajak naik. Kalau tahun lalu sempat panas-panasnya—menembus level USD19.326 per ton pada April 2024—tahun ini justru adem. Sampai April 2025, harga nikel terpantau melorot ke kisaran USD15.146 per ton. Bahkan pada Februari lalu sempat menyentuh USD15.276, turun dari rerata USD16.300-an di periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyebabnya bukan satu. Pasokan nikel global lagi banjir, terutama dari Indonesia yang ngotot menggenjot hilirisasi lewat larangan ekspor bijih mentah. Tapi di sisi lain, permintaan dari sektor kendaraan listrik (EV) belum ngegas secepat ekspektasi. Apalagi muncul tren baterai lithium ferro phosphate (LFP) yang tak butuh nikel bikin sebagian investor mikir dua kali.

Tapi bukan berarti nikel kehilangan panggung. Laporan dari BMI Fitch dan CarbonCredits justru menunjukkan setelah 2025, harga nikel diproyeksi bakal naik pelan-pelan lagi. Pasar diprediksi menyesuaikan ke level USD18.500–USD21.500 pada 2026.

Di tengah dinamika itulah MBMA coba berdiri tegak. Di satu sisi, harga komoditas utama yang jadi nafas bisnisnya sedang loyo. Tapi di sisi lain, ia punya peran strategis dalam proyek hilirisasi nasional dan rantai pasok EV global. Artinya, posisi MBMA saat ini ibarat pemain tengah yang siap membawa bola ke mana saja—asal momentum pasar kembali berpihak.

Cucu Emas MDKA

Di balik logo MBMA, tersimpan ambisi besar untuk menjadi pemain utama dalam ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu ke hilir. MBMA adalah cucu usaha dari raksasa tambang PT Merdeka Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang dikawal lewat PT Merdeka Energi Nusantara. Per Mei 2025, PT Merdeka Energi Nusantara menggenggam 50,04 persen saham MBMA dan menjadikannya pemegang kendali mayoritas. Sisanya tersebar di tangan publik (34,91 persen), Huayong International dari Hong Kong (7,55 persen), dan PT Alam Permai (5,46 persen). Komposisi ini menunjukkan kendali penuh tetap di grup MDKA, tapi dengan napas internasional dan pasar publik yang aktif.

Pusat kekuatannya ada di Konawe, Sulawesi Tenggara. Di sana, MBMA mengelola tambang nikel dan kobalt melalui PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Kandungannya tak remeh, mencapai 13,8 juta ton nikel dan hampir 1 juta ton kobalt. Bahan mentah ini lalu disulap di fasilitas smelter RKEF di kawasan industri Morowali menjadi nickel pig iron (NPI), sebelum naik kelas menjadi nickel matte berkadar tinggi.

Nickel matte merupakan produk setengah jadi dengan kandungan nikel lebih dari 70 persen. Di dunia baterai kendaraan listrik, logam ini bukan sekadar komoditas, tapi ia adalah jantungnya. Nickel matte inilah yang nantinya dikonversi menjadi nikel sulfat (NiSO₄), bahan utama pembentuk katoda baterai lithium-ion tipe nickel-manganese-cobalt (NMC). Baterai jenis ini dikenal punya kepadatan energi tinggi dan umur pakai yang lebih lama—dua kualitas yang dicari dalam industri mobil listrik.

Dengan memproduksi nickel matte, MBMA tak cuma jadi penambang. Mereka masuk ke dapur industri baterai dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global. Lewat fasilitas pengolahan milik PT Huaneng Metal Industry (HNMI) yang kini 60 persen sahamnya digenggam MBMA, konversi NPI ke nickel matte dilakukan langsung di kawasan industri Morowali.

Tak berhenti di situ, MBMA juga mendorong proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Konawe dan proyek Acid, Iron, Metal (AIM) di Morowali. Keduanya jadi tonggak penting dalam hilirisasi mineral dan pengolahan limbah tambang menjadi nilai tambah.

Langkah mereka makin kokoh berkat kemitraan strategis dengan dua nama besar: CATL asal China dan BASF dari Jerman. Kerja sama ini bukan sekadar tempelan, tapi menjangkau pengembangan bahan katoda aktif, daur ulang baterai, hingga inovasi bahan kimia ramah lingkungan. Semuanya selaras dengan arah transisi energi global.

Dari sisi kinerja, laporan keuangan terakhir menunjukkan MBMA masih di jalur pertumbuhan. Tahun 2024, mereka membukukan pendapatan USD1,84 miliar (sekitar Rp30,2 triliun), naik 39 persen dari tahun sebelumnya. Laba bersih juga meroket 229 persen menjadi USD22,78 juta (sekitar Rp373,5 miliar), disokong peningkatan produksi dan efisiensi operasional.

Indikator fundamental MBMA juga menunjukkan perbaikan yang patut dicatat. Hingga akhir 2024, data resmi MBMA mencatat EBITDA sebesar USD163 juta—naik 67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Total aset tercatat mencapai USD3,43 miliar, sementara ekuitas menyentuh angka USD2,35 miliar.

Return on Equity (ROE) berada di level 3,41 persen yang mengindikasikan efisiensi penggunaan modal yang mulai membaik. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) masih cukup konservatif di kisaran 29 persen. Ini memberi ruang bagi manuver pendanaan di masa depan.

Namun, dari sisi valuasi, saham MBMA memang sedang ‘mahal’. Price to Earnings Ratio (PER) menembus 104,88 kali yang mencerminkan ekspektasi pasar yang tinggi terhadap prospek pertumbuhan emiten ini. Meski begitu, Price to Book Value (PBV) yang masih berada di angka 1,55. Artinya, valuasi asetnya belum sepenuhnya terefleksi di pasar alias masih ada ruang tumbuh bila kinerja konsisten terjaga.

Dengan struktur bisnis yang terintegrasi dan sokongan konglomerasi MDKA, MBMA berada di jalur penting industri kendaraan listrik Indonesia. Tantangannya memang banyak—dari fluktuasi harga nikel hingga dinamika regulasi. Tapi kalau melihat fondasinya, perusahaan ini jelas bukan pemain musiman.

Investor Asing Tambah Barang, Lokal Ramai-ramai Cabut

Perdagangan saham MBMA pada 28 Mei 2025 menunjukkan gejala yang menarik untuk dicermati. Dari luar, harga saham terlihat tenang di area Rp366, naik 3,39 persen dibanding hari sebelumnya. Tapi kalau kita bedah lebih dalam lewat data broker summary Stockbit, justru terlihat tarik-ulur dramatis antara akumulasi asing dan distribusi domestik.

Sepanjang hari ini, investor asing terpantau mencatatkan net buy sebesar Rp23,4 miliar di seluruh pasar dengan proporsi transaksi asing yang sangat dominan: mencapai 67,2 persen dari total nilai transaksi. Volume beli asing pun menguasai panggung, yakni 731 juta lembar saham atau 67,45 persen dari total saham yang diperdagangkan hari itu. Artinya, investor asing tampaknya mulai mencicil posisi—entah sebagai bagian dari positioning jangka menengah atau hanya berburu momentum harga murah.

Padahal kalau bicara valuasi, PER yang mencapai 104,88 masih tergolong mahal dan jauh di atas rerata sektor. Meski proyeksi forward PER turun ke 24,51 kali, ini tetap mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang tinggi dan belum sepenuhnya tercermin dari arus kas—apalagi rasio Price to Free Cash Flow-nya masih negatif di -14,71.

Dengan PBV di level 1,55 dan EV/EBITDA 21 kali, investor seolah sedang bertaruh pada masa depan MBMA yang cerah, bukan kinerja hari ini. Jadi wajar bila saham ini masih jadi incaran akumulasi diam-diam, terutama oleh investor dengan napas panjang dan keberanian tinggi.

Di sisi lain, broker asing terlihat cukup agresif menjual. Lihat saja aksi J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) dan CGS International Sekuritas Indonesia (YU), dua broker besar yang masing-masing melepas Rp41,2 miliar dan Rp39,6 miliar dengan rata-rata harga jual di kisaran Rp361–Rp363. Lalu broker lokal Stockbit Sekuritas Digital (XL) juga tercatat menjual senilai Rp7,3 miliar di harga rata-rata Rp368.

Sementara dari kubu pembeli, aksi menarik asing datang dari UBS Sekuritas Indonesia (AK), broker milik Swiss yang menyerap Rp67,6 miliar dengan rata-rata harga beli Rp362. Ini jumlah yang cukup jumbo dan menandakan ada pelaku besar yang percaya terhadap potensi teknikal saham MBMA dalam jangka pendek.

Dua broker asing lain, Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dan Macquarie Sekuritas Indonesia (RX), juga masuk cukup aktif dengan pembelian masing-masing Rp17,2 miliar dan Rp15,1 miliar.

Kondisi ini membentuk peta yang cukup jelas: investor asing tampak mulai mengoleksi, sementara mayoritas broker ritel memilih mengunci cuan lebih awal. Di sisi lain, indikator teknikal harian juga mulai menunjukan sinyal positif sehingga wajar bila pemain besar mencoba mencuri start sebelum konsolidasi selesai. Fakta ini menjadikan saham MBMA sebagai ladang tarik-menarik antara dua kepentingan.

Potensi Breakout MBMA Didukung Konsensus dan Sinyal Teknikal

Berdasarkan konsensus terbaru dari analis pasar yang dihimpun Investing, harga saham MBMA dipatok target rata-rata di Rp465,75 per saham, yang berarti ada potensi kenaikan sekitar 27 persen dari level sekarang. Dari sembilan analis yang memberi penilaian, enam menyarankan “buy”, dua memilih “hold”, dan satu menyarankan “sell”.

Di balik rating tersebut, ada sinyal bahwa pasar melihat potensi MBMA cukup solid dalam jangka menengah, baik karena prospek bisnis hilirisasi, ekspansi proyek HPAL, maupun eksposur mereka di rantai pasok baterai global.

Namun, kalau kita menurunkan pandangan itu ke layar chart, arah teknikal masih lebih jujur bicara tentang momentum jangka pendek. Harga MBMA saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi ringan dengan kecenderungan breakout tipis dari area 360–370.

Indikator Relative Strength Index atau RSI berada di level 60—menunjukkan pasar belum jenuh beli, tapi mulai mengarah ke wilayah overbought. Lalu indikator Moving Average Convergence Divergence atau MACD juga masih berada di zona positif yang menandakan kekuatan tren naik belum sepenuhnya kehilangan bensin.

Moving Average 50 dan 200 harian juga memberikan sinyal akumulasi karena sudah golden cross—di mana MA50 menembus MA200 dari bawah. Biasanya ini jadi pemicu spekulan jangka menengah untuk mulai masuk.

Jadi, meskipun analis melihat potensi naik, teknikal menyarankan agar investor tetap memperhatikan titik-titik resistance—seperti di level 370 dan 384—yang bisa menjadi uji psikologis sebelum lanjut naik alias breakout.

Perlu diingat, pergerakan harga saham MBMA tidak hidup dalam ruang hampa. Ia sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, volatilitas harga komoditas (dalam hal ini nikel), serta sentimen eksternal seperti arus modal asing dan dinamika global. Analisis teknikal ini disusun sebagai bahan bacaan dan pemahaman—bukan sinyal beli atau jual.

Bagi pelaku pasar yang bermain dalam horizon pendek, sinyal teknikal MBMA memang terlihat menjanjikan. Mayoritas indikator berada di zona akumulasi dengan tren harga mulai menguji resistance teknikalnya. Tapi pasar bukan jalan tol—setiap kenaikan selalu berpotensi diadang koreksi, apalagi jika sentimen nikel global masih loyo dan tekanan distribusi domestik kembali muncul di layar orderbook.

Sebaliknya, bagi investor dengan pandangan jangka menengah atau mereka yang percaya pada cerita hilirisasi, MBMA mungkin dipandang sebagai entitas yang sedang merapikan fondasi. Kinerja keuangan yang mulai bertumbuh, kemitraan strategis di sektor baterai, dan jalur bisnis dari tambang hingga produk akhir adalah narasi besar yang tak selesai hanya dalam satu kuartal.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya