Insight Daily 30 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Lima Emiten Anti Rugi di BEI, Cocok untuk Jangka Panjang

Lima emiten ini konsisten mencetak laba bersih selama 10 tahun, cocok untuk investasi jangka panjang dengan risiko rendah dan dividen stabil.

KABARBURSA.COM - Dalam lanskap pasar modal yang penuh gejolak dan sering kali tak terprediksi, ada segelintir emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencatatkan rekor tidak pernah merugi dalam 10 tahun terakhir. Saham-saham ini bukan sekadar bertahan dari badai ekonomi, tapi juga terus mencetak keuntungan secara konsisten setiap tahun.Rekam jejak ini memb...

Ilustrasi emiten yang laba bersihnya konsisten selama 10 tahun terakhir. Ilustrasi dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Ilustrasi emiten yang laba bersihnya konsisten selama 10 tahun terakhir. Ilustrasi dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Insight Navigator

  1. 01 Bank Central Asia (BBCA): Stabilitas Laba dan Kepercayaan Investor
  2. 02 Indofood CBP (ICBP): Konsistensi Bisnis Konsumen dan Kinerja Solid
  3. 03 Unilever Indonesia (UNVR): Konsistensi di Tengah Transformasi Bisnis
  4. 04 Telkom Indonesia (TLKM): Pilar Infrastruktur Digital dan Pendapatan Berulang
  5. 05 Metrodata Electronics (MTDL): Ketahanan Digital dan Pertumbuhan Margin
  6. 06 Siapa yang Tetap Bertahan ketika Krisis?
  7. 07 Refleksi: Investasi sebagai Kepemilikan, Bukan Spekulasi

KABARBURSA.COM - Dalam lanskap pasar modal yang penuh gejolak dan sering kali tak terprediksi, ada segelintir emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencatatkan rekor tidak pernah merugi dalam 10 tahun terakhir. Saham-saham ini bukan sekadar bertahan dari badai ekonomi, tapi juga terus mencetak keuntungan secara konsisten setiap tahun.

Rekam jejak ini membuat lima emiten ini layak disebut sebagai aset jangka panjang yang minim spekulasi dan tinggi reputasi.

Sekadar informasi, kriteria pemilihan lima emiten ini berdasarkan konsistensi laba bersih tahunan selama sepuluh tahun, terverifikasi dari laporan keuangan audited dan publikasi resmi. Tak hanya itu, saham-saham ini juga menunjukkan rekam jejak dividen yang stabil serta rasio keuangan yang sehat secara berkelanjutan.

Bank Central Asia (BBCA): Stabilitas Laba dan Kepercayaan Investor

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merupakan salah satu emiten perbankan terbesar di Indonesia dari sisi kapitalisasi pasar, aset, dan jumlah nasabah. Selama periode 2014 hingga 2024, BBCA mencatatkan laba bersih tahunan yang menjanjikan. Hal ini menjadikan BBCA sebagai simbol kestabilan dalam industri yang kerap terpengaruh kondisi ekonomi makro.

Sepanjang satu dekade terakhir, laba bersih BBCA meningkat dari Rp16,5 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp56,6 triliun pada 2024. Angka ini mencerminkan pertumbuhan rata-rata (CAGR) sekitar 13 per per tahun.

Bahkan pada masa pandemi 2020, BBCA tetap membukukan laba bersih Rp27,1 triliun, hanya turun tipis dibanding tahun sebelumnya.

BBCA juga tercatat sebagai emiten yang konsisten memberikan dividen tunai kepada pemegang sahamnya. Dari tahun 2014 hingga 2024, dividen per saham naik dari Rp145 menjadi Rp320. Rata-rata dividend payout ratio selama periode tersebut tercatat sekitar 44–50 persen.

Dalam konteks pasar, BBCA termasuk emiten yang konservatif namun stabil dalam pembagian laba, sejalan dengan strategi mempertahankan rasio kecukupan modal yang sehat.

Stabilitas ini diperkuat oleh permodalan kuat dan pengelolaan risiko yang konservatif. Rasio return on equity (ROE) BBCA selama 10 tahun terakhir berada di kisaran 16–20 persen. Jumlah ini merupakan salah satu yang tertinggi di industri perbankan nasional. Sementara rasio non-performing loan (NPL) terus dijaga rendah, rata-rata di bawah 2 persen.

Sementara dari sisi Valuasi, BBCA masuk ke dalam salah satu emiten yang cenderung premium. Price to earnings ratio (PER) tahunan berkisar antara 22x hingga 35x, dan price to book value (PBV) berada di rentang 3x hingga 5x.

Hal ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kualitas manajemen, keberlanjutan laba, serta posisi BBCA sebagai bank pilihan utama nasabah korporasi dan individu.

Dari sisi harga saham, tren pertumbuhan jangka panjang BBCA juga mencerminkan kepercayaan investor. Harga saham BBCA meningkat dari kisaran Rp10.000 pada akhir 2014 menjadi lebih dari Rp9.000 per lembar saham pasca stock split pada 2021, atau ekuivalen dengan lebih dari dua kali lipat jika disesuaikan dengan aksi korporasi tersebut.

Dengan fundamental yang kokoh, profitabilitas stabil, dan tata kelola yang disiplin, BBCA menjadi contoh nyata dari emiten yang dapat diandalkan untuk kepemilikan jangka panjang.

“Kami percaya bahwa keberhasilan jangka panjang BCA bergantung pada komitmen kami dalam menjaga kinerja keuangan yang sehat, memperkuat kualitas layanan, serta memastikan keberlanjutan bisnis melalui inovasi dan efisiensi operasional,” kata Presiden Direktur BBCA Jahja Setiaatmadja dalam laporan tahunan 2024.

Indofood CBP (ICBP): Konsistensi Bisnis Konsumen dan Kinerja Solid

Selain BBCA, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga merupakan emiten yang patut untuk dipertimbangkan. ICBP merupakan entitas konsolidasi dari lini bisnis konsumen milik Indofood Group, yang berfokus pada produk-produk makanan olahan seperti mi instan, makanan ringan, dairy, bumbu masak, dan minuman.

Mengutip data dari Stockbit, dalam sepuluh tahun terakhir, ICBP tidak hanya mempertahankan posisi dominannya di pasar domestik, tapi juga berhasil menjaga kinerja keuangannya tetap positif secara konsisten.

Dari tahun 2014 hingga 2024, ICBP membukukan laba bersih tanpa jeda. Pada 2014, laba bersih tercatat sebesar Rp3,0 triliun, dan meningkat signifikan menjadi sekitar Rp8,0 triliun pada 2024.

Lonjakan terbesar terjadi pasca akuisisi Pinehill Company Limited pada 2020 yang memperluas pasar ekspor, terutama ke kawasan Timur Tengah dan Afrika. Akuisisi tersebut menjadi pendorong diversifikasi pendapatan yang berdampak positif terhadap profitabilitas.

Adapun dividend payout ratio ICBP secara historis berada pada kisaran 40–55 persen. Capaian ini menunjukkan keseimbangan antara pengembalian kepada pemegang saham dan reinvestasi untuk pertumbuhan. Pada 2024, ICBP menetapkan dividen sebesar Rp400 per saham, meningkat dari Rp180 per saham pada 2014.

Selama masa pandemi 2020 dan krisis global tahun-tahun berikutnya, bisnis ICBP tetap tangguh. Produk konsumsi harian yang bersifat defensif, seperti mi instan dan makanan olahan, menjadi penopang utama stabilitas pendapatan. Permintaan produk tetap tinggi, bahkan ketika daya beli masyarakat melemah.

Valuasi saham ICBP secara historis lebih moderat dibanding emiten sektor perbankan. PER tahunan berkisar antara 12x hingga 20x, sedangkan PBV berada di kisaran 2x hingga 4x. Dengan rasio return on equity (ROE) stabil di atas 15 persen selama satu dekade, saham ICBP mencerminkan profil bisnis yang produktif dengan risiko rendah.

Dalam laporan tahunan 2024, manajemen ICBP menegaskan fokus jangka panjang perusahaan untuk mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan.

“Kami terus membangun kekuatan merek dan jaringan distribusi yang solid sebagai landasan utama pertumbuhan jangka panjang. Konsistensi dalam kualitas produk dan kedekatan dengan konsumen menjadi kunci menjaga kinerja positif perusahaan,” kata Direktur Utama ICBP, Axton Salim.

ICBP menunjukkan bahwa di tengah berbagai dinamika global maupun domestik, kekuatan model bisnis berbasis kebutuhan pokok dapat menjadi sumber profitabilitas yang stabil. Saham ini menjadi representasi ideal dari sektor konsumsi yang tahan banting dan minim fluktuasi ekstrem.

Unilever Indonesia (UNVR): Konsistensi di Tengah Transformasi Bisnis

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) merupakan salah satu emiten tertua dan paling dikenal di sektor barang konsumsi di Indonesia. Dengan portofolio produk perawatan rumah tangga, makanan, minuman, hingga personal care, UNVR telah menjadi bagian dari keseharian konsumen Indonesia. Dari sisi fundamental, UNVR juga tercatat konsisten membukukan laba bersih tahunan selama sepuluh tahun terakhir.

Antara 2014 hingga 2024, UNVR mencatatkan laba bersih tahunan di kisaran Rp5-7 triliun, dengan fluktuasi yang relatif terkendali meskipun menghadapi tantangan perubahan pola konsumsi dan tekanan margin di segmen makanan.

Meski laba bersih sempat tertekan pada periode 2021–2023 akibat biaya bahan baku global yang tinggi dan perubahan strategi distribusi, UNVR tetap mampu menjaga profitabilitas.

Dari sisi dividen, UNVR termasuk salah satu emiten paling royal di BEI. Dividend payout ratio tercatat hampir selalu di atas 90 persen, bahkan mendekati 100 persen dalam beberapa tahun terakhir. Investor jangka panjang menjadikan UNVR sebagai salah satu sumber penghasilan pasif melalui dividen tunai yang konsisten dan dapat diandalkan.

Valuasi saham UNVR dalam 10 tahun terakhir cukup beragam. Pada periode 2014–2019, PER sempat berada di atas 40x mencerminkan ekspektasi pertumbuhan tinggi.

Namun, pasacapandemi dan restrukturisasi bisnis, valuasi terkoreksi ke kisaran 20x–25x. PBV historis UNVR juga sempat menyentuh angka 40x sebelum perlahan menyesuaikan ke bawah.

Meski menghadapi tekanan kompetitif dari merek lokal dan digitalisasi pasar, UNVR tetap menjaga pangsa pasarnya di berbagai kategori produk. Proses transformasi digital dan efisiensi rantai pasok menjadi fokus utama dalam menjaga kelangsungan profitabilitas.

UNVR menjadi contoh nyata bahwa perusahaan consumer goods yang mapan tetap perlu terus bertransformasi. Konsistensi laba dan komitmen dividen tinggi tetap menjadi daya tarik utama bagi investor defensif yang menghindari risiko tinggi namun mengincar kestabilan hasil.

Telkom Indonesia (TLKM): Pilar Infrastruktur Digital dan Pendapatan Berulang

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) merupakan emiten milik negara yang menguasai infrastruktur telekomunikasi nasional. Dengan bisnis yang mencakup layanan seluler, fixed broadband, data center, dan konektivitas enterprise, TLKM menjadi penopang utama transformasi digital di Indonesia.

Dalam sepuluh tahun terakhir, TLKM tidak pernah mencatatkan rugi bersih, bahkan saat pasar telekomunikasi mengalami disrupsi teknologi dan perubahan perilaku konsumen.

Sepanjang 2014 hingga 2024, laba bersih TLKM bergerak stabil dalam rentang Rp14 triliun hingga Rp25 triliun per tahun. Meskipun profitabilitas sempat tertahan karena tekanan kompetisi tarif dan biaya ekspansi jaringan, konsistensi pendapatan dari segmen data dan konektivitas memastikan arus kas operasional tetap sehat.

TLKM juga dikenal rutin membagikan dividen tunai. Rata-rata dividend payout ratio berkisar antara 60-80 persen, dengan nominal dividen yang terus meningkat sejalan dengan laba. Pada 2024, Telkom membagikan dividen sekitar Rp280 per saham, meningkat signifikan dibanding Rp146 per saham pada 2014.

Model bisnis TLKM berbasis pendapatan berulang (recurring revenue) dari pelanggan ritel maupun korporasi menjadikannya relatif tahan terhadap siklus ekonomi. Diversifikasi usaha melalui anak perusahaan seperti Telkomsel, Telkom Data Ekosistem, dan Mitratel turut memperkuat sumber pertumbuhan yang berkelanjutan.

Valuasi TLKM secara historis cukup atraktif. PER tahunan berkisar antara 12x hingga 18x, sementara PBV berada di kisaran 2x hingga 3x. Rasio ROE TLKM relatif stabil di atas 15 persen dalam satu dekade terakhir, mencerminkan efisiensi pengelolaan aset dan profitabilitas jangka panjang.

Bagi investor jangka panjang, TLKM menawarkan kombinasi antara stabilitas keuangan, eksposur terhadap transformasi digital, serta kepastian dividen. Dengan rekam jejak yang solid, saham TLKM layak dipertimbangkan sebagai bagian dari portofolio yang berorientasi pada fundamental.

Metrodata Electronics (MTDL): Ketahanan Digital dan Pertumbuhan Margin

PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) merupakan emiten yang bergerak di bidang distribusi produk teknologi informasi dan solusi digital enterprise. Meski tidak sepopuler emiten BUMN atau sektor konsumsi, MTDL berhasil mencatatkan rekor keuangan impresif: tidak pernah merugi dalam sepuluh tahun terakhir dan terus mencetak pertumbuhan laba yang sehat.

Dalam periode 2014–2024, laba bersih MTDL meningkat dari sekitar Rp170 miliar menjadi lebih dari Rp600 miliar. Pertumbuhan ini didukung oleh dua pilar utama bisnis perusahaan: distribusi perangkat dan solusi teknologi informasi. Segmen solusi digital, yang mencakup layanan cloud, big data, dan keamanan siber, menjadi kontributor utama pertumbuhan margin.

MTDL juga rutin membagikan dividen tunai, dengan payout ratio historis di kisaran 30-45 persen. Pada 2024, dividen yang dibagikan mencapai Rp28 per saham, tumbuh stabil seiring dengan peningkatan laba bersih. Dividen MTDL memang tidak setinggi emiten sektor konsumsi, namun tetap mencerminkan komitmen manajemen dalam memberikan imbal hasil bagi pemegang saham.

Valuasi historis MTDL relatif moderat. PER tahunan tercatat antara 9x hingga 14x, sedangkan PBV berkisar di level 1,5x hingga 2,5x. Dengan ROE tahunan yang konsisten di atas 12 persen, MTDL menunjukkan efisiensi operasional dalam menjalankan bisnis berbasis teknologi.

Sebagai perusahaan teknologi lokal, MTDL juga berhasil menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah brand global seperti Microsoft, Dell, Cisco, dan Adobe. Keunggulan ini memungkinkan perusahaan untuk menawarkan portofolio produk dan layanan digital yang relevan dengan kebutuhan pasar korporat Indonesia.

Dengan karakter bisnis yang adaptif, pertumbuhan laba stabil, dan eksposur terhadap sektor teknologi yang berkembang pesat, MTDL menjadi salah satu emiten yang layak diperhitungkan dalam portofolio jangka panjang yang berbasis kinerja nyata.

Siapa yang Tetap Bertahan ketika Krisis?

Konsistensi laba bersih dari kelima emiten yang dibahas tidak hanya relevan dalam situasi pasar yang normal, tetapi juga teruji ketika menghadapi tekanan besar.

Krisis ekonomi global, pandemi COVID-19, dan gejolak geopolitik seperti perang dagang serta konflik energi telah mengguncang pasar modal selama satu dekade terakhir. Namun, data menunjukkan bahwa BBCA, ICBP, UNVR, TLKM, dan MTDL tetap mampu menjaga profitabilitas tahun demi tahun.

Tahun 2020 menjadi ujian paling konkret. Saat sebagian besar sektor mengalami kontraksi dan banyak emiten melaporkan kerugian, lima emiten ini masih mencatatkan laba bersih positif.

Bahkan, dalam beberapa kasus, seperti ICBP dan TLKM, laba justru meningkat karena perubahan pola konsumsi dan kebutuhan infrastruktur digital.

Faktor utama yang mendukung resiliensi ini adalah model bisnis yang berakar pada kebutuhan pokok masyarakat, basis pelanggan yang luas, serta efisiensi operasional yang telah terbentuk lama.

Keseimbangan antara ekspansi dan konservatisme finansial juga menjadi pembeda dibanding emiten yang terlalu agresif mengejar pertumbuhan.

Refleksi: Investasi sebagai Kepemilikan, Bukan Spekulasi

Data selama sepuluh tahun terakhir memperlihatkan bahwa saham bisa menjadi instrumen kepemilikan riil atas perusahaan yang tumbuh dan membagikan hasilnya secara konsisten.

Lima emiten ini memberikan contoh bahwa investasi bukan sekadar mengejar capital gain jangka pendek, tetapi membangun fondasi finansial jangka panjang.

Dengan dividen yang mengalir setiap tahun dan valuasi yang mencerminkan kualitas, investor dapat memosisikan saham-saham ini sebagai bagian dari strategi proteksi kekayaan, bukan spekulasi.

Dalam konteks ini, saham berperan seperti aset produktif jangka panjang serupa dengan properti, tetapi dengan likuiditas dan transparansi yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, dalam dunia investasi yang terus berubah, keberadaan emiten yang konsisten mencetak laba menjadi semakin berharga. BBCA, ICBP, UNVR, TLKM, dan MTDL telah membuktikan bahwa stabilitas bukan sekadar retorika, melainkan hasil dari strategi bisnis yang matang, tata kelola yang baik, dan komitmen terhadap pertumbuhan jangka panjang.

Bagi investor ritel maupun institusi yang mencari instrumen minim spekulasi namun penuh nilai, kelima emiten ini layak dipertimbangkan sebagai pilar dalam portofolio. Di tengah gelombang ketidakpastian, mereka memberikan jangkar: kinerja yang terbukti, bukan janji. Dalam konteks tulisan ini, BBCA menempati posisi pertama sebagai saham dengan karakter non-spekulatif, berbasis kinerja nyata dan reputasi teruji.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya