KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menunjukkan akumulasi asing yang konsisten dalam hampir dua pekan terakhir. Data perdagangan periode 2–6 Februari 2026 mencatat net foreign buy Rp7,11 triliun. Akumulasi tersebut terjadi di tengah volatilitas harga harian yang tinggi.
Tekanan harga muncul pada awal periode perdagangan. Pada 2 Februari 2026, TPIA ditutup di level 5.900 setelah turun 8,53 persen dari pembukaan 6.450. Nilai transaksi tercatat Rp47,47 miliar dengan volume 80,52 ribu lot.
Aktivitas asing tetap terlihat pada hari tersebut. Foreign buy tercatat Rp19,01 miliar, sedangkan foreign sell sebesar Rp18,52 miliar. Kondisi ini menghasilkan net foreign buy Rp484,22 juta meski harga melemah.
Penguatan tajam terjadi pada 3 Februari 2026. Harga TPIA melonjak 10,59 persen dan ditutup di level 6.525. Nilai transaksi meningkat menjadi Rp134,13 miliar dengan volume 217,84 ribu lot.
Arus dana asing menguat seiring lonjakan harga. Foreign buy tercatat Rp60,75 miliar, sementara foreign sell Rp38,96 miliar. Selisih tersebut menghasilkan net foreign buy Rp21,78 miliar.
Momentum penguatan berlanjut pada 4 Februari 2026. TPIA kembali naik 4,98 persen dan ditutup di level 6.850. Nilai transaksi tercatat Rp118,43 miliar dengan volume 175,08 ribu lot.
Pembelian asing tetap mendominasi pada hari itu. Foreign buy mencapai Rp58,31 miliar, sedangkan foreign sell sebesar Rp32,40 miliar. Data tersebut mencatat net foreign buy Rp25,91 miliar.
Akumulasi asing mencapai puncak pada 5 Februari 2026. Harga TPIA melonjak 5,84 persen dan ditutup di level 7.250. Nilai transaksi meningkat menjadi Rp125,19 miliar.
Aktivitas asing pada hari tersebut tercatat paling besar dalam periode pengamatan. Foreign buy mencapai Rp62,08 miliar, sementara foreign sell hanya Rp13,58 miliar. Selisihnya menghasilkan net foreign buy Rp48,50 miliar.
Pada 6 Februari 2026, harga TPIA mengalami koreksi harian. Saham ditutup di level 7.100, turun 2,07 persen dari penutupan sebelumnya. Nilai transaksi tetap mencapai Rp82,81 miliar dengan volume 117,14 ribu lot.
Arus dana asing masih mencatat pembelian bersih. Foreign buy tercatat Rp32,20 miliar, sedangkan foreign sell Rp28,50 miliar. Kondisi tersebut menghasilkan net foreign buy Rp3,70 miliar.
Sepanjang periode tersebut, pergerakan harga TPIA berlangsung dengan likuiditas tinggi. Frekuensi transaksi harian bergerak di kisaran 6,71 ribu hingga 9,49 ribu kali. Data ini menjadi dasar untuk membaca struktur mikro pasar pada perdagangan berikutnya.
Struktur Orderbook TPIA dan Dinamika Supply–Demand
Struktur orderbook TPIA pada 6 Februari 2026 memperlihatkan aktivitas transaksi yang padat sejak awal sesi. Saham dibuka di 7.200 dan ditutup di 7.100, lebih rendah dari previous 7.250. Harga hanya bergerak dalam rentang 6.925–7.200 sepanjang hari.
Ruang pergerakan harian tetap lebar secara struktural. Auto reject atas tercatat di 8.500, sementara auto reject bawah berada di 6.050. Rentang ini membingkai pergerakan intraday yang aktif meski harga terkoreksi.
Likuiditas tetap terjaga selama perdagangan berlangsung. Total frekuensi transaksi tercatat 6.708 kali. Volume mencapai 117,14 ribu lot dengan nilai Rp82,8 miliar.
Harga rata-rata transaksi berada di 7.069. Angka ini muncul dari akumulasi seluruh transaksi harian. Nilai tersebut berada di antara harga penutupan dan pembukaan.
Arus dana asing tetap tercatat aktif. Foreign buy mencapai Rp32,2 miliar. Foreign sell berada di Rp28,5 miliar pada hari yang sama.
Di sisi permintaan, lapisan bid terdekat muncul tepat di harga berjalan. Level 7.100 menampung 3.224 lot dengan 22 kali frekuensi. Bid langsung berlapis di bawahnya.
Permintaan berikutnya turun ke 7.075 dan 7.050. Pada 7.075, bid tercatat 2.711 lot dengan 6 kali frekuensi. Pada 7.050, bid tercatat 1.185 lot dengan 12 kali frekuensi.
Bid tetap aktif di 7.025. Level ini menampung 1.411 lot dengan 25 kali frekuensi. Permintaan kemudian menguat di harga bulat.
Konsentrasi bid terbesar muncul di 7.000. Level ini memuat 12.546 lot dengan 71 kali frekuensi. Permintaan ini menjadi salah satu penopang utama di bawah harga penutupan.
Bid berlanjut ke area bawah tanpa terputus. Pada 6.975, bid tercatat 1.188 lot dengan 29 kali frekuensi. Pada 6.950, bid meningkat menjadi 4.082 lot dengan 51 kali frekuensi.
Area 6.925 juga memuat bid besar. Level ini menampung 4.512 lot dengan 93 kali frekuensi. Harga terendah harian berada di level yang sama.
Permintaan semakin menebal di 6.900. Bid di level ini mencapai 10.267 lot dengan 149 kali frekuensi. Frekuensi tinggi menunjukkan aktivitas yang berulang.
Bid besar kembali muncul di 6.875 dan 6.850. Pada 6.875, bid tercatat 8.840 lot dengan 78 kali frekuensi. Pada 6.850, bid mencapai 10.013 lot dengan 133 kali frekuensi.
Lapisan permintaan tetap menyebar ke bawah. Level 6.825 memuat 1.846 lot dengan 44 kali frekuensi. Level 6.800 memuat 4.558 lot dengan 81 kali frekuensi.
Bid berlanjut ke 6.775 dan 6.750. Pada 6.775, bid tercatat 1.385 lot dengan 32 kali frekuensi. Pada 6.750, bid tercatat 4.590 lot dengan 29 kali frekuensi.
Permintaan kecil tetap tercatat di bawahnya. Level 6.725 menampung 211 lot dengan 11 kali frekuensi. Level 6.700 menampung 549 lot dengan 15 kali frekuensi.
Lapisan tipis muncul di beberapa harga rendah. Pada 6.675, bid tercatat 55 lot dengan 4 kali frekuensi. Pada 6.625, bid hanya 17 lot dengan 1 kali frekuensi.
Bid kembali muncul di 6.600. Level ini menampung 455 lot dengan 26 kali frekuensi. Permintaan kecil juga terlihat di 6.575 dan 6.550.
Pada 6.500, bid kembali membesar. Level ini memuat 1.615 lot dengan 57 kali frekuensi. Permintaan tetap tercatat hingga 6.175.
Secara agregat, sisi bid tetap besar. Total bid tercatat 78.082 lot. Total frekuensi bid mencapai 1.116 kali.
Di sisi penawaran, supply terdekat muncul tepat di atas harga penutupan. Level 7.125 menampung 1.254 lot dari dua lapisan. Supply langsung berlapis di atasnya.
Offer berikutnya muncul di 7.150 dan 7.175. Pada 7.150, offer tercatat 2.096 lot dengan 52 kali frekuensi. Pada 7.175, offer tercatat 1.208 lot dengan 38 kali frekuensi.
Supply membesar di 7.200. Level ini memuat 2.238 lot dengan 123 kali frekuensi. Offer juga muncul di 7.225.
Konsentrasi supply besar terlihat di 7.250. Offer di level ini mencapai 7.056 lot dengan 196 kali frekuensi. Level tersebut menjadi salah satu titik penawaran terpadat.
Supply tetap menyebar ke atas. Pada 7.275, offer tercatat 2.618 lot dengan 56 kali frekuensi. Pada 7.300, offer meningkat menjadi 5.197 lot dengan 112 kali frekuensi.
Offer berlanjut di 7.350 hingga 7.400. Pada 7.400, offer tercatat 4.080 lot dengan 80 kali frekuensi. Supply tetap konsisten di area ini.
Lapisan supply kembali besar di 7.500. Level ini memuat 4.878 lot dengan 170 kali frekuensi. Offer tetap muncul berlapis di atasnya.
Penawaran terus terlihat hingga kisaran 8.000. Pada 8.000, offer tercatat 1.657 lot dengan 91 kali frekuensi. Supply tidak menghilang di level tinggi.
Offer besar muncul kembali di 8.300. Level ini memuat 4.185 lot dengan 21 kali frekuensi. Penawaran tetap tercatat mendekati batas atas.
Area ARA 8.500 tetap terisi. Offer di level ini mencapai 1.386 lot dengan 54 kali frekuensi. Supply masih terlihat hingga 8.700.
Secara total, sisi offer sedikit lebih besar. Total offer tercatat 86.727 lot. Total frekuensi offer mencapai 2.435 kali.
Struktur ini menunjukkan aktivitas dua arah yang padat. Permintaan dan penawaran sama-sama tersebar di banyak level harga. Pembacaan ini menjadi dasar masuk ke broker summary.
Peta Broker Summary dan Arah Akumulasi Dana
Pembacaan lanjutan mengacu pada broker summary reguler periode 2–6 Februari 2026. Data ini memetakan pihak pembeli dan penjual terbesar TPIA. Seluruh angka berasal dari transaksi pasar reguler.
Di sisi pembelian, Henan Putihrai Sekuritas (HP) menjadi buyer terbesar. HP membukukan nilai beli Rp44,8 miliar dengan volume 65,2 ribu lot. Rata-rata harga beli HP tercatat 6.861.
Simulasi sederhana dapat dibuat dari data tersebut. Dengan asumsi harga penutupan 7.100, selisih terhadap rata-rata beli HP mencapai 239 poin. Jika seluruh 65,2 ribu lot masih tersisa, potensi selisih kotor mencapai sekitar Rp15,6 miliar.
Pembeli besar berikutnya berasal dari sekuritas asing. UBS Sekuritas Indonesia (AK) mencatat nilai beli Rp37,8 miliar dengan volume 53,6 ribu lot. Rata-rata harga beli AK berada di 6.745.
Dengan harga penutupan 7.100, selisih harga terhadap rata-rata beli AK mencapai 355 poin. Dengan asumsi kepemilikan masih penuh, potensi selisih kotor mencapai sekitar Rp19,0 miliar. Angka ini murni hasil simulasi matematis.
Aksi beli asing juga terlihat melalui UOB Kay Hian Sekuritas Indonesia (AI). AI membukukan nilai beli Rp26,7 miliar dengan volume 38,6 ribu lot. Rata-rata harga beli AI tercatat 6.895.
Selisih harga penutupan terhadap rata-rata beli AI berada di 205 poin. Jika 38,6 ribu lot masih tersisa, potensi selisih kotor sekitar Rp7,9 miliar. Perhitungan ini berbasis data agregat periode.
Dari domestik, Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG) masuk lima besar buyer. LG mencatat nilai beli Rp24,1 miliar dengan volume 36,3 ribu lot. Rata-rata harga beli berada di 6.651.
Dengan harga penutupan 7.100, selisih harga mencapai 449 poin. Jika diasumsikan belum dilepas, potensi selisih kotor mencapai sekitar Rp16,3 miliar. Simulasi ini mengikuti struktur data yang tersedia.
Pembeli besar lain berasal dari asing. CGS International Sekuritas Indonesia (YU) mencatat nilai beli Rp15,3 miliar dengan volume 23,9 ribu lot. Rata-rata harga beli YU berada di 6.550.
Selisih terhadap harga penutupan mencapai 550 poin. Dengan asumsi 23,9 ribu lot masih tersimpan, potensi selisih kotor sekitar Rp13,1 miliar. Angka dihitung dari selisih harga dikalikan volume.
Komposisi buyer menunjukkan kombinasi asing dan domestik. Tiga dari lima buyer terbesar berasal dari sekuritas asing. Nilai beli asing mendominasi sisi akumulasi.
Di sisi penjualan, BRI Danareksa Sekuritas (OD) tercatat sebagai seller terbesar. OD membukukan nilai jual Rp32,1 miliar dengan volume 46,7 ribu lot. Rata-rata harga jual berada di 6.858.
Seller besar berikutnya berasal dari asing. CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) mencatat nilai jual Rp27,1 miliar dengan volume 43,5 ribu lot. Rata-rata harga jual berada di 6.238.
Distribusi juga muncul dari domestik. Indo Premier Sekuritas (PD) mencatat nilai jual Rp20,3 miliar dengan volume 29,7 ribu lot. Rata-rata harga jual berada di 6.714.
Penjualan lain datang dari Stockbit Sekuritas Digital (XL). XL mencatat nilai jual Rp20,1 miliar dengan volume 28,3 ribu lot. Rata-rata harga jual tercatat 6.746.
Dari kelompok BUMN, Mandiri Sekuritas (CC) juga masuk daftar seller. CC membukukan nilai jual Rp16,5 miliar dengan volume 22,9 ribu lot. Rata-rata harga jual berada di 6.727.
Komposisi seller terlihat menyebar. Sekuritas BUMN, asing, dan domestik sama-sama muncul. Tidak ada dominasi tunggal di sisi distribusi.
Simulasi potensi keuntungan di atas bukan rekomendasi transaksi. Kabarbursa.com menegaskan perhitungan dilakukan untuk kepentingan pembacaan data jurnalistik, bukan ajakan beli atau jual. Hasil simulasi bergantung pada asumsi kepemilikan yang belum diverifikasi secara individual.
Data broker summary melengkapi pembacaan orderbook dan foreign flow. Angka-angka ini menunjukkan bagaimana transaksi terdistribusi di antara pelaku pasar. Pembacaan tetap berangkat dari data yang tersedia di layar perdagangan. (*)