Insight Daily 06 Jul 2025 Penulis: KabarBursa.com

Langkah Besar Bank Mandiri Terjun ke Gas Hilirisasi: Strategi Tepat Rangkul Investor?

Bank Mandiri dorong ekspor green ferronickel Ceria Corp dan masuk ke hilirisasi tambang. Apakah langkah ini cukup kuat dongkrak harga saham yang sedang tertekan?

KABARBURSA.COM - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk kembali menunjukkan peran sentralnya dalam perekonomian nasional. Kali ini, bank pelat merah tersebut menjadi salah satu pendorong utama ekspor perdana produk low-carbon ferronickel (FeNi) dari fasilitas smelter milik Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corp). Langkah ini bukan sekadar urusan bisnis semata, tapi bagia...

Sejumlah nasabah bertransaksi di ATM Mandiri Mal Kota Kasablanka (Kokas), Kamis, 10 April 2025. (Foto: Dok KabarBursa)
Sejumlah nasabah bertransaksi di ATM Mandiri Mal Kota Kasablanka (Kokas), Kamis, 10 April 2025. (Foto: Dok KabarBursa)

Insight Navigator

  1. 01 Perbankan Tak Lagi Hanya Soal Kredit
  2. 02 Apa Implikasinya ke Saham Bank Mandiri?
  3. 03 Saham Sepekan Terpuruk
  4. 04 Mampukah Dongkrak Harga Saham?
  5. 05 Investasi Jangka Panjang dalam Reputasi

KABARBURSA.COM - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk kembali menunjukkan peran sentralnya dalam perekonomian nasional. 

Kali ini, bank pelat merah tersebut menjadi salah satu pendorong utama ekspor perdana produk low-carbon ferronickel (FeNi) dari fasilitas smelter milik Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corp). 

Langkah ini bukan sekadar urusan bisnis semata, tapi bagian dari narasi besar: hilirisasi tambang dan transformasi hijau Indonesia.

Perbankan Tak Lagi Hanya Soal Kredit

Di tengah dinamika global yang menuntut transisi energi dan ekonomi rendah karbon, sektor keuangan perlahan bergeser dari sekadar funder menjadi mitra strategis pembangunan. Bank Mandiri berada di garda depan pergeseran ini. 

Melalui pembiayaan ke Ceria Corp, Mandiri tidak hanya menyuntikkan dana, tetapi ikut mendorong ekosistem industri tambang hijau tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan.

Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menegaskan bahwa kerja sama dengan Ceria merupakan bukti nyata bahwa sektor keuangan bisa menjadi penggerak transformasi ekonomi bernilai tambah. 

“Sinergi ini contoh konkret bagaimana percepatan hilirisasi bisa diwujudkan jika perbankan dan industri lokal saling menopang,” ujarnya, dalam pernyataan resmi di Jakarta, dikutip Minggu, 5 Juli 2025.

Untuk diketahui, Smelter “Merah Putih” milik Ceria di Kabupaten Kolaka menjadi fasilitas pertama yang mengekspor ferronickel berstandar rendah emisi. 

Fasilitas ini mengusung teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan kapasitas produksi 72 MVA. Hasilnya: 63.200 ton ferronickel per tahun, atau setara 13.900 ton logam nikel.

Yang menjadikannya spesial adalah sumber energinya, bersih dan terverifikasi melalui Renewable Energy Certificate (REC) dari PT PLN. Ini menjadikan produk Ceria lebih kompetitif di pasar internasional, terutama bagi negara-negara yang menerapkan pajak karbon atau standar emisi ketat pada produk impor.

Apa Implikasinya ke Saham Bank Mandiri?

Secara langsung, kerja sama ini bisa memperkuat persepsi investor bahwa Mandiri serius menggarap pembiayaan berkelanjutan. Dalam jangka menengah hingga panjang, eksposur terhadap proyek hijau semacam ini berpotensi mendorong kenaikan rating ESG perusahaan, yang menjadi pertimbangan utama bagi investor institusional global.

Selain itu, investor global kini semakin selektif dalam memilih emiten. Saham dengan paparan terhadap proyek energi bersih dan berkelanjutan cenderung diperdagangkan dengan valuation premium. Bila tren ini berlanjut, saham BMRI punya peluang mendapat revaluasi positif dari pasar.

Dan, Proyek Ceria menjadi tambahan penting dalam portofolio pembiayaan hijau Mandiri. Ini akan memperkuat posisi bank dalam sustainable finance roadmap nasional, sekaligus meningkatkan peluang mendapatkan insentif atau akses pembiayaan dari lembaga donor dan multilateral.

Tidak hanya itu, langkah ini sekaligus menandai diferensiasi Bank Mandiri dibandingkan bank pelat merah lainnya. Bila BRI fokus ke sektor UMKM dan BNI mendorong transformasi digital hijau, maka Mandiri tampil sebagai pemain dominan dalam pembiayaan industri strategis bernuansa keberlanjutan, khususnya di sektor tambang dan energi terbarukan.

Ceria sendiri tengah menyiapkan ekspansi dengan pembangunan RKEF Line II dan pabrik HPAL (High-Pressure Acid Leaching) yang ditargetkan memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik. Jika ekspansi ini terealisasi, Mandiri berpeluang menjadi penyokong finansial utama dari rantai pasok baterai global yang makin berkembang.

Dalam konteks ekonomi makro, kerja sama seperti ini membawa pesan yang lebih besar. Ketika lembaga keuangan nasional mau mengambil peran dalam transformasi hijau, Indonesia bukan hanya sekadar pengekspor bahan mentah, tapi sedang membentuk posisi baru di peta industri global, sebagai penyedia bahan baku energi bersih yang kompetitif dan berkelanjutan.

Saham Sepekan Terpuruk

Selama sepekan terakhir, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan performa yang cukup tertekan di pasar. Dari harga tertinggi mingguan di level Rp5.050, harga saham BMRI merosot hingga ke Rp4.700, mengalami penurunan sekitar 5,67 persen dalam kurun tujuh hari. 

Ini bukan sekadar koreksi biasa, melainkan bagian dari tren pelemahan yang lebih panjang. Jika ditarik ke belakang selama sebulan terakhir, harga BMRI bahkan sudah terkoreksi 6,6 persen, sementara sejak awal tahun tercatat sudah anjlok 16,84 persen. 

Untuk jangka lebih panjang, dari titik puncaknya di level Rp7.550, harga saham Bank Mandiri kini telah terkoreksi lebih dari 26 persen dalam setahun terakhir.

Yang menarik, koreksi harga ini terjadi di tengah kinerja fundamental perusahaan yang relatif solid. Di atas kertas, Bank Mandiri berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp13,19 triliun di kuartal I 2025, naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Secara tahunan, kinerja tetap mengesankan dengan total laba 12 bulan terakhir (TTM) menyentuh Rp56,28 triliun. Itu berarti rasio price to earnings (PE) TTM BMRI berada di level 7,86, hanya sedikit di bawah median PE IHSG yang sebesar 7,87. 

Dari perspektif value investing, ini bisa dibilang saham yang sedang “diskon”.

Valuasi saham BMRI pun terlihat menarik. Rasio PE forward-nya hanya 7,83, sementara earning yield-nya tercatat tinggi di 12,72 persen. 

Angka ini jauh mengungguli yield obligasi negara maupun rata-rata perbankan regional, menandakan bahwa investor mendapatkan imbal hasil yang relatif tinggi terhadap harga saham saat ini. 

Meski rasio price to book value (PBV) berada di kisaran 1,74 kali, angka ini masih cukup wajar untuk bank dengan ROE tinggi, yang dalam kasus BMRI mencapai 22,14 persen.

Namun, ada catatan penting dari sisi arus kas. Free cash flow per saham dalam 12 bulan terakhir berada di wilayah negatif, yakni -Rp634,17, dan rasio price to free cash flow juga negatif di -7,47. 

Ini menunjukkan adanya tekanan dari sisi operasional atau ekspansi yang cukup besar, yang bisa berdampak pada persepsi risiko jangka pendek. Tak heran jika Piotroski F-Score BMRI hanya 3, angka yang cukup rendah untuk emiten sebesar Bank Mandiri, menunjukkan sinyal kewaspadaan dari sisi kesehatan keuangan secara kuantitatif.

Di sisi lain, Bank Mandiri tetap menjadi salah satu penyumbang dividen terbesar di bursa. Dividen tahun buku 2024 (yang dibagikan April 2025) sebesar Rp466,18 per saham mencerminkan dividend yield yang sangat menarik di 9,84 persen, salah satu yang tertinggi di sektor perbankan. 

Dengan payout ratio di atas 82 persen, Bank Mandiri jelas berkomitmen menjaga loyalitas investor meski harga saham tengah tertekan.

Secara keseluruhan, pekan ini saham BMRI tengah berada dalam fase konsolidasi atau bahkan tekanan yang lebih dalam. Namun dari sisi fundamental dan distribusi laba, BMRI tetap menawarkan proposisi menarik bagi investor jangka panjang, terutama mereka yang mengincar pendapatan dividen. 

Kinerja keuangan masih tangguh, valuasi tergolong murah, dan sinyal ESG melalui pembiayaan proyek hijau makin memperkuat narasi jangka panjang. Tekanan harga jangka pendek mungkin justru bisa dibaca sebagai peluang, asal investor tahu apa yang sedang mereka beli.

Mampukah Dongkrak Harga Saham?

Harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masih tertahan di zona merah. Hingga awal Juli 2025, tekanan jual masih mendominasi pergerakan saham emiten bank pelat merah ini. 

Dari sejumlah indikator teknikal yang dihimpun pada 4 Juli lalu, mayoritas menyarankan untuk melepas saham. Baik indikator pergerakan rata-rata (moving average) maupun sinyal teknikal lainnya menunjukkan tren yang belum membaik. Dalam istilah teknikal, situasi ini disebut sebagai “strong sell”.

Seluruh moving average dari jangka pendek hingga Panjang, mulai dari MA5, MA20 hingga MA200, berada di atas harga pasar saat ini, menandakan bahwa tren jangka menengah hingga panjang cenderung menurun. 

Indikator RSI (Relative Strength Index) pun berada di level 41, menunjukkan bahwa meski belum memasuki wilayah jenuh jual, tekanan dari sisi permintaan belum cukup kuat untuk menarik harga naik.

Kondisi ini diperkuat oleh indikator MACD yang masih berada di area negatif, serta indikator lain seperti CCI, Williams %R, hingga ADX yang semuanya menyiratkan tren pelemahan. 

Harga saat ini juga tercatat masih jauh dari titik pivot penting di level Rp4.983. Selama belum mampu menembus level tersebut, potensi saham BMRI untuk berbalik arah tetap terbatas.

Namun di tengah tekanan teknikal ini, Bank Mandiri justru sedang mengambil langkah strategis yang tidak bisa diabaikan. Belum lama ini, bank terbesar di Indonesia dari sisi aset tersebut menjalin kemitraan dengan Ceria Corp dalam ekspor perdana produk green ferronickel dari smelter “Merah Putih” di Sulawesi Tenggara. 

Produk yang diekspor ini diproses menggunakan energi bersih dan telah mengantongi sertifikat energi terbarukan dari PLN, menjadikannya bagian dari rantai pasok industri kendaraan listrik global.

Langkah ini patut dicatat. Karena berbeda dari strategi bisnis jangka pendek yang sekadar mengejar pertumbuhan kredit, Mandiri kini mengambil peran dalam agenda hilirisasi nasional dan transisi energi bersih. 

Bagi sebagian investor institusional, terutama mereka yang memiliki mandat ESG (Environmental, Social, Governance), arah ini bisa menjadi katalis penting dalam menilai ulang posisi Bank Mandiri sebagai emiten jangka panjang.

Apakah strategi ini bisa langsung mengangkat harga saham? Belum tentu. Pasar saham kerap kali membutuhkan waktu untuk mencerna arah strategis, apalagi jika tekanan jangka pendek masih kuat. Namun di balik grafik yang tampak menurun, ada narasi besar yang sedang dibangun. 

Ketika pelaku pasar mulai melihat bahwa Mandiri bukan sekadar bank besar, tapi juga aktor penting dalam industri hijau Indonesia, bukan tidak mungkin harga sahamnya akan mengikuti arah baru yang sedang ditempuh ini.

Untuk saat ini, teknikal mungkin belum bersahabat. Tapi jika menyimak langkah Mandiri dengan lebih saksama, investor mungkin tak ingin buru-buru berbalik arah.

Investasi Jangka Panjang dalam Reputasi

Apakah langkah ini akan langsung tercermin di laporan laba rugi Mandiri? 

Mungkin tidak dalam waktu dekat. Namun dalam jangka panjang, reputasi ESG dan keberanian mengambil peran strategis dalam agenda hilirisasi bisa menjadi nilai tambah yang tak ternilai bagi bank ini, baik secara bisnis maupun dalam persepsi publik dan regulator.

Satu hal yang pasti, Bank Mandiri kini bukan hanya bank besar. Ia sedang menata jalur untuk menjadi bank hijau berpengaruh, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga dalam konteks global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya