KABARBURSA.COM - PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) mengumumkan ekspansi resminya ke sektor industri alat kesehatan (alkes) nasional pada tahun 2024 melalui pembentukan dan pengoperasian anak usaha PT Esora Medika Indonesia.
Informasi ini tercantum dalam laporan keuangan tahunan LABS yang berakhir pada 31 Desember 2024, serta laporan keuangan interim kuartal I 2025. LABS mengakui bahwa PT Esora Medika Indonesia telah mulai beroperasi penuh dan menyumbang terhadap laporan keuangan konsolidasian sejak kuartal pertama 2025.
Anak usaha tersebut terdaftar sebagai entitas manufaktur dengan fokus pada produksi alat kesehatan.
Dalam laporan tahunan 2024 yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Esora Medika Indonesia tercatat memiliki total aset senilai Rp44,03 miliar dan berlokasi di Jakarta, dengan tingkat kepemilikan LABS mencapai 99,99 persen.
Informasi ini diperkuat oleh keterbukaan informasi LABS, yang menyatakan bahwa perusahaan ini termasuk dalam sektor industri alat kesehatan dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2024.
Pada saat yang sama, dalam surat tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia yang tertanggal 11 Juni 2025, LABS menjelaskan bahwa kontribusi PT Esora Medika Indonesia terhadap laporan keuangan konsolidasi baru mulai terasa sejak awal tahun.
Perusahaan menambahkan bahwa kegiatan produksi telah berjalan secara penuh meskipun kontribusinya terhadap pendapatan masih bersifat awal. Hal ini menegaskan bahwa ekspansi ke sektor manufaktur alat kesehatan telah berjalan sesuai dengan rencana strategis jangka menengah perusahaan.
Kinerja Keuangan LABS Kuartal I 2025
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian LABS per 31 Maret 2025, tercatat total aset sebesar Rp211,96 miliar, naik dari Rp203,6 miliar pada akhir tahun 2024. Aset lancar LABS meningkat menjadi Rp166,8 miliar dari sebelumnya Rp159 miliar. Peningkatan terbesar terjadi pada pos persediaan, yang naik dari Rp71,8 miliar menjadi Rp78,5 miliar.
Di sisi lain, kas dan setara kas menurun dari Rp42,55 miliar menjadi Rp29,07 miliar, yang mencerminkan adanya penggunaan modal kerja dan belanja operasional untuk memperkuat struktur produksi.
Laba bersih perusahaan untuk kuartal I 2025 tercatat sebesar Rp1,84 miliar, tumbuh 99,2 persen secara tahunan dari Rp928 juta pada kuartal I 2024.
Margin operasi LABS juga mengalami peningkatan dari 5 persen menjadi 9,24 persen. Laporan ini menyebut bahwa penguatan laba disebabkan oleh efisiensi pada sejumlah komponen biaya, termasuk harga pokok penjualan, beban penjualan, dan biaya administrasi.
Selain itu, pendapatan dari lini produk bahan habis pakai medis dan reagen kimia diproyeksikan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan sepanjang tahun 2025.
Direktur Utama LABS, FX Yoshua Raintjung, dalam keterangannya menyatakan bahwa perusahaan menargetkan pertumbuhan berkelanjutan di sektor alat kesehatan dalam negeri, seiring dengan penyesuaian terhadap struktur pasar dan kebijakan nasional.
“Kami terus mengembangkan produksi dalam negeri dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada, tetapi fokus utama kami adalah pada produk molekuler,” ujar Yoshua dalam acara public expose beberapa waktu lalu.
Yoshua juga menambahkan bahwa perusahaan akan memperluas basis pelanggan dan titik distribusi produk reagen dan instrumen, serta memperkuat kerja sama dengan lembaga pemerintah dan swasta.
“Kami akan terus aktif dalam berbagai proyek pengadaan, baik dalam negeri maupun regional, yang dapat mendukung program-program prioritas kesehatan nasional,” katanya.
Sementara itu, analis dari Lotus Andalan Sekuritas, Sharlita Malik dan Hans Jervis, dalam laporan riset bertanggal 3 Juni 2025, menyampaikan bahwa kinerja keuangan LABS berada di atas ekspektasi mereka.
Dalam laporan tersebut disebutkan, LABS membukukan laba bersih sebesar Rp1,84 miliar di kuartal I 2025, menyumbang 26,4 persen dari target laba bersih tahun penuh sebesar Rp7,01 miliar.
Mereka menambahkan bahwa prospek perusahaan tetap positif, didukung oleh efisiensi operasional dan fokus ekspansi produk yang menyasar segmen dengan margin lebih tinggi.
Prospek Industri dan Risiko: Peluang Lokal di Tengah Dominasi Impor
Ekspansi LABS ke sektor alat kesehatan dilakukan pada saat yang tepat. Berdasarkan laporan dari Research and Markets, industri alat kesehatan Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan bernilai USD 4,78 miliar dan akan tumbuh menjadi USD 10,47 miliar pada 2033, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 9,1 persen.
Pertumbuhan ini didorong oleh reformasi sistem kesehatan nasional, peningkatan cakupan BPJS Kesehatan, serta meningkatnya kebutuhan alat diagnostik dan skrining untuk penyakit menular.
Namun, sebagian besar pasar alat kesehatan Indonesia saat ini masih bergantung pada produk impor. Data dari Indonesia.go.id mencatat bahwa lebih dari 70 persen alat kesehatan yang beredar di dalam negeri berasal dari luar negeri.
Pemerintah menargetkan peningkatan penyerapan produk lokal melalui program Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Hingga pertengahan 2024, penyerapan alat kesehatan produksi dalam negeri telah meningkat menjadi 48 persen, naik signifikan dari 12 persen pada tahun 2019.
Bersamaan dengan itu, jumlah industri alat kesehatan dalam negeri juga terus bertambah.
Kementerian Perindustrian mencatat setidaknya terdapat 1.199 industri manufaktur alat kesehatan yang beroperasi secara aktif pada semester pertama 2024. Salah satu tujuan kebijakan ini adalah memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan global.
Dalam konteks ini, LABS melalui PT Esora Medika Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemain yang relevan secara strategis.
Posisi mereka sebagai emiten publik memberikan transparansi dan akses permodalan yang lebih luas, sementara integrasi vertikal melalui produksi bahan habis pakai dan alat diagnostik memungkinkan peningkatan margin dalam jangka menengah.
Walaupun demikian, LABS tetap menghadapi sejumlah risiko yang perlu dicermati oleh investor. Dalam laporan riset Lotus Sekuritas disebutkan bahwa pengurangan belanja pemerintah untuk sektor kesehatan dan penurunan konsumsi per kapita dapat menjadi faktor negatif terhadap proyeksi permintaan.
Selain itu, perusahaan juga harus bersaing dengan produk impor dari China dan Korea Selatan yang umumnya lebih murah dan sudah memiliki jaringan distribusi yang kuat.
Dari sisi neraca, total liabilitas LABS per 31 Maret 2025 tercatat sebesar Rp71,35 miliar, dengan porsi terbesar masih berasal dari utang bank jangka pendek dan utang usaha.
Ekuitas meningkat menjadi Rp140,6 miliar dari Rp138,7 miliar pada akhir 2024. Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya tercatat Rp6,67 miliar, naik dari Rp4,82 miliar pada Desember 2024.
Laporan arus kas menunjukkan bahwa pada kuartal I 2025, LABS mengalami arus kas keluar bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp13,26 miliar. Penggunaan kas terbesar berasal dari pembayaran kepada pemasok dan gaji, seiring dengan aktivitas operasional yang meningkat di lini baru produksi.
Pembayaran untuk perolehan aset tetap dan aset tidak berwujud juga tercatat meningkat, menandakan kelanjutan investasi dalam kapasitas produksi.
Dengan semua data tersebut, LABS menunjukkan arah pertumbuhan yang solid dan ditopang oleh sektor industri yang juga berkembang cepat secara nasional.
Ekspansi mereka ke manufaktur alat kesehatan bukan hanya memperluas model bisnis, tetapi juga menyesuaikan perusahaan dengan kebutuhan struktural pasar domestik dan arah kebijakan nasional di sektor kesehatan.