Insight Daily 30 Oct 2025 Penulis: KabarBursa.com

Laba Kuartal III 2025 Susut, PGEO Masih Menarik?

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan penurunan laba PGEO sudah ter-pricing oleh pergerakan saham PGEO yang mengalami bearish consolidation.

KABARBURSA.COM - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau (PGEO) mencatat kinerja keuangan yang kurang memuaskan pada kuartal III 2025.PGEO sebenarnya sukses meraup pendapatan sebesar USD318,86 juta pada kuartal III 2025, atau naik 4,19 persen year on year (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu.Namun, laba bersih emiten pengembang panas bumi ini tercata...

Aktivitas peker di PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (dok: perusahaan)
Aktivitas peker di PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (dok: perusahaan)

Insight Navigator

  1. 01 Peluang Bisnis Renewable Energy
  2. 02 Saham Terkoreksi

KABARBURSA.COM - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau (PGEO) mencatat kinerja keuangan yang kurang memuaskan pada kuartal III 2025.

PGEO sebenarnya sukses meraup pendapatan sebesar USD318,86 juta pada kuartal III 2025, atau naik 4,19 persen year on year (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu.

Namun, laba bersih emiten pengembang panas bumi ini tercatat menurun 22,17 persen yoy sebesar USD104,27 juta dibanding kuartal III 2024  yang sebesar USD133,99 juta.

Pendapatan PGEO ditopang dari beberapa bisnis, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Kamojang senilai USD116,3 juta dan PTLP kawasan Ulubelu yang berkontribusi sebesar USD91,34 juta.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan dan beban langsung PGEO di kuartal III 2025 turut meningkat 16,83 persen jadi sebesar USD140,21 juta. Adapun, Laba bruto perusahaan sebesar USD178,64 juta, atau menurun 3,95 persen yoy.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan penurunan laba PGEO sudah ter-pricing oleh pergerakan saham PGEO yang mengalami bearish consolidation.

"Sehingga tentunya investor akan mencermati bagaimana PGO bisa meningkatkan performa kinerja untuk jangka panjang," ujar dia kepada Kabarbursa.com, Kamis, 30 Oktober 2025.

Nafan memprediksi, menyusutnya laba kuartal III juga akan berimbas terhadap kinerja laba PGEO pada kuartal IV mendatang. Dengan begitu, ia memandang investor akan terus mencermati keseriusan manajemen PGEO dalam memperbaiki kinerja keuangan ke depan, terutama untuk tahun 2026.


Peluang Bisnis Renewable Energy

Menurut Nafan, PGEO harus melakukan segala cara untuk memperbaiki kinerja keuangannya, salah satu caranya ialah melalui bisnis renewable energy. Tapi, ia mengakui jika bisnis ini memang memiliki banyak tantangan.

"Sebenarnya permintaannya banyak, tapi challenge-nya kan kita tahu bahwasannya cost-nya tinggi," ujar dia.

Meski begitu, Nafan menegaskan bisnis renewable energy dirasa cukup efektif untuk PGEO karena bersifat jangka panjang.

PGEO sendiri telah menegaskan perannya sebagai tulang punggung transisi energi nasional. Direktur Utama PGEO, Julfi Hadi, menyampaikan bahwa arah kebijakan pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi nasional menjadi dorongan kuat bagi pihaknya untuk terus memperluas dan memperdalam pengelolaan potensi panas bumi di seluruh wilayah Indonesia.

“PGE adalah tulang punggung transisi energi Indonesia. Dengan potensi panas bumi mencapai 24 gigawatt atau sekitar 40 persen dari cadangan dunia. Kami memiliki mandat besar untuk mengubah potensi ini menjadi kekuatan nyata bangsa. Melalui pengelolaan yang bertanggung jawab, kami ingin memastikan energi bersih menjadi fondasi kedaulatan dan masa depan hijau Indonesia,” ujar dia dalam keterangannya dikutip, Kamis, 30, Oktober 2025.

Selama satu tahun terakhir, PGEO beberapa catatan. Seperti beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 (55 MW) di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Selain itu, PGEO juga telah memulai pembangunan PLTP Gunung Tiga 55 MW di Ulubelu, Lampung, pada Agustus 2025. Proyek ini diyakini bisa memperkuat sistem kelistrikan Sumatera sekaligus menjadi tonggak penting bagi pencapaian target PGEO untuk mencapai 1 gigawatt (GW) kapasitas terpasang mandiri dalam 2–3 tahun ke depan, serta 1,8 GW pada tahun 2033.

PGEO juga terus memperkuat inovasi menuju ekonomi hijau melalui pengembangan Green Hydrogen (Hidrogen Hijau) di Pilot Project Green Hydrogen Ulubelu. Proyek ini membangun rantai nilai hidrogen hijau dari produksi, distribusi, hingga pemanfaatan, sebagai langkah awal menuju industri rendah karbon dan pencapaian Net Zero Emission 2060.

Adapun hingga kini, PGEO mengelola total kapasitas panas bumi sebesar 1.932 megawatt (MW), terdiri atas 727 MW dioperasikan langsung oleh PGE dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama (Joint Operation Contract/JOC) bersama mitra strategis.

Energi bersih yang dihasilkan PGEO mampu menyuplai listrik bagi lebih dari dua juta rumah tangga dan berpotensi menurunkan emisi karbon sekitar 10 juta ton CO2 per tahun, memperkuat langkah Indonesia menuju kedaulatan energi yang berkelanjutan.

Saham Terkoreksi

Saham PGEO terpantau memang tengah mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir. Mengutip data Stockbit, Kamis, 30 Oktober 2025 pada tiga bulan terakhir, saham pelat merah ini menurun 28,69 persen dengan harga tertinggi 1.830 dan terendah 1.270.

Kendati begitu, secara year to date (ytd), saham PGEO masih berada di zona hijau usai mengalami penguatan sebesar 40,11 persen.

Adapun berdasarkan konsensus terbaru, sebanyak 12 dari 16 analis memberikan rekomendasi buy untuk saham emiten panas bumi milik Pertamina tersebut. Sementara itu, 4 analis lainnya memilih sikap hold, dan tidak ada yang merekomendasikan sell.

Dari sisi valuasi, target harga rata-rata yang dipatok analis berada di Rp1.775 per saham, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 35,5 persen dari harga saat ini yang berada di Rp1.310.

Adapun estimasi harga tertinggi yang diberikan analis mencapai Rp2.400, sementara estimasi terendah berada di kisaran Rp1.400 per saham.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya