KABARBURSA.COM - Saham PT. Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) terpantau mulai diakumulasi investor asing setelah mencatat kinerja positif pada kuartal I 2026.
Berdasarkan data broker summary Stockbit periode 30 April hingga 5 Juni 2026, sejumlah broker besar tercatat aktif menampung dana asing untuk mengoleksi saham ADMR .
Broker BK menjadi pihak yang mencatatkan akumulasi terbesar dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp35,1 miliar. Broker ini mengoleksi sekitar 242,7 ribu lot dengan harga rata-rata di level Rp1.498 per saham.
Di posisi kedua terdapat broker YU yang membukukan pembelian senilai Rp32,6 miliar atau sekitar 199,6 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.606.
Selanjutnya broker AK juga terlihat agresif melakukan akumulasi dengan nilai mencapai Rp31,4 miliar. Broker tersebut mengumpulkan sekitar 227,5 ribu lot dengan harga rata-rata Rp1.554.
Aksi beli juga dilakukan oleh broker ZP senilai Rp17,6 miliar dengan volume 121,5 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.607. Sementara broker RX mengoleksi saham ADMR senilai Rp10,6 miliar atau sekitar 49,8 ribu lot dengan harga rata-rata Rp1.620.
Selain itu, broker CC turut melakukan akumulasi sebesar Rp7,1 miliar dengan volume 87,4 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.512.
Meski nilai akumulasinya tidak sebesar broker papan atas seperti BK, YU, atau AK, sejumlah broker lainnya juga tercatat melakukan pembelian bersih terhadap saham ADMR.
Broker AG membukukan akumulasi senilai Rp2,9 miliar dengan volume 14,1 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.878 per saham. Selanjutnya, broker DP mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp2,7 miliar dengan volume 18 ribu lot dan harga rata-rata Rp1.507 per saham.
Sementara itu, broker SQ mengoleksi saham ADMR senilai Rp890,5 juta atau sekitar 5,6 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.584.
Aksi akumulasi juga terlihat dari broker LG yang membukukan pembelian bersih Rp717,4 juta dengan volume 5,1 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.401, hampir setara dengan harga pasar ADMR saat ini. Adapun broker KK melengkapi daftar akumulator dengan nilai pembelian bersih Rp474,5 juta atau sekitar 2,9 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.661 per saham.
Di sisi lain, aksi distribusi juga masih terlihat meski nilainya relatif lebih kecil dibandingkan akumulasi.
Broker KI menjadi distributor terbesar dengan nilai jual bersih mencapai Rp21,1 miliar. Posisi berikutnya ditempati broker KZ sebesar Rp11 miliar, disusul PD senilai Rp9,2 miliar dan TP sebesar Rp8,3 miliar.
Broker BB juga tercatat sebagai distributor dengan nilai jual bersih mencapai Rp2,1 miliar. Selanjutnya broker YP membukukan distribusi sebesar Rp446 juta, menunjukkan masih adanya aksi ambil untung dari sebagian pelaku pasar.
Sementara itu, tekanan jual dari broker lainnya terbilang minim. Broker NI tercatat melepas saham ADMR senilai Rp11,2 juta, diikuti broker DR sebesar Rp108 ribu, serta broker AZ sekitar Rp50 ribu.
Laba Kuartal I 2026 Tumbuh
ADMR membuka tahun 2026 dengan kinerja yang solid di tengah dinamika harga batu bara metalurgi global. Emiten tambang batu bara ini berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada kuartal I 2026.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, ADMR meraup pendapatan sebesar USD267,49 juta pada kuartal I 2026. Angka ini tumbuh 33,8 persen dibanding periode serupa tahun sebelumnya yng senilai USD199,94 juta.
Catatan tersebut sukses menopang kenaikan laba bruto ADMR pad tiga bulan pertama 2026 menjadi USD125,17 juta dari sebelumnya USD82,60 juta.
Sementara itu, beban pokok penjualan ADMR di kuartal I tahun ini naik menjadi USD142,32 juta dari USD117,33 juta pada tiga bulan pertama tahun lalu.
ADMR memperoleh laba sebelum pajak sebesar USD110, 86 juta atau naik signifikan sebesar 40 persen dari USD79,18 pada periode yang sama tahun 2025.
Usai dikurangi beban pajak, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik eniltitas induk senilai USD87,71 juta. Angka ini naik dari USD65,45 juta pada kuartal I tahun lalu.
ADMR juga mencatat pertumbuhan laba per saham (EPS) menjadi USD0,0021 per saham dibanding periode yang saman tahun sebelumnya sebesar USD0,0016 per saham.
Berpindah ke neraca, total aset yang dimiliki ADMR hingga Maret 2026 sebanyak USD3,21 miliar, naik dibanding akhir 2025 yang hanya USD2,89 miliar.
Kenaikan aset ditopang oleh bertambahnya aset tetap yang menjadi USD1,95 miliar serta peningkatan kas dan setara kas menjadi USD504,20 juta.
Namun peningkatan aset dibarengi kenaikan liabilitas. Total liabilitas ADMR di kuartal I 2026 sebesar USD1,40 miliar, naik dari USD1,17 miliar pada akhir tahun lalu.
Akan tetapi, total ekuitas juga tumbuh menjadi USD1,80 miliar dari USD1,72 miliar sehingga struktur permodalan perusahaan masih tergolong kuat.
Masifnya akumulasi yang dilakukan sejumlah broker besar menunjukkan adanya keyakinan investor terhadap prospek ADMR meski harga saham masih berada jauh di bawah level tertingginya.
Kinerja keuangan yang tumbuh kuat pada kuartal I 2026 kemungkinan menjadi katalis utama yang mendorong masuknya dana baru ke saham emiten batu bara metalurgi tersebut.
Pergerakan Harga Saham
Pada perdagangan terakhir, Jumat, 5 Juni 2026, saham ADMR ditutup di level Rp1.400 atau menguat 1,45 persen dibandingkan sesi sebelumnya. Meski demikian, secara jangka pendek pergerakan saham ADMR masih berada dalam fase koreksi.
Dalam sepekan terakhir harga saham ADMR tercatat turun 8,50 persen, sementara dalam satu bulan terkoreksi 25,53 persen. Bahkan dalam tiga bulan terakhir, pelemahan saham ADMR mencapai 29,29 persen.
Koreksi tersebut membuat harga saham ADMR kini berada jauh di bawah level tertinggi tiga bulan terakhir yang sempat menyentuh Rp2.050 per saham. Kondisi ini turut menyeret kinerja saham secara year to date (YTD) menjadi minus 10,26 persen.
Namun jika dilihat dalam horizon investasi yang lebih panjang, ADMR masih menunjukkan kinerja yang relatif positif. Dalam enam bulan terakhir saham ini masih mencatatkan kenaikan 8,53 persen.
Bahkan dalam satu tahun terakhir ADMR berhasil membukukan return 35,92 persen, sedangkan dalam tiga tahun terakhir melonjak hingga 70,73 persen.
Sementara itu berdasarkan konsensus Stockbit yang dihimpun dari 16 analis, sebanyak 15 analis memberikan rekomendasi buy, sementara satu analis merekomendasikan hold dan tidak ada analis yang memberikan rekomendasi jual.
Konsensus tersebut juga tercermin dari target harga yang masih jauh di atas posisi pasar saat ini. Rata-rata target harga analis untuk ADMR berada di level Rp2.373 per saham, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp2.800 dan estimasi terendah Rp2.100.
Dengan harga pasar saat ini di kisaran Rp1.400, target konsensus tersebut mengindikasikan potensi kenaikan (upside) sekitar 69,5 persen menuju target rata-rata analis. Bahkan jika mengacu pada target tertinggi, ruang kenaikan saham ADMR mencapai 100 persen dari posisi saat ini.
Berdasarkan data keuangan terkini, ADMR diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba atau Price to Earnings Ratio (PER) annualized sebesar 9,68 kali, sementara PER trailing twelve months (TTM) berada di level 11,75 kali. Adapun forward PER tercatat hanya 5,81 kali.
Dari sisi valuasi, saham ADMR juga memiliki Price to Book Value (PBV) sebesar 2,04 kali, dengan Book Value per Share (BVPS) mencapai Rp685,72 per saham.
Sementara itu, EPS tahunan berada di level Rp144,67 per saham dan EPS TTM sebesar Rp119,14 per saham. Hal ini menjadikan Perseroan memiliki kemampuan perseroan dalam menghasilkan laba yang relatif kuat.
Kinerja operasional perusahaan juga tercermin dari indikator profitabilitas yang masih berada pada level sehat. ADMR membukukan Return on Equity (ROE) sebesar 17,37 persen, menunjukkan setiap Rp100 modal pemegang saham mampu menghasilkan laba sekitar Rp17,37.
Di saat yang sama, Return on Assets (ROA) tercatat 8,94 persen, menandakan aset perusahaan masih mampu menghasilkan imbal hasil yang cukup baik.
Margin keuntungan perusahaan juga tergolong tinggi dibandingkan banyak emiten sektor pertambangan. Tercatat gross profit margin mencapai 46,79 persen, sementara operating profit margin sebesar 40,01 persen dan net profit margin mencapai 32,79 persen.
Tingginya margin tersebut menunjukkan ADMR masih mampu menjaga efisiensi operasional sekaligus mempertahankan profitabilitas meski industri komoditas menghadapi fluktuasi harga global.
Dari sisi kesehatan keuangan, posisi likuiditas ADMR juga terlihat cukup kuat. Perseroan mencatat current ratio sebesar 2,00 kali dan quick ratio sebesar 1,76 kali. Angka-angka ini berarti aset lancar perusahaan masih lebih dari cukup untuk menutup seluruh kewajiban jangka pendeknya.
Sementara itu, Debt to Equity Ratio (DER) berada di level 0,58 kali. Bisa dibilang, angka ini menunjukan bahwa total utang perusahaan masih berada di bawah total ekuitas yang dimiliki.
Selain menawarkan pertumbuhan laba, ADMR juga tetap membagikan dividen kepada pemegang saham. Berdasarkan data trailing twelve months (TTM), perseroan membukukan dividen sebesar Rp50,62 per saham dengan dividend yield 3,62 persen dan payout ratio 34,99 persen.
Secara keseluruhan, kombinasi valuasi yang relatif rendah, profitabilitas yang tinggi, rasio utang yang terjaga, serta kemampuan menghasilkan laba yang konsisten membuat fundamental ADMR masih tergolong menarik. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung optimisme pasar terhadap prospek jangka menengah hingga panjang emiten batu bara metalurgi tersebut.
Disclaimer
Data dan analisis yang disampaikan dalam pemberitaan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga saham, masuknya supply dan demand pasar, aksi pelaku besar, serta perubahan sentimen dan perilaku investor di pasar modal.
Analisis disusun untuk memberikan konteks mengenai struktur pasar, pola akumulasi dan distribusi, kondisi fundamental, serta perilaku pelaku pasar terhadap saham FILM, dan bukan merupakan ajakan membeli maupun menjual saham tertentu.
Investor diimbau untuk tetap melakukan analisis secara mandiri, memperhatikan keterbukaan informasi resmi Perseroan, serta mempertimbangkan profil risiko dan strategi investasi masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi. (*)