Harga KRYA melompat dari Rp118 ke Rp264 hanya dalam lima hari—lonjakan 120 persen yang menambah reli sejak awal tahun menjadi 407 persen. Euforia itu dibarengi volume jumbo. Lebih 117 juta lembar berpindah tangan, setara nilai transaksi Rp30,43 miliar dalam satu sesi.
Di balik hiruk-pikuk tersebut, data Stockbit memperlihatkan broker lokal Lotus Andalan (YJ) memimpin akumulasi dengan nilai pembelian mencapai sekitar Rp5,5 miliar. Di bawahnya, Semesta Indovest (MG) mencatat pembelian senilai Rp855 juta, disusul UBS Sekuritas Indonesia (AK) sebesar Rp623 juta.
Sementara di sisi penjual, Mirae Asset (YP) mengempiskan posisi senilai Rp1,6 miliar, diikuti Mandiri Sekuritas (CC) sebesar Rp1,3 miliar, dan BCA Sekuritas (SQ) sekitar Rp1,1 miliar. Alhasil, arus dana asing secara akumulasi justru mencatat penjualan bersih senilai Rp1,23 miliar—indikasi bahwa reli harga KRYA kali ini lebih banyak digerakkan oleh akumulasi lokal daripada masuknya investor asing.
Bursa Efek Indonesia sesungguhnya sudah mengibarkan bendera Unusual Market Activity atau UMA sejak Mei 2025. Artinya, saham ini ditandai sebagai kuda liar dengan volatilitas di atas rata-rata. Kini, setelah harga terbang dua kali lipat dalam sepekan, reli KRYA makin tampak seperti ledakan sesaat yang lebih digerakkan sentimen pasar ketimbang kepastian fundamental.
Due Diligence Belum Dimulai, Risiko Masih Terbuka
KRYA merilis keterbukaan informasi pada 2 Juli 2025 terkait rencana pengambilalihan 70 persen saham oleh lima pihak berbeda. Mereka adalah Rich Step International Ltd asal Hong Kong, PT Green Power Group Tbk (LABA), PT Evmoto Teknologi Indonesia, Huashang Investment Group Ltd, dan PT Cahaya Intan Niaga. Kelimanya disebut sebagai “kelompok terorganisasi” dalam keterbukaan tersebut, meski tidak dijelaskan bagaimana hubungan hukum maupun pembagian peran antar mereka.
“Calon Pembeli telah ditempatkan dan disetor penuh Perseroan mengambilalih sejumlah 1.164.760.000 atau 70 persen (tujuh puluh persen) dari total modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan,” tulis manajemen KRYA dalam keterbukan informasinya.
Skema transaksi dibagi dua tahap: tahap pertama, 8 persen saham akan dialihkan lebih dulu. Sisanya, sebesar 62 persen, baru dipindahkan setelah proses due diligence selesai dilakukan. Namun hingga surat itu diumumkan, tidak ada satu pun dari kelima calon pembeli yang tercatat memiliki saham KRYA, baik secara langsung maupun melalui afiliasi.
Tak ditemukan juga struktur entitas gabungan, surat perjanjian pembagian porsi atau informasi tentang siapa pihak yang bertindak sebagai pengendali utama dalam proses ini. Tidak ada Special Purpose Vehicle (SPV), tidak ada escrow. Hanya LoI—dokumen niat awal tanpa kekuatan hukum mengikat.
Dalam praktik pasar modal, LoI kerap jadi gerbang awal negosiasi. Tapi tanpa due diligence dan pembiayaan jelas, pengambilalihan semacam ini bisa berakhir sebagai rencana yang ditinggalkan. Sampai hari ini, proses uji tuntas belum dimulai. Dengan kata lain, akuisisi ini belum pasti terjadi dan reli harga saham yang terlanjur meledak belum tentu berpijak pada fondasi yang kukuh.
KRYA memang menegaskan adanya keseriusan dari lima entitas untuk mengakuisisi saham perseroan.
“Calon Pembeli telah menunjukkan keseriusannya dan telah siap untuk melakukan Uji Tuntas (Due Diligence) terhadap Perseroan,” demikian tertulis dalam keterbukaan informasi yang ditandatangani Direktur Utama KRYA, Hok Gwan (Dharmo Budiono), tersebut.
Meski demikian, dalam praktik akuisisi perusahaan terbuka, kata siap belum identik dengan mulai. Biasanya, proses uji tuntas diawali penandatanganan perjanjian kerahasiaan, penunjukan konsultan legal maupun auditor, serta penetapan jadwal pemeriksaan data keuangan, operasional, dan legal.
Hingga laporan ini ditulis, tidak ada pengumuman tentang penunjukan pihak ketiga, jadwal kunjungan lapangan, atau akses data virtual yang lazim tercantum dalam keterbukaan lanjutan. Tanpa kejelasan tahapan teknis semacam itu, kepastian akuisisi KRYA masih berada di ranah niat—sementara harga sahamnya sudah berlari mendahului bukti.
Kelompok Terorganisasi tanpa Struktur Formal
Dari lima calon pembeli seven puluh persen saham KRYA, hanya satu yang punya rekam jejak merger dan akuisisi (M&A), yakni LABA. Pada 19 Juni 2025, LABA secara resmi mengambil alih 65 persen saham PT Aceh Mineral Abadi — langkah strategis untuk mengamankan sumber daya tembaga–emas bagi pabrik baterai mereka.
LABA juga telah bekerja sama dengan PT Evmoto Teknologi Indonesia dalam proyek comprehensive EV: pembelian 10 ribu unit motor ECGO3 dengan potensi gross profit 29,2 juta rupiah per unit—tanda nyata adanya sinergi dalam rantai bisnis EV.
Namun, keempat calon pembeli lainnya tampak seperti sekadar pengawal. Rich Step International Ltd, dari Hong Kong, dikenal sebagai pedagang elektronik, tanpa rekam akuisisi publik apapun. Huashang Investment Group bahkan pernah menjadi objek akuisisi—oleh Azturk Holding (Turki) pada 2024. Sementara Cahaya Intan Niaga, bergerak di sewa alat tambang, tak memiliki rekam aksi korporasi besar.
Lebih jauh lagi, tidak ada struktur hukum yang mengikat kelima pihak ini. Tidak ada Special Purpose Vehicle atau SPV, tidak ada pembagian porsi saham formal, dan tidak ada perjanjian konsorsium yang mendefinisikan peran serta porsi kontribusi dana. Mereka disebut sebagai “kelompok terorganisasi” dalam dokumen KRYA, frasa yang lebih menggambarkan kesamaran niat daripada koalisi berbasis pendanaan dan kendali yang kokoh.
“Rencana Pengambilalihan dilakukan oleh Calon Pembeli yang merupakan kelompok terorganisasi di mana terdapat keterkaitan di antara bidang usaha dari masing-masing Calon Pembeli,” tulis manajemen KRYA.
Dari pola keterlibatan mereka, akuisisi ini lebih menyerupai upaya membentuk kendaraan publik untuk proyek EV terpadu—LABA dan EVMOTO di hulu-hilir, Huashang sebagai pemasok suku cadang, sementara Rich Step dan Cahaya Intan menopang distribusi serta logistik.
Jika skenario itu benar, KRYA tak lagi sekadar perusahaan konstruksi, melainkan embrio holding kendaraan listrik. Namun peta jalannya masih kabur. Belum ada roadmap resmi atau rencana bisnis yang dipublikasi.
KabarBursa merangkum fokus usaha dan relevansi kelima calon pembeli terhadap industri EV sebagai berikut:

Situasi ini membuka kemungkinan besar bahwa, saat due diligence berjalan, akan muncul tarik-menarik kepentingan—antara yang punya dana, yang punya aset, dan yang hanya menumpang nama. Jika deal terhenti, batal, atau didesain ulang, bukan tidak mungkin harga saham KRYA akan jatuh kembali. Lonjakan sampai dua kali lipat sebelumnya lebih mencerminkan optimisme pasar daripada kepastian eksekusi.
Overbought di Grafik, Underdeliver di Fundamental
Harga saham KRYA sudah lari terlalu jauh dibanding kondisi fundamental. Hingga kuartal I 2025, perusahaan masih mencetak rugi bersih Rp27,6 miliar, tanpa kejelasan prospek laba atau proyek strategis yang berjalan. Tapi harga di pasar justru melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sepekan.
Jika ditakar lewat rasio valuasi, harga KRYA sudah terbang ke langit. Berdasarkan data Stockbit, Price to Book Value (PBV) per 2 Juli 2025 menembus 5,66 kali—jauh di atas rerata historis 2,31 kali, bahkan melampaui standar deviasi +1 yang berada di 4,87 kali. Artinya, saham ini telah berada dalam zona premium yang ekstrem, tanpa dukungan riil dari pembenahan kinerja.
Sementara itu, rasio Price to Earnings (PE) KRYA justru berada di angka minus 16,79 kali karena perseroan belum menghasilkan laba. Ini mengindikasikan valuasi yang tak rasional bila dikaitkan dengan profitabilitas.
Sinyal teknikal dari Investing pada 2 Juli 2025 menunjukkan gejala euforia jangka pendek. Indikator RSI menembus 89,9—zona jenuh beli atau overbought yang ekstrem. Stochastic dan Stochastic RSI sama-sama menyentuh level 100. Williams %R dan Ultimate Oscillator pun memberi sinyal overbought. Bahkan indikator MACD masih menguat dengan nilai 35,83, disertai ADX di atas 58, yang menandakan tren naik yang kuat namun terlalu cepat. Dengan harga yang kini 29 persen di atas MA20 dan hampir dua kali lipat MA50, potensi koreksi teknikal sangat terbuka.
Di sisi lain, nilai akuisisi dan siapa penyandang dananya masih belum terang. Mengingat porsi pengambilalihan mencapai 70 persen, investor perlu mencermati apakah kelima calon pembeli betul-betul siap membayar atau hanya melempar komitmen awal tanpa likuiditas yang terukur.
Jejak LABA yang baru saja mengakuisisi tambang Aceh, serta proyek 10.000 motor ECGO yang sedang berjalan, bisa saja menyedot cashflow mereka. Tanpa skema pembiayaan bersama yang solid, proses akuisisi KRYA bisa tertunda, bahkan batal.
Contoh serupa bukan monopoli Bursa Indonesia. Di panggung global, salah satu yang paling fenomenal adalah rencana akuisisi NVIDIA atas Arm Limited—anak usaha SoftBank—senilai USD40 miliar yang diumumkan pada 13 September 2020 lewat perjanjian definitif yang level komitmennya jauh di atas LoI.
Namun proses itu kandas setelah regulator di Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, dan China menentangnya karena isu persaingan sehingga pada 7 Februari 2022 kedua belah pihak sepakat membatalkan transaksi. SoftBank tetap mengantongi break-up fee USD1,25 miliar, sementara Arm bersiap melantai di bursa melalui IPO yang ditargetkan terjadi sebelum Maret 2023.
Kisah ini menegaskan, bahkan kesepakatan definitif yang dilakukan raksasa semikonduktor sekelas NVIDIA—lengkap dengan uang muka dan kontrak legal—pun bisa buyar ketika tersandung regulasi, pendanaan, atau due diligence lanjutan. Apalagi sekadar LoI seperti dalam rencana KRYA yang secara hukum masih berada pada tahap niat awal dan belum mengikat sedikit pun.
Investor sebaiknya tidak mendahului fakta. Reli harga KRYA saat ini lebih mencerminkan spekulasi ketimbang valuasi ulang. Sementara gelombang euforia di layar grafik makin tinggi, dasar pijakan fundamentalnya justru semakin tipis.
Bagi pelaku pasar berjangka napas pendek, reli secepat ini sering dibaca sebagai kesempatan memanen selisih tepat di saat grafik menanjak dan likuiditas menebal. Namun volatilitas yang sama bisa berubah menjadi jebakan kala sentimen balik arah lebih cepat daripada konfirmasi berita.
Sementara itu, pemegang horizon panjang cenderung menimbang faktor di luar layar harga: kejelasan pendanaan akuisisi, rampung-tidaknya due diligence, sampai arah bisnis pasca-takeover. Tanpa kepastian di titik-titik itu, lonjakan KRYA sekadar bab pembuka sebuah cerita yang halamannya masih kosong.(*)