KABARBURSA.COM - Harga saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terpantau mengalami volatilitas yang cukup signifikan selama sepekan terakhir di tengah berbagai sentimen korporasi dan dinamika sektor nikel nasional.
Berdasarkan data perdagangan Stockbit, harga saham INCO sempat menyentuh level tertinggi mingguan di Rp3.650 pada Senin, 26 Mei 2025, sebelum ditutup melemah ke level Rp3.510 pada akhir sesi Jumat, 28 Mei 2025. Pergerakan tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 0,28 persen dalam sehari, setelah sebelumnya mencatat tekanan koreksi 2,22 persen pada Selasa, 27 Mei 2025.
Fluktuasi ini terjadi seiring dengan sejumlah aksi korporasi strategis yang dilakukan perseroan dalam beberapa pekan terakhir.
Terbaru, pada 28 Mei 2025, Vale Indonesia menandatangani perjanjian jasa pertambangan dengan PT Pamapersada Nusantara untuk pengelolaan dan pengangkutan material bijih nikel di wilayah Bahodopi, Sulawesi Tengah. Kesepakatan ini merupakan bagian lanjutan dari proyek pengembangan tambang nikel Blok 2&3 Bahodopi, sekaligus mempertegas komitmen ekspansi Vale dalam mendukung program hilirisasi nasional.
Sebelumnya, pada 8 April 2025, perseroan juga telah menjalin kerja sama serupa dengan PT Petrosea Tbk (PTRO) di area yang sama. Rangkaian kontrak ini dinyatakan sebagai bentuk penguatan operasional untuk mengintegrasikan pasokan bahan baku dari Bahodopi ke fasilitas eksisting di Sorowako.
Respons pasar terhadap kabar tersebut cenderung netral hingga akhir Mei, dengan kecenderungan profit taking oleh investor lokal. Namun dari sisi investor asing, akumulasi masih tercatat signifikan.
Berdasarkan data broker summary tanggal 28 Mei 2025, sekuritas-sekuritas dengan dominasi asing seperti BRI Danareksa Sekuritas (OD), CGS International (YU), dan Tuntun Sekuritas Indonesia (QA) tercatat menjadi pembeli bersih saham INCO, masing-masing dengan nilai bersih Rp20,9 miliar, Rp1,2 miliar, dan Rp412,5 juta.
Di sisi lain, rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar pada Mei juga menetapkan susunan direksi baru dan menyetujui pembagian dividen tunai, meskipun tidak terdapat lonjakan harga signifikan pasca pengumuman tersebut.
Aksi-aksi korporasi ini menempatkan INCO dalam posisi strategis di tengah transformasi industri nikel, namun masih dibayangi oleh faktor makro dan teknikal jangka pendek yang membentuk tren harga saat ini.
Langkah Broker Asing Lakukan Akumulasi dan Distribusi Saham INCO
Perdagangan saham INCO pada 28 Mei 2025 menunjukkan dinamika yang menarik dari sisi aktivitas broker, khususnya sekuritas dengan dominasi investor asing.
Data broker summary Stockbit memperlihatkan bahwa BRI Danareksa Sekuritas (OD) menjadi pihak dengan akumulasi terbesar, mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp20,9 miliar dengan volume 58,59 ribu lot di harga rata-rata Rp3.562. Harga ini berada sedikit di atas rata-rata penutupan harian (Rp3.556), menandakan posisi akumulasi di tengah tekanan jual jangka pendek.
Selain OD, akumulasi juga terlihat dari CGS International Sekuritas Indonesia (YU) sebesar Rp1,2 miliar, Tuntun Sekuritas Indonesia (QA) senilai Rp412,5 juta, serta dua sekuritas lainnya yaitu KZ dan YP dengan nilai lebih kecil namun konsisten membeli di rentang harga Rp3.549–Rp3.575.
Pola ini membentuk distribusi akumulasi yang condong ke kanan dalam indikator net foreign flow, mengindikasikan masuknya dana asing dalam volume bertahap tanpa mendorong harga secara agresif.
Sebaliknya, tekanan jual signifikan datang dari UBS Sekuritas Indonesia (AK) dan J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) dengan nilai penjualan masing-masing Rp7,7 miliar dan Rp5,8 miliar. Kedua broker ini menjual pada level harga yang serupa dengan harga beli asing lainnya, yaitu pada kisaran Rp3.550–Rp3.560, menandakan distribusi yang tidak terjadi dalam panic selling tetapi dalam kondisi pasar yang likuid. Mandiri Sekuritas (CC) turut mencatat distribusi senilai Rp3,4 miliar.
Secara teknikal, aksi broker asing ini membentuk pola rotasi akumulasi yang belum konsisten. Hal ini terlihat dari persebaran orderbook yang masih tipis di sisi bid, dengan level permintaan besar berada di Rp3.500 dan Rp3.480.
Di sisi lain, tekanan ask menumpuk di rentang Rp3.560–Rp3.600, menunjukkan bahwa setiap upaya kenaikan harga langsung direspons oleh pelepasan posisi jangka pendek.
Aktivitas ini mengisyaratkan bahwa saat ini belum terjadi strong conviction dari institusi besar terhadap momentum breakout INCO. Namun, adanya pembelian simultan dari OD, YU, dan QA dalam volume besar dapat dibaca sebagai indikasi bahwa saham INCO sedang dibentuk basis konsolidasi jangka pendek dengan strategi bertahap.
Fundamental Vale Indonesia (INCO) hingga Kuartal I 2025
Membaiknya laba kuartal I 2025 menjadi sorotan utama dalam laporan keuangan INCO, namun perbaikan ini masih bersifat nominal dan belum mencerminkan pemulihan kinerja secara menyeluruh. Vale Indonesia mencetak laba bersih USD21,8 juta, naik dari USD6,2 juta pada kuartal I 2024. Namun jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (kuartal IV 2024: USD57,8 juta), terjadi penurunan lebih dari 60 persen.
Pendapatan juga turun menjadi USD206,5 juta, lebih rendah dari USD229,9 juta setahun sebelumnya. Pelemahan ini utamanya disebabkan oleh penurunan volume penjualan nikel matte, bukan hanya pergerakan harga. Dari sisi operasional, produksi nikel matte kuartal I 2025 hanya mencapai 17.276 metrik ton, turun dibanding kuartal I tahun lalu sebesar 19.494 ton. Penurunan ini terjadi akibat aktivitas pemeliharaan (maintenance shutdown) fasilitas pengolahan Sorowako yang masih berlanjut.
Secara langsung, kondisi ini menjelaskan mengapa akumulasi asing di pasar saham belum agresif. Investor institusional kemungkinan masih mempertimbangkan dampak dari berkurangnya output terhadap top line dan profitabilitas perseroan, terutama di tengah fluktuasi harga nikel global yang belum stabil.
Di sisi lain, penandatanganan kontrak jasa pertambangan dengan PT Pamapersada Nusantara dan PT Petrosea Tbk untuk proyek Blok Bahodopi menunjukkan bahwa Vale Indonesia sedang mempercepat agenda peningkatan volume cadangan dan produksi masa depan. Namun, manfaat dari kontrak ini belum tercermin dalam laporan keuangan kuartal I karena kegiatan operasional masih dalam tahap awal. Dengan demikian, potensi peningkatan pendapatan dan efisiensi baru akan terlihat pada semester II 2025 atau awal 2026, tergantung kecepatan implementasi infrastruktur dan pengangkutan bijih.
Likuiditas tetap menjadi kekuatan Vale. Saldo kas per 31 Maret 2025 mencapai USD601 juta, cukup untuk mendukung belanja modal proyek jangka menengah dan komitmen dividen tunai. Namun, tanpa perbaikan kuantitatif pada volume penjualan dan efisiensi biaya per ton produksi, margin laba masih akan berada dalam tekanan.
Kondisi fundamental ini memperkuat alasan distribusi selektif oleh broker asing dalam beberapa hari terakhir. Akumulasi yang terjadi tampaknya lebih bersifat positioning jangka menengah terhadap katalis proyek, ketimbang reaksi atas kinerja laba saat ini yang masih rapuh secara struktural.
Valuasi Saham INCO
Kondisi fundamental INCO yang masih dibayangi tekanan produksi dan margin memberi dampak langsung pada persepsi pasar terhadap valuasinya. Meski demikian, saham INCO menunjukkan karakter valuasi yang relatif moderat. Dengan harga penutupan Rp3.510 per 28 Mei 2025, saham ini diperdagangkan pada kisaran Price to Earnings Ratio (PER) 12–13 kali dan Price to Book Value (PBV) 1,2 kali. Angka tersebut menempatkan INCO dalam posisi yang menarik untuk diamati, terutama bagi investor yang mencari eksposur di sektor nikel namun menghindari risiko tinggi.
Sebagai pembanding, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), emiten nikel yang telah terintegrasi dari hulu hingga hilir, diperdagangkan pada PER sekitar 13,5 kali dan PBV 3,1 kali di harga Rp3.110. Valuasi tersebut mencerminkan status premium ANTM di mata pasar, didorong oleh kinerja yang solid dengan laba bersih Rp5,54 triliun sepanjang tahun 2024 serta ekspansi agresif di sektor hilirisasi mineral.
Di sisi lain, PT Merdeka Copper and Gold Tbk (MDKA) justru berada di kutub yang berbeda: diperdagangkan di Rp2.040 dengan PBV sekitar 2 kali, namun masih membukukan rugi bersih Rp897,66 miliar pada tahun 2024. Meskipun memiliki potensi dari proyek pertumbuhan jangka panjang, valuasi MDKA masih merefleksikan ketidakpastian dan tekanan struktural.
Dalam spektrum ini, posisi INCO terlihat berada di tengah. Tidak semurah saham-saham yang undervalued ekstrem, namun juga tidak menyandang premi sekuat ANTM. Valuasi ini mengindikasikan bahwa pasar masih memberi ruang bagi pemulihan INCO, terutama jika proyek-proyek seperti Blok Bahodopi dan Pomalaa mulai berkontribusi pada volume produksi dan pendapatan dalam jangka menengah. Dengan kata lain, meski laporan keuangan belum mencerminkan lonjakan kinerja, valuasi saham INCO mencerminkan keyakinan atas dasar kas yang kuat, struktur modal yang konservatif, dan potensi pertumbuhan dari program hilirisasi yang terus berjalan.
Simpulan dan Strategi Investor
Kinerja harga saham INCO sepanjang pekan terakhir menunjukkan bahwa pasar sedang membaca ulang prospek emiten ini di tengah sentimen yang kompleks.
Di satu sisi, akumulasi selektif oleh broker asing seperti BRI Danareksa, CGS International, dan Tuntun Sekuritas mengindikasikan adanya positioning terhadap katalis jangka menengah, terutama dari kontrak-kontrak jasa pertambangan yang baru diteken di Bahodopi.
Di sisi lain, pelemahan volume produksi, margin laba yang belum stabil, dan distribusi dari beberapa broker besar seperti UBS dan J.P. Morgan menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya yakin dengan momentum jangka pendek.
Secara fundamental, laporan keuangan kuartal I 2025 menegaskan bahwa meskipun laba bersih meningkat secara tahunan, tekanan masih terasa dari sisi penjualan dan produksi nikel matte.
Sementara secara valuasi, INCO berada di posisi yang cukup kompetitif, tidak terlalu mahal seperti ANTM yang sudah fully priced-in, dan tidak seberisiko MDKA yang masih mencatatkan kerugian.
Hal ini memberi ruang bagi investor untuk mempertimbangkan posisi akumulasi secara bertahap, terutama bagi yang berorientasi pada horizon investasi menengah hingga panjang.
Bagi investor ritel, strategi yang dapat dilakukan saat ini adalah menunggu titik konfirmasi teknikal yang lebih kuat di atas area Rp3.600 dengan volume untuk validasi akumulasi.
Investor jangka menengah juga perlu mencermati perkembangan aktualisasi proyek Bahodopi dan Pomalaa yang mulai masuk fase eksekusi pada semester II 2025.
Dengan sentimen hilirisasi yang masih akan mendominasi narasi sektor mineral, posisi INCO akan terus menjadi pantauan utama di antara saham-saham nikel berkapitalisasi besar. (*)