Insight Daily 03 Jul 2025 Penulis: KabarBursa.com

Konsisten Cuan! Investor Wajib Lirik Emiten Tahan Krisis ini

Meski ekonomi nasional melambat, emiten di sektor industri tetap mencetak laba dan membagikan dividen, menunjukkan ketahanan industri nasional.

KABARBURSA.COM - Di tengah awan gelap perlambatan ekonomi nasional, sejumlah emiten di sektor industri menunjukkan kecemerlangan dan memberikan harapan. Emiten ini masih tetap menarik untuk dipertimbangkan lantaran terus mencetak pertumbuhan laba.Laba ini tumbuh signifikan di tengah tekanan global, fluktuasi nilai tukar dan tantangan peningkatan biaya energi...

Ilustrasi emiten di sektor industri yang tahan krisis. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Ilustrasi emiten di sektor industri yang tahan krisis. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Insight Navigator

  1. 01 SMSM Stabil di Tengah Fluktuasi
  2. 02 IMPC Menjawab Perlambatan dengan Produk Ramah Lingkungan
  3. 03 Pertumbuhan Solid Berbasis Efisiensi dan Ekspansi Ekspor
  4. 04 Peluang Jangka Panjang di Balik Angka

KABARBURSA.COM - Di tengah awan gelap perlambatan ekonomi nasional, sejumlah emiten di sektor manufaktur menunjukkan kecemerlangan dan memberikan harapan. Emiten ini masih tetap menarik untuk dipertimbangkan lantaran terus mencetak pertumbuhan laba.

Laba ini tumbuh signifikan di tengah tekanan global, fluktuasi nilai tukar dan tantangan peningkatan biaya energi. Tantangan tersebut kian menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan menunjukkan daya tahan yang baik dan mengadopsi strategi adaptif yang perlu dicermati investor.

Daya tahan ini perlu diapresiasi mengingat, perlambatan yang terjadi saat ini cukup signifikan. Terutama ketika ditambah dengan peningkatan tensi geopolitik Timur Tengah yang berdampak ke ekonomi Tanah Air.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,87 persen (year-on- year/yoy) pada kuartal I-2025. Capaian ini sekaligus menandai laju terendah sejak kuartal III-2021.

Senior ekonom Fithra Faisal Hestiadi menilai, Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 mencatat angka 4,87 persen secara tahunan yoy. Menurutnya, pelambatan ekonomi ini menunjukkan tekanan struktural dan siklikal yang masih membayangi ekonomi nasional.

“Angka ini menunjukkan perlambatan signifikan dibandingkan kuartal IV-2024 (5,02 persen) dan merupakan laju pertumbuhan paling lambat sejak kuartal III-2021,” kata Fithra dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Fithra menambahkan, penurunan permintaan domestik dan investasi menjadi sinyal bahwa ekonomi Indonesia belum benar-benar keluar dari tekanan pascapandemi dan dinamika global.

Setali tiga uang dengan laporan Fithra, ekonom senior Bright Institute, Awalil Rizky, menyoroti bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF hanya sebesar 4,65 persen pada 2025, jauh di bawah target pemerintah dalam RPJMN.

“Dengan porsi investasi sebesar itu, nyaris tidak mungkin ekonomi bisa tumbuh di atas lima persen,” ujar Awalil.

Meski badai tantangan tak kunjung reda, sektor industri pengolahan nonmigas tetap menunjukkan ketangguhan. Data Kementerian Perindustrian mencatat pertumbuhan sebesar 4,75 persen sepanjang 2024 dengan kontribusi 17,18 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga tetap berada di zona ekspansif selama paruh pertama 2025, mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek industri nasional.

Optimisme ini juga tercermin dari perolehan laba bersih sejumlah emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), di mana salah satunya adalah PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM).

SMSM Stabil di Tengah Fluktuasi

Di tengah melambatnya ekonomi nasional dan tekanan eksternal, SMSM tetap mencatatkan kinerja solid. Kinerja ini sekaligus menjadikannya sebagai salah satu emiten di sektor manufaktur yang paling konsisten mencetak laba.

Produsen komponen otomotif ini tidak hanya mempertahankan profitabilitasnya, tetapi juga membagikan dividen secara rutin, bahkan ketika pertumbuhan ekonomi nasional tertekan di bawah 5 persen. Peningkatan laba bersih dan konsistensi dalam pembagian dividen berbanding terbalik dengan kondisi pelemahan di sektor otomotif.

Berdasarkan laporan tahunan 2024, SMSM berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp577 miliar, naik 5,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Margin laba kotor tetap tinggi di level 31,6 persen. Capaian ini menunjukkan efisiensi biaya produksi di tengah fluktuasi harga bahan baku.

Pendapatan bersih SMSM pada 2024 juga tumbuh menjadi Rp4,7 triliun, atau naik 4,1 persen secara tahunan (YoY). Kenaikan ini ditopang oleh permintaan ekspor yang stabil serta peningkatan kontribusi dari segmen produk non-filter.

Konsistensi kinerja tersebut tidak terlepas dari strategi ekspansi pasar luar negeri. Dalam laporan resmi perusahaan, manajemen menyebutkan bahwa ekspor menyumbang lebih dari 60 persen total pendapatan. 

“Kami terus memperluas pasar ekspor ke lebih dari 120 negara dan menjaga relasi jangka panjang dengan distributor dan pelanggan,” tulis manajemen dalam laporan tahunan 2024.

Strategi fokus ke pasar ekspor adalah langkah cerdas mengingat kondisi sektor otomotif nasional mengalami penurunan yang signifikan.

Strategi diversifikasi produk dan peningkatan kapasitas produksi juga menjadi kunci. SMSM meluncurkan berbagai varian baru filter kendaraan, termasuk untuk segmen heavy-duty, serta memperluas lini produk cooling system untuk pasar aftermarket internasional.

Lebih lanjut, jika menilik sisi fundamental, rasio utang SMSM tergolong konservatif. Debt to Equity Ratio per akhir 2024 tercatat hanya 0,21x, dengan arus kas operasi yang kuat sebesar Rp585 miliar.

Begitu juga dengan dividen tetap menjadi komitmen utama perusahaan. Pada 2024, SMSM membagikan dividen tunai sebesar Rp220 per saham. Jumlah ini setara dividend payout ratio 82,4 persen dari laba tahun berjalan.

Kinerja saham SMSM pun mencerminkan sentimen positif investor. Dalam lima tahun terakhir (2020–2025), saham SMSM naik lebih dari 60 persen dengan volatilitas yang relatif rendah dibandingkan emiten sektor industri lainnya.

Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang dikhawatirkan stagnan di kisaran 4 persen, SMSM menjadi contoh perusahaan yang mampu mempertahankan stabilitas bisnis dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

Fokus pada efisiensi, ekspansi ekspor, serta kultur disiplin keuangan menjadikan SMSM salah satu emiten industri yang layak masuk radar investor defensif maupun pertumbuhan.

IMPC Menjawab Perlambatan dengan Produk Ramah Lingkungan

SMSM tidak sendiri dalam mencatatkan capaian laba bersih positif. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) juga menorehkan catatan kinerja positif sepanjang 2024 meskipun dihadapkan pada tantangan eksternal. Tantangan tersebut meliputi pelemahan ekonomi domestik, depresiasi rupiah, dan kenaikan harga energi.

Perusahaan yang dikenal sebagai produsen bahan bangunan berbasis plastik seperti atap gelombang dan plafon PVC ini justru menguatkan fondasinya melalui strategi ekspansi regional dan penguatan portofolio produk ramah lingkungan.

Menurut laporan tahunan 2024, IMPC membukukan pendapatan bersih sebesar Rp2,41 triliun. Capaian ini naik 3,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat sektor konstruksi domestik belum sepenuhnya pulih, pertumbuhan ini banyak ditopang oleh ekspor ke pasar regional serta permintaan berkelanjutan atas produk premium seperti Alderon dan SolarTuff.

Laba bersih IMPC tercatat naik 2,9 persen menjadi Rp354 miliar. Margin laba bersih terjaga di atas 14 persen. Hal ini menandakan efisiensi biaya dan kontribusi yang meningkat dari lini bisnis dengan margin tinggi. Kinerja solid ini turut didorong oleh keberhasilan IMPC dalam menahan beban pokok penjualan, serta kontribusi positif dari anak usaha di Malaysia, Australia, dan Vietnam. IMPC juga menjadikan strategi berkelanjutan sebagai titik tumpu dalam menghadapi ketidakpastian makroekonomi. 

“IMPC terus memperluas lini produk hijau seperti atap daur ulang dan panel insulasi hemat energi, sejalan dengan tren bangunan berkelanjutan di Asia Tenggara,” tulis manajemen IMPC dalam keterangan tertulis. 

Perusahaan juga mengklaim telah mendaur ulang lebih dari 9.000 ton limbah plastik selama 2024. Secara fundamental, IMPC menjaga struktur keuangannya tetap konservatif. Rasio utang berbunga terhadap ekuitas (DER) hanya 0,29x.

Sementara arus kas dari aktivitas operasi tetap positif sebesar Rp374 miliar dan perusahaan konsisten membagikan dividen dengan payout ratio 35 persen. Pada April 2025, IMPC kembali membagikan dividen sebesar Rp26 per saham, mengindikasikan komitmen perusahaan terhadap pemegang saham meskipun di tengah perlambatan ekonomi nasional.

Dalam periode lima tahun terakhir, laba IMPC tercatat tumbuh secara bertahap, bahkan saat pandemi dan fase pemulihan ekonomi.

Kombinasi antara keberlanjutan, diversifikasi pasar, dan efisiensi operasional menjadikan IMPC sebagai salah satu emiten industri yang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah tekanan ekonomi makro.

Pertumbuhan Solid Berbasis Efisiensi dan Ekspansi Ekspor

Capaian positif tidak hanya didominasi oleh emiten lawas yang telah cukup lama melenggang di pasar modal. Emiten baru di sektor industri manufaktur juga mencatatkan kinerja positif sejak awal berdiri, seperti halnya PT Merdeka Industri Indonesia Tbk (MERI).

Emiten yang menjadi pemain baru di sektor industri manufaktur ini tampil impresif dalam tiga tahun terakhir. Di tengah lesunya permintaan domestik, MERI mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang konsisten, menjadikannya salah satu contoh emiten baru yang cepat adaptif.

MERI membukukan laba bersih sebesar Rp126 miliar pada 2022, kemudian melonjak ke Rp198 miliar di 2023. Realisasi hingga kuartal ketiga 2024 menunjukkan tren peningkatan yang berkelanjutan, dengan estimasi laba penuh tahun 2024 mencapai Rp245 miliar.

Peningkatan ini ditopang oleh ekspansi pasar ekspor ke Australia dan India serta efisiensi di lini produksi. EPS perusahaan juga naik dari Rp12,8 menjadi lebih dari Rp20, seiring dengan kenaikan margin laba bersih dari 7 persen ke 11 persen.

MERI memfokuskan investasinya pada teknologi manufaktur otomatis dan logistik rantai pasok pintar. Produk utamanya seperti industrial gearbox dan komponen presisi kendaraan berat mendapat permintaan tinggi dari segmen B2B ekspor. Perusahaan juga aktif menjalin kontrak pasokan jangka panjang dengan mitra industri multinasional.

Struktur keuangan MERI cukup konservatif, dengan DER di bawah 0,5x. Arus kas operasional stabil dan perusahaan tetap rutin membagikan dividen dengan payout ratio di kisaran 30–40 persen. Dalam lima tahun ke depan, MERI menargetkan ekspansi ke pasar Eropa Timur melalui kemitraan strategis.

Dengan tren pertumbuhan laba yang berkelanjutan dan strategi ekspansi ekspor yang agresif namun terukur, MERI menjadi kandidat kuat dalam portofolio sektor industri yang tahan banting di tengah ketidakpastian global dan tekanan permintaan domestik.

Peluang Jangka Panjang di Balik Angka

Di tengah kondisi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih, keberhasilan emiten seperti SMSM, IMPC, dan MERI mencetak pertumbuhan laba menjadi cerminan ketahanan sektor industri Indonesia. Ketiganya menunjukkan bahwa strategi adaptif, mulai dari ekspansi pasar ekspor, pengembangan produk ramah lingkungan, hingga diversifikasi portofolio bernilai tambah, dapat menjadi bantalan kokoh bagi pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Fenomena ini juga mencerminkan realitas bahwa peluang investasi tidak selalu terletak pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi justru pada stabilitas kinerja perusahaan dan konsistensi strategi bisnis.

Bagi investor ritel maupun institusi, emiten-emiten ini bisa menjadi alternatif yang menjanjikan di tengah tingginya ketidakpastian global, apalagi dengan rekam jejak dividen yang stabil dan struktur keuangan yang sehat.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, dan Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan nonmigas masih menjadi tulang punggung PDB nasional, dengan kontribusi lebih dari 17 persen.

Oleh karena itu, emiten industri yang terbukti resilien dan fokus pada keberlanjutan bukan hanya relevan dalam portofolio jangka pendek, tetapi juga dalam membangun pondasi investasi jangka panjang di tengah era transisi ekonomi global dan domestik.

Dengan pendekatan berbasis data dan strategi bisnis yang realistis, emiten seperti SMSM, IMPC, dan MERI layak menjadi sorotan utama dalam radar investor yang mencari kinerja solid di tengah ketidakpastian dan bukan sekadar spekulasi, melainkan pertumbuhan yang teruji.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya