KABARBURSA.COM – Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencuri perhatian pasar setelah membukukan kinerja gemilang pada kuartal I 2026.
Menariknya, penguatan fundamental tersebut dinilai belum sepenuhnya tercermin pada valuasi saham. Secara historis, level harga UNVR saat ini masih tergolong relatif murah.
UNVR sukses mencatatkan kinerja positif pada tiga bulan pertama 2026 dengan lonjakan laba bersih yang cukup signifikan.
Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, emiten konsumer membukukan laba periode berjalan sebesar Rp2,14 triliun hingga Maret 2026. Angka ini melonjak 73 persen jika dibandingkan dari periode serupa tahun lalu yang senilai Rp1,23 triliun.
Kenaikan laba itu bersamaan dengan pertumbuhan penjualan bersih yang dicatat UNVR dengan capaian Rp8,44 triliun, atau naik dari Rp8,21 triliun pada kuartal I tahun lalu.
Sementara itu, laba bruto UNVR pada kuartal I 2026 sebesar Rp4,06 triliun, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebanyak Rp3,97 triliun..
UNVR juga mampu menekan sejumlah beban usaha. Beban penjualan Perseroan menyusut menjadi Rp1,64 triliun dibandingkan Rp1,86 triliun pada kuartal I 2025. Meski demikian, beban umum dan administrasi tercatat meningkat menjadi Rp830,37 miliar dari sebelumnya Rp665,83 miliar.
Adapun, laba sebelum pajak penghasilan senilai Rp1,59 triliun, naik dari Rp1,41 triliun pada kuartal yang sama tahun 2025. Sedangkan laba dari operasi yang dilanjutkan mencapai Rp1,25 triliun, naik dari Rp1,09 triliun secara tahunan.
Kinerja apik ini juga terganbar pada laba per saham dasar yang meningkat menjadi Rp56 per saham, terdiri dari Rp33 per saham dari operasi yang dilanjutkan dan Rp23 per saham dari operasi yang dihentikan. Pada periode yang sama tahun lalu, laba per saham tercatat sebesar Rp33 per saham.
Pindah ke neraca, UNVR memiliki total aset yang stabil sebesar Rp20,01 triliun. Perseroan masih memiliki posisi kas dan setara kas sebesar Rp5,40 triliun
Sementara itu ekuitas Perseroan naik signifikan dengan catatan Rp6,55 triliun per Maret 2026 dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp4,47 triliun Sementara itu, total liabilitas berhasil ditekan menjadi Rp13,45 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp15,54 triliun.
UNVR Mulai Diserbu Asing
Saham UNVR mulai ramai dikoleksi investor asing setelah Perseroan mengumumkan kinerja kuartal I 2026 pada 30 April 2026.
Berdasarkan data broker summary Stockbit periode 30 April hingga 7 Mei 2026, broker KZ menjadi pembeli terbesar saham UNVR dengan nilai akumulasi mencapai Rp81,6 miliar. Broker ini mengoleksi sekitar 486,5 ribu lot saham dengan rata-rata harga di level Rp1.677 per saham.
Selain KZ, broker asing lain yang juga tercatat aktif mengoleksi saham UNVR yakni RX sebesar Rp11,8 miliar dan DP atau senilai Rp11,2 miliar. Kemudian broker TP memborong saham senilai Rp5 miliar, sementara BB mencatat pembelian sebesar Rp4,9 miliar.
Adapun broker lain yang masuk daftar pembeli yakni HD sebesar Rp64,9 juta, YP Rp56 juta, PD atau Rp31,5 juta, XL Rp6,4 juta dan DR sebesar Rp5,2 juta.
Di sisi lain, aksi distribusi terbesar dilakukan broker ZP dengan nilai penjualan mencapai Rp37,4 miliar. Selanjutnya broker AK melepas saham senilai Rp22,4 miliar dan BK sebesar Rp18,9 miliar.
Broker lain yang juga tercatat melakukan penjualan yakni CC sebesar Rp2,5 miliar, YU Rp2,3 miliar, KK Rp1,9 miliar, serta LG Rp73,2 juta. Kemudian AG tercatat menjual Rp47,9 juta, EP Rp9 juta dan OD sebesar Rp1,5 juta.
Kombinasi antara perbaikan laba, efisiensi biaya, serta neraca yang lebih solid menjadi nampaknya kembali menarik minat investor asing terhadap saham UNVR.
Terlebih, secara historis saham sektor konsumer defensif seperti UNVR cenderung kembali diminati ketika pasar mulai mencari emiten dengan fundamental stabil dan arus kas kuat.
Meski demikian, pasar masih akan mencermati keberlanjutan pertumbuhan penjualan Perseroan pada kuartal-kuartal berikutnya. Sebab, tantangan daya beli masyarakat dan kompetisi di industri consumer goods masih menjadi faktor yang dapat mempengaruhi laju pemulihan kinerja UNVR sepanjang 2026.
Namun setidaknya, akumulasi asing yang mulai terlihat sejak laporan keuangan kuartal I 2026, menjadi sinyal awal bahwa pasar mulai merespons positif turnaround kinerja yang dibukukan Perseroan pada awal tahun ini.
Valuasi Rendah
Saham UNVR memperlihatkan kombinasi menarik antara pemulihan profitabilitas, valuasi yang relatif rendah, serta dividen yang masih kompetitif.
Berdasarkan data Stockbit, UNVR saat ini diperdagangkan dengan current price earnings ratio (PER) annualised sebesar 8,18 kali dan PER trailing twelve months (TTM) di level 8,19 kali.
Valuasi tersebut tergolong cukup rendah untuk ukuran emiten consumer goods defensif dengan merek kuat dan pangsa pasar besar di Indonesia.
Sementara itu, forward PER UNVR berada di kisaran 15,92 kali. Adapun price to sales ratio (P/S) tercatat sebesar 2,18 kali dengan EV to EBITDA berada di level 12,20 kali. Dari sisi price to book value (PBV), saham UNVR saat ini berada di level 10,67 kali.
Secara fundamental, kinerja profitabilitas Perseroan juga masih tergolong solid. Return on assets (ROA) tercatat sebesar 42,69 persen, sedangkan return on equity (ROE) mencapai 130,25 persen. Angka tersebut mencerminkan kemampuan Perseroan menghasilkan laba yang tinggi dibandingkan aset dan modal yang dimiliki.
Margin keuntungan UNVR juga masih relatif terjaga. Gross profit margin kuartalan tercatat sebesar 48,20 persen, operating profit margin berada di level 18,57 persen, sementara net profit margin mencapai 25,35 persen.
Di sisi lain, struktur keuangan Perseroan juga terlihat cukup sehat. Debt to equity ratio (DER) UNVR tercatat hanya sebesar 0,09 kali, mencerminkan tingkat leverage yang relatif rendah. Posisi kas Perseroan juga masih kuat dengan cash per share mencapai 141,59.
Selain faktor fundamental dan valuasi, daya tarik lain UNVR masih datang dari sisi dividen. Berdasarkan data Stockbit, dividend yield saham ini mencapai 7,30 persen dengan dividend payout ratio sebesar 59,70 persen. Dividen trailing twelve months (TTM) tercatat sebesar Rp134 per saham.
Direkomendasikan Buy
Saham UNVR kembali menarik perhatian pasar setelah menunjukkan penguatan signifikan dalam perdagangan jangka pendek. Di tengah tekanan harga yang masih membayangi dalam beberapa tahun terakhir, mayoritas analis Stockbit justru masih memberikan rekomendasi positif terhadap saham konsumer tersebut.
Berdasarkan data Stockbit yang dihimpun KabarBursa.com, sebanyak 29 analis tercatat memberikan penilaian terhadap saham UNVR. Hasilnya, sebanyak 15 analis merekomendasikan buy, 11 analis menyarankan hold, dan hanya tiga analis yang memberikan rekomendasi sell.
Konsensus analis tersebut tercermin dari target harga rata-rata UNVR yang berada di level Rp2.398 per saham. Angka itu jauh di atas posisi harga terkini atau penutupan Kamis, 7 Mei 2026 di kisaran Rp1.835 per saham. Bahkan, estimasi target tertinggi mencapai Rp3.400, sementara target terendah berada di level Rp1.500.
Jika mengacu pada target harga rata-rata tersebut, saham UNVR masih memiliki potensi kenaikan atau upside sekitar 30 persen dari posisi saat ini.
Hal ini menunjukkan pelaku pasar mulai melihat ruang pemulihan bagi emiten consumer goods tersebut Dalam jangka pendek, performa harga saham UNVR juga mulai menunjukkan momentum positif.
Dalam sepekan terakhir, saham ini tercatat melonjak 19,54 persen dari level Rp1.540 menjadi Rp1.835. Namun demikian, secara jangka menengah hingga panjang, tekanan terhadap saham UNVR sebenarnya masih cukup besar.
Dalam tiga bulan terakhir saham ini masih terkoreksi 20,22 persen, sedangkan secara year to date (YTD) turun 29,42 persen. Bahkan dalam periode lima tahun, saham UNVR telah melemah sekitar 66,94 persen dan terkoreksi hampir 80 persen dalam horizon 10 tahun.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pasar sebelumnya memberikan tekanan besar terhadap prospek pertumbuhan Perseroan. Momentum rebound jangka pendek yang mulai terlihat membuka peluang terjadinya akumulasi bertahap oleh investor yang memburu saham defensif berfundamental besar dengan valuasi yang mulai murah.
Dengan mayoritas analis masih memberikan rekomendasi buy dan target harga yang berada jauh di atas level pasar saat ini, saham UNVR tampaknya mulai kembali masuk radar investor sebagai kandidat saham defensif yang berpotensi mengalami pemulihan bertahap. (*)