KABARBURSA.COM – PT Harum Energy Tbk (HRUM) melaporkan lonjakan produksi dan penjualan nikel sepanjang tahun buku 2024, seiring strategi transformasi perusahaan dari pertambangan batu bara menuju sektor mineral logam.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi yang telah diaudit, HRUM mencatatkan volume penjualan nikel sebesar 57.583 ton atau meningkat 634 persen year on year (yoy) dibanding 7.842 ton pada 2023.
“Pertumbuhan ini utamanya berasal dari peningkatan kapasitas dan konsolidasi penuh atas kinerja anak usaha PT Westrong Metal Industry (WMI) yang mulai berproduksi secara signifikan sejak awal 2024,” tulis manajemen dalam FY 2024 Summary and Highlights yang dirilis perseroan, dikutip Selasa, 17 Juni 2025.
Dari sisi produksi, volume nikel juga mengalami kenaikan drastis menjadi 56.998 ton, naik lebih dari tujuh kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 7.763 ton.
Harga jual rata-rata (average selling price/ASP) nikel sepanjang 2024 berada di kisaran USD12.818 per ton, relatif stabil dibanding tahun sebelumnya USD12.770 per ton, meskipun harga nikel acuan LME turun 12 persen menjadi USD16.816 per ton.
Kinerja penjualan tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan. Total pendapatan konsolidasi HRUM pada 2024 tercatat sebesar USD1,295 miliar, tumbuh 40 persen (yoy) dari USD925 juta pada 2023. Sebanyak 57 persen dari total pendapatan tersebut berasal dari segmen nikel, untuk pertama kalinya melampaui kontribusi batu bara yang turun ke level 43 persen.
Laba Bersih HRUM Turun, Beban Produksi Naik
Meski pendapatan meningkat tajam, HRUM membukukan penurunan laba bersih sebesar 60 persen menjadi USD77,7 juta sepanjang 2024. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan beban pokok pendapatan dari USD543 juta menjadi USD1,012 miliar atau melonjak 86 persen.
Selain itu, terdapat biaya nonkas sebesar USD45,9 juta yang berkaitan dengan kepemilikan pada Nickel Industries Limited (NIC).
“Jika dikecualikan efek nonrecurring tersebut, maka profitabilitas inti masih menunjukkan tren yang kuat dan konsisten,” kata manajemen dalam laporan yang sama.
Earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) HRUM secara tahunan tercatat USD281,9 juta, turun 18 persen dibanding tahun sebelumnya.
EBITDA dari divisi nikel melonjak 528 persen menjadi USD81,7 juta, sementara EBITDA dari divisi batu bara turun 37 persen menjadi USD200,2 juta.
Realisasi Produksi Nikel dan Bijih
Produksi nikel HRUM ditopang oleh fasilitas pemurnian (smelter) milik WMI dan operasi tambang nikel milik PT Position (POS). POS, yang mulai memproduksi sejak Oktober 2024, melaporkan total produksi bijih nikel sebesar 963.028 wet metric ton (WMT) hingga akhir tahun.
Pada kuartal I 2025, produksi dari POS tercatat sebesar 330.000 WMT, mencakup bijih limonit dan saprolit.
Dengan mulai beroperasinya POS, HRUM kini memiliki suplai bijih internal yang dapat digunakan untuk proses produksi feronikel maupun nickel matte di smelter RKEF (rotary kiln electric furnace) milik entitas anak.
Sementara itu, proyek pemurnian nikel berteknologi HPAL (high-pressure acid leach) yang dikerjakan oleh anak usaha PT Blue Sparking Energy (BSE) telah mencapai progres konstruksi sebesar 70 persen hingga akhir Maret 2025. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada Desember 2025.
Pada kuartal I 2025, HRUM mencatatkan penjualan nikel sebesar 14.909 ton, tumbuh 75 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Volume produksi nikel dalam tiga bulan pertama 2025 mencapai 17.889 ton, atau meningkat 116 persen (yoy). ASP nikel tercatat USD11.678 per ton, naik 2 persen dari USD11.439 pada kuartal I 2024.
Pendapatan HRUM pada kuartal I 2025 naik 12 persen (yoy) menjadi USD298,9 juta. EBITDA naik menjadi USD55 juta meski masih lebih rendah dari kuartal I tahun sebelumnya yang sebesar USD92 juta. Laba bersih tercatat USD7,3 juta, mencerminkan pemulihan dibanding rugi bersih USD16,8 juta pada kuartal sebelumnya.
Menurut manajemen, perbaikan kinerja tersebut ditopang oleh stabilnya harga jual produk nikel serta menurunnya biaya produksi. Blended cash cost per ton nikel turun menjadi USD10.638, dibanding kuartal IV 2024 sebesar USD11.398.
“Tekanan harga global tetap menjadi tantangan, namun peningkatan efisiensi operasional dan penurunan biaya secara bertahap mulai terlihat,” tulis manajemen dalam 1Q 2025 Summary and Highlights yang dipublikasikan pada 30 April 2025.
Struktur Modal dan Investasi HRUM
Total aset HRUM meningkat dari USD1,63 miliar pada akhir 2023 menjadi USD2,86 miliar per Maret 2025. Kenaikan ini seiring dengan ekspansi besar-besaran di sektor nikel, termasuk investasi dalam aset tetap, pembelian mesin, serta belanja modal untuk proyek HPAL BSE.
Belanja modal (capital expenditure/capex) HRUM pada kuartal I 2025 mencapai USD206,9 juta.
Liabilitas perusahaan juga meningkat dari USD791,9 juta menjadi USD1,07 miliar pada akhir kuartal I 2025, didorong oleh penarikan pinjaman bank senilai USD279 juta.
Dengan total pinjaman bank mencapai USD501,6 juta, posisi utang bersih perusahaan tercatat USD343,9 juta, naik dari USD192 juta pada akhir 2024.
Sementara itu pada Maret 2025, HRUM menyelesaikan penjualan hampir seluruh kepemilikan sahamnya di Nickel Industries Limited (NIC) dengan harga AUD0,69 per saham. Transaksi tersebut menghasilkan dana kotor sebesar AUD123 juta atau setara USD78,5 juta.
Manajemen menjelaskan bahwa meski penjualan saham tersebut menghasilkan kerugian akuntansi sebesar USD13,7 juta, secara kas keseluruhan investasi tetap mencatatkan imbal hasil positif.
“Divestasi ini memungkinkan perusahaan untuk memfokuskan kembali sumber daya ke portofolio nikel domestik dan memperkuat likuiditas,” ujar perwakilan manajemen dalam keterangan resmi.
Transisi Strategis HRUM: dari Batu Bara ke Mineral Logam
Transformasi HRUM dari perusahaan batu bara menjadi perusahaan nikel terlihat nyata dari struktur pendapatan, portofolio aset, serta alokasi modal.
Dalam dua tahun terakhir, kontribusi batu bara terhadap pendapatan turun dari 89 persen (2023) menjadi 43 persen (2024), sementara kontribusi nikel meningkat dari 11 persen menjadi 57 persen pada periode yang sama.
Produksi batu bara HRUM sepanjang 2024 turun menjadi 6,1 juta ton, dibandingkan 7,0 juta ton pada 2023. ASP batu bara juga turun dari USD114,4 menjadi USD90,8 per ton. Penurunan ini berdampak langsung terhadap EBITDA batu bara yang menyusut dari USD320 juta menjadi USD200 juta.
Ke depan, HRUM menargetkan peningkatan kapasitas produksi nikel melalui penyelesaian proyek HPAL dan optimalisasi fasilitas RKEF.
Selain itu, perseroan juga mengintegrasikan rantai pasok bijih hingga produk olahan untuk memastikan efisiensi dan ketahanan pasokan.
Valuasi Saham HRUM: Diperdagangkan di Bawah Nilai Buku
Meski mencatatkan pertumbuhan tajam dalam penjualan nikel, saham HRUM hingga Selasa, 17 Juni 2025 diperdagangkan pada level yang relatif konservatif secara fundamental.
Dengan harga penutupan Rp900 per saham, estimasi price to earnings ratio (PER) HRUM berada di kisaran 7,4 kali berdasarkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp1,21 triliun.
Sementara itu, price to book value (PBV) tercatat sekitar 0,64 kali, mengindikasikan bahwa saham HRUM diperdagangkan di bawah nilai bukunya yang ditaksir sebesar Rp1.396 per saham.
| Rasio Valuasi | HRUM | ANTM | NICL | NCKL |
|---|---|---|---|---|
| PER (TTM) | 12,88 | 15,01 | 25,49 | 6,37 |
| PBV | 0,81 | 2,47 | 11,89 | 1,37 |
| Price to Sales (P/S) | 0,57 | 0,96 | 6,80 | 1,60 |
| EV/EBITDA (TTM) | 8,00 | 11,00 | 18,00 | 6,00 |
| Market Cap (Rp triliun) | 12,099 | 83,146 | 12,710 | 44,800 |
Jika dibandingkan dengan emiten nikel lainnya, valuasi saham HRUM masih tergolong moderat bahkan konservatif. Rasio PBV HRUM tercatat 0,81 kali, jauh lebih rendah dibandingkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang mencapai 2,47 kali dan PT PAM Mineral Tbk (NICL) yang berada di level 11,89 kali.
Dari sisi PER, HRUM sebesar 12,88 kali juga lebih rendah dibandingkan NICL (25,49 kali) dan sedikit di bawah ANTM (15,01 kali).
Secara keseluruhan, valuasi HRUM yang lebih rendah ini menunjukkan bahwa saham perusahaan masih dinilai relatif murah oleh pasar, meskipun telah mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam produksi dan penjualan nikel sepanjang 2024. (*)