KABARBURSA.COM - PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2025. Meski begitu, catatan ini belum sepenuhnya tercermin pada harga sahamnya, dengan valuasi yang masih relatif menarik.
Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang telah dipublikasikan, pada 2025 CPIN meraup pendapatan sebesar Rp70,70 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp67,47 triliun.
Seiring dengan itu, laba bruto CPIN tercatat sebesar Rp12,42 triliun, naik dari Rp10,42 triliun pada 2024. Dari sisi profitabilitas, kinerja CPIN melonjak signifikan.
CPIN membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp5,64 triliun, meningkat tajam dibandingkan Rp3,71 triliun pada tahun sebelumnya. Artinya, laba bersih tumbuh sekitar 52 persen secara tahunan.
Peningkatan ini turut mendorong margin laba bersih naik ke kisaran 8,0 persen dari sebelumnya sekitar 5,5 persen.
Masih merujuk laporan keuangan, pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh sejumlah faktor, antara lain peningkatan efisiensi operasional, penurunan beban keuangan, serta kotribusi pendapatan lain-lain yang mencapai Rp373,36 miliar.
Berpindah ke neraca, total aset CPIN hingga akhir 2025 mencapai Rp45,85 triliun. Catatan ini tumbuh dari Rp42,79 triliun pada 2024.
Peningatakan tersebut didukung oleh kenaikan aset lancar, khususnya persediaan yang mencapai Rp11,40 triliun serta aset biologis sebesar Rp5,24 triliun.
Sementara itu, total liabilitas tercatat menurun menjadi Rp11,70 triliun dari Rp12,50 triliun. Sedangkan, ekuitas CPIN meningkat drastis menjadi Rp34,15 triliun.
Dengan struktur keuangan yang semakin kuat serta profitabilitas yang meningkat, CPIN menunjukkan fundamental yang solid untuk menopang pertumbuhan jangka menengah.
Ke depan, tantangan tetap berasal dari fluktuasi harga jagung dan pakan, serta daya beli masyarakat. Namun, dengan posisi neraca yang sehat dan efisiensi yang terus membaik, CPIN dinilai memiliki ruang untuk menjaga kinerja positif di tengah dinamika industri.
Valuasi Menarik dan Fundamental Solid
CPIN menunjukkan kombinasi menarik antara valuasi yang relatif moderat dan fundamental yang solid. Di sisi lain, harga saham emiten agribisnis ini masih murah.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan tim Kabarbursa.com, harga wajar CPIN ada di kisaran Rp6,659. Sementara hara saat ini atau merunuk data perdagangan terakhir, Kamis, 16 April 2026, CPIN berada di level Rp4.470.
Sementara itu berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit, CPIN saat ini diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) sekitar 12,99 kali, baik secara annualised maupun trailing twelve months (TTM).
Sementara itu, forward PER berada di level 13,55 kali. Hal tersebut berarti ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba CPIN masih terjaga ke depan.
Dari sisi valuasi lainnya, price to book value (PBV) CPIN berada di kisaran 2,15 kali, sementara price to sales ratio sebesar 1,04 kali. Adapun rasio EV terhadap EBITDA tercatat di level 7,79 kali, yang masih tergolong relatif wajar untuk perusahaan di sektor consumer non-cyclicals, khususnya agribisnis dan poultry.
Kinerja fundamental CPIN juga tercermin dari indikator profitabilitas yang solid. Return on equity (ROE) tercatat sebesar 16,53 persen, sementara return on assets (ROA) mencapai 12,31 persen .
Angka tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari modal dan aset yang dimiliki.
Dari sisi margin, CPIN mencatat gross profit margin sebesar 21,64 persen, diikuti operating profit margin 15,78 persen, serta net profit margin sebesar 11,34 persen.
Struktur margin yang cukup tebal ini mengindikasikan bahwa perseroan mampu menjaga efisiensi operasional di tengah fluktuasi harga bahan baku dan dinamika industri.
Selain itu, kondisi keuangan CPIN juga tergolong sehat. Current ratio tercatat sebesar 3,22, sementara quick ratio berada di level 1,73. Rasio ini menunjukkan likuiditas yang kuat, di mana perusahaan memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Di sisi leverage, debt to equity ratio (DER) CPIN hanya sebesar 0,18 kali. Angka bisa dibilang CPIN memiliki struktur permodalan yang konservatif, dengan tingkat utang yang relatif rendah dibandingkan ekuitas.
Tak hanya itu, CPIN juga tetap konsisten dalam memberikan imbal hasil kepada pemegang saham. Dividen yang dibagikan tercatat sebesar Rp108 per saham dengan dividend yield sekitar 2,42 persen .
Sementara itu, payout ratio berada di level 31,38 perse, menunjukkan ruang yang cukup bagi perusahaan untuk tetap menyeimbangkan antara pembagian dividen dan ekspansi bisnis.
Melihat kombinasi valuasi yang tidak terlalu mahal, profitabilitas yang solid, serta struktur keuangan yang sehat, CPIN saat ini berada dalam posisi yang cukup menarik di mata investor.
Investor Asing Berdatangan
Saham CPIN menunjukkan sinyal akumulasi investor asing pasca laporan keuangan tahunu dirilis pada 17 Maret 2026.
Berdasarkan data broker summary yang dipantau dari Stockbit, dalam periode 17 Maret hingga 16 April 2026, terlihat aksi beli cukup agresif dari sejumlah broker yang menampung dana asing.
Broker ZP menjadi pembeli terbesar dengan nilai transaksi mencapai Rp122,2 miliar. Posisi ini disusul oleh AK sebesar Rp57,1 miliar dan BK senilai Rp33,6 miliar.
Selain itu, aksi beli juga datang dari broker YU sebesar Rp7,2 miliar, BB Rp4,3 miliar, serta CC sebesar Rp2,0 miliar. Jika diakumulasikan, total pembelian dari sisi broker mencapai sekitar Rp226,4 miliar.
Di sisi lain, broker RX menjadi pihak dengan nilai penjualan terbesar, yakni mencapai Rp6,2 miliar. Angka ini jauh mendominasi dibandingkan broker lainnya, menjadikan RX sebagai kontributor utama tekanan jual di saham CPIN dalam periode tersebut.
Di bawah RX, broker KZ mencatatkan penjualan sebesar Rp1,5 miliar. Sementara itu, broker AG menyusul dengan nilai distribusi Rp885,9 juta. Tekanan jual dari ketiga broker ini menjadi yang paling signifikan, meskipun nilainya masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan aktivitas beli di pasar.
Selanjutnya, broker EP mencatatkan penjualan sebesar Rp251,7 juta, diikuti oleh KK sebesar Rp218,2 juta dan GR sebesar Rp198 juta. Selain itu, terdapat pula broker DH dengan nilai penjualan Rp65 juta serta KI sebesar Rp62,1 juta.
Tekanan jual juga terlihat dari broker TP yang mencatatkan transaksi Rp52,4 juta. Di luar itu, beberapa broker lain seperti YP, SQ, OD, HD, hingga YO mencatatkan nilai distribusi yang jauh lebih kecil, masing-masing di bawah Rp20 juta, sehingga dampaknya terhadap pergerakan harga relatif minim.
Jika dijumlahkan secara keseluruhan, total nilai penjualan saham CPIN dalam periode ini mencapai sekitar Rp9,48 miliar dalam periode 17 Maret - 16 April 2026.
Dengan struktur orderbook seperti ini, saham CPIN saat ini berada dalam fase yang cenderung didominasi oleh permintaan. Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati dinamika lanjutan, termasuk konsistensi aliran dana asing serta pergerakan harga saham di pasar reguler.
Pasalnya, akumulasi yang kuat tidak selalu langsung diikuti oleh kenaikan harga dalam jangka pendek, melainkan bisa berlangsung dalam beberapa fase.
Yang jelas, data terbaru menunjukkan bahwa CPIN kini menjadi salah satu saham yang mulai kembali menarik perhatian investor, khususnya asing.
Jika tren akumulasi ini berlanjut, bukan tidak mungkin saham CPIN akan memasuki fase pergerakan yang lebih aktif dalam waktu mendatang.
Pergerakan Harga Saham dan Rekomendasi
CPIN menunjukkan kinerja harga yang semakin menguat dalam jangka pendek, seiring dengan meningkatnya optimisme pasar dan dukungan rekomendasi analis.
Berdasarkan data terbaru, saham CPIN mencatatkan kenaikan signifikan dalam satu bulan terakhir, yakni sebesar 24,17 persen. Dalam periode tersebut, harga bergerak dari kisaran Rp3.550 hingga mencapai area Rp4.490.
Penguatan ini juga tercermin dalam pergerakan jangka pendek lainnya. Dalam satu minggu terakhir, saham CPIN menguat 1,59 persen.
Meski demikian, jika ditarik dalam jangka waktu lebih panjang, pergerakan CPIN masih menunjukkan fase pemulihan. Secara year to date (YTD), saham ini masih mencatatkan pelemahan tipis sebesar 0,89 persen, sementara dalam tiga bulan terakhir turun 2,19 persen dan dalam enam bulan terkoreksi 3,66 persen.
Dalam jangka panjang, performa CPIN juga relatif beragam. Dalam satu tahun terakhir, saham ini mencatatkan kenaikan sebesar 5,18 persen, namun dalam lima tahun masih terkoreksi cukup dalam hingga 42,32 persen.
Di tengah pergerakan harga tersebut, sentimen positif juga datang dari kalangan analis Stockbit. Dari total 21 analis yang memantau saham ini, sebanyak 18 analis memberikan rekomendasi beli, sementara hanya 2 analis merekomendasikan tahan dan 1 analis jual.
Lebih lanjut, target harga yang diberikan analis tersebut juga menunjukkan potensi kenaikan yang masih terbuka. Rata-rata target harga CPIN berada di level Rp5.567 per saham, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp6.800 dan estimasi terendah Rp3.900.
Jika dibandingkan dengan harga saat ini atau pada perdagangan Kamis, 16 April 2026 yang berada di kisaran Rp4.470, maka terdapat potensi kenaikan (upside) sekitar 24 persen menuju target rata-rata analis. (*)