KABARBURSA.COM - Kinerja fundamental PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) menunjukkan daya tahan yang solid. Namun di tengah fondasi yang kuat, pergerakan harga saham perusahaan masih terbilang diskon.
CMRY mencatatkan kinerja keuangan positif sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Berdasarkan laporan keuangan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, emiten produsen produk susu ini membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp7,87 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,63 triliun.
Kenaikan pendapatan ini menopang pertumbuhan laba bruto CMRY menjadi Rp3,57 triliun. Dari sisi operasional, beban penjualan tercatat naik menjadi Rp1,62 triliun.
Kinerja laba bersih juga menunjukkan penguatan. CMRY membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp1,60 triliun, naik dari Rp1,15 triliun pada sembilan bulan pertamtriliun Adapun laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk tercatat Rp1,60 triliun.
Dari sisi posisi keuangan, total aset CMRY meningkat menjadi Rp8,93 triliun per 30 September 2025, naik dari Rp8,19 triliun pada akhir 2024.
Mengutip data Stockbit, dari sisi solvabilitas, current ratio CMRY secara kuartalan tercatat sebesar 2,71 dengan quick ratio 2,07. Pada aspek profitabilitas, return on assets (TTM) sebesar 22,01 persen dan return on equity (TTM) 27,43 persen menunjukkan tingkat efisiensi yang cukup tinggi dalam menghasilkan laba dari aset dan ekuitas.
Margin laba juga terlihat solid, dengan gross profit margin kuartalan 46,34 persen, operating profit margin 24,26 persen, dan net profit margin 22,28 persen.
Secara keseluruhan, struktur keuangan CMRY menggambarkan perusahaan dengan likuiditas kuat, profitabilitas tinggi, dan komitmen dividen yang besar. Kombinasi ini menjadikan data fundamental CMRY relevan untuk terus dicermati, terutama dalam menilai keseimbangan antara kinerja operasional dan kebijakan distribusi laba ke depan.
Kendati kinerja fundamental terbilang positif, harga saham CMRY masih di bawah harga wajar. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan Kabarbursa.com, harga wajar saham CMRY di kisaran Rp7.297, sementara harga pada perdagangan terakhir, Jumat, 30 Januari 2026, masih di level Rp5.100.
Dari sisi konsensus analis Stockbit, tercatat sebanyak 21 analis memberikan rekomendasi beli terhadap CMRY, tanpa adanya rekomendasi jual.
Konsensus ini kemudian membeberkan estimasi target harga saham CMRY, dengan target rata-rata berada di level Rp6.941 per saham.
Rentang estimasi juga cukup lebar, dengan proyeksi terendah di Rp6.300 dan estimasi tertinggi mencapai Rp7.700, sementara harga saham saat ini berada di kisaran Rp5.100.
Pada sisi performa harga, data menunjukkan variasi pergerakan dalam berbagai periode waktu. Dalam rentang satu minggu dan satu bulan, performa tercatat masing-masing turun 2,86 persen dan 9,73 persen.
Tekanan juga terlihat pada periode tiga bulan dan year to date (ytd) dengan koreksi di atas 9 persen. Sebaliknya, dalam horizon yang lebih panjang, seperti enam bulan, satu tahun, dan tiga tahun, performa harga menunjukkan angka positif masing-masing naik 2,20 persen, 3,87 persen, dan 12,58 persen.
Pergerakan Orderbook Terakhir
Pada order book pada perdagangan 30 Januari 2026, antrean bid terlihat tersebar mulai dari level 5.125 hingga 4.900. Salah satu titik yang mencolok berada di harga 5.000, tercatat antrean bid dengan jumlah lot yang relatif besar dibanding level di sekitarnya.
Di bawahnya, antrean beli masih berlanjut secara bertahap hingga area 4.900–4.920, menunjukkan adanya lapisan permintaan yang tersebar di beberapa level harga. Di sisi atas, antrean ask tersusun mulai dari harga 5.100 hingga 5.575 dengan volume yang bervariasi.
Perbandingan antara sisi bid dan ask memperlihatkan jarak harga yang relatif lebar di beberapa level, sementara di area tertentu jarak tersebut tampak lebih rapat. Kondisi ini mencerminkan variasi minat pelaku pasar dalam menentukan harga transaksi, baik dari sisi pembeli maupun penjual, tanpa terkonsentrasi hanya pada satu titik harga tertentu.
Sementara itu, data trade book dalam bentuk grafik kumulatif beli dan jual menunjukkan aktivitas transaksi yang berlangsung aktif sepanjang sesi. Garis akumulasi transaksi beli dan jual sama-sama bergerak naik sejak awal perdagangan, mencerminkan adanya aliran transaksi yang terus terjadi.
Dalam beberapa fase, garis transaksi jual tampak meningkat lebih cepat dibanding beli, sementara di fase lain pergerakan keduanya terlihat lebih berimbang. Perubahan kemiringan garis ini menggambarkan dinamika transaksi yang bergeser seiring waktu, dari pagi hingga menjelang penutupan sesi.
Menjelang akhir perdagangan, grafik memperlihatkan lonjakan akumulasi transaksi, baik di sisi beli maupun jual, yang menandakan peningkatan aktivitas pada jam-jam terakhir. Pola ini sering menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan intensitas transaksi yang lebih tinggi dibanding periode sebelumnya dalam satu hari perdagangan.
Secara keseluruhan, kombinasi data order book dan trade book CMRY menghadirkan potret mikrostruktur pasar yang kaya. Penyebaran antrean bid dan ask di berbagai level harga, serta dinamika transaksi yang terekam sepanjang sesi, memberikan ruang bagi investor melihat data yang lebih mendalam. Detail-detail ini menjadi elemen penting untuk dicermati dalam memahami bagaimana mekanisme permintaan dan penawaran bekerja secara real time di pasar saham.
Aktivitas Distribusi Masih Deras
Aktivitas perdagangan saham CMRY pada pekan lalu atau sepanjang periode 26 hingga 30 Januari 2026 memperlihatkan kecenderungan distribusi. Posisi ini menunjukkan bahwa dalam rentang lima hari perdagangan tersebut, tekanan transaksi jual secara agregat lebih dominan dibandingkan aktivitas pembelian.
Dari sisi penjualan, broker ZP mencatatkan nilai jual paling besar dengan total transaksi mencapai Rp29,6 miliar dan volume sekitar 56,9 ribu lot. Angka ini menempatkan ZP sebagai kontributor utama distribusi selama periode pengamatan.
Di bawahnya, broker RX juga tampil signifikan dengan nilai jual Rp26 miliar dan volume 50,8 ribu lot. Dua broker ini secara kumulatif membentuk lapisan distribusi terbesar, baik dari sisi nilai maupun volume.
Tekanan jual selanjutnya datang dari broker BB yang membukukan nilai Rp11,7 miliar dengan volume 22,5 ribu lot. Sementara itu, broker DX mencatatkan penjualan senilai Rp1,9 miliar.
Diikuti oleh sejumlah broker lain seperti QA, XC, XL, EP, KK, AG, AI, dan XA dengan nilai ratusan juta rupiah. Meskipun skalanya lebih kecil, keberadaan banyak broker di sisi jual mempertebal struktur distribusi yang terbentuk dalam periode ini.
Pada sisi pembelian, broker CD menempati posisi teratas dengan nilai beli mencapai Rp15,4 miliar dan volume sekitar 28,8 ribu lot, dengan harga rata-rata 5.336.
Aktivitas ini diikuti oleh broker CC yang membukukan nilai beli Rp14,6 miliar dengan volume 28,3 ribu lot pada harga rata-rata 5.201. Dua broker ini menyumbang porsi signifikan terhadap total akumulasi selama periode tersebut, dengan perbedaan harga rata-rata yang cukup mencolok untuk dicermati.
Lapisan pembelian berikutnya diisi oleh broker KZ dengan nilai Rp10,6 miliar dan volume 20,8 ribu lot pada harga rata-rata 5.159. Broker PD dan OD juga mencatatkan transaksi beli bernilai di atas Rp5 miliar, masing-masing dengan volume 12,4 ribu dan 10,3 ribu lot. Harga rata-rata pembelian dari kelompok ini bergerak di kisaran 5.308 hingga 5.409.
Broker YP dan BK masing-masing membukukan nilai beli Rp4,8 miliar dan Rp4,2 miliar, disusul oleh YU, NI, dan RF dengan nilai transaksi di kisaran Rp1,7–Rp2,2 miliar. Pada lapisan terbawah, TP dan SQ tetap tercatat aktif dengan nilai beli di bawah Rp1 miliar.
Perbedaan antara dominasi nilai jual dan sebaran nilai beli inilah yang tercermin pada posisi indikator broker action yang condong ke kiri. Data ini tidak hanya memperlihatkan siapa broker yang paling aktif, tetapi juga bagaimana distribusi transaksi terbentuk melalui kombinasi nilai, volume, dan harga rata-rata.
Dengan mencermati broker action secara periodik, pelaku pasar dapat melihat bahwa dinamika perdagangan CMRY dalam rentang 26–30 Januari 2026 tidak bergerak seimbang. Penyebaran transaksi jual yang lebih besar dibanding pembelian menjadi bagian penting dari struktur data yang layak diperhatikan lebih lanjut, terutama bagi pembaca yang ingin memahami perilaku pasar secara lebih mendalam melalui jejak broker. (*)