Insight Daily 08 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

Ketika Buyback tak Menyelamatkan Saham, Ada Apa dengan Mayora?

Mayora Indah (MYOR) melakukan buyback saham senilai Rp1 triliun, tapi harga tak kunjung naik. Apa yang membuatnya berbeda dari BBCA, SGRO, dan BUKA?

KABARBURSA.COM - Buyback saham menjadi tren panas di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2024–2025. Berbekal relaksasi aturan OJK yang mengizinkan buyback tanpa persetujuan RUPS, sejumlah emiten besar bergerak agresif.Di tengah deretan aksi korporasi itu, satu nama mencuri perhatian: Mayora Indah (MYOR). Perusahaan consumer goods ini menyiapkan dana Rp1 triliun d...

Ilustrasi buyback MYOR. Gambar ini dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Ilustrasi buyback MYOR. Gambar ini dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Insight Navigator

  1. 01 Mengapa Buyback MYOR Tidak Efektif?
  2. 02 Perbandingan dengan Emiten Lain
  3. 03 Apa yang Membuat MYOR Berbeda?
  4. 04 Pelajaran Berharga Bagi Investor

KABARBURSA.COM - Buyback saham menjadi tren panas di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2024–2025. Berbekal relaksasi aturan OJK yang mengizinkan buyback tanpa persetujuan RUPS, sejumlah emiten besar bergerak agresif.

Beberapa emiten yang baru saja melakukan buyback adalah Bank Central Asia (BBCA). Bank ini mengeksekusi pembelian kembali saham bernilai jumbo untuk menjaga stabilitas harga. Bukalapak (BUKA) memanfaatkan buyback demi menopang kepercayaan di tengah fluktuasi sektor teknologi. Sampoerna Agro (SGRO) dan Adaro Energy (ADRO) juga tercatat menjalankan buyback sebagai strategi mempertahankan valuasi.

Di tengah deretan aksi korporasi itu, satu nama mencuri perhatian: Mayora Indah (MYOR). Perusahaan consumer goods ini menyiapkan dana Rp1 triliun dari kas internal untuk membeli kembali sahamnya.

“Perseroan akan melakukan buyback dengan alokasi dana sebanyak-banyaknya Rp1.000.000.000.000 (satu triliun rupiah), yang berasal dari kas internal, dan buyback ini tidak akan mengganggu kegiatan operasional maupun rencana ekspansi perusahaan,” tulis perseroan dalam keterbukaan informasi beberapa waktu lalu.

Namun, alih-alih memicu rebound harga, saham MYOR justru stagnan dan bahkan melemah. Kasus Mayora membuka pertanyaan penting: apakah buyback selalu efektif, atau justru bisa menjadi sinyal masalah yang lebih dalam?

Periode pelaksanaan buyback ditetapkan mulai 27 Maret hingga 27 Juni 2025, dengan ketentuan pembelian maksimal 20 persen dari modal disetor dan minimal saham beredar 7,5 persen sesuai regulasi OJK.

Tujuan utama buyback adalah menstabilkan harga saham yang menurut manajemen tidak mencerminkan kondisi fundamental. “(Buyback dilakukan) untuk memberikan fleksibilitas bagi Perseroan dalam mengelola struktur permodalan jangka panjang dan meningkatkan nilai pemegang saham,” tulis perseroan.

Namun, harga saham tidak bergerak sesuai harapan. Pada saat pengumuman, saham MYOR berada di level sekitar Rp2.310 per lembar. Sepanjang periode buyback, harga justru melemah, sempat turun ke kisaran Rp2.030–2.100, dan rata-rata bertahan di level Rp2.100–2.200.

Dengan kondisi ini, buyback sebesar Rp1 triliun tampak lebih sebagai manuver defensif untuk menahan sentimen negatif ketimbang strategi pertumbuhan yang agresif.

Pasar pun tidak merespons langkah tersebut dengan optimisme. Alih-alih memicu rebound, harga saham Mayora tetap stagnan. Hal ini memunculkan pertanyaan penting: apakah buyback benar-benar mampu mengangkat harga, atau hanya sebatas kosmetik keuangan?

Mengapa Buyback MYOR Tidak Efektif?

Secara teori, aksi pembelian kembali saham kerap dianggap sebagai sinyal positif. Jumlah saham beredar berkurang, rasio EPS membaik, dan investor biasanya menafsirkan langkah itu sebagai bentuk keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan. Namun, kasus Mayora memperlihatkan sisi lain: buyback tidak otomatis mendongkrak harga saham.

Salah satu faktor utamanya adalah waktu pelaksanaan yang kurang tepat. Program buyback dilakukan pada saat pasar tengah diliputi ketidakpastian global. Tekanan geopolitik, pelemahan rupiah, hingga pelemahan daya beli konsumen membuat momentum ini tidak mampu membendung tekanan jual.

Data perdagangan menunjukkan bahwa meski buyback dimulai pada akhir Maret, harga saham MYOR justru terus melemah hingga akhir Mei 2025.

Di luar soal timing, masalah yang lebih mendasar terletak pada fundamental perseroan yang sedang menurun. Laporan keuangan kuartal I-2025 mencatat laba bersih anjlok 37,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Margin tertekan oleh kenaikan biaya bahan baku, sementara penjualan domestik melambat. Bagi investor, buyback tidak cukup untuk menghapus kenyataan bahwa kinerja keuangan sedang tertekan. Selain itu, komunikasi perusahaan juga tidak memberi dorongan optimisme baru.

Dalam dokumen keterbukaan informasi, manajemen hanya menekankan tujuan buyback untuk memberikan fleksibilitas dalam mengelola struktur permodalan jangka panjang. Bagi pasar, pernyataan ini tidak cukup memberikan arah strategis, apalagi sinyal pertumbuhan di masa depan.

Reaksi investor pun akhirnya datar. Alih-alih menarik aliran dana segar, buyback Mayora lebih dipandang sebagai upaya defensif. Dampaknya, harga saham tetap stagnan di kisaran Rp2.100–2.200 sepanjang Juni hingga Agustus 2025, meskipun dana Rp1 triliun telah digelontorkan.

Kombinasi dari faktor waktu yang kurang tepat, fundamental yang melemah, dan minimnya narasi optimisme membuat buyback Mayora lebih menyerupai penahan arus ketimbang pemicu kebangkitan harga.

Perbandingan dengan Emiten Lain

Apa yang dialami Mayora kontras dengan sejumlah emiten lain yang juga melaksanakan buyback pada periode 2024–2025. Bank Central Asia (BBCA), misalnya, menuntaskan program pembelian kembali saham senilai Rp2,5 triliun yang dilaksanakan sejak 26 Maret 2025 dan bahkan diakhiri lebih cepat pada 15 Mei 2025.

Data perdagangan menunjukkan bahwa pada 30 April 2025, harga saham BBCA berada di level Rp8.825, dan dua pekan setelah buyback selesai pada 28 Mei 2025, harganya sudah naik menjadi Rp9.400.

Artinya, dalam kurun waktu itu saham BBCA menguat sekitar 6,5 persen, sejalan dengan persepsi pasar bahwa fundamental perbankan tetap solid dan reputasi manajemen terjaga.

Berbeda lagi dengan Bukalapak (BUKA). Emiten teknologi ini menjalankan buyback dalam dua periode. Pada Periode I (26 Maret–25 Juni 2025), efeknya negatif: harga saham turun dari Rp145 pada 30 April menjadi Rp126 pada 25 Juni, atau melemah sekitar 13,1 persen.

Namun, Periode II (7 Juli–6 Oktober 2025) justru menghasilkan sinyal berbeda. Saham yang berada di Rp125 pada 4 Juli naik menjadi Rp157 pada 1 Agustus, alias menguat sekitar 25,6 persen hanya dalam satu bulan. Lonjakan ini terkait dengan narasi pemulihan sektor teknologi, sehingga buyback dianggap sebagai penguat kepercayaan manajemen.

Contoh lain datang dari Sampoerna Agro (SGRO). Program buyback yang berlangsung 9 April–8 Juli 2025 membuat harga saham relatif stabil sepanjang periode. Pada 30 April, saham SGRO tercatat Rp2.330, lalu naik menjadi Rp2.580 pada 9 Juli 2025, atau menguat sekitar 10,7 persen.

Menariknya, sebulan setelah program berakhir, harga saham SGRO melonjak ke Rp4.500 pada 20 Agustus, atau naik lebih dari 90 persen dibanding posisi akhir April. Bagi pasar, buyback SGRO dianggap mampu menjaga valuasi sekaligus memberi dukungan saat sektor sawit menunjukkan prospek positif.

Jika dibandingkan dengan Mayora, perbedaan utamanya terletak pada kondisi dasar perusahaan dan sentimen pasar. BBCA memiliki fundamental yang kuat sehingga buyback memperkuat keyakinan investor.

BUKA diuntungkan oleh narasi pemulihan sektor teknologi yang memberi dorongan eksternal tambahan. SGRO memperoleh dukungan dari momentum positif di sektor komoditas. Sementara itu, Mayora menjalankan buyback di saat kinerja keuangan sedang melemah dan tidak ada katalis pertumbuhan yang jelas. Akibatnya, pasar memperlakukan buyback MYOR hanya sebagai langkah defensif, bukan sebagai katalis optimisme.

Apa yang Membuat MYOR Berbeda?

Perbedaan mendasar Mayora dengan emiten lain yang menjalankan buyback terletak pada fondasi dan sentimen. BBCA, misalnya, melaksanakan buyback di tengah fundamental yang kuat, laba konsisten naik, dan reputasi manajemen tidak diragukan.

Maka, pasar menafsirkan buyback sebagai sinyal kepercayaan diri, dan harga saham pun naik. BUKA memperoleh momentum dari narasi pemulihan sektor teknologi. Meski sempat melemah di periode pertama, pada periode kedua sahamnya justru melonjak karena investor membaca buyback sebagai konfirmasi optimisme jangka panjang.

SGRO juga diuntungkan oleh prospek positif sektor sawit. Saat perusahaan menjalankan buyback, pasar sudah menanti rebound harga komoditas, sehingga langkah tersebut dipandang sebagai instrumen penopang valuasi.

Sebaliknya, Mayora justru bergerak di arah berbeda. Aksi buyback Rp1 triliun digelar ketika laba bersih sedang anjlok 37,6 persen pada kuartal I-2025. Margin tergerus kenaikan biaya bahan baku, sementara konsumsi domestik melemah.

Narasi pertumbuhan pun tidak muncul. Dalam keterbukaan informasinya, manajemen hanya menekankan bahwa buyback bertujuan memberi fleksibilitas struktur permodalan dan meningkatkan nilai pemegang saham, tanpa memberikan sinyal ekspansi atau inovasi bisnis yang jelas.

Di mata investor, buyback lebih terlihat sebagai manuver defensif untuk menjaga harga jangka pendek, bukan upaya strategis membangun prospek jangka panjang.

Karena itulah pasar merespons dingin. Harga saham MYOR setelah pengumuman buyback sempat menyentuh Rp2.030 dan hanya bertahan di kisaran Rp2.100–2.200 sepanjang Juni hingga Agustus 2025. Tidak ada lonjakan signifikan seperti yang dialami SGRO, atau stabilitas seperti BBCA.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa buyback tidak bisa dipisahkan dari konteks fundamental dan sentimen sektoral. Buyback hanya menjadi katalis ketika pasar percaya pada narasi besar di baliknya. Pada Mayora, narasi itu tidak hadir, sehingga Rp1 triliun pun tak cukup untuk mengubah arah saham.

Pelajaran Berharga Bagi Investor

Dari perbandingan sejumlah emiten, satu hal menjadi jelas, yakni buyback bukan jaminan harga saham akan naik. Program ini hanyalah instrumen keuangan yang efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi fundamental, momentum pasar, dan persepsi investor.

BBCA menunjukkan bahwa buyback efektif bila didukung kinerja yang konsisten dan reputasi manajemen yang kokoh. BUKA membuktikan buyback bisa berhasil ketika ada narasi pemulihan sektor yang diyakini investor. SGRO menjadi contoh bagaimana buyback berfungsi sebagai penopang stabilitas valuasi di tengah prospek positif harga komoditas.

Kasus Mayora memperlihatkan sisi sebaliknya. Buyback Rp1 triliun justru gagal menahan pelemahan harga karena dilakukan ketika kinerja sedang tertekan, prospek pertumbuhan meredup, dan manajemen tidak memberikan sinyal strategis yang meyakinkan. Bagi investor, angka besar tidak cukup; yang lebih penting adalah arah dan keyakinan terhadap prospek jangka panjang.

Pelajaran penting yang bisa diambil pasar adalah bahwa buyback harus dibaca dalam konteks yang lebih luas. Investor perlu mencermati: apakah buyback dilakukan untuk memperkuat posisi jangka panjang, atau sekadar menjaga harga di tengah penurunan fundamental?

Sementara itu, bagi regulator dan otoritas pasar, tren buyback masif di bawah relaksasi aturan OJK memberi catatan: instrumen ini memang memberi fleksibilitas, tetapi juga membuka risiko digunakan sebagai “kosmetik” untuk menutupi kinerja.

Bagi investor ritel, kasus Mayora menjadi pengingat bahwa tidak semua kabar buyback layak disambut dengan optimisme. Pertanyaan kuncinya bukan seberapa besar dana yang digelontorkan, melainkan apakah ada fundamental, momentum, dan narasi yang menopangnya. Tanpa ketiganya, buyback hanya akan menjadi berita besar di atas kertas, tetapi tidak berdampak nyata di pasar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya