Insight Daily 01 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Juni Cerah untuk ARTO: Akankah Jadi Titik Balik Menarik?

Bank Jago mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 42 persen secara tahunan, dengan total penyaluran kredit mencapai Rp20,3 triliun per akhir Maret 2025.

KABARBURSA.COM - Juni 2025 datang membawa napas segar bagi pasar saham Indonesia. Sejumlah indikator makroekonomi mulai menunjukkan arah yang lebih bersahabat, dan ekspektasi pelaku pasar pun kian menguat. Sejak 2020, bulan Juni kerap kali menjadi periode di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan. Tren inilah yang menjadi dasar proyeksi d...

Ilustrasi logo PT Bank Jago Tbk (ARTO).
Ilustrasi logo PT Bank Jago Tbk (ARTO).

Insight Navigator

  1. 01 Sempat Bergerak Lesu, Bank Jago (ARTO) Mulai Dilirik Investor
  2. 02 Pertumbuhan Kredit Bank Jago (ARTO) Naik 42 Persen
  3. 03 Performa Saham ARTO Sepanjang Juni
  4. 04 Sikap Apa yang Sebaiknya Diambil Investor?

KABARBURSA.COM - Juni 2025 datang membawa napas segar bagi pasar saham Indonesia. Sejumlah indikator makroekonomi mulai menunjukkan arah yang lebih bersahabat, dan ekspektasi pelaku pasar pun kian menguat. 

Sejak 2020, bulan Juni kerap kali menjadi periode di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan. Tren inilah yang menjadi dasar proyeksi dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, yang memperkirakan IHSG berpeluang bergerak naik secara bertahap sepanjang bulan ini.

Dalam riset terbarunya, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata, menyebutkan bahwa IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 7.000 hingga 7.300. Bahkan, jika arus beli asing tetap deras dan didukung oleh sentimen stabilnya nilai tukar Rupiah, indeks berpeluang menembus batas psikologis 7.300. 

Ia menambahkan bahwa faktor musiman seperti window dressing menjelang tutup semester, serta posisi investor menjelang musim laporan keuangan kuartal II, bisa menjadi pemicu tambahan yang memperkuat arah penguatan.

“Bulan Juni ini punya modal yang cukup kuat—dari sisi stimulus domestik, kestabilan Rupiah, hingga arah kebijakan suku bunga global yang cenderung dovish,” ujar Liza dalam keterangannya, Jumat , 30 Mei 2025. 

Menurutnya, jika The Fed memberi sinyal untuk menahan suku bunga atau bahkan melonggarkan kebijakan, arus modal asing bisa kembali mengalir deras ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Sempat Bergerak Lesu, Bank Jago (ARTO) Mulai Dilirik Investor

Dari semua sektor, perbankan dan multifinance diprediksi menjadi dua segmen yang paling cepat merespons sentimen positif. Pelonggaran suku bunga yang baru saja dilakukan Bank Indonesia membuka peluang meningkatnya permintaan kredit. 

Ini merupakan kabar baik, terutama bagi bank-bank yang punya portofolio kuat di sektor produktif dan ritel.

Salah satu saham yang layak diperhatikan dalam konteks ini adalah PT Bank Jago Tbk (ARTO). Meski sempat bergerak lesu dalam beberapa bulan terakhir, ARTO kini mulai dilirik kembali oleh investor yang percaya pada potensi pertumbuhan sektor keuangan digital. 

Model bisnis Bank Jago yang terintegrasi dengan ekosistem digital milik grup teknologi besar menjadi nilai tambah, terutama di era perbankan yang makin mengedepankan efisiensi dan kemudahan akses.

Dengan bunga pinjaman yang lebih rendah, ARTO punya peluang memperluas ekspansi kredit, khususnya ke segmen individu dan UMKM yang menjadi tulang punggung pemulihan konsumsi domestik. 

Jika permintaan meningkat dan biaya dana tetap terjaga, margin laba bisa terdongkrak secara alami. Di saat yang sama, kemampuan ARTO dalam mengembangkan layanan berbasis teknologi menjadikannya salah satu kandidat kuat untuk mencuri perhatian dalam jangka menengah hingga panjang.

Pertumbuhan Kredit Bank Jago (ARTO) Naik 42 Persen

Memasuki tahun 2025, PT Bank Jago Tbk mencatatkan langkah awal yang kokoh dengan mempertahankan tren kinerja positif di tengah kondisi perekonomian global yang belum sepenuhnya stabil. 

Bank yang dikenal sebagai pemain teknologi dalam industri perbankan ini kembali menunjukkan kemampuannya menjaga laju pertumbuhan, baik dari sisi akuisisi nasabah, penghimpunan dana, hingga penyaluran kredit.

Hingga akhir kuartal pertama 2025, Bank Jago tercatat telah melayani 16,3 juta nasabah. Dari jumlah tersebut, 13 juta di antaranya merupakan pengguna aktif Aplikasi Jago—naik signifikan dari 9 juta pengguna pada periode yang sama tahun lalu. 

Pertumbuhan basis nasabah ini menjadi cerminan semakin kuatnya posisi Bank Jago dalam ekosistem digital, sekaligus bukti bahwa pendekatan layanan berbasis teknologi mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin terdigitalisasi.

Peningkatan jumlah nasabah juga diiringi dengan lonjakan dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun Bank Jago. Per Maret 2025, total DPK mencapai Rp21,4 triliun, tumbuh 62 persen secara tahunan dibandingkan Rp13,2 triliun pada Maret 2024. 

Komposisi dana menunjukkan struktur yang solid, dengan 54 persen di antaranya merupakan dana murah dalam bentuk rekening giro dan tabungan (CASA), sementara sisanya, sebesar 46 persen, merupakan simpanan berjangka. Struktur ini memberi sinyal kuat bahwa Bank Jago berhasil mengelola biaya dana secara efisien.

“Dengan ketidakpastian yang masih membayangi perekonomian global, kami tetap berkomitmen menjaga pertumbuhan secara sehat, sembari mewaspadai potensi risiko yang bisa muncul sewaktu-waktu,” ujar Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung, dalam keterangan resminya.

Dari sisi pembiayaan, Bank Jago juga mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 42 persen secara tahunan, dengan total penyaluran kredit mencapai Rp20,3 triliun per akhir Maret 2025. Angka ini naik dari Rp 14,3 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Pertumbuhan ini bukan semata hasil ekspansi internal, tetapi juga hasil dari strategi kolaboratif bersama mitra ekosistem digital, perusahaan pembiayaan, hingga lembaga keuangan lainnya.

Yang patut digarisbawahi, ekspansi kredit ini tetap dilakukan secara hati-hati dan terukur. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL gross) yang hanya sebesar 0,3 persen, jauh di bawah rata-rata industri perbankan nasional. 

Indikator ini memperkuat persepsi pasar bahwa Bank Jago mengedepankan kualitas dalam setiap langkah pertumbuhannya.

Kinerja positif di berbagai lini juga berdampak langsung pada peningkatan total aset perseroan yang kini mencapai Rp32,5 triliun—tumbuh 44 persen dari tahun sebelumnya. 

Sementara itu, laba bersih setelah pajak (NPAT) yang dibukukan per akhir Maret 2025 mencapai Rp60 miliar, melonjak 178 persen dibandingkan dengan Rp22 miliar pada Maret 2024.

Lompatan signifikan ini mengindikasikan efisiensi operasional serta keberhasilan strategi bisnis digital yang dijalankan secara konsisten.

Dari sisi permodalan, Bank Jago mencatat rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 36,4 persen, menunjukkan posisi keuangan yang solid dan ruang yang luas untuk ekspansi ke depan. Sementara rasio kredit terhadap simpanan (LDR) berada di level 94 persen, mengindikasikan pengelolaan likuiditas yang sehat dan efisien.

“Pencapaian ini menegaskan fokus kami untuk terus tumbuh sebagai bank berbasis teknologi yang mengutamakan inovasi, kolaborasi, serta prinsip kehati-hatian. Di tengah tantangan global, kami percaya pertumbuhan berkelanjutan hanya bisa dicapai dengan fundamental yang kuat dan manajemen risiko yang disiplin,” tutup Arief.

Kinerja kuartal pertama ini memperkuat reputasi Bank Jago sebagai institusi keuangan yang adaptif, prudent, dan relevan dengan perkembangan zaman—menjadi salah satu contoh nyata bahwa transformasi digital dalam perbankan tak hanya layak, tapi juga mampu menghasilkan hasil nyata.

Performa Saham ARTO Sepanjang Juni

Jika kita menilik pergerakan saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) setiap bulan Juni dalam lima tahun terakhir, terlihat bahwa bulan ini menyimpan dinamika yang cukup menarik—kadang menjadi titik balik, kadang justru momentum yang datar. Tak selalu penuh kejutan, tapi juga bukan bulan yang bisa disepelekan begitu saja.

Tahun 2021, ketika euforia bank digital tengah berada di puncaknya, ARTO mencetak kenaikan 12,14 persen di bulan Juni. Saat itu, pasar benar-benar optimistis. Saham ini sedang naik daun, dan setiap penguatan seolah memperkuat ekspektasi bahwa Bank Jago adalah masa depan industri perbankan. Kinerja sahamnya yang melonjak menjadi salah satu cerita sukses paling banyak dibicarakan di bursa.

Namun suasana berubah setahun kemudian. Juni 2022 ditutup dengan penurunan 2,40 persen. Memang tidak sedalam koreksi di bulan-bulan sebelumnya, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa sentimen pasar sudah tidak sehangat sebelumnya.

 

Kala itu, investor mulai menakar ulang valuasi saham-saham teknologi, termasuk bank digital, di tengah tekanan ekonomi makro dan ketidakpastian global.

Yang cukup mengejutkan justru datang dari Juni 2023. Saat sebagian besar tahun diwarnai tekanan, ARTO mendadak melesat 33,61 persen hanya dalam sebulan. Tidak banyak yang menduga lonjakan setinggi itu bisa terjadi, terlebih setelah periode yang penuh tekanan. 

Meski tak berlanjut di bulan-bulan berikutnya, performa Juni itu menjadi titik terang di tengah tahun yang cenderung lesu.

Berbeda dengan tiga tahun sebelumnya, Juni 2024 justru berlangsung datar. Tidak ada kenaikan, tapi juga tak terjadi penurunan. Pergerakan stagnan ini bisa dibaca sebagai sinyal kehati-hatian investor. 

Setelah gejolak besar di kuartal pertama tahun itu, pasar tampaknya memilih menunggu, mencerna data, dan menilai ulang prospek ARTO sebelum kembali bergerak.

Lalu, bagaimana dengan tahun ini? Juni 2025 sepertinya akan memberi cerita yang lebih menyenangkan. Saham ARTO naik 10,84 persen, menguat secara konsisten setelah tekanan di awal tahun. 

Kinerja ini tak berdiri sendiri—sejak Mei, saham ini mulai menunjukkan pemulihan. Lonjakan di bulan Juni memperkuat sinyal bahwa tren membaik mulai terbentuk. Setidaknya, untuk sementara waktu, kepercayaan investor mulai pulih.

Jika ditarik garis besar, performa saham ARTO di bulan Juni memang tak selalu konsisten. Tapi justru di sinilah letak daya tariknya. Di tengah pergerakan yang fluktuatif, bulan ini kerap memberi petunjuk arah. 

Kadang menjadi penanda awal pemulihan, kadang mencerminkan sikap hati-hati pasar. Apa pun itu, bagi investor yang cermat membaca momentum, Juni tetap layak diperhatikan.

Sikap Apa yang Sebaiknya Diambil Investor?

Melihat rekam jejak saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) selama lima tahun terakhir, satu hal menjadi jelas: saham ini bukan untuk investor yang enggan menghadapi fluktuasi tajam. 

Naik turun yang drastis, dari lonjakan spektakuler di 2021 hingga tekanan bertubi-tubi di tahun-tahun setelahnya, memperlihatkan karakter saham yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen dan dinamika pasar.

Untuk investor yang sudah lama memegang ARTO, saat ini mungkin menjadi masa yang cukup melegakan. Sepanjang 2025, performa saham mulai menunjukkan arah yang lebih stabil dan positif. 

Tapi, sebelum memutuskan langkah selanjutnya, ada baiknya investor tetap menimbang dengan hati-hati. Meski tren jangka pendek terlihat membaik, rekam jejak sebelumnya mengingatkan kita bahwa saham ini bisa berubah arah dengan cepat. 

Sejumlah bulan, seperti Februari dan Desember, tercatat berkali-kali membawa koreksi tajam. Ini bukan kebetulan, melainkan pola yang layak diwaspadai.

Bagi investor yang mempertimbangkan untuk masuk, pendekatan yang paling bijak adalah tidak terburu-buru. Perhatikan bagaimana saham ini bergerak dalam beberapa bulan ke depan, terutama apakah tren positif di 2025 bisa berlanjut secara konsisten atau hanya sekadar pantulan teknikal. 

Masuk bertahap dengan strategi beli saat harga turun (buy on weakness) bisa menjadi opsi yang lebih aman dibanding mengejar harga saat naik.

Untuk yang sudah memiliki ARTO di portofolionya, keputusan akan sangat tergantung pada horizon investasi. Jika tujuannya jangka pendek, kenaikan dalam beberapa bulan terakhir bisa dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan sebagian. 

Namun, jika niatnya adalah memegang dalam jangka panjang, selama fundamental bank masih mendukung—terutama dari sisi transformasi digital dan kerja sama ekosistem—saham ini masih punya potensi jangka menengah.

Satu hal yang pasti, ARTO bukan saham yang bisa didekati dengan cara biasa. Ia menuntut investor yang siap dengan risiko, disiplin dengan strategi, dan sabar menghadapi ketidakpastian. Bagi sebagian orang, itu terlalu banyak hal untuk ditoleransi. 

Tapi bagi investor yang tahu apa yang mereka cari, ARTO tetap menjadi salah satu saham digital banking yang patut diamati dengan cermat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com