Insight Daily 20 Apr 2026 Penulis: KabarBursa.com

JPFA Catat Profitabilitas Tinggi, Valuasi Masih Menarik?

Kinerja fundamental PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menunjukkan kombinasi menarik antara valuasi dan profitabilitas

KABARBURSA.COM - Kinerja fundamental PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menunjukkan kombinasi menarik antara valuasi dan profitabilitas yang solid.Hal tersebut juga terlihat dari kinerja profitabilitas perseroan yang cukup kuat. Return on equity (ROE) tercatat sebesar 21,45 persen, sementara return on assets (ROA) berada di level 9,99 persen. Margin laba ...

PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) saat menggelar public expose di Jakarta, Rabu, 3 September 2025. (Foto: KabarBursa/Hutama Prayoga)
PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) saat menggelar public expose di Jakarta, Rabu, 3 September 2025. (Foto: KabarBursa/Hutama Prayoga)

Insight Navigator

  1. 01 Gerak Saham
  2. 02 Laba Tumbuh di 2025
  3. 03 Asing Agresif Akumulasi JPFA

KABARBURSA.COM - Kinerja fundamental PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menunjukkan kombinasi menarik antara valuasi yang relatif murah dan profitabilitas yang solid.

Merujuk data Stockbit, JPFA diperdagangkan pada level price to earnings ratio (PER) sebesar 8 kali, baik secara annualised maupun trailing twelve months (TTM). Sedangkan forward PER bahkan lebih rendah di angka 7,52 kali. Catatan ini bisa diartikan jika ekspektasi pertumbuhan laba ke depan masih cukup terjaga.

Dari sisi valuasi lainnya, price to book value (PBV) tercatat sebesar 1,72 kali, sementara rasio EV terhadap EBITDA berada di level 5,58 kali. Angka ini menandakan JPFA masih berada dalam kategori valuasi yang belum terlalu mahal.

Hal tersebut juga terlihat dari kinerja profitabilitas perseroan yang cukup kuat. Return on equity (ROE) tercatat sebesar 21,45 persen, sementara return on assets (ROA) berada di level 9,99 persen. 

Margin laba juga menunjukkan efiensi operasional yang terjaga, dengan gross profit margin sebesar 25,42 persen, operating margin 12,83 persen, serta net profit margin 9,04 persen.

Rasio debt to equity JPFA berada di level 0,63, yang masih dalam batas moderat untuk sektor agribisnis. Sedangkan, current ratio sebesar 1,29 menunjukkan likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Sementara itu, quick ratio perseroan berada di level 0,71.

Dari sisi imbal hasil kepada pemegang saham, JPFA membagikan dividen sebesar 70 per saham, dengan payout ratio 20,5 persen dan dividend yield sekitar 2,56 persen. Meskipun tidak tergolong tinggi, kebijakan dividen ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara distribusi laba dan kebutuhan reinvestasi.

Secara keseluruhan, kombinasi antara valuasi yang relatif rendah, profitabilitas yang kuat, serta struktur keuangan yang cukup sehat menempatkan JPFA dalam posisi menarik untuk dicermati.

Namun demikian, investor tetap perlu mencermati dinamika harga komoditas pakan serta daya beli masyarakat yang dapat memengaruhi permintaan. Dengan demikian, meski secara fundamental terlihat solid, pergerakan saham JPFA tetap akan sangat ditentukan oleh faktor eksternal dan sentimen pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Gerak Saham

JPFA menunjukkan tren penguatan dalam jangka pendek, seiring dengan sentimen positif dari pasar dan dukungan kuat dari rekomendasi analis.

Berdasarkan data perdagangan di Stockbit, saham JPFA tercatat menguat 5,41 persen dalam sepekan terakhir. Secara bulanan, performa saham JPFA bahkan mencatat lonjakan signifikan sebesar 21,88 persen.

Adapun dalam periode tiga bulan terakhir, saham ini juga masih perkasa walaupun  hanya naik sebesar 1,11 persen.

Dalam perspektif yang lebih panjang, saham JPFA masih mencatat kinerja solid. Dalam enam bulan terakhir, saham ini menguat 15,19 persen, sementara secara year-to-date (YTD) naik 4,20 persen.

Sedangkan dalam periode satu tahun, saham JPFA telah terapresiasi sebesar 35,82 persen. Bahkan, dalam horizon tiga tahun, saham ini mencatat lonjakan signifikan hingga 156,34 persen.

Dari sisi historis, dalam lima tahun terakhir saham JPFA naik 23,53 persen, dan dalam sepuluh tahun melonjak hingga 191,98 persen. Data ini memperlihatkan bahwa JPFA termasuk saham yang memiliki rekam jejak pertumbuhan yang konsisten dalam jangka panjang, meskipun tetap mengalami fluktuasi dalam jangka pendek.

Sentimen positif terhadap saham JPFA juga tercermin dari rekomendasi analis. Dari total 28 analis Stockbit yang memantau saham ini, sebanyak 25 analis memberikan rekomendasi beli, sementara hanya dua analis menyarankan tahan dan satu analis memberikan rekomendasi jual.

Selain itu, target harga analis turut memberikan gambaran potensi kenaikan lanjutan. Rata-rata target harga saham JPFA berada di level Rp3.029, lebih tinggi dibandingkan harga saat ini di Rp2.730. Dengan demikian, terdapat potensi upside sekitar 10 persen dari posisi terkini.

Sementara itu, estimasi target harga tertinggi mencapai Rp3.750, yang mencerminkan optimisme sebagian analis terhadap kinerja perusahaan ke depan. Namun, di sisi lain, terdapat juga estimasi target harga terendah di Rp1.600, yang menunjukkan bahwa risiko koreksi tetap perlu diperhatikan oleh investor.

Dengan kombinasi kinerja harga yang mulai menguat dalam jangka pendek, dukungan rekomendasi analis yang mayoritas positif, serta adanya potensi kenaikan menuju target harga rata-rata, saham JPFA saat ini berada dalam fase yang menarik untuk dicermati.
 

Laba Tumbuh di 2025

JPFA sukses mencetak kinerja keuangan positif sepanjang tahun buku 2025. Emiten industri peternakan ini sukses mencatat pertumbuhan dan peningkatan laba bersih

Merujuk laporan keuangan tahunan yang telah dipublikasikan, JPFA meraup pendapatan sebesar Rp60,71 triliun pada 2025. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp55,80 triliun.

Laba bruto JPFA pada tahun 2025 ikut naik menjadi Rp13,19 triliun, dari Rp11,21 triliun pada tahun sebelumnya. Akan tetapi, perusahaan masih mendapat tekanan dari biaya operasional usai beban penjualan naik menjadi Rp2,69 triliun dan beban umum serta administrasi sebesar Rp4,34 triliun.

Akan tetapi, JPFA sukses membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp5,48 triliun, meningkat dari tahun 2024 yang sebesar Rp4,24 triliun.  Adapun laba bersih JPFA pada 2025 sebesar Rp4,28 triliun, tumbuh signifikan dari Rp3,21 triliun pada tahun sebelumnya.

Pindah ke sisi neraca, JPFA memiliki total aset sebanyak Rp40,06 triliun di akhir 2025, meningkat dari Rp34,66 triliun pada tahun sebelumnya.

Peningkatan aset ditopang oleh kenaikan aset lancar, seperti kas dan setara kas yang meroket hingga Rp3,55 triliun dari sebelumnya Rp1,35 triliun.

Di samping itu, persediaan turut mengalami lonjakan menjadi Rp9,59 triliun. Aset tetap JPFA juga meningkat yang kini menjadi Rp15,23 triliun.

Sementara dari sisi liabilitas, JPFA mempunyai total kewajiban Rp15,23 triliun atau meningkat dibandingkan Rp18,09 triliun pada 2024. Kenaikan ini terutama berasal dari liabilitas jangka pendek yang meningkat signifikan menjadi Rp16,51 triliun.

Sementara itu, total ekuitas perusahaan juga mengalami pertumbuhan menjadi Rp20,01 triliun dari Rp16,57 triliun. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan saldo laba ditahan yang mencapai Rp15,41 triliun, mencerminkan akumulasi keuntungan perusahaan yang semakin kuat.

Asing Agresif Akumulasi JPFA

Saham JPFA dalam jangka waktu year to date (ytd) periode 2 Januari hingga 17 April 2026 menunjukkan sinyal akumulasi kuat, seiring dominasi aksi beli asing melalui sejumlah broker besar.

Broker ZP tercatat sebagai pembeli terbesar dengan nilai transaksi mencapai Rp377,9 miliar. Aktivitas ini diikuti oleh broker BK sebesar Rp182 miliar dan YU sebesar Rp104,2 miliar.

Selain itu, broker AK juga mencatatkan pembelian sebesar Rp73,1 miliar. Aksi akumulasi juga terlihat dari broker lain, seperti TP dengan nilai Rp16,5 miliar, RX Rp15,6 miliar, serta KK sebesar Rp6,6 miliar.

Sementara itu, broker AG mencatat pembelian Rp4,5 miliar, YP sebesar Rp340 juta, dan PD sebesar Rp24,1 juta.

Jika dilihat dari sisi distribusi, tekanan jual relatif lebih kecil. Broker BB menjadi penjual terbesar dengan nilai Rp126,7 miliar, disusul KZ sebesar Rp98,6 miliar dan DP sebesar Rp48,4 miliar.

Sementara broker IF mencatat penjualan Rp20,7 miliar, AI Rp9,3 miliar, serta NI Rp6,8 miliar. Adapun broker lainnya yang melakukan penjualan antara lain CC sebesar Rp4,8 miliar, LG Rp4,4 miliar, SQ Rp3,4 miliar, dan DH sebesar Rp1,5 miliar.

Secara keseluruhan, total nilai pembelian dari broker utama terlihat jauh lebih besar dibandingkan total nilai penjualan. Kondisi ini mencerminkan adanya net buy yang signifikan, yang umumnya menjadi indikasi masuknya dana besar atau investor institusi ke dalam saham tersebut. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya