KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON) pada perdagangan sesi I, Senin, 22 Desember 2025, mulai memunculkan perubahan struktur yang layak dicermati pelaku pasar.
Saham konstruksi ini ditutup sementara di level Rp90, menguat 3 poin atau 3,45 persen dari harga sebelumnya Rp87.
Secara intraday, JKON dibuka di Rp88 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp95 sebelum turun kembali dan mencatatkan level terendah di Rp86. Harga rata-rata transaksi berada di Rp89, menempatkan posisi harga dekat dengan nilai wajarnya. Dari sisi likuiditas, volume transaksi mencapai 1,94 juta lot dengan nilai Rp17,3 miliar dan frekuensi 1.381 kali.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa penguatan JKON didorong oleh pergerakan yang lebih terkontrol. Harga tidak ditutup di titik tertinggi sesi, tetapi juga tidak kehilangan momentum.
Bagi trader yang memperhatikan price action, karakter seperti ini sering kali mencerminkan fase awal pembentukan tren, ketika pasar mulai membangun struktur baru dengan ritme yang dijaga.
Pola Serapan yang Mulai Terbaca
Sinyal awal tersebut menjadi semakin jelas ketika masuk ke struktur mikro perdagangan.
Data orderbook sesi I menunjukkan antrean beli yang jauh lebih dominan dibanding antrean jual. Total bid tercatat sebesar 612.557 lot dengan 847 frekuensi, sementara total offer berada di 255.010 lot dengan 534 frekuensi. Rasio bid terhadap offer mencapai sekitar 2,4 banding 1, baik dari sisi jumlah lot maupun partisipasi transaksi.
Yang menarik, antrean bid terbesar justru berada di area harga bawah. Pada level Rp74, antrean beli mencapai sekitar 54 ribu lot, disusul bid di Rp76 dan Rp75. Posisi bid seperti ini tidak berada di dekat harga berjalan, sehingga tidak bersifat reaktif.
Sebaliknya, pola tersebut membentuk lapisan penyangga di area bawah yang berfungsi sebagai antisipasi tekanan jual.
Dalam perspektif bandarmology, struktur bid semacam ini kerap dibaca sebagai kesiapan pelaku besar untuk menyerap barang apabila koreksi terjadi.
Di sisi lain, antrean jual tersusun bertahap mulai dari area Rp105 hingga Rp117. Tidak terlihat satu tembok offer yang dominan di satu level tertentu. Supply dibagi ke beberapa lapisan, dengan konsentrasi relatif besar di Rp110 dan Rp117.
Pola offer bertingkat seperti ini mencerminkan manajemen suplai yang terukur. Penjual tampak menjaga jarak, bukan melepas barang secara agresif di harga berjalan.
Struktur orderbook tersebut sejalan dengan perilaku broker pada hari perdagangan sebelumnya. Berdasarkan broker summary per Jumat, 19 Desember 2025, aktivitas beli JKON didominasi oleh broker-broker besar.
Trimegah Sekuritas Indonesia (LG) mencatatkan pembelian senilai Rp270,2 miliar dengan volume 31,2 ribu lot di harga rata-rata Rp86. Stockbit Sekuritas Digital (XL) menyusul dengan pembelian Rp226,8 miliar atau 26,1 ribu lot di kisaran harga Rp87.
Selain itu, NH Korindo Sekuritas Indonesia (XA), Panin Sekuritas Tbk (GR), dan Mandiri Sekuritas (CC) juga tercatat aktif mengoleksi saham ini di rentang harga 86–87.
Indikator bandar accumulation/distribution JKON yang berada di level tinggi memperkuat pembacaan tersebut. Angka ini mengindikasikan aktivitas transaksi yang intens, tetapi tidak diikuti oleh pelemahan harga.
Sebaliknya, harga justru mampu menjaga struktur naik. Pola seperti ini membedakan akumulasi dari distribusi halus, di mana tekanan jual biasanya tetap mampu menahan atau menekan harga.
Area Serapan di Bawah dan Batas Supply di Atas
Jika seluruh data diselaraskan, maka area harga tertentu mulai berfungsi sebagai zona uji yang krusial. Di sisi bawah, rentang Rp86–87 terlihat sebagai area serapan utama, sejalan dengan harga rata-rata pembelian broker-broker besar.
Selama harga mampu bertahan di atas zona ini, struktur penguatan masih terjaga. Sementara itu, lapisan bid di Rp74–76 berperan sebagai penyangga lanjutan, meski jaraknya cukup jauh dari harga berjalan.
Di sisi atas, area Rp105–110 menjadi batas supply awal yang perlu dicermati. Di rentang inilah antrean jual mulai menebal dan berfungsi sebagai penguji kekuatan permintaan.
Lebih ke atas, hingga Rp117, supply tersusun semakin rapat, mencerminkan zona yang berpotensi menjadi hambatan lanjutan jika tekanan beli tidak meningkat. (*)