Harga LABA merangkak dari Rp 107 ke Rp129 dalam lima hari—kenaikan hampir 21 persen yang mengerek grafik pekanannya ke puncak tertinggi sejak awal kuartal. Di balik grafik hijau, alur dana justru didominasi dompet lokal. Indopremier Sekuritas (kode PD) memimpin akumulasi senilai Rp893 juta, dibuntuti Mirae Asset (YP) Rp602 juta dan Kiwoom (AG) Rp600 juta. Sementara kubu distribusi terkuat datang dari Mandiri Sekuritas (CC) Rp1,3 miliar, Panin (GR) Rp813 juta, dan BCA Sekuritas (SQ) Rp636 juta.
Data aktivitas Investor Stockbit mempertegas peta perebutan itu. Investor asing hanya menyumbang 8,3 persen nilai transaksi—tercatat beli Rp6,01 miliar sekaligus jual Rp6,20 miliar sehingga net-sell tipis Rp188 juta. Sisanya, 91 persen lebih nilai dan volume digerakkan investor lokal dengan frekuensi 22 ribu transaksi dalam satu sesi. Secara teknikal, kondisi ini sering menjadi bahan bakar reli pendek yang bergantung pada psikologi ritel, sementara dana asing masih memilih menjadi penonton.
Dengan kata lain, reli LABA hari-hari terakhir bukan karena “uang pintar” global yang terpikat fundamental, melainkan karena pasar domestik yang berlomba lebih dulu berandai-andai jika akuisisi KRYA benar-benar terjadi, siapa tahu laba—yang masih defisit—ikut disulap hijau. Namun selama detail pendanaan dan sinergi belum muncul, naiknya grafik bisa jadi sekadar cermin optimisme lokal yang mudah berubah arah sewaktu-waktu.
Ketika Jejak Akuisisi LABA Menjadi Sentimen Pasar
Sentimen KRYA menjalar ke LABA bak demam yang menular lewat desas-desus. Dari lima nama yang disebut sebagai calon pengakuisisi KRYA—yakni LABA, Rich Step International Ltd asal Hong Kong, PT Evmoto Teknologi Indonesia, Huashang Investment Group Ltd, dan PT Cahaya Intan Niaga—LABA menjadi satu-satunya yang punya rekam jejak akuisisi aktual dalam waktu dekat.
Pada pertengahan Juni lalu, LABA meneken kesepakatan dengan PT Energy Baru Investasi Indonesia untuk mengambil alih 65 persen saham PT Aceh Mineral Abadi, sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas dengan luas konsesi 2.522 hektare di Banda Aceh. Meski sektor bisnisnya berbeda, langkah itu menjadi isyarat penting bagi pelaku pasar. Mereka lantas menahbiskan LABA sebagai “dompet utama” dalam konsorsium tak resmi yang tengah merayu KRYA.
Logikanya sederhana—meski belum tentu benar—bila LABA berani melakukan ekspansi ke sektor ekstraktif dengan nilai transaksi yang tidak kecil, maka ia juga dianggap paling siap mendanai proses due diligence dan akuisisi mayoritas saham perusahaan konstruksi ini. Penafsiran pasar itu membesar bukan karena konfirmasi dari manajemen, melainkan karena narasi yang terbentuk dari kecenderungan yang mudah dikenali—satu aksi korporasi yang dibaca sebagai sinyal dari kekuatan dompet.
Namun justru di ruang abu-abu itulah euforia tumbuh subur. Tanpa detail skema pendanaan, tanpa kepastian siapa membeli berapa, harga saham sudah lebih dulu memanjat. Kini, jika ekspektasi terhadap LABA tak terpenuhi, pasar punya alasan cukup untuk mencabut kembali euforianya.
Masalahnya, dompet yang disebut-sebut pasar sebagai tumpuan, belum benar-benar tebal. Pada laporan tahunan 2024, LABA masih membukukan rugi bersih sebesar Rp8,74 miliar. Ekuitasnya mentok di kisaran Rp59,7 miliar, dan belum ada catatan arus kas operasi yang positif. Memang, pada kuartal I 2025, LABA mulai membalikkan keadaan dengan mencetak laba bersih Rp2 miliar—tapi capaian ini masih terlampau tipis untuk menopang ekspansi jumbo. Terlebih, hingga kini belum ada pengumuman aksi korporasi yang lazimnya mengiringi rencana akuisisi—entah penambahan modal, penerbitan obligasi, atau sekadar pinjaman baru.
Pertanyaan krusial pun menyeruak, jika benar LABA ikut menanggung beban pembelian saham KRYA, dari mana dananya akan diambil? Apakah kas internal akan terkuras habis atau LABA justru bertumpu pada pihak lain dalam “kelompok terorganisasi”? Hingga kini, tak ada kepastian soal porsi pendanaan dan siapa yang akan bertindak sebagai penanggung jawab utama dalam akuisisi.
Di atas kertas, LABA memang terlihat agresif. Tapi di bawah neraca, ada celah yang belum tertambal. Pasar boleh saja berspekulasi, tapi laporan keuangan tak bisa diajak berandai-andai.
Strong Buy di Tengah Tanda Tanya
Meski fundamentalnya masih lunglai, grafik LABA bicara lain. Hingga perdagangan 3 Juli 2025, seluruh indikator teknikal kompak memberi sinyal strong buy—kondisi langka yang hanya muncul ketika pasar benar-benar optimistis. Ringkasan indikator teknikal dari Investing menampilkan angka mutlak: 10 sinyal beli tanpa satu pun sinyal jual. Begitu pula moving average, dari MA5 hingga MA200, semua menempatkan LABA di atas rerata harga historis. Ini adalah tanda tren penguatan yang konsisten.
Di antara indikator momentum, RSI (14) menunjukkan angka 64,32, belum menyentuh wilayah jenuh beli, tapi sudah mulai mendekat. MACD sudah menanjak ke 7,58, mengkonfirmasi momentum bullish yang sedang berlangsung. ADX (14) menyentuh 43, sinyal kuat bahwa tren ini sedang dalam kondisi dominan. Nilai ROC atau Rate of Change berada di 12,15—mengindikasikan percepatan kenaikan harga yang belum melambat. Semuanya menyatu dalam satu narasi: saham ini sedang dikejar, bukan ditimbang-timbang.
Lebih jauh, sinyal candlestick juga tak ketinggalan memoles optimisme. Pola Bullish Abandoned Baby dan Bullish Engulfing muncul di grafik harian, menandai kemungkinan pembalikan tren yang tidak main-main. Dalam analisis teknikal klasik, pola-pola ini biasanya hadir menjelang reli lanjutan. Pola Tiga Dalam Ke Atas melengkapi skenario yang mempertegas bahwa akumulasi bukan sekadar spekulasi.
Lonjakan harga saham LABA yang dipacu isu akuisisi KRYA menempatkan investor pada simpang strategi. Di satu sisi, sentimen dan sinyal teknikal masih menyala hijau sehingga menarik minat pelaku pasar bertempo pendek yang mengejar momentum. Di sisi lain, mereka yang memantau fundamental dengan kacamata jangka panjang mesti mencermati celah antara euforia pasar dan kapasitas keuangan perseroan. Dalam ruang jeda antara rumor dan realisasi itulah, kalkulasi ulang terus bergerak.(*)