KABARBURSA.COM – Aktivitas dapur umum di sejumlah kota mulai menjadi sorotan seiring rencana pemerintah menggelontorkan anggaran jumbo untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026.
Dengan proyeksi anggaran mencapai Rp335 triliun, jauh lebih tinggi dari Rp71 triliun di 2025, peluang bagi industri pangan terbuka lebar.
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi salah satu perusahaan agribisnis yang menyiapkan langkah strategis untuk terlibat. Lalu, bagaimana langkahnya?
Dua Skema Sokongan Japfa untuk MBG
Corporate Financial Controller Japfa, Erwin Djohan, menegaskan bahwa perusahaan membagi kontribusinya ke dalam dua skema, yakni langsung dan tidak langsung.
Porsi terbesar, menurut dia, akan dilakukan lewat dukungan tidak langsung.
“Artinya kita melihat bahwa memang ada penyerapan lebih banyak yang tidak langsung,” ujar Erwin dalam public expose di Jakarta, Rabu, 3 September 2025.
Erwin menambahkan bahwa Japfa siap membantu menyediakan bahan baku ketika terdapat kebutuhan tambahan di lapangan.
Meski tidak selalu menjadi pemasok utama, perusahaan memastikan koordinasi dengan pemerintah berlangsung intensif.
“Kalau memang ada ruang kosong yang mungkin kami bisa isi, itu kami upayakan,” kata Erwin.
Di luar pernyataan pejabat Japfa, data kapasitas produksi Japfa menunjukkan skala besar yang berpotensi menjadikannya pemasok utama MBG.
Berdasarkan laporan tahunan, perusahaan memiliki 15 unit Rumah Potong Ayam (RPA) yang tersebar di kota-kota utama seperti Medan, Lampung, Tangerang, Bogor, Purwakarta, Pemalang, Salatiga, Magelang, Yogyakarta, Boyolali, Sidoarjo, Bali, Banjarmasin, dan Makassar.
Dengan kapasitas konservatif 2.000 ekor per jam per RPA dan jam operasi 12–16 jam per hari, total produksi karkas ayam Japfa diperkirakan mencapai 453,6 ton per hari atau sekitar 165.564 ton per tahun.
Dalam skenario maksimal, kapasitas bisa menembus 331.128 ton per tahun.
Angka tersebut jauh lebih besar dari kebutuhan MBG. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkirakan kebutuhan ayam untuk program ini hanya sekitar 70 ribu ton per tahun, setara 1,66 persen dari proyeksi produksi nasional 2025.
Artinya, Japfa secara teoritis mampu memenuhi 2,4 hingga 4,7 kali kebutuhan MBG hanya dari kapasitas RPA.
Selain RPA, Japfa juga memiliki unit pengolahan daging melalui anak usaha PT So Good Food yang memproduksi ayam potong segar dan produk olahan siap masak.
Output gabungan dari fasilitas ini mencapai ratusan ton per bulan, melayani segmen ritel modern, HORECA (hotel, restoran, katering), dan pasar institusional.
Japfa Punya Hulu Kuat, Hilir Terkoneksi
Di sektor hulu, Japfa mengoperasikan 78 breeding farm dan 30 hatchery di berbagai provinsi, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi. Jaringan ini memperkuat ketersediaan Day Old Chick (DOC) yang menjadi bahan baku utama produksi ayam pedaging.
Lokasi breeding farm dipilih di area dengan risiko penyakit rendah sekaligus dekat jalur distribusi. Sebagai contoh, di Lampung, salah satu farm berjarak hanya 2 kilometer dari jalan raya utama, sehingga menekan biaya transportasi DOC hingga 18–24 persen.
Japfa juga memiliki cold storage di Palembang, Lampung, Tangerang Selatan, Surakarta, dan Mojokerto.
Dengan kapasitas simpan 50–150 ton per unit, fasilitas ini menjaga rantai dingin agar produk ayam segar tetap higienis dan layak konsumsi ketika didistribusikan.
Di sisi hilir, fasilitas pengolahan di Cikupa-Tangerang, Boyolali, dan Wonoayu-Sidoarjo memproduksi ratusan ton ayam olahan per bulan. Produk ini meliputi fillet, nugget, sosis, hingga bakso ayam.
Japfa juga mengadopsi teknologi digital untuk mendukung efisiensi rantai pasok. Warehouse Management System (WMS) dan Transportation Management System (TMS) diterapkan di sejumlah RPA untuk memantau alur produksi dan distribusi secara real-time.
Untuk distribusi DOC, Japfa menggunakan kendaraan khusus dengan sistem Internet of Things (IoT) yang dapat mengukur suhu 32–35°C, lokasi, dan waktu tempuh.
Teknologi ini berhasil menekan angka mortalitas DOC selama pengiriman di bawah 1 persen, lebih baik dibanding rata-rata industri yang mencapai 2–3 persen.
Kinerja Japfa Semester I 2025
Meski memiliki kapasitas besar, kinerja keuangan Japfa pada paruh pertama 2025 masih menghadapi tekanan.
Penjualan bersih tercatat Rp27,5 triliun, sedikit turun dari Rp27,7 triliun di periode sama 2024. Laba usaha menyusut menjadi Rp2,1 triliun dari Rp2,6 triliun, sementara EBITDA turun ke Rp2,7 triliun dari Rp3,2 triliun.
Direktur Japfa, Leo Handoko Laksono, menegaskan bahwa strategi perusahaan tetap berfokus pada produktivitas dan inovasi.
“Perusahaan juga melakukan penyesuaian strategis dalam operasional bisnis, terutama untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang,” ujar Leo.
Leo menyebut belanja modal Japfa meningkat menjadi Rp930 miliar dari Rp720 miliar pada tahun lalu. Dana ini dialokasikan untuk memperkuat digitalisasi operasional serta menambah kapasitas produksi.
“Investasi ini juga diarahkan untuk mempercepat program digitalisasi di berbagai unit operasional, mulai dari tahap produksi hingga pemasaran, demi menciptakan produktivitas dan efisiensi biaya yang optimal,” tambahnya.
Dengan kapasitas produksi yang mencapai ratusan ribu ton per tahun, jaringan breeding farm yang luas, cold storage strategis, serta digitalisasi distribusi, Japfa memiliki modal kuat untuk mendukung MBG 2026.
“Ke depan, Japfa akan terus memperkuat bisnis hilir dengan mengoptimalkan kapasitas produksi dan distribusi produk unggulan,” pungkas Leo.
Skala besar yang dimiliki Japfa membuat perusahaan berpotensi menjadi tulang punggung utama dalam penyediaan daging ayam untuk program MBG, yang diproyeksikan menjadi salah satu proyek prioritas pemerintah dengan nilai ratusan triliun rupiah. (*)