Insight Daily 11 May 2026 Penulis: KabarBursa.com

ISAT Dinilai Masih Murah, Tapi Ada Catatan Besar di Balik Kinerja

Valuasi saham PT Indosat Tbk (ISAT) dinilai masih relatif murah di tengah pertumbuhan laba, dividen atraktif, dan mayoritas analis yang kompak memberi rekomendasi beli

KABARBURSA.COM – Saham PT Indosat Tbk (ISAT) mulai kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah valuasinya dinilai masih relatif murah dibandingkan kekuatan fundamental dan kemampuan perusahaan mencetak laba. Di tengah kompetesi industri telekomunikasi yang makin agresif, ISAT justru menunjukkan kombinasi yang jarang ditemukan di pasar saat ini: pertumbuha...

Dok. Indosat
Dok. Indosat

Insight Navigator

  1. 01 Kinerja Indosat Kuartal I 2026
  2. 02 Analis Kompak Kasih Sinyal Beli

KABARBURSA.COM – Saham PT Indosat Tbk (ISAT) mulai kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah valuasinya dinilai masih relatif murah dibandingkan kekuatan fundamental dan kemampuan perusahaan mencetak laba. 

Di tengah kompetesi industri telekomunikasi yang makin agresif, ISAT justru menunjukkan kombinasi yang jarang ditemukan di pasar saat ini: pertumbuhan laba yang masih terjaga, margin sehat, dividend yield menarik, namun dengan valuasi yang belum terlalu premium. 

Berdasarkan data Stockbit, Minggu, 10 Mei 2026, saham ISAT saat ini diperdagangkan pada level Price to Earnings Ratio (PER) tahunan sekitar 12,11 kali, sementara PER trailing twelve months (TTM) berada di level 12,70 kali. Bahkan, forward PER tercatat lebih rendah di 11,49 kali.

Kondisi tersebut bisa diartikan jika pasar masih memperkirakan adanya pertumbuhan laba ke depan. Dalam logika pasar modal, semakin rendah forward PER dibandingkan PER historis, semakin besar ekspektasi peningkatan profitabilitas perusahaan pada periode berikutnya.

Menariknya lagi, valuasi enterprise value terhadap EBITDA (EV/EBITDA) ISAT hanya berada du level 4,53 kali. Untuk ukuran emiten telekomunikasi besar dengan basis pelanggan nasional yang kuat, level tersebut tergolong relatif murah. 

Pasar tampaknya masih berhati-hati memberikan valuasi premium kepada ISAT meskipun transformasi bisnis dan monetisasi layanan data terus berjalan.

Di sisi profitabilitas, operator telekomunikasi ini juga menunjukkan kinerja yang cukup solid. Return on Equity (ROE) ISAT tercatat mencapai 15,05 persen, sementara margin laba bersih berada di level 9,80 persen.

Dengan angka tersebut, perusahaan masih mampu menghasilkan laba yang efisien dari modal pemegang saham maupun aktivitas operasionalnya.

Di tengah kebutuhan investasi jaringan yang sangat besar, kemampuan menjaga profitabilitas menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan investor institusi.

Selain itu, saham ISAT juga mulai dilirik dari sisi dividen. Dividend yield tercatat mencapai 4,96 persen dengan payout ratio sekitar 60 persen. Artinya, perusahaan masih cukup agresif membagikan laba kepada pemegang saham tanpa harus mengorbankan ruang ekspansi bisnis.

Indosat sendiri resmi membagikan dividen untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Keputusan ini dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) oada Selasa, 5 Mei 2026.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, dividen tunai yang digelontorkan sebesar Rp3,57 triliun atau setara Rp111 per saham.

"Yang akan dibayarkan paling lambat pada 30 hari setelah diumumkannya ringkasan risalah rapat," tulis manajemen dalam keterangannya.

Usai pembagian dividen tersebut, sisa laba bersih Indosat untuk tahun buku 2025 sebesar Rp1,92 triliun. Manajemen Indosat menyebut, sisa laba itu akan dialokasikan sebagai laba ditahan.

Bagi investor, kombinasi antara dividend yield yang mendekati 5 persen dan valuasi yang masih relatif rendah menjadi daya tarik tersendiri, terutama di tengah ketidakpastian global dan suku bunga yang masih tinggi.

Namun demikian, di balik valuasi yang tampak murah tersebut, pasar juga melihat adanya sejumlah risiko yang belum sepenuhnya hilang. Salah satu perhatian utama datang dari struktur utang perusahaan. Debt to Equity Ratio (DER) ISAT saat ini berada di level 1,45 kali.

Meski begitu, investor tetap perlu mencermati kemampuan perusahaan menjaga arus kas operasional di tengah potensi kenaikan biaya pendanaan dan kompetisi tarif yang semakin ketat.

Selain itu, current ratio ISAT yang berada di level 0,56 kali menunjukkan likuiditas jangka pendek perusahaan masih cukup ketat. 

Apabila ISAT mampu mempertahankan pertumbuhan pelanggan, meningkatkan monetisasi layanan digital, serta menjaga efisiensi biaya operasional, bukan tidak mungkin pasar mulai memberikan rerating valuasi yang lebih tinggi terhadap saham ini.

Untuk saat ini, ISAT tampak berada pada fase menarik: fundamental masih kuat, dividen tetap atraktif, namun valuasi belum sepenuhnya mencerminkan potensi jangka panjangnya.

Kinerja Indosat Kuartal I 2026

Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, sepanjang 2025 Indosat mampu membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp5,51 triliun. Angka ini naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp4,92 triliun.

Kenaikan tersebut dibarengi pertumbuhan pendapatan usaha Indosat yang mencapai Rp58,52 triliun pada 2025, naik dari Rp55,86 triliun pada tahun sebelumnya.

Beban operasional jaringan Indosat pada 2025 menjadi Rp18,74 triliun, ataun naik dari Rp18,14 triliun pada 2024. Beban penyusutan dan amortisasi juga meningkat menjadi Rp15,83 triliun dibanding Rp15,55 triliun pada tahun sebelumnya.

Pindah ke sisi neraca, total aset Indosat per akhir 2025 naik menjadi Rp118,62 triliun per akhir 2025 dibanding Rp114,38 triliun pada akhir 2024. Kenaikan ini didukung oleh pertumbuhan aset lancar menjadi Rp19 triliun serta aset tetap yang mencapai Rp75,09 triliun.

Kas dan setara kas perseroan tercatat sebesar Rp5,07 triliun, meningkat dibanding posisi akhir 2024 sebesar Rp4,45 triliun. Piutang usaha pihak ketiga juga naik menjadi Rp2,56 triliun dari Rp2,17 triliun.

Di sisi liabilitas, total kewajiban perseroan naik menjadi Rp79,12 triliun dibanding Rp77,73 triliun pada akhir 2024. Liabilitas jangka panjang terbesar masih berasal dari liabilitas sewa pembiayaan yang mencapai Rp33,09 triliun.

Adapun total ekuitas Indosat meningkat menjadi Rp39,50 triliun dibanding Rp36,65 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya tercatat sebesar Rp17,26 triliun.  

 

Analis Kompak Kasih Sinyal Beli

Saham ISAT terpantau menunjukkan kinerja positif dalam beberapa periode terakhir. Mayoritas analis pasar pun kini kompak memberikan rekomendasi beli terhadap saham operator seluler tersebut.

Data Stockbit menunjukkan, sebanyak 28 analis memberikan rekomendasi buy terhadap saham ISAT, sementara hanya dua analis yang memilih hold dan tidak ada satupun rekomendasi sell.

Konsensus tersebut muncul ketika harga saham ISAT masih berada di level Rp2.240 pada perdagangan terakhir, Jumat, 8 Mei 2026 atau masih berada di bawah target harga rata-rata analis yang mencapai Rp2.835.

Dengan posisi tersebut, pasar melihat masih terdapat ruang kenaikan atau upside sekitar 26 persen dari harga saat ini menuju target konsensus.

Bahkan, estimasi target tertinggi analis mencapai Rp3.650 per saham. Sebaliknya, target terendah masih berada di level Rp2.000, yang menunjukkan risiko penurunan dinilai mulai terbatas dibandingkan potensi kenaikannya.

Optimisme analis terhadap ISAT tidak muncul tanpa alasan. Dalam beberapa periode terakhir, saham ini mulai memperlihatkan momentum teknikal yang membaik.

Secara mingguan, kenaikannya bahkan mencapai 12,28 persen. Kinerja jangka menengah juga mulai bergerak positif. Dalam satu bulan saham ISAT naik 5,66 persen, sedangkan secara tiga bulan menguat 6,16 persen.

Secara year to date (YTD) saham ini masih terkoreksi 3,45 persen. Tetapi dalam rentang lebih panjang, performa ISAT juga menunjukkan ketahanan yang cukup menarik. 

Selama satu tahun terakhir saham ini masih mencatat kenaikan 23,08 persen. Bahkan dalam lima tahun terakhir, saham ISAT telah melonjak lebih dari 44 persen.

Namun demikian, pergerakan harga saham ISAT saat ini masih berada cukup jauh dari level tertingginya dalam beberapa periode terakhir.

Data menunjukkan dalam rentang enam bulan dan satu tahun, saham ini sempat menyentuh level Rp2.600. Sementara dalam horizon lima hingga sepuluh tahun, ISAT bahkan pernah berada di area Rp3.062 per saham.

Artinya, meskipun tren pemulihan mulai terlihat, pasar menilai valuasi saham ISAT belum sepenuhnya kembali ke level premium seperti sebelumnya.

Di sisi fundamental, investor tampaknya mulai kembali memperhatikan kemampuan ISAT menjaga profitabilitas di tengah kompetisi industri telekomunikasi yang ketat.

Meski demikian, sejumlah risiko tetap membayangi. Industri telekomunikasi masih menghadapi tantangan besar berupa kebutuhan investasi jaringan yang tinggi, tekanan biaya operasional, serta potensi persaingan harga yang sewaktu-waktu dapat kembali memanas.

Selain itu, investor juga masih mencermati kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan pelanggan dan mempertahankan kualitas layanan di tengah ekspansi teknologi digital yang semakin cepat. (*) 

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya