Insight Daily 10 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

IPO EMAS di Tengah Valuasi yang Premium?

EMAS targetkan dana IPO Rp4,8 triliun untuk bayar utang dan ekspansi, tambang emas jumbo dengan cadangan hampir 7 juta ons.

KABARBURSA.COM – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menawarkan saham perdana sebanyak-banyaknya 1.618.023.300 lembar pada kisaran harga Rp1.800 hingga Rp3.020 per lembar. Dari rentang harga tersebut, emiten berpotensi meraup dana segar antara Rp2,91 triliun sampai Rp4,89 triliun. Kapitalisasi pasarnya d...

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menawarkan saham perdana sebanyak-banyaknya 1.618.023.300 lembar. (Fo
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menawarkan saham perdana sebanyak-banyaknya 1.618.023.300 lembar. (Fo

Insight Navigator

  1. 01 Valuasi Premium Dibandingkan Peers?
  2. 02 Proyek Pani sebagai Katalis Utama
  3. 03 Implikasi terhadap MDKA dan Industri Tambang Emas

KABARBURSA.COM – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menawarkan saham perdana sebanyak-banyaknya 1.618.023.300 lembar pada kisaran harga Rp1.800 hingga Rp3.020 per lembar. 

Dari rentang harga tersebut, emiten berpotensi meraup dana segar antara Rp2,91 triliun sampai Rp4,89 triliun. Kapitalisasi pasarnya diproyeksikan mencapai Rp29,12 triliun hingga Rp48,86 triliun pasca pencatatan.

Mayoritas hasil IPO, sekitar 86,56 persen, akan dipakai untuk melunasi utang kepada induk usaha mereka, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan sejumlah fasilitas kredit bank senilai Rp4,23 triliun. 

Sisanya terbagi untuk modal kerja (6,72 persen) dan pinjaman kepada anak usaha (6,72 persen). Langkah ini sekaligus menurunkan rasio utang berbunga MDKA dan memperbaiki struktur modal grup.

Bookbuilding berlangsung pada 8–10 September 2025, sementara penjatahan dijadwalkan 19 September 2025 dan pencatatan di BEI pada 23 September 2025. 

Aksi korporasi ini dijamin penuh oleh PT Indo Premier Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, dan PT Sinarmas Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Menurut riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, keputusan tersebut menunjukkan strategi korporasi untuk memperkuat fondasi keuangan. 

“Mayoritas dana IPO memang digunakan untuk pelunasan utang. Ini wajar di fase awal karena EMAS masih mencatat rugi bersih sementara proyek Pani belum beroperasi penuh,” tulis tim riset Kiwoom dalam laporannya, Rabu, 10 September 2025.

Setelah memahami tujuan penggunaan dana IPO, pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana posisi valuasi EMAS dibandingkan dengan perusahaan tambang emas lain yang sudah lebih dulu tercatat di bursa.

Valuasi Premium Dibandingkan Peers?

Dengan rentang harga IPO, valuasi EMAS tercatat pada price-to-book value (PBV) 3,66 kali hingga 4,83 kali. Angka ini lebih tinggi dibanding sejumlah pemain tambang emas yang sudah tercatat di BEI. 

Sebagai perbandingan, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki PBV 2,68 kali, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 3,51 kali, MDKA 4,35 kali, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) 2,9 kali, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) 1,5 kali, dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga masih berada di bawah kisaran EMAS.

Dalam analisanya, Kiwoom menegaskan bahwa investor akan membayar lebih mahal untuk memiliki saham EMAS ketimbang peers yang sudah lebih matang. 

Profil risiko pun lebih tinggi karena perusahaan belum menghasilkan arus kas stabil dan sebagian besar hasil IPO digunakan untuk membayar utang, bukan ekspansi produksi.

“Valuasi IPO EMAS masih bertumpu pada prospek jangka panjang, khususnya proyek Pani. Untuk investor dengan horizon panjang, prospeknya menjanjikan. Namun bagi pelaku pasar jangka pendek, risikonya relatif besar,” jelas tim riset Kiwoom.

Prospek jangka panjang yang menjadi sorotan Kiwoom merujuk langsung pada proyek Pani, yang digadang-gadang sebagai katalis utama pertumbuhan EMAS ke depan.

Proyek Pani sebagai Katalis Utama

Proyek tambang emas Pani menjadi alasan utama IPO EMAS dinilai menarik. Cadangan emas di tambang tersebut diperkirakan mendekati 7 juta ons, menjadikannya salah satu calon tambang emas primer terbesar di kawasan Asia Pasifik.

Saat ini kapasitas produksi Pani baru mencapai 115 ribu ons per tahun, dengan cash cost USD1.017 per ons dan all-in sustaining cost (AISC) USD1.337 per ons. 

Dalam risetnya, Kiwoom menyatakan bahwa, setelah IPO, kapasitas produksi Pani ditargetkan naik ke 145 ribu ons per tahun, dengan penurunan cash cost menjadi sekitar USD800 per ons dan AISC ke level USD990 per ons.

Kontribusi signifikan diperkirakan mulai terlihat pada 2026. Dengan asumsi faktor kapasitas 90 persen, produksi Pani dapat mencapai 130 ribu ons per tahun. Kiwoom menghitung total produksi emas Merdeka Copper Gold bisa naik hingga 235 ribu ons per tahun, dengan pendapatan segmen emas sekitar USD533 juta, melonjak dari realisasi FY2024 sebesar USD261 juta.

Lebih lanjut, penurunan rata-rata cash cost ke kisaran USD950 per ons akan memperbaiki margin laba sekaligus mendukung profitabilitas konsolidasi MDKA.

“Inilah alasan investor masih mempertimbangkan IPO EMAS meskipun harga penawarannya premium,” ungkap tim riset.

Meski prospek Pani menjanjikan, IPO EMAS juga membawa konsekuensi terhadap MDKA sebagai induk usaha dan lanskap industri tambang emas nasional.

Implikasi terhadap MDKA dan Industri Tambang Emas

IPO EMAS erat kaitannya dengan induknya, Merdeka Copper Gold. Setelah pencatatan, kepemilikan MDKA terdilusi dari 62,73 persen menjadi 56,46 persen. Kendati demikian, EMAS tetap terkonsolidasi dalam laporan keuangan MDKA, sehingga tambahan produksi dari Pani akan langsung memperkuat pendapatan induk.

Kiwoom mencatat bahwa beban bunga MDKA akan berkurang signifikan karena mayoritas dana IPO dipakai untuk pelunasan utang. Hal ini akan memperbaiki leverage dan memberi ruang bagi MDKA untuk mengembangkan tambang baru maupun masuk ke hilirisasi mineral.

Sementara itu, industri tambang emas domestik sedang menikmati momentum harga emas global yang bertahan tinggi. Prospek jangka panjang tetap positif, meski persaingan semakin ketat dengan keberadaanANTM, ARCI, dan BRMS yang masing-masing memiliki strategi ekspansi.

Dalam catatannya, Kiwoom menekankan bahwa IPO EMAS merupakan salah satu yang terbesar di sektor tambang emas dalam beberapa tahun terakhir. 

“Walaupun valuasinya premium, proyek Pani dengan cadangan jumbo membuat EMAS menarik bagi investor institusi yang siap mengambil risiko jangka panjang,” simpul tim riset. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya