KABARBURSA.COM – PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), anak usaha investasi infrastruktur milik PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan Phoenix Power dari Thailand, resmi mengajukan penawaran umum perdana (IPO) dengan kisaran harga Rp170–Rp190 per saham.
Target dana yang dihimpun diperkirakan mencapai Rp2,1 triliun hingga Rp2,4 triliun, dengan rencana pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2025.
Laporan riset yang disusun oleh Sukarno Alatas, Senior Analyst dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyebutkan bahwa CDIA menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang sangat kuat pada 2024.
Total pendapatan mencapai USD102,3 juta, naik 35 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara laba bersih melonjak tajam menjadi USD32,7 juta atau meningkat lebih dari 1.600 persen dari posisi tahun sebelumnya.
"Laba bersih tumbuh 1.633 persen dengan margin laba bersih 32 persen, sementara return on equity (ROE) naik menjadi 4,4 persen dari hanya 0,3 persen di 2023,” tulis Sukarno Alatas dalam risetnya, Kamis, 19 Juni 2025.
Melihat Kontributor Utama Pendapatan Anak Usaha Chandra Asri
Fakta bahwa pendapatan dan laba bersih Chandra Daya Investasi sangat solid ini memunculkan pertanyaan, yakni apa saja kontributornya?
Kontributor pendapatan terbesar CDIA pada 2024 berasal dari penjualan listrik dan layanan terkait yang mencakup 78,6 persen dari total pendapatan.
Ini menandakan fokus utama perusahaan berada di sektor energi, yang dikelola melalui anak usaha PT Krakatau Chandra Energi (KCE). KCE memasok listrik di kawasan industri Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIK Cilegon), melayani pelanggan dari sektor industri, pemukiman, hingga instansi pemerintah.
Kinerja segmen listrik ini menunjukkan skala ekonomi yang kuat, dengan karakteristik bisnis utilitas yang stabil dan berulang.
Model bisnis berbasis kontrak jangka panjang di kawasan industri juga memperkuat kepastian arus kas. Hal ini turut menjelaskan marjin laba bersih CDIA yang sangat tinggi, mencapai 32 persen pada 2024.
Segmen bahan bakar menyumbang 11,2 persen pendapatan, menunjukkan bahwa selain memproduksi dan mendistribusikan listrik, CDIA juga mengintegrasikan pasokan energi melalui perdagangan bahan bakar. Segmen ini relevan sebagai pelengkap dalam ekosistem energi, meski dengan risiko volatilitas harga yang lebih tinggi.
Jasa sewa kapal memberikan kontribusi sebesar 5,5 persen, dan merupakan penambahan baru yang tidak tercatat pada tahun 2023. Kenaikan dari nol menjadi USD5,6 juta (setara 5,5 persen dari total revenue) mencerminkan ekspansi aktual ke sektor logistik laut melalui anak usaha seperti PT Chandra Shipping International (CSI) dan PT Mandira Infrastructure Maritime (MIM). Kinerja awal ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru, sejalan dengan rencana pembelian armada kapal tanker kimia dan etilena.
Sementara itu, penyewaan tangki dan jetty, yang dijalankan oleh anak usaha PT Ratu Prabu Utama (RPU), menyumbang 4,7 persen dari pendapatan, dengan karakteristik pendapatan pasif dan margin tinggi. Kapasitas pelabuhan dan penyimpanan yang saat ini tengah diperluas menunjukkan potensi peningkatan kontribusi segmen ini di masa mendatang.
“Kontribusi sewa kapal yang sebelumnya nihil menjadi signifikan dalam satu tahun mencerminkan strategi diversifikasi operasional yang berhasil dijalankan,” tulis Sukarno.
Struktur Keuangan Tetap Prudent dan Likuid
Struktur permodalan CDIA dinilai sangat konservatif. Rasio utang terhadap aset (debt-to-asset ratio/DAR) sebesar 0,31x dan rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio/DER) sebesar 0,44x menunjukkan eksposur pembiayaan eksternal yang masih rendah.
Gearing ratio 0,20x juga menegaskan bahwa perusahaan mengandalkan ekuitas sendiri dalam menjalankan ekspansi awal.
Likuiditas perusahaan juga sangat tinggi. Rasio lancar (current ratio) tercatat 9,01x, meski turun dari 22,9x pada tahun sebelumnya, tetap mencerminkan kapasitas likuid yang lebih dari cukup. Rasio cepat (quick ratio) bahkan bertahan di level sangat tinggi 22,05x, menandakan efisiensi pengelolaan kas.
Rasio cakupan bunga (interest coverage ratio) sebesar 1,54x dinilai cukup aman untuk menanggung beban bunga dari laba operasional, sementara debt service coverage ratio (DSCR) meningkat signifikan menjadi 9,89x dari sebelumnya 6,05x.
“Posisi kas yang kuat menempatkan CDIA dalam posisi yang sangat siap menghadapi ekspansi tanpa menanggung beban leverage berlebihan,” jelas Sukarno.
Strategi Penggunaan Dana IPO CDIA
Sebesar 63 persen dana IPO akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur pelabuhan dan penyimpanan (melalui anak usaha CSP dan CCP), sementara 37 persen akan digunakan untuk ekspansi armada logistik, termasuk pengadaan kapal kimia dan etilena oleh CSI dan MIM.
Detail penggunaan dana antara lain:
- Rp273,7 miliar untuk CSI, termasuk pembelian kapal kimia baru seharga USD 7,8 juta
- Rp598 miliar untuk MIM, mencakup pembelian tiga kapal, termasuk dari Marubeni Corporation Jepang
- Rp1,5 triliun untuk CSP/CCP, dialokasikan untuk konstruksi tangki penyimpanan, pipa etilena, dan fasilitas pelabuhan, dengan kontrak EPC telah ditandatangani bersama Total Bangun Persada Tbk dan mitra lainnya
Valuasi Menarik di Bawah Rata-rata Industri
Harga IPO Rp170–Rp190 merefleksikan valuasi yang tergolong atraktif. Rasio price-to-earnings (PE) berada di 43x–48x, jauh di bawah rata-rata industri yang mencapai 99x.
Sementara price-to-book value (PBV) tercatat 1,5x–1,6x dan price-to-sales (P/S) pada kisaran 13x–14x.
Jika dibandingkan dengan emiten sejenis, CDIA dinilai undervalue dari sisi PBV dan P/S, namun berada di bawah dari sisi profitabilitas dan ROE.
Sebagai ilustrasi, emiten seperti POWR memiliki ROE 11 persen dan DER 1,34x, sementara CDIA hanya mencatatkan ROE 3 persen dan DER 0,37x.
“Valuasi lebih rendah dari rerata industri, namun dengan pertumbuhan yang agresif dan eksposur infrastruktur yang defensif, prospeknya tetap menjanjikan,” tulis Sukarno.
Masih Ada Risiko yang Dihadapi
Dalam riset tersebut, Sukarno menekankan sejumlah risiko yang dapat memengaruhi prospek bisnis CDIA, mulai dari perubahan regulasi, volatilitas harga komoditas, keterlambatan proyek, penurunan permintaan industri, hingga risiko lingkungan dan hambatan pembiayaan.
Khusus untuk bisnis energi dan pelabuhan, kebijakan pemerintah dan pertumbuhan konsumsi nasional menjadi faktor penentu.
Permintaan listrik nasional yang terus meningkat didorong urbanisasi dan ekspansi industri, sementara sektor maritim mengalami peningkatan permintaan pengangkutan energi cair.
“Kebutuhan air bersih yang meningkat serta target sosial pemerintah juga membuka peluang pertumbuhan di sektor infrastruktur air,” jelas Sukarno. (*)