KABARBURSA.COM - Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah fase tekanan jual berkurang dan aktivitas akumulasi meningkat di kalangan investor domestik.
Mengutip data Stockbit, Senin, 10 November 2025, dari pergerakan orderbook, memperlihatkan dominasi investor domestik.
Broker lokal seperti AK, PD, dan LG menjadi pembeli terbesar dengan total nilai transaksi di atas Rp120 miliar dalam sepekan terakhir periode 3-7 November 2025. Sementara tekanan jual lebih banyak datang dari broker asing seperti BB dan AZ.
Dari sisi teknikal hari ini, Senin, 10 November 2025, struktur bid–ask memperlihatkan tumpukan beli tebal di kisaran Rp1.940–Rp1.950 dan area jual menipis di Rp1.965–Rp1.980.
Level Rp2.000 menjadi titik uji utama (minor resistance). Jika berhasil ditembus dengan volume besar, ADRO berpeluang menuju kisaran Rp2.250–Rp2.400.
Secara keseluruhan, jumlah antri jual saham ADRO hari ini terpantau lebih banyak berkisar 790,222. Sementara area antri beli ada di angka 330,731.
Adapun berdasarkan konsensus 24 analis, sebanyak 17 analis merekomendasikan beli (buy), 5 menahan (hold), dan hanya 2 yang menyarankan jual (sell).
Rata-rata target harga konsensus berada di Rp2.391. Beberapa analis bahkan memperkirakan target tertinggi hingga Rp3.800, menggambarkan masih adanya ruang kenaikan signifikan dalam jangka menengah.
Secara fundamental, analis memprediksi pendapatan ADRO 2025 diproyeksikan turun ke Rp28,35 triliun dari Rp32,95 triliun di 2024. Namun pada 2026, konsensus memperkirakan pendapatan melonjak menjadi Rp41,36 triliun.
Sementara itu BRI Danareksa Sekuritas mencatat pergerakan harga saham ADRO berhasil untuk pullback di dekat level supportnya pada Rp1.850 – Rp1.900.
"Selama berada diatas level tersebut, maka ADRO masih mempunyai potensi untuk menguat menuju level resistancenya pada Rp1.985 – Rp2.100," tulis BRI Danareksa dalam risetnya, Senin, 10 November 2025.
Strategy : Day Trade
Buy : 1.880 - 1.945
R1 : 1.985
R2 : 2.100
SL < 1.850
Pada perdagangan Jumat, 7 November 2025, harga ADRO ditutup naik 1,30 persen ke level Rp1.945 per saham.
Kenaikan ini melanjutkan tren positif sehari sebelumnya, ketika saham ADRO menguat 1,59 persen ke Rp1.920.
Kinerja saham ADRO pekan lalu sempat tertekan pada awal perdagangan. Pada 4–5 November 2025, harga sempat terkoreksi hingga -1,80 persen ke level Rp1.905, sebelum akhirnya berbalik naik pada sesi berikutnya.
Lonjakan terbesar terjadi pada Senin, 3 November 2025, saat harga melonjak 2,92 persen ke Rp1.940 dengan nilai transaksi mencapai Rp325,47 miliar. Nilai transaksi mencapai Rp202,81 miliar dengan volume perdagangan sekitar 1,05 juta lot.
Secara keseluruhan sepanjang sepekan lalu, saham ADRO menguat 0,52 persen, dengan rentang harga Rp1.850–Rp1.960. Dalam rentang satu bulan terakhir, ADRO mencatat kenaikan 12,72 persen, bergerak dari level Rp1.650 ke Rp2.010.
Sementara dalam tiga bulan terakhir, penguatan berlanjut sebesar 8,94 persen, dengan rentang harga Rp1.625–Rp2.010.
Secara tahunan year to date (year to date), saham ADRO masih melemah 19,75 persen, bergerak dalam rentang Rp1.600–Rp2.580.
Sedangkan dalam horizon satu tahun penuh, pelemahan lebih dalam, mencapai 49,09 persen dari level puncak Rp4.010 pada tahun lalu.
Dalam periode tiga tahun terakhir, penurunan kumulatif mencapai 46,43 persen, mencerminkan tekanan akibat penurunan harga batu bara dan normalisasi margin ekspor.
Namun, dalam jangka panjang, performa ADRO masih positif. Dalam lima tahun terakhir, saham ini tumbuh 72,57 persen, dan dalam horizon 10 tahun, mencatat lonjakan 217,07 persen, dari Rp437 menjadi Rp4.300 pada level tertinggi historis.
Kinerja Keuangan Kuartal III 2025
ADRO mencatat penurunan laba bersih pada periode sembilan bulan pertama 2025 seiring turunnya pendapatan dari segmen batu bara dan energi pendukung.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, ADRO membukukan pendapatan USD1,35 miliar per 30 September 2025, turun sekitar 13 persen dibandingkan USD1,55 miliar pada periode yang sama tahun lalu
Beban pokok pendapatan tercatat sebesar USD884,66 juta, naik tipis dari USD875,56 juta pada tahun sebelumnya.
Akibatnya, laba kotor Adaro menyusut menjadi USD463,52 juta dari USD673,49 juta tahun lalu,
Setelah memperhitungkan beban operasional dan keuangan, perseroan membukukan laba sebelum pajak USD421,18 juta, turun hampir 35 persen dibanding USD651,05 juta pada kuartal III 2024.
Setelah pajak penghasilan, laba bersih tahun berjalan tercatat USD332,51 juta, turun 36 persen dari USD518,01 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai USD301,59 juta, atau menurun dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi neraca, total aset ADRO per 30 September 2025 mencapai USD6,59 miliar, sedikit turun dibanding USD6,70 miliar pada akhir 2024.
Aset lancar turun menjadi USD2,31 miliar dari USD2,61 miliar, terutama akibat penurunan kas dan setara kas dari USD1,41 miliar menjadi USD1,07 miliar.(*)