Insight Daily 23 Oct 2025 Penulis: KabarBursa.com

Intip Peluang BUKA saat Diakumulasi, Buyback jadi Katalis Utama

Program buyback tahap ketiga senilai Rp420 miliar menjadi sinyal akumulasi bandar dan dukungan harga di tengah fluktuasi.

KABARBURSA.COM – Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mulai menunjukkan pergerakan aktif jelang akhir Oktober 2025. Harga sahamnya naik ke level Rp172 pada perdagangan sesi I, naik 6 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp162. Volume transaksinya menembus 161 juta lembar dengan nilai perdagangan lebih dari Rp27 miliar, menandakan minat beli mulai meni...

Harga sahamnya naik ke level Rp172 pada perdagangan sesi I, naik 6 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp162. (Foto: Dok. Bukalapak.com)
Harga sahamnya naik ke level Rp172 pada perdagangan sesi I, naik 6 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp162. (Foto: Dok. Bukalapak.com)

KABARBURSA.COM – Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mulai menunjukkan pergerakan aktif jelang akhir Oktober 2025. Harga sahamnya naik ke level Rp172 pada perdagangan sesi I, naik 6 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp162. 

Volume transaksinya menembus 161 juta lembar dengan nilai perdagangan lebih dari Rp27 miliar, menandakan minat beli mulai meningkat di area bawah.

Kenaikan harga tersebut terjadi usai manajemen mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham tahap ketiga. Dalam keterbukaan informasi, Bukalapak menyebut buyback kali ini menggunakan sisa dana sebesar Rp420,79 miliar dari total alokasi Rp1,13 triliun. 

Untuk periode pelaksanaan ditetapkan mulai 24 Oktober 2025 hingga 23 Januari 2026, mengikuti ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 13 dan 29 Tahun 2023.

Aksi buyback lanjutan ini menjadi sinyal kuat bahwa perseroan masih memiliki cadangan kas besar. Laporan keuangan semester I 2025 mencatat total aset Rp24,07 triliun dan ekuitas Rp23,35 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp464 miliar. 

Dalam simulasi proforma buyback, ekuitas akan turun sekitar Rp1,13 triliun namun laba per saham (EPS) justru naik dari 4,5 menjadi 5,6. Struktur permodalan dinilai tetap sehat tanpa mengganggu kegiatan operasional.

Pasar menanggapi positif langkah ini karena buyback memberi kepastian dukungan harga di tengah fluktuasi indeks. 

Selain itu, Bukalapak memastikan tidak akan menjual saham hasil buyback dalam 12 bulan ke depan, sehingga jumlah saham beredar akan berkurang. 

Kebijakan ini juga memperkecil risiko tekanan jual di pasar sekunder dan berpotensi menjaga stabilitas harga hingga awal 2026.

Nah, dari sisi order book, pergerakan saham BUKA menunjukkan tanda-tanda akumulasi yang mulai terkoordinasi. Antrean beli cukup tebal di level Rp170 dan Rp171, dengan volume mencapai jutaan lembar. 

Sementara di sisi jual, volume tampak menipis di kisaran Rp172 hingga Rp174, memperlihatkan minat lepas yang mulai berkurang setelah pengumuman buyback.

Kondisi ini mengindikasikan adanya upaya mempertahankan harga di area bawah. Pola semacam ini kerap terjadi ketika pelaku besar atau pihak institusi mulai menambah posisi secara bertahap tanpa mendorong harga terlalu tinggi. 

Selisih tipis antara bid dan offer juga menunjukkan likuiditas aktif, menandakan pasar masih ramai ditransaksikan oleh pelaku harian.

Sejauh ini, aktivitas perdagangan juga menunjukkan keseimbangan antara partisipasi ritel dan institusi. Frekuensi transaksi tinggi dengan volume rata-rata stabil di atas 150 juta saham per hari. 

Jika pola ini bertahan beberapa sesi ke depan, ruang bagi harga BUKA untuk melanjutkan penguatan ke kisaran Rp178–Rp180 tetap terbuka lebar.

Adapun data broker summary memperlihatkan komposisi transaksi yang cukup menarik sepanjang perdagangan pekan ini. Aktivitas beli terbesar datang dari PF (Danasakti Sekuritas Indonesia), YP (Mirae Asset Sekuritas Indonesia), dan AO (Erdikha Elit Sekuritas). Ketiganya mencatat volume beli konsisten di area Rp170 hingga Rp172, menandakan pola pembelian akumulatif dengan pendekatan harga rata-rata.

Sementara itu, di sisi penjualan terlihat DR (RHB Sekuritas Indonesia) dan LG (PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk) yang melakukan pelepasan terbatas di level Rp173–Rp174. 

Volume jual dari dua broker tersebut cenderung kecil dan tidak menunjukkan indikasi distribusi besar. Pola seperti ini kerap muncul saat terjadi switching lot antar pelaku besar, di mana posisi lama berpindah ke tangan baru tanpa perubahan signifikan pada harga pasar.

Komposisi transaksi semacam ini menggambarkan bahwa BUKA berada dalam fase re-accumulation setelah dua tahap buyback sebelumnya. Likuiditas tetap terjaga tinggi, sementara tekanan jual relatif minim. 

Aksi beli yang konsisten di sisi bid memperlihatkan bahwa pelaku besar memilih menahan harga agar tetap berada di kisaran bawah sambil menambah porsi kepemilikan.

Pelaku pasar juga melihat sinyal bahwa aktivitas buyback turut memperkuat struktur permintaan. Dengan emiten sendiri aktif menyerap saham dari pasar, tekanan distribusi semakin terbatas. 

Situasi ini membuat bandar memiliki ruang lebih leluasa untuk menjaga pergerakan harga di rentang sempit, sekaligus menciptakan stabilitas bagi trader jangka pendek.

Aksi pembelian kembali saham menjadi katalis utama yang menjaga kepercayaan investor terhadap Bukalapak. Dalam keterbukaan informasi 23 Oktober 2025, perseroan menegaskan buyback tahap ketiga akan menggunakan sisa dana Rp420,79 miliar dari total alokasi sebelumnya sebesar Rp1,13 triliun. Periode pelaksanaan dimulai 24 Oktober 2025 hingga 23 Januari 2026, dan seluruhnya dibiayai dari kas internal tanpa pinjaman ataupun dana hasil IPO.

Kebijakan ini diambil seiring pasar yang masih berfluktuasi tajam sepanjang kuartal keempat tahun ini. Bukalapak menyebut langkah buyback bertujuan menjaga kestabilan nilai perusahaan sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis jangka panjang. 

Dari sisi pandangan pasar, mayoritas analis masih menilai prospek Bukalapak cukup menjanjikan. Konsensus harga rata-rata berada di kisaran Rp190 hingga Rp208 per saham, dengan beberapa lembaga riset menempatkan target optimistis di area Rp230. 

Rekomendasi yang mendominasi tetap “buy”, seiring ekspektasi bahwa program buyback akan membantu menjaga momentum penguatan harga dalam jangka menengah.

Dari sisi teknikal, pergerakan harga BUKA mulai membentuk pola konsolidasi positif setelah fase penurunan panjang. Level Rp170 kini berfungsi sebagai area support baru, sementara resistance terdekat berada di Rp180 hingga Rp182. 

Jika akumulasi oleh pelaku besar berlanjut dengan dukungan volume stabil, peluang penguatan menuju kisaran Rp190–Rp200 terbuka dalam beberapa pekan ke depan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya