KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi menguat terbatas pada pekan terakhir Mei 2025.
Beberapa sekuritas besar telah merilis pandangan strategisnya terhadap sektor-sektor unggulan dan saham-saham pilihan yang layak dicermati investor. Sinyal teknikal yang masih positif dan derasnya arus dana asing memberikan landasan optimisme bagi pelaku pasar.
Di tengah dinamika global dan sentimen domestik, penguatan nilai tukar rupiah dan aksi beli investor asing menjadi pendorong utama optimisme pasar. Selain itu, terdapat pula potensi rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Prediksi IHSG: Cenderung Menguat Terbatas di Tengah Proteksionisme Global
IHSG ditutup pada level 7.214 pada Jumat, 23 Mei 2025, naik 1,4 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Lonjakan ini disokong net buy asing sebesar Rp2 triliun di pasar reguler, menjadi yang tertinggi dalam lima pekan terakhir.
David Kurniawan, Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas, menilai arus dana asing sebagai katalis penting. “Lonjakan pembelian bersih investor asing menjadi katalis positif utama. Secara teknikal, IHSG sudah bergerak di atas level 7.000 yang menandakan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia,” ujar David dalam keterangan resmi yang diterima Kabarbursa.com, Senin, 26 Mei 2025.
Namun ia juga mengingatkan akan adanya level resistance penting. “Investor harus tetap waspada karena ada resistance di level 7.400, yang sebelumnya menjadi area yang diuji berkali-kali sebelum IHSG mencetak all time high di level 7.800 pada September 2024 lalu,” jelasnya.
Dari global, sentimen datang dari kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengusulkan tarif 50 persen untuk semua impor dari Uni Eropa mulai 1 Juni. Kekhawatiran atas kebijakan tarif ini memicu pelemahan indeks di Wall Street. Dow Jones Industrial Average turun 0,61 persen, S&P 500 terkoreksi 0,67 persen, dan Nasdaq jatuh 1,00 persen.
Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan, IHSG pada perdagangan hari ini, Senin, 26 Mei 2025, akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support di 7.160–7.105 dan resistance di 7.270–7.320.
FAC Sekuritas Indonesia juga menilai bahwa tren penguatan IHSG masih bisa berlanjut seiring dengan berlanjutnya aksi beli investor asing.
"Pada perdagangan akhir pekan lalu (23 Mei 2025), IHSG ditutup menguat 47,18 poin atau 0,66 persen ke level 7.214,16. Penguatan ini didorong oleh apresiasi nilai tukar rupiah dan inflow dana asing," jelas tim riset FAC Sekuritas dalam laporannya.
Yuanta Sekuritas Indonesia juga mencatat bahwa secara teknikal, IHSG telah membuat higher high dan bergerak di atas MA200.
Sementara total transaksi tercatat Rp12 triliun, dengan sektor-sektor seperti material dasar dan transportasi menjadi pendorong utama.
"IHSG telah menguat 1,51 persen selama sepekan. Sektor basic material naik 3,17 persen, terutama didorong oleh kenaikan harga saham TPIA (PT Chandra Asri Tbk) sebesar 10,76 persen," tulis tim Yuanta dalam catatan hariannya.
Saham-saham Pilihan: Sektor Energi, Pertambangan, dan Perbankan Jadi Sorotan
Beberapa sektor menjadi sorotan utama berbagai sekuritas. CGS International merekomendasikan enam saham unggulan dengan rating beli, yaitu PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Merdeka Copper Gold (MDKA), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
FAC Sekuritas menyoroti saham-saham syariah seperti PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dengan status trading buy dan target harga yang menarik. Misalnya, MAPI ditutup pada Rp1.340 dan direkomendasikan beli dengan target Rp1.650 dan cut loss di Rp1.280.
Sementara itu, PNLF dan RATU juga direkomendasikan sebagai saham non-syariah untuk strategi short-term trading.
Di sisi lain, Yuanta Sekuritas menempatkan MDKA sebagai saham sorotan utama. "Kami menyarankan beli di kisaran Rp1.970–2.000 dengan target jangka pendek di Rp2.100–2.260 dan stop loss di bawah Rp1.940," jelas Aggananda Dhammiko, RTA dan RSA Yuanta Sekuritas Indonesia.
Yuanta juga menambahkan BRMS dalam radar rekomendasi, dengan strategi beli di area Rp370–376 dan target kenaikan ke Rp396–404.
IPOT Fokus ke Saham MSCI dan Obligasi Jangka Panjang
Mengantisipasi potensi rebalancing indeks MSCI, Indo Premier Sekuritas (IPOT) menyarankan untuk mencermati saham di sektor pertambangan, logam dasar, dan perbankan.
David Kurniawan dari IPOT menyebut beberapa saham yang direkomendasikan, yaitu MDKA, Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Trimegah Bangun Persada (NCKL). "Minat asing yang tinggi terhadap saham-saham seperti BBRI, ANTM, BMRI, GOTO, dan BBCA menunjukkan optimisme investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia," jelasnya.
Untuk MDKA, IPOT merekomendasikan beli pada harga Rp2.040 dengan target Rp2.220, dengan stop loss di Rp1.950. David mencatat bahwa secara teknikal, tren jangka pendek MDKA masih ditopang oleh pergerakan di atas MA5.
Untuk BBRI, rekomendasi beli diberikan pada harga Rp4.350 dengan target harga Rp4.700. David menjelaskan, “BBRI baru saja mengalami mini breakout dari level resistensi 4.300. Akumulasi investor asing mulai terlihat kembali, dan itu menjadi sinyal positif.”
Sementara NCKL direkomendasikan pada harga Rp740 dengan target Rp805, serta stop loss di Rp705. Dari teknikal, saham ini menunjukkan sinyal bullish setelah breakout dari konsolidasi, dengan dukungan indikator MACD yang menguat.
Selain saham, IPOT juga menyarankan investor untuk mempertimbangkan Obligasi Negara seri FR0097 yang memberikan kupon tetap 7,125 persen per tahun dan jatuh tempo pada Juni 2043. Dengan yield to maturity (ytm) di kisaran 6,9 persen, obligasi ini dinilai menarik, khususnya setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 21 Mei 2025.
Rekomendasi Saham Lain: BBTN, BRPT, ERAA, dan BREN
Mirae Asset Sekuritas dalam laporan mingguan juga menambahkan tiga saham unggulan: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).
Menurut Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Chartist Mirae, BBTN memiliki katalis dari pertumbuhan dana kelolaan (AUM) BTN Prospera, sedangkan BRPT mendapat sorotan dari ekspansi kapasitas energi panas bumi.
“Saham ERAA juga menarik menjelang peluncuran iPhone 16, yang diperkirakan akan mendongkrak kinerja keuangan kuartal II 2025,” ujar Nafan.
Di sisi lain, MNCS memberikan peringatan bahwa IHSG sudah mendekati akhir gelombang [a] dalam pola teknikalnya. MNCS memprediksi koreksi bisa terjadi ke level 6.713–7.031. Namun untuk hari ini, area support berada di 7.085–7.009 dan resistance di 7.263–7.324.
Saham-saham rekomendasi MNCS untuk pekan ini mencakup BREN, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Panin Tbk (PNBN), dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan MYOR tetap mendapat tempat dalam daftar beli karena kekuatannya sebagai saham defensif. Kedua saham ini dianggap tahan terhadap fluktuasi makro, terlebih dengan adanya potensi penurunan suku bunga lanjutan oleh Bank Indonesia (BI).
ISAT juga masuk radar beberapa sekuritas sebagai saham berbasis digital dan infrastruktur telekomunikasi yang berpotensi tumbuh dalam jangka menengah.
Pekan terakhir Mei 2025 ditandai oleh dua hal utama: derasnya arus masuk dana asing dan potensi penyesuaian portofolio menjelang rebalancing MSCI. Saham-saham berbasis komoditas, perbankan, dan logam dasar menjadi unggulan sebagian besar sekuritas.
Dengan suku bunga domestik yang lebih bersahabat dan volatilitas global yang masih tinggi, investor disarankan mencermati peluang dari saham-saham yang sedang dalam fase akumulasi asing dan sektor-sektor yang berpotensi mendapat relokasi dana global. (*)