KABARBURSA.COM - Industri rokok Indonesia saat ini tengah mengalami banyak tantangan mulai dari tingginya tarif cukai, hingga merebaknya rokok ilegal.
Diketahui, produksi rokok pada semester I 2025 sebanyak 142,6 batang, menurun sebesar 2,5 persen dibanding periode serupa tahun lalu. Angka ini menjadi yang terendah sejak 2018 lalu, namun tak berlaku untuk tahun 2023.
Pada Juni 2025, produksi rokok menyusut 5,7 persen menjadi 24,8 miliar batang. Angka ini turun dibanding bulan sebelumnya.
BRI Danareksa Sekuritas melaporkan konsumsi perokok per individu di Indonesia mengalami kenaikan. Namun, ada perubahan pola konsumsi karena mayoritas dari mereka bergeser ke rokok murah dan ilegal.
Rintangan lain yang dihadapi industri rokok ialah tarif cukai. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, sektor bea dan cukai ditargetkan meraup Rp334,3 triliun untuk penerimaan negara. Salah satu yang diandalkan dalam hal ini adalah cukai hasil tembakau.
Sebelumnya, Komisi XI DPR meminta agar pemerintah tidak menaikan tarif cukai hasil tembakau rokok (CHT) di tahun 2026.
Sementara itu Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengaku akan mengkaji penurunan cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok.
Ia menyatakan angka penurunan CHT baru akan ditemui Ketika pihaknya telah melakukan studi dan analisis di lapangan. Di samping menurunkan CHT, Purbaya berjanji akan membasmi cukai-cukai palsu.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut, industri rokok di Indonesia pada dasarnya “regulated cost industry”. Bukan soal seberapa efisien perusahaan mengelola pabrik, tapi seberapa mampu mereka beradaptasi dengan kebijakan cukai dan bertahan melawan kompetisi rokok ilegal.
"Investor dapat menunggu kebijakan cukai ke depannya yang akan disampaikan oleh Menkeu (Menteri Keuangan) baru," tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Di tengah lesunya industri rokok, salah satu perusahaan rokok ternama, PT Gudang Garam (GGRM) telah menyatakan sikapnya dalam menghadapi tantangan ini.
Direktur & Corporate Secretary Gudang Garam, Heru Budiman mengakui saat ini daya beli masyarakat cukup lemah. Apalagi, biaya cukai rokok yang tinggi dan maraknya produk rokok ilegal.
"Perseroan telah meluncurkan beberapa varian produk baru pada tahun 2024. Perseroan akan terus berusaha berinovasi dengan produk-produk yang lebih sesuai dengan kondisi pasar yang ada," ujar dia dalam pernyataanya, 9 September 2025.
Di sisi lain, Heru telah membantah isu yang menyebutkan adanya PHK masal di dalam perusahaan. Ia meluruskan jika Perseroan baru-baru ini melepas 309 karyawan secara normativ.
"Melalui mekanisme pension normal dan pension dini secara sukarela, serta berakhirnya kontrak kerja sesuai batas waktu kontrak," ujarnya.
Tiga Saham Rokok Kompak Positif
Tiga saham rokok di Bursa Efek Indonesia kompak menguat dalam jangka pendek. PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mencatat performa terbaik.
Sementara PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam (GGRM) Tbk juga mencatat rebound tajam selama sepekan dan sebulan terakhi.
Mengutip data perdagangan Stockbit, Rabu, 17 September 2025, pergerakan saham WIIM menunjukkan tren menguat konsisten dalam berbagai rentang waktu.
Dalam sepekan, saham ini sudah melonjak 28,57 persen dari posisi sekitar Rp795.
Penguatan juga terlihat dalam jangka satu bulan dengan kenaikan 32,69 persen.
Sedangkan dalam tiga bulan terakhir harga menanjak 41,78 persen. Sepanjang enam bulan terakhir, WIIM bahkan meroket hingga 73,95 persen.
Hal senada juga dicatatkan saham HMSP. Dalam sepekan terakhir, laju HMSP terbilang impresif dengan lonjakan 22,52 persen dari kisaran Rp535.
Sepanjang satu bulan, saham ini naik 27,10 persen, sedangkan dalam tiga bulan terakhir menguat 10,57 persen. Dalam enam bulan, kenaikannya mencapai 29,52 persen.
Untuk GGRM, performa saham ini selama sepekan semakin mencolok dengan kenaikan 31,44 persen dari Rp8.800. Selama sebulan terakhir, saham GGRM juga menanjak 33,72 persen.
Sementara dalam tiga bulan terakhir menguat 20,21 persen dan dalam enam bulan menguat 11,54 persen.
Kinerja Keuangan
Pada kuartal II 2025, WIIM mencatatkan kinerja keuangan positif dengan mencatat laba bersih sebesar Rp75 miliar, naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp57 miliar.
Pendapatan WIIM juga menunjukkan angka positif setelah meraup Rp1,5 triliun, naik dibanding tahun sebelumnya senilai Rp1,1 triliun.
Sementara itu, HMSP mencatat laba bersih Rp210 miliar pada kuartal II 2025. Angka ini turun jika dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu yang senilai Rp1 triliun.
Dari sisi pendapatan, HMSP membukukan Rp26 triliun, turun dibanding periode yang sama tahun 2024.
Hal senada juga dialami GGRM. Pada kuartal II 2025, GGRM membukukan laba bersih Rp13 miliar, turun jika dibanding tahun lalu yang sebesar Rp330 miliar.
Berpindah ke sisi pendapatan, emiten ini meraup pendapatan Rp21 triliun di kuartal II 2025, menyusut dibanding periode serupa tahun 2024.(*)