KABARBURSA.COM – Industri batu bara memasuki semester II 2025 dengan tekanan dari melemahnya permintaan ekspor. Data perdagangan mencatat ekspor thermal coal Indonesia berada di level terendah tiga tahun pada awal 2025.
Penurunan tajam tersebut terjadi akibat China dan India menekan impor seiring lonjakan produksi domestik, sehingga nilai ekspor semester I merosot sekitar 21 persen year on year (yoy).
Namun, kebutuhan dalam negeri memberikan bantalan. Pemerintah menaikkan target Domestic Market Obligation (DMO) 2025 menjadi 239,7 juta ton. Peningkatan ini ditopang konsumsi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan smelter nikel yang terus tumbuh.
Dengan penyerapan domestik lebih kuat, arus kas emiten batu bara besar relatif lebih stabil meskipun harga global masih menekan margin.
Harga acuan Newcastle per 5 September 2025 tercatat USD107 per ton. Angka ini jauh lebih rendah dari puncak 2022, namun naik dari titik terendah empat tahun di USD93 pada April. Lonjakan sempat mencapai USD115 pada Juli, menandakan tren pemulihan mulai terbentuk menjelang kuartal IV.
Dalam riset terbarunya, Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai prospek batu bara semester II 2025 tetap ditopang kombinasi DMO, kontrak jangka panjang PT PLN (Persero), dan disiplin biaya.
“Industri batu bara belum akan sunset seketika. Walaupun cenderung membosankan, earnings semester II 2025 tetap ditopang oleh DMO, kontrak PLN, dan disiplin biaya,” tulis tim riset Kiwoom, Kamis, 11 September 2025.
Di sisi struktural, tekanan transisi energi juga semakin kuat. Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 10 Tahun 2025 menetapkan roadmap percepatan pensiun PLTU untuk mendukung target net zero emission 2060.
Proyek percontohan adalah PLTU Cirebon-1 berkapasitas 660 MW yang ditargetkan berhenti operasi pada 2035, tujuh tahun lebih cepat dari jadwal awal. Pendanaan transisi ini bernaung dalam Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai USD20 miliar.
Meski Amerika Serikat mundur sebagai co-lead pada 2025 dan digantikan oleh Jerman serta Jepang, pemerintah menegaskan eksekusi proyek tidak terganggu.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi batu bara global masih sedikit naik pada 2025 sebelum stagnan di 2026. Tidak ada jurang penurunan mendadak, tetapi tren jangka menengah tetap menuju pelemahan. Kiwoom menambahkan bahwa seleksi emiten menjadi kunci di tengah perubahan tersebut.
“Valuasi premium hanya layak untuk perusahaan berbiaya rendah yang punya diversifikasi pasar di ASEAN dan Asia lainnya, serta narasi transisi energi yang nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya.
Beberapa emiten besar pun mulai menyiapkan jalur transisi energi. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) memperkuat pilar Adaro Green dengan proyek fotovoltaik di fasilitas internal serta konsorsium ekspor listrik surya ke Singapura.
Pada semester I 2025, ADRO mencatat pendapatan USD857,7 juta dan laba bersih USD194,9 juta. Produksi mencapai 24,9 juta ton dengan penjualan 23,7 juta ton batu bara serta pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 120,7 Mbcm. Total aset per Juni 2025 senilai USD6,41 miliar dengan ekuitas USD4,99 miliar.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengembangkan PLTS off-grid di kawasan industri Cilegon, micro-grid di Tanjung Enim, dan PLTS di lahan pascatambang Ombilin, Sumatra Barat. PTBA juga menyiapkan empat proyek hilirisasi DME senilai USD40 miliar bersama SWF Danantara.
Dari sisi kinerja, PTBA membukukan pendapatan Rp20,45 triliun dengan laba bersih Rp839,9 miliar pada semester I 2025. Produksi tercatat 14,6 juta ton dan penjualan 14,4 juta ton batu bara, dengan overburden removal mencapai 108,1 Mbcm.
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melalui anak usaha Cahaya Power Indonesia melakukan ekspansi PV atap dan menjajaki proyek PLTA di Sulawesi. Pada paruh pertama 2025, ITMG membukukan pendapatan USD919,4 juta dengan laba bersih USD94 juta. Produksi batu bara mencapai 8,5 juta ton dengan penjualan 8,2 juta ton, serta aktivitas pengupasan lapisan tanah 53,3 Mbcm. Aset tercatat USD2,39 miliar dan ekuitas USD1,87 miliar.
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) sudah mencapai financial closing untuk proyek PLTS terapung Tembesi berkapasitas 46 MWp di Batam dan membangun ekosistem kendaraan listrik.
Meski demikian, TOBA mencatat kinerja yang berat pada semester I 2025. Pendapatan mencapai USD172,2 juta dengan kerugian bersih USD115,3 juta. Produksi batu bara 2,2 juta ton dengan penjualan 2,0 juta ton serta overburden removal sebesar 15,2 Mbcm.
PT Indika Energy Tbk (INDY) menargetkan portofolio 50 persen non-coal dengan investasi EV roda dua lewat ALVA. Pada semester I 2025, INDY membukukan pendapatan USD956,8 juta dengan laba bersih hanya USD10,2 juta.
Dari operasi batu bara, INDY mencatat pendapatan USD1,06 miliar dengan produksi 13,3 juta ton dan penjualan 13,0 juta ton. Overburden removal tercatat 76,5 Mbcm.
Sementara PT Harum Energy Tbk (HRUM) lebih agresif mengakuisisi tambang nikel dan membangun dua smelter di Halmahera Timur, dengan fokus pada ekosistem baterai EV. Untuk periode Januari–Juni 2025, HRUM mencatat pendapatan USD258,9 juta dengan laba bersih USD24,2 juta. Produksi batu bara 2,8 juta ton, penjualan 2,6 juta ton, serta overburden removal sebesar 18,4 Mbcm.
Menurut Kiwoom, ruang re-rating bagi sektor batu bara sangat bergantung pada dua faktor. Perbaikan permintaan Asia di kuartal IV dan harga Newcastle yang bertahan di atas USD100 per ton menjadi prasyarat.
“Appetite investor saat ini mengarah ke nama besar berbiaya kompetitif dengan arus kas kuat seperti ADRO, ITMG, dan PTBA. Sementara penambang kecil yang masih bergantung pada pasar China dan India berisiko tertinggal,” tulis riset Kiwoom.
Lebih lanjut Kiwoom juga menyoroti arah kebijakan jangka panjang. “Kebijakan transisi akan menekan valuasi jangka panjang. Kredibilitas pipeline energi terbarukan bakal menjadi pembeda antar emiten,” pungkas riset tersebut. (*)