Insight Daily 18 Aug 2025 Penulis: KabarBursa.com

Industri Alkes Bebas Hambatan, ini Nasib KLBF-SIDO di Semester I 2025

Liberalisasi alkes AS tekan pasar domestik, KLBF fokus industrialisasi alkes, SIDO bertahan lewat herbal dan ekspor di semester I 2025.

KABARBURSA.COM – Kesepakatan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) pada Juli 2025 membawa perubahan besar di pasar alat kesehatan (alkes) domestik. Produk alkes buatan AS kini masuk tanpa kewajiban sertifikasi maupun pelabelan. Aturan baru ini memberi ruang luas bagi penetrasi produk impor berteknologi tinggi, mulai dari CT-Scan hingga MRI, yan...

Liberalisasi alkes AS tekan pasar domestik, KLBF fokus industrialisasi alkes, SIDO bertahan lewat herbal dan ekspor di semester I 2025. (Foto: Dok. Kolase Kabar
Liberalisasi alkes AS tekan pasar domestik, KLBF fokus industrialisasi alkes, SIDO bertahan lewat herbal dan ekspor di semester I 2025. (Foto: Dok. Kolase Kabar

Insight Navigator

  1. 01 Strategi KLBF di Semester I 2025: Distribusi dan Industrialisasi Alkes
  2. 02 SIDO Bertahan dengan Herbal dan Ekspor di Tengah Tekanan Pasar
  3. 03 Ujian Liberalisasi Menanti di Semester II

KABARBURSA.COM – Kesepakatan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) pada Juli 2025 membawa perubahan besar di pasar alat kesehatan (alkes) domestik. 

Produk alkes buatan AS kini masuk tanpa kewajiban sertifikasi maupun pelabelan. 

Aturan baru ini memberi ruang luas bagi penetrasi produk impor berteknologi tinggi, mulai dari CT-Scan hingga MRI, yang selama ini terbentur regulasi distribusi.

Bagi emiten kesehatan lokal, situasi ini menjadi ujian ketahanan. Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) menyebutkan bahwa 80 persen kebutuhan alkes di Indonesia masih bergantung pada impor. 

Kondisi tersebut membuat langkah pemerintah membuka pintu pasar semakin krusial bagi kelangsungan industri dalam negeri. Investor pun menyoroti bagaimana emiten besar seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) merespons arus liberalisasi ini.

Menurut riset Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, liberalisasi pasar alkes membuat persaingan semakin dinamis. Konsumen rumah sakit dan klinik kini memiliki lebih banyak pilihan, baik dari sisi harga maupun spesifikasi. 

Emiten lokal dipaksa naik kelas dengan meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), efisiensi biaya, dan memperluas jalur distribusi agar tetap relevan di tengah gempuran merek asing.

“Dalam lanskap baru yang lebih terbuka ini, setiap emiten dituntut menunjukkan diferensiasi strategi,” ujarnya, dikutip Senin, 18 Agustus 2025.

Ada yang memilih memperkuat branding dan jalur distribusi, sementara sebagian lain mengakselerasi industrialisasi produk medis bernilai tinggi. 

Kalbe Farma (KLBF) termasuk ke dalam kelompok kedua, dengan langkah konkret yang memperlihatkan kesiapan menghadapi derasnya arus alkes impor.

Strategi KLBF di Semester I 2025: Distribusi dan Industrialisasi Alkes

Kalbe Farma menjadi salah satu emiten yang relatif siap menghadapi tekanan impor. 

Melalui entitas Forsta Kalmedic, perseroan menggandeng GE Healthcare untuk membangun pabrik CT-Scan pertama di Indonesia dengan target produksi 306 unit hingga 2027. 

Langkah ini menempatkan KLBF bukan hanya sebagai distributor, tetapi juga produsen alkes high-end dengan margin yang lebih tebal dan daya saing di tender pemerintah berkat TKDN di atas 40 persen.

Dari sisi kinerja, KLBF mencatat laba bersih Rp1,97 triliun sepanjang semester I 2025, naik 9 persen year on year (yoy). Capaian tersebut setara 55 persen dari estimasi laba tahunan konsensus. 

Meski demikian, manajemen menurunkan panduan pertumbuhan 2025 menjadi 6–8 persen dari sebelumnya 8–10 persen. 

Revisi dilakukan karena perlambatan segmen nutrisi dan volatilitas nilai tukar USD yang berpotensi menekan biaya bahan baku.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Ismail Fakhri Suweleh, menilai KLBF tetap menarik sebagai saham defensif. Ia menekankan bahwa distribusi dan jaringan pemasaran Kalbe menjadi fondasi kuat menghadapi tekanan impor. 

“Kami mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga Rp1.710, karena tesis jangka panjang Kalbe sebagai defensive compounder masih terjaga,” tulis Ismail dalam riset Jumat, 15 Agustus 2025.

Selain itu, KLBF juga memperkuat produksi bahan baku farmasi aktif (API) melalui kerja sama dengan Livzon Pharma. Penjualan aset lahan senilai Rp79 miliar pada kuartal I 2025 menjadi bagian dari strategi transfer pengetahuan dan industrialisasi API lokal. 

Dengan basis distribusi resep yang luas serta fokus pada segmen farmasi preskripsi, KLBF tetap berada di posisi strategis meski pasar domestik dibanjiri produk AS.

Jika Kalbe Farma menegaskan posisinya melalui industrialisasi dan integrasi rantai pasok farmasi, pendekatan berbeda ditempuh oleh Sido Muncul. 

Emiten herbal ini memilih mempertahankan keunggulan kompetitif dari sisi merek dan diversifikasi pasar luar negeri, sebuah strategi yang terbukti ampuh menjaga kinerja di tengah tekanan konsumsi domestik.

SIDO Bertahan dengan Herbal dan Ekspor di Tengah Tekanan Pasar

Berbeda dengan Kalbe yang fokus ke industrialisasi alkes besar, SIDO bertumpu pada kekuatan brand herbal dan ekspansi pasar ekspor. 

Produk unggulan seperti Tolak Angin dan Tolak Linu menunjukkan ketahanan permintaan, terutama saat musim hujan panjang mendorong peningkatan kasus flu. 

Pada kuartal II 2025, penjualan herbal SIDO melonjak 47 persen yoy menjadi Rp716 miliar, mengangkat total pendapatan kuartalan menjadi Rp1 triliun.

Laba bersih kuartal II 2025 mencapai Rp368 miliar, tumbuh 68,6 persen yoy dan membawa total semester I 2025 ke Rp600 miliar. Angka ini relatif stabil dengan penurunan hanya 1,3 persen yoy, bahkan masih lebih baik dibanding ekspektasi konsensus. 

Gross profit margin naik menjadi 60,5 persen, didukung perbaikan bauran produk dan penurunan biaya input.

Di pasar internasional, SIDO mencatat pertumbuhan ekspor 17 persen yoy dengan kontribusi 9,7 persen dari total penjualan. Pertumbuhan terbesar datang dari Indochina, Afrika, Filipina, dan Nigeria. 

Dengan valuasi yang saat ini diperdagangkan pada PER sekitar 13 kali, mendekati -2SD rata-rata lima tahun, saham SIDO dinilai undervalued

Dividend yield yang konsisten di kisaran 7 persen juga menjadi daya tarik tambahan bagi investor.

Analis MNC Sekuritas, Catherine Florencia, menekankan bahwa kekuatan merek Tolak Angin tetap menjadi pilar utama. Berdasarkan survei Top Brand Index, 

Tolak Angin memimpin dengan pangsa pasar sekitar 73 persen pada kategori obat herbal masuk angin. 

“Kami merevisi panduan SIDO ke pertumbuhan 5 persen, lebih rendah dari target awal 10 persen, namun tetap mempertahankan peringkat hold dengan target harga Rp500 per saham,” tulis Catherine dalam riset Kamis, 14 Agustus 2025.

Strategi SIDO kini difokuskan pada inovasi produk, seperti peluncuran Vitamin D3+K2 dan lini minuman Anak Sehat Susu. 

Diversifikasi ini membidik segmen anak muda sekaligus memperkuat eksistensi di pasar domestik yang makin kompetitif.

Dengan strategi yang kontras ini, keduanya sama-sama menghadapi ujian semester II. Pasar akan melihat siapa yang lebih mampu mempertahankan pangsa pasar di tengah derasnya produk impor.

Ujian Liberalisasi Menanti di Semester II

Liberalisasi alkes dari AS menandai era baru bagi industri kesehatan Indonesia. 

KLBF merespons dengan mempercepat industrialisasi alkes canggih dan memperkuat distribusi farmasi, sedangkan SIDO mengandalkan brand herbal serta ekspor sebagai penopang kinerja. 

Bagi investor, keduanya tetap menawarkan narasi pertumbuhan jangka panjang, meskipun risiko volatilitas makro dan tekanan impor menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Kalbe Farma berperan sebagai pemain defensif dengan proyeksi laba bersih Rp3,55 triliun pada 2025, sementara Sido Muncul masih kokoh dengan margin tinggi dan dukungan ekspor. 

Dalam lanskap yang makin kompetitif, pilihan investor akan bergantung pada strategi: apakah mencari defensif compounder seperti KLBF atau brand consumer health berdividen tinggi seperti SIDO. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya