Pada penutupan perdagangan terakhir, saham INCO berada di level Rp6.775, menguat 250 poin atau 3,83 persen dalam sehari. Dalam rentang sepekan, kenaikannya mencapai 6,69 persen dengan pergerakan terendah di Rp6.150 dan sempat menyentuh Rp6.800 sebagai level tertinggi jangka pendek.
Dari sisi teknikal, harga sudah berada di atas MA20 di kisaran Rp6.680 dan MA100 di sekitar Rp6.541, sementara indikator MACD bergerak positif, yang menandakan momentum yang mulai terbentuk. Aktivitas perdagangan intraday menunjukkan 235.033 lot beli berbanding 148.640 lot jual, atau sekitar 61 persen transaksi berada di sisi beli.

Arus dana asing tercatat big accumulation dengan rata-rata pembelian di Rp6.356–Rp6.412. Di sisi analis, 29 analis yang memantau INCO masih didominasi rekomendasi buy (24 analis), meski target harga rata-rata berada di Rp5.597 dengan estimasi tertinggi Rp8.800.
Kenaikan INCO dalam beberapa hari terakhir bukan lonjakan satu arah yang rapuh, melainkan bergerak melalui tahapan yang relatif terukur. Dari titik terendah di Rp6.150, harga sempat naik ke Rp6.350, lalu mengonsolidasikan tenaga sebelum melanjutkan ke Rp6.600, hingga akhirnya bertahan di area Rp6.775. Pola ini membentuk rangkaian higher low, sebuah struktur yang lazim dibaca sebagai fondasi tren naik yang sehat.
Posisi harga yang kini konsisten berada di atas MA20 dan MA100 memperlihatkan bahwa dorongan jangka pendek dan menengah sudah searah. Bollinger Band yang mulai melebar ke atas menunjukkan volatilitas meningkat seiring arah kenaikan, bukan akibat gejolak acak. Sementara itu, MACD yang beralih positif mengindikasikan momentum mulai menguat, meski belum memasuki fase ekstrem.
Secara teknikal, area Rp6.350–Rp6.400 kini berfungsi sebagai support terdekat, sementara Rp6.800 menjadi resistance krusial. Penembusan level ini akan dianggap valid jika diikuti volume yang tetap tebal, bukan sekadar sentuhan singkat.
Jejak Aktor Pasar
Gambaran yang lebih jelas tentang kualitas kenaikan INCO terlihat dari orderbook. Sepanjang sesi perdagangan, rasio beli mencapai 61 persen, jauh di atas jual yang berada di 39 persen. Dominasi ini tidak hanya muncul sesaat, tetapi bertahan di jam-jam aktif perdagangan. Ini menandakan bahwa permintaan hadir secara konsisten.
Yang paling menentukan dari kenaikan INCO dalam rentang 14–23 Januari 2026 adalah jejak akumulasi investor asing yang terlihat jelas di data broker. Di sisi pembelian, Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) tampil sebagai pembeli terbesar dengan nilai transaksi sekitar Rp261,6 miliar, mengoleksi 412,3 ribu lot di harga rata-rata Rp6.365. Masuknya Maybank di area ini menunjukkan pembelian dilakukan saat harga masih relatif datar, belum memasuki fase reli cepat.
Di belakangnya, UBS Sekuritas Indonesia (AK) membukukan pembelian senilai Rp160,8 miliar dengan 252,7 ribu lot di harga rata-rata Rp6.412. Angka ini menegaskan UBS tidak mengejar harga, melainkan masuk berlapis di zona akumulasi. Pola serupa terlihat dari CGS International Sekuritas Indonesia (YU) yang mengoleksi 177 ribu lot di Rp6.403, serta JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) yang masuk di Rp6.356 dengan 164,2 ribu lot.
Jika dirata-ratakan, pembelian asing terkonsentrasi di kisaran Rp6.356–Rp6.412. Dengan harga pasar kini berada di Rp6.775, posisi tersebut sudah berada dalam floating profit sekitar 5–6 persen. Fakta ini penting karena menunjukkan akumulasi dilakukan lebih awal, ketika risiko masih relatif terkendali, bukan saat harga sudah melonjak.
Di sisi sebaliknya, tekanan jual datang dari BNI Sekuritas (NI) dengan nilai jual sekitar Rp135 miliar, disusul Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) sebesar Rp39,8 miliar, dan DBS Vickers Sekuritas Indonesia (DP) sekitar Rp22,7 miliar. Namun distribusi ini tidak mengubah arah pergerakan harga, karena volume jual relatif terserap oleh permintaan yang datang bersamaan.
Pola ini menurunkan kemungkinan bahwa kenaikan INCO didorong oleh aksi kejar harga jangka pendek. Sebaliknya, ia lebih mencerminkan positioning institusional, di mana pelaku besar masuk bertahap dan memberi dasar likuiditas yang relatif stabil bagi pergerakan harga.
Fundamental INCO Bertahan di 2025
Di tengah tekanan harga nikel global sepanjang 2025, INCO masih mampu menjaga kinerja fundamentalnya tetap berdiri. Hingga November 2025, perseroan membukukan pendapatan sekitar USD902 juta, setara Rp15,03 triliun, angka yang nyaris menyamai pendapatan setahun penuh 2024. Ini menandakan perlambatan harga komoditas tidak serta-merta memukul top line perusahaan, terutama karena volume produksi dan penjualan relatif terjaga.
Dari sisi operasional, produksi nickel matte tercatat mencapai 66.848 ton, tumbuh sekitar 3 persen secara tahunan. Selain itu, penjualan bijih saprolit menembus 1,9 juta wet metric ton (wmt), sebuah segmen yang kian relevan dalam struktur pendapatan INCO. Perluasan kontribusi saprolit ini memberi bantalan tambahan ketika harga nikel olahan tidak sepenuhnya bersahabat.
Kinerja tersebut tercermin di laporan keuangan sembilan bulan 2025, ketika INCO mencatat laba bersih Rp874,8 miliar, setara EPS sekitar Rp83 per saham. Angka ini memang belum mencerminkan lonjakan profitabilitas, tetapi cukup menunjukkan bahwa perusahaan tetap mampu mencetak laba di fase siklus komoditas yang menurun. Margin laba bersih berada di kisaran 6–7 persen, sementara return on equity (ROE) masih rendah, sekitar 2 persen, mencerminkan karakter bisnis nikel yang padat modal dan sensitif terhadap harga global.
Struktur neraca juga memberi gambaran penting. INCO menjaga rasio utang tetap rendah dan disiplin dalam belanja modal, sambil menyiapkan pembiayaan jangka menengah untuk proyek pertumbuhan. Nilai price to book value (PBV) yang berada di bawah 1 kali menandakan pasar belum sepenuhnya memberi premi terhadap aset dan cadangan yang dimiliki perusahaan. Dengan kata lain, valuasi INCO masih banyak ditentukan oleh ekspektasi masa depan, bukan oleh euforia kinerja saat ini.
Di sinilah kaitan dengan 2026 menjadi relevan. Saat harga nikel mulai menunjukkan pemulihan di awal tahun ini, fundamental INCO berada dalam posisi relatif siap.
Sentimen Makro dan Harga Nikel
Sepanjang 2025, harga nikel global bergerak tanpa gairah. Di pasar internasional, harga kontrak nikel di London Metal Exchange (LME) bertahan di kisaran USD14.000–15.500 per ton, bahkan sempat melemah di beberapa bulan akibat oversupply struktural. Produksi nikel global—dengan Indonesia sebagai kontributor terbesar—tumbuh lebih cepat dibanding permintaan, terutama dari sektor baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik yang belum pulih sepenuhnya. Dalam konteks ini, harga nikel sepanjang 2025 secara tahunan tercatat turun sekitar 5–6 persen dan menjadikannya periode yang menekan bagi emiten nikel.
Kondisi tersebut mulai berubah memasuki awal 2026. Per Januari, harga nikel LME melonjak ke area USD18.000–18.600 per ton atau menguat sekitar 20–25 persen secara year-to-date dibanding posisi akhir 2025. Kenaikan ini bukan sekadar pantulan teknikal, melainkan dipicu kombinasi ekspektasi pasar atas pengetatan pasokan, penyesuaian kebijakan produksi, serta harapan pemulihan permintaan dari sektor energi baru dan kendaraan listrik.
Bagi INCO, perubahan harga ini memiliki arti yang sangat langsung. Struktur bisnis perseroan sangat sensitif terhadap harga nikel karena mayoritas pendapatan masih bertumpu pada nickel matte dan bijih nikel. Ketika harga berada di kisaran USD14.000–15.000 per ton, ruang margin perusahaan relatif terbatas dan sebagian kenaikan biaya harus diserap. Namun di level USD18.000 per ton ke atas, setiap kenaikan harga berpotensi langsung memperbaiki margin operasional, tanpa harus diikuti lonjakan volume produksi.
Mekanismenya sederhana:
Harga nikel naik → margin per ton membaik → ekspektasi laba ikut naik → pasar mulai melakukan re-rating saham
Inilah yang menjelaskan mengapa penguatan harga nikel di awal 2026 direspons relatif cepat oleh pasar saham, bahkan sebelum laporan keuangan baru dirilis. Investor tidak menunggu realisasi laba, melainkan bergerak pada ekspektasi siklus komoditas yang berbalik arah.
Namun efek positif ini tidak berdiri sendiri. Daya dorong harga nikel terhadap kinerja INCO tetap bergantung pada dua variabel kunci. Pertama, durabilitas harga nikel itu sendiri, apakah penguatan ini mampu bertahan di atas USD18.000 per ton atau hanya reli jangka pendek yang rawan koreksi.
Kedua, kebijakan produksi domestik, terutama terkait persetujuan RKAB dan volume output yang diizinkan. RKAB atau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya adalah dokumen perencanaan operasional dan anggaran tahunan yang wajib disusun dan disetujui oleh perusahaan tambang di Indonesia sebagai syarat legal untuk menjalankan kegiatan produksinya.
Dokumen ini diajukan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan berisi rencana produksi, volume penjualan, anggaran, serta aspek teknis dan lingkungan untuk satu tahun berjalan.
Dalam RKAB 2026, INCO menempatkan prioritas utama pada keberlanjutan operasi yang sudah berjalan. Perusahaan milik Badan Usaha Milik Negara ini mengalokasikan 100 persen kegiatan operasional untuk operasi eksisting di Sorowako, termasuk fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Alokasi penuh ini dimaksudkan untuk memastikan aktivitas produksi utama tetap berjalan tanpa gangguan, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan kinerja operasional perusahaan.
Di luar operasi inti tersebut, INCO juga mengalokasikan sekitar 30 persen untuk proyek pertumbuhan yang tergabung dalam Indonesia Growth Projects (IGP), mencakup Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite. Namun alokasi ini bersifat bertahap dan terukur, sejalan dengan status proyek yang masih berada pada fase pengembangan dan belum memasuki tahap produksi penuh. Dengan kata lain, RKAB 2026 mencerminkan pendekatan konservatif, yakni menjaga mesin utama tetap menyala, sambil menyiapkan ekspansi secara gradual.
Penjelasan ini disampaikan langsung oleh Presiden Direktur dan INCO, Bernardus Irmanto, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Selasa, 20 Januari 2026. Dalam rapat tersebut, manajemen INCO menegaskan struktur RKAB dirancang untuk menyeimbangkan kesinambungan operasi dan disiplin pengelolaan produksi nasional.
“Penjelasan kami dalam RDP menegaskan bahwa operasional eksisting, khususnya di Sorowako dan fasilitas smelter, memperoleh alokasi penuh. Sementara untuk proyek pertumbuhan, pendekatannya bertahap dan terukur. Ini merupakan bagian dari tata kelola produksi yang sehat dan patuh terhadap regulasi,” kata Bernardus.
Pernyataan ini penting karena sekaligus menjawab kekhawatiran pasar terkait besaran kuota produksi yang disetujui regulator. Perseroan menekankan bahwa penyesuaian alokasi dalam RKAB bukan disebabkan oleh pelanggaran perizinan, melainkan merupakan konsekuensi dari mekanisme pengaturan produksi nasional yang berada di bawah kewenangan pemerintah.
Selama proses persetujuan RKAB berlangsung, perusahaan menegaskan bahwa setiap penyesuaian yang dilakukan merupakan bentuk kepatuhan terhadap ketentuan regulasi dan penghormatan terhadap kewenangan Pemerintah dalam menata produksi nasional, bukan akibat pelanggaran perizinan.
Dalam konteks pasar, RKAB 2026 memberi dua pesan sekaligus. Di satu sisi, ada kepastian operasional jangka pendek, karena kegiatan utama di Sorowako dan smelter tetap mendapat alokasi penuh. Di sisi lain, pertumbuhan volume dari proyek baru belum menjadi pendorong instan, karena realisasinya memang dirancang bertahap. Bagi investor, ini menegaskan bahwa cerita INCO di 2026 lebih bertumpu pada optimalisasi aset yang ada dan perbaikan harga nikel, bukan lonjakan produksi agresif.(*)