KABARBURSA.COM – Tekanan pasar yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok tajam pada perdagangan akhir Januari 2026 tidak serta-merta menyeret seluruh saham ke zona merah.
Di tengah pelemahan indeks yang berlangsung luas dan bertahan hampir sepanjang sesi, pergerakan saham PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) justru bergerak berlawanan arah. Hingga pukul 13.31 WIB, DFAM tercatat menguat 20,00 persen ke level 144, berada di dekat batas auto rejection atas (ARA) harian.
Penguatan tersebut terjadi saat tekanan pasar masih berlangsung. Kenaikan tidak muncul setelah indeks menunjukkan tanda pemulihan, melainkan berjalan di tengah kondisi pasar yang masih tertekan.
Secara intraday, DFAM dibuka di level 119. Harga sempat bergerak di rentang 115 hingga 147 dan diperdagangkan aktif sepanjang sesi. Volume transaksi mencapai sekitar 2,94 juta lot, dengan nilai transaksi Rp39,14 miliar dan frekuensi lebih dari 20 ribu kali.
Dari sisi antrean perdagangan, orderbook DFAM memperlihatkan bid yang tersebar di banyak level harga, mulai dari 132 hingga 144, dengan total antrean bid sekitar 233 ribu lot. Di sisi offer, antrean juga menyebar bertahap hingga level 162, dengan total sekitar 426 ribu lot. Tidak terlihat satu level harga yang menjadi titik perebutan ekstrem.
Pembacaan tersebut diperkuat oleh data trade book. Sepanjang sesi, kurva transaksi beli konsisten berada di atas transaksi jual. Hingga mendekati siang, akumulasi beli tercatat sekitar 1,59 juta lot, sementara jual berada di kisaran 1,33 juta lot. Selisih antara kedua kurva melebar secara bertahap, bukan melonjak tiba-tiba.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan DFAM tidak berlangsung secara acak. Struktur harga, likuiditas, dan arus transaksi membentuk pola yang teratur, membuka ruang pembacaan lebih lanjut pada sumber saham dan arah perpindahannya.
Lonjakan Harga Berasal dari Perpindahan Saham
Pembacaan lanjutan terhadap broker summary menunjukkan bahwa penguatan DFAM berjalan seiring dengan perpindahan kepemilikan saham antarsekuritas. Pola ini terbaca ketika data ditarik lintas hari sejak 22 Januari 2026, sekaligus memperlihatkan bagaimana supply berpindah sebelum harga bergerak agresif.
Pada 22 Januari 2026, perdagangan DFAM masih relatif tipis. Volume tercatat sekitar 96.700 lot, nilai transaksi Rp1,10 miliar, dengan frekuensi 736 kali. Pada hari ini, Stockbit Sekuritas Digital (XL) muncul sebagai penjual terbesar, mencatatkan penjualan Rp159,1 miliar atau sekitar 14.200 lot di harga rata-rata 112.
Sebagai pembanding, Indo Premier Sekuritas (PD) pada hari yang sama mencatatkan transaksi jual sekitar Rp21,4 miliar atau 1.900 lot, sementara Panin Sekuritas Tbk (GR) berada di kisaran Rp18,7 miliar atau 1.600 lot. Samuel Sekuritas Indonesia (IF) tercatat menjual sekitar Rp15,2 miliar atau 1.300 lot. Kesenjangan nilai ini menunjukkan konsentrasi supply berada di XL.
Tekanan jual berlanjut pada 23 Januari 2026. Pada hari tersebut, XL kembali menjadi penjual terbesar dengan nilai Rp369,4 miliar atau sekitar 45.000 lot di harga rata-rata 129. Aktivitas pasar meningkat signifikan, tercermin dari volume harian DFAM yang melonjak menjadi 3,48 juta lot, nilai transaksi Rp45,27 miliar, dan frekuensi 23.130 kali.
Di luar XL, BCA Sekuritas (SQ) tercatat menjual sekitar Rp52,6 miliar atau 4.100 lot, Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG) sekitar Rp47,9 miliar atau 3.800 lot, dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) sekitar Rp44,3 miliar atau 3.500 lot. Tidak ada satu broker pun yang mendekati skala jual XL, sehingga distribusi masih bersifat satu sumber.
Fase distribusi mencapai titik krusial pada 26 Januari 2026. Pada hari tersebut, DFAM ditutup menguat 10,71 persen ke level 124, dengan volume 1,49 juta lot, nilai transaksi Rp17,57 miliar, dan frekuensi 10.490 kali. XL kembali menjadi penjual terbesar, mencatatkan penjualan Rp628,6 miliar atau sekitar 60.000 lot di harga rata-rata 117.
Di sisi berlawanan, Mandiri Sekuritas (CC) tampil sebagai pembeli terbesar, dengan nilai pembelian Rp603,0 miliar atau sekitar 55.400 lot di harga rata-rata 116.
Di luar dua broker utama tersebut, BNI Sekuritas (NI) tercatat membeli sekitar Rp92,8 miliar atau 8.100 lot, BRI Danareksa Sekuritas (OD) sekitar Rp74,5 miliar atau 6.400 lot, dan Phintraco Sekuritas (AT) sekitar Rp61,2 miliar atau 5.300 lot.
Di sisi jual, selain XL, PD menjual sekitar Rp88,7 miliar atau 7.600 lot, dan GR sekitar Rp65,4 miliar atau 5.500 lot.
Meski ada broker lain yang aktif, selisih skala transaksi tetap jauh di bawah XL dan CC, sehingga struktur dominasi hari itu tetap terkonsentrasi.
Kedekatan harga rata-rata jual XL di 117 dan beli CC di 116, ditambah keseimbangan volume di kisaran 55–60 ribu lot, memperlihatkan bahwa saham berpindah dalam jumlah besar pada satu rentang harga yang sempit. Struktur ini berbeda dari distribusi acak dan menunjukkan perpindahan kepemilikan yang terfokus.
Setelah fase 26 Januari tersebut, tekanan jual dari XL tidak lagi muncul dominan. Tidak ada broker lain yang mengambil alih posisi sebagai penjual utama dengan skala puluhan ribu lot, sementara transaksi di sisi jual mulai terfragmentasi ke beberapa sekuritas dengan nilai masing-masing di bawah Rp100 miliar.
Kondisi ini mencerminkan bahwa supply utama telah berpindah tangan dan tidak lagi dilepas secara agresif di pasar reguler.
Jejak Broker Menggambarkan Rotasi Kepemilikan
Rotasi kepemilikan saham DFAM terlihat jelas pada perdagangan 27 Januari 2026. Pada hari tersebut, DFAM ditutup melemah 3,23 persen ke level 120. Aktivitas transaksi tetap tinggi dengan volume 2,38 juta lot, nilai transaksi Rp31,55 miliar, dan frekuensi 18.290 kali.
Struktur broker pada hari itu memperlihatkan perubahan peran yang tegas. CC, yang sehari sebelumnya menjadi pembeli terbesar, beralih menjadi penjual terbesar, dengan nilai jual Rp881,7 miliar atau sekitar 61.600 lot di harga rata-rata 132. Nilai ini menjadi yang terbesar di sisi jual dan terpaut jauh dibanding broker lain.
Di bawah CC, PD tercatat menjual sekitar Rp214,6 miliar atau 16.800 lot, disusul GR dengan penjualan sekitar Rp187,3 miliar atau 14.900 lot. IF juga tercatat di sisi jual dengan nilai sekitar Rp162,8 miliar atau 12.700 lot. Tidak ada broker lain yang mendekati skala penjualan CC, sehingga tekanan jual hari itu tetap terkonsentrasi.
Di sisi pembelian, XL kembali muncul sebagai pembeli terbesar, mencatatkan pembelian Rp641,3 miliar atau sekitar 29.000 lot di harga rata-rata 134.
Di bawah XL, SQ mencatatkan pembelian sekitar Rp176,5 miliar atau 13.200 lot, diikuti LG dengan sekitar Rp154,9 miliar atau 11.600 lot. YP tercatat membeli sekitar Rp138,4 miliar atau 10.400 lot.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa meski pembelian tersebar ke beberapa broker, skala XL tetap dominan. Saham yang sehari sebelumnya berpindah di kisaran 116–117 kembali berpindah pada kisaran 132–134, mencerminkan rotasi kepemilikan pada level harga yang lebih tinggi. Proses ini berlangsung lintas hari, bukan dalam satu sesi perdagangan.
Memasuki 28 Januari 2026, DFAM kembali menguat signifikan. Hingga pukul siang, saham ini tercatat naik 18,33 persen ke level 142, dan sempat menyentuh 20,00 persen secara intraday. Aktivitas transaksi meningkat dengan volume 2,98 juta lot, nilai transaksi Rp39,66 miliar, dan frekuensi 20.030 kali.
Pada hari ini, tidak ada satu broker pun yang tampil sebagai penjual dominan dalam skala puluhan ribu lot. Penjualan tersebar pada beberapa sekuritas dengan nilai relatif berimbang. Broker penjual terbesar hanya mencatatkan nilai di bawah Rp150 miliar, sementara pembelian juga terdistribusi pada beberapa broker dengan kisaran Rp100–200 miliar per broker.
Kondisi tersebut menandakan bahwa fase perpindahan kepemilikan utama telah mereda. Dengan tidak munculnya lagi penjual besar yang dominan, perdagangan DFAM pada 28 Januari bergerak dalam struktur yang lebih seimbang.
Di tengah IHSG yang masih tertekan, pergerakan DFAM mengikuti dinamika internal sahamnya sendiri, dengan harga bergerak sebagai kelanjutan dari proses perpindahan dan rotasi kepemilikan yang telah terjadi sebelumnya. (*)