KABARBURSA.COM – Saham PT Hillcon Tbk (HILL) mengalami tekanan tajam pada perdagangan hari ini, Jumat, 19 Desember 2025 hingga sesi I berakhir. Saham junam dua digit di tengah antrean jual yang menumpuk di hampir seluruh lapisan harga.
Berdasarkan data perdagangan platform Stockbit, tekanan tersebut membuat HILL sempat menyentuh area terendah harian di level 156, tepat satu langkah dari batas auto rejection bawah (ARB) di level 155.
Meski begitu, aktivitas beli sangat terkonsentrasi di area bawah, terutama di level ARB, dengan frekuensi transaksi yang tinggi.
Volume transaksi HILL melonjak signifikan menjadi sekitar 28,27 juta lot, jauh di atas rata-rata volume harian yang berada di kisaran 7,99 juta lot. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp4,6 miliar dengan rata-rata harga di level 161.
Offer dalam Orderbook Menumpuk Tekan Harga
Tekanan utama terhadap HILL terlihat jelas dari struktur orderbook. Di sisi atas, antrean offer terpantau sangat tebal dan menyebar dari harga terdekat hingga mendekati batas auto rejection atas (ARA) di level 244.
Total offer tercatat lebih dari 121 ribu lot, jauh melampaui total bid yang berada di kisaran 41 ribu lot. Ketimpangan ini menggambarkan dominasi pasokan saham yang membayangi pergerakan harga sepanjang sesi.
Penebalan offer tidak hanya terkonsentrasi di satu level, tetapi menyebar di berbagai rentang harga psikologis, mulai dari area 160–170, berlanjut ke 180–190, hingga menumpuk kembali di level bulat seperti 200 dan bahkan di ARA.
Frekuensi transaksi di sisi offer juga relatif tinggi, menandakan banyak pelaku pasar yang memilih memasang jual, baik untuk membatasi risiko lanjutan maupun melepas saham pada harga tertentu pasca penurunan tajam.
Struktur ini membuat ruang penguatan HILL menjadi sempit dalam jangka sangat pendek. Setiap upaya pantulan harga langsung berhadapan dengan lapisan jual yang tebal, sehingga tekanan tetap terjaga.
Secara kasat mata, kondisi tersebut menempatkan HILL dalam posisi tertekan dan rentan, terutama jika hanya dilihat dari sisi atas orderbook.
Namun, pembacaan pasar belum sepenuhnya lengkap apabila tekanan jual tersebut tidak dibandingkan dengan apa yang terjadi di sisi bawah harga.
Ada Aktivitas Tahan Harga?
Di balik dominasi offer, data orderbook menunjukkan cerita yang berbeda di area bawah. Aktivitas beli terlihat sangat terkonsentrasi di level 155, yang sekaligus merupakan batas ARB.
Pada level ini, antrean bid tercatat mencapai sekitar 28.131 lot, menjadi bid terbesar di seluruh lapisan harga. Yang lebih menarik, level tersebut diiringi frekuensi transaksi yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 200 kali.
Tingginya frekuensi di satu level harga mengindikasikan bahwa aktivitas beli tidak dilakukan oleh satu transaksi besar semata, melainkan oleh banyak transaksi kecil hingga menengah yang berlangsung berulang.
Pola seperti ini umumnya mencerminkan proses penyerapan saham secara aktif, bukan sekadar antrian pasif atau pancingan sesaat. Area 155 dengan demikian berubah menjadi titik krusial dalam pembentukan harga HILL pada perdagangan hari ini.
Indikasi tersebut juga selaras dengan data bandar. Nilai bandar HILL tercatat berada di kisaran Rp104,79 miliar, naik dibandingkan nilai sebelumnya dan masih berada di atas rata-rata pergerakan sepuluh harinya. Indikator accumulation/distribution juga tetap berada di zona positif. Artinya, tekanan harga yang terjadi tidak diikuti oleh keluarnya dana besar secara agresif dari pasar.
Dari sisi teknikal, harga HILL meski terkoreksi tajam, masih bergerak di sekitar dan di atas rata-rata pergerakan jangka pendek hingga menengah, seperti MA5, MA10, dan MA20. Struktur ini mengindikasikan bahwa penurunan yang terjadi lebih bersifat penyesuaian cepat akibat tekanan jual, ketimbang kerusakan tren secara menyeluruh.
Dengan struktur orderbook seperti ini, pergerakan HILL selanjutnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan harga bertahan di area bawah yang kini menjadi pusat aktivitas beli. (*)