Insight Daily 10 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Hilirisasi Nikel Makin Ketat, Saham Mana Paling Aman?

Investor saham nikel hadapi dilema: hilirisasi bisa dorong pertumbuhan, tapi juga picu tekanan harga dan ganggu rantai pasok global.

KABARBURSA.COM – Di balik ambisi hilirisasi, pasar saham justru cemas: apakah regulasi ini memuluskan jalan atau justru menyisakan korban? Kecemasan ini muncul usai pemerintah kembali mempertegas komitmennya dalam mendorong hilirisasi tambang dengan memperketat ekspor nikel yang semakin ketat dan sistematis.Setelah sebelumnya menghentikan ekspor bijih nikel ...

Ilustrasi dampak hilirisasi nikel terhadap saham ANTM, NCKL dan INCO. Foto dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Ilustrasi dampak hilirisasi nikel terhadap saham ANTM, NCKL dan INCO. Foto dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Insight Navigator

  1. 01 Risiko dan Tantangan di Tengah Hilirisasi Nikel
  2. 02 Harga Nikel Rawan Tertekan
  3. 03 Saham ANTM Diuntungkan Momentum
  4. 04 Fundamental Lemah, tapi Jadi Rebound Candidate?
  5. 05 Kenapa Harga Saham NCKL Belum Melejit?
  6. 06 Bagi Investor: Mana yang Layak Masuk Watchlist?

KABARBURSA.COM – Di balik ambisi hilirisasi, pasar saham justru cemas: apakah regulasi ini memuluskan jalan atau justru menyisakan korban? Kecemasan ini muncul usai pemerintah kembali mempertegas komitmennya dalam mendorong hilirisasi tambang dengan memperketat ekspor nikel yang semakin ketat dan sistematis.

Setelah sebelumnya menghentikan ekspor bijih nikel sejak 2020, pemerintah kini memperluas pengawasan ekspor logam bernilai tinggi ini melalui sistem pelacakan digital seperti SIMBARA dan rencana pelarangan ekspor lanjutan untuk nikel matte.

Tujuan regulasi ini adalah mengarahkan produksi dalam negeri ke sektor pemurnian dan industrialisasi, bukan sekadar menjadi pemasok mentah bagi pasar global.

Langkah ini secara langsung memberikan efek psikologis pada pasar saham, terutama bagi emiten-emiten yang berkaitan erat dengan komoditas nikel. Saham-saham seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menjadi fokus investor.

Ketiganya punya eksposur berbeda terhadap komoditas ini, baik dari sisi model bisnis, efisiensi produksi, maupun ketahanan keuangan.

Namun, apakah pengetatan ekspor ini murni menjadi sentimen positif yang mendongkrak harga saham? Atau justru menciptakan tantangan baru yang harus diwaspadai investor?

Risiko dan Tantangan di Tengah Hilirisasi Nikel

Sebelum masuk ke dalam analisis kinerja masing-masing emiten, penting untuk memahami lanskap risiko yang menyelimuti sektor ini. Hilirisasi bukan hanya soal membangun smelter dan mengolah bijih dalam negeri, tapi juga soal efisiensi rantai pasok, kesiapan infrastruktur, dan stabilitas harga global.

Jika menilih harga nikel di pasar dunia tidak dapat lepas dari pengaruh permintaan dari negara besar seperti China dan dinamika kebijakan lingkungan di Eropa. Bila permintaan kendaraan listrik melemah, atau produsen di luar negeri beralih ke bahan alternatif, maka harga nikel bisa jatuh meskipun pasokan dalam negeri sedang dibatasi.

Selain itu, tren deglobalisasi dan ketegangan geopolitik bisa mengganggu rantai pasok dan menurunkan minat beli internasional terhadap nikel Indonesia.

Sementara risiko di tataran lokal pun tidak kalah signifikan. Sistem SIMBARA memang dibuat untuk menertibkan rantai distribusi, namun masih dalam tahap penyempurnaan. Hambatan teknis seperti keterlambatan input data atau tidak seragamnya implementasi di daerah bisa menimbulkan bottleneck logistik.

Di sisi lain, kapasitas smelter domestik belum tentu mampu menyerap seluruh produksi bijih nikel yang sebelumnya diekspor, sehingga potensi oversupply domestik bisa menekan harga lokal dan margin produsen hulu. Situasi ini bisa menciptakan tekanan profitabilitas, terutama bagi perusahaan yang belum punya integrasi vertikal.

Kombinasi risiko global dan lokal inilah yang membuat investor perlu lebih hati-hati. Sentimen positif saja tidak cukup. Penting untuk menelaah kesiapan masing-masing emiten menghadapi kompleksitas regulasi dan dinamika pasar ke depan.

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai bahwa prospek jangka menengah hingga panjang emiten-emiten nikel, khususnya BUMN seperti ANTM, masih tergolong solid. “Nikel ini masa depannya cukup cerah karena Indonesia punya smelter sendiri,” ujar Ibrahim.

Ia menjelaskan bahwa peran strategis pemerintah dalam industri nikel memberi jaminan terhadap keberlanjutan produksi dan pasokan bahan baku smelter, meskipun saat ini terjadi penundaan atau pembatasan sementara.

“Kalau hal-hal seperti itu hanya bersifat sementara. Pergerakan sahamnya ini turun, kemudian nanti tenang, kemudian balik lagi. Itu biasa. Itu karena dampak politis,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa penambangan yang saat ini ditunda kemungkinan besar akan kembali dijalankan karena Indonesia tidak bisa menghentikan pasokan ke smelter yang membutuhkan bahan mentah dalam jumlah besar. Ia juga mencatat bahwa emiten pelat merah seperti ANTM memiliki posisi istimewa karena memberikan kontribusi langsung kepada pendapatan negara. 

“Antam itu punya negara, itu masuk pendapatan untuk APBN,” tegasnya. Karena itu, kebijakan pemerintah, lanjutnya, akan cenderung mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan sektor ini.

Untuk emiten swasta, Ibrahim melihat prospek yang tak kalah menjanjikan. Menurutnya, prospek saham tambang swasta juga cukup bagus karena bahan mentah ini akan dijual ke pemerintah.

Ia mengingatkan bahwa fluktuasi harga saham di tengah kebijakan yang dinamis seringkali dimanfaatkan oleh spekulan untuk mencari cuan jangka pendek. Namun secara keseluruhan, ia percaya sektor ini tetap menjadi andalan pemerintah dan layak dipantau investor.

Harga Nikel Rawan Tertekan

Analis pasar modal sekaligus founder Traderindo, Wahyu Laksono mengungkapkan, harga nikel relatif tertekan jika dibandingkan dengan komoditas lain, terutama di base metal.

“Secara medium term, Nikel masih melemah di dasar konsolidasinya pasca rekor sekitar USD60.000. Dengan sentimen bullish yang kuat akibat spekulasi pembatasan ekspor Indonesia dan permintaan EV yang terus meningkat, harga nikel berpotensi untuk mempertahankan momentum kenaikannya dalam jangka pendek,” kata Wahyu saat dihubungi KabarBursa.com, Senin, 9 Juni 2025.

Wahyu menuturkan, target resistance berikutnya untuk harga nikel bisa menguji area USD16.000-16.750 per ton. Menurutnya, hingga akhir tahun, jika kebijakan Indonesia tetap mendukung kenaikan harga dan permintaan EV solid, harga nikel berpotensi bergerak di kisaran USD17.000-17.700 per ton, bahkan lebih tinggi jika ada kejutan pasokan. 

“Resistance terkuat USD18.260. Namun, jika ada perubahan kebijakan di Indonesia atau perlambatan signifikan dalam penjualan EV, koreksi harga bisa terjadi. Peluang kembali ke level USD15.000 atau bahkan USD14.000 masih potensial dalam medium term,” ujarnya.

Wahyu menuturkan, hilirisasi membawa dampak yang cukup signifikan terhadap perusahaan nikel di Indonesia seperti ANTM, NCKL dan INCO. Menurutnya, ketiga emiten tersebut bakal menghadapi dinamika pasar nikel global yang cukup kompleks, terutama pascapengetatan ekspor nikel oleh pemerintah Indonesia dan fluktuasi harga nikel dunia.

Dampak pengetatan nikel, kata dia, menyebabkan peningkatan pasokan nikel olahan dari Indonesia ke pasar global, terutama ke London Metal Exchange (LME) yang berkontribusi terhadap penekanan harga nikel. 

“Nikel olahan dari Tiongkok yang diproses di Indonesia kini menyumbang lebih dari 50 persen inventaris LME, naik dari 11 persen pada awal 2024,” jelasnya. 

Selain itu, dampak dari pengetatan terhadap nikel akibat hilirisasi mengakibatkan harga nikel dunia tertekan dan berada di level rendah meski ada beberapa momentum kenaikan sementara. Menurutnya, pemulihan harga nikel bergantung terhadap pulihnya permintaan akhir, terutama dari China.

Wahyu menambahkan, kenaikan tarif royalti akibat pemerintah menaikkan tarif royalti nikel melalui PP No 19 Tahun 2025 yang berlaku 26 April 2025 mengakibatkan peningkatan profitabilitas emiten nikel, terutama yang banyak memiliki produk akhir FeNi seperti ANTM dan NCKL.

“Pemerintah tengah mengkaji rencana pemangkasan kuota produksi bijih nikel dari 272 juta ton menjadi 150 juta ton untuk menjaga keseimbangan pasar dan mencegah anjloknya harga nikel. Jika terealisasi, hal ini dapat menjadi sentimen positif bagi harga nikel,” ujarnya.

Saham ANTM Diuntungkan Momentum

Dalam tiga bulan terakhir, saham ANTM mencatatkan kenaikan lebih dari 100 persen. Dorongan ini tidak hanya berasal dari sentimen pengetatan ekspor, tetapi juga dari perbaikan kinerja keuangan secara fundamental.

Pendapatan kuartal pertama 2025 melesat ke Rp26,1 triliun, naik tiga kali lipat dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih pun melonjak menjadi Rp2,1 triliun, menandai pemulihan yang solid.

Angka ini mengindikasikan bahwa operasional ANTM mampu menyesuaikan diri terhadap dinamika kebijakan dengan cepat. Valuasi saham ini saat ini mencerminkan kepercayaan pasar: PE ratio (TTM) berada di angka 14,96 dan EV/EBITDA sebesar 10,54. Bandingkan dengan rerata sektor tambang yang cenderung di bawah 10, maka terlihat antusiasme investor pada prospek emiten pelat merah ini.

Wahyu menilai, ANTM memiliki prospek yang bagus karena terjadi lonjakan signifikan terhadap net income dan tren kenaikan TTM. Menurutnya, ANTM berada di fase pertumbuhan yang kuat.  

“Meskipun dividen yield terlihat menurun dibandingkan 2023, ini seringkali merupakan indikasi bahwa investor memiliki ekspektasi pertumbuhan yang lebih tinggi pada harga saham. Kinerja yang solid di Q1 2025 ini kemungkinan besar didorong oleh faktor-faktor, seperti peningkatan penjualan produk utama (terutama emas dan nikel), efisiensi operasional, dan adaptasi terhadap dinamika pasar komoditas,” jelasnya.

Berdasarkan data, ANTM punya kekuatan di likuiditas dan efisiensi. DER hanya 0,41 dan arus kas operasional mencapai Rp7,2 triliun. Return on equity (ROE) di atas 16 persen juga memperlihatkan manajemen modal yang sehat.

Dari sisi teknikal, ANTM sudah menembus MA200 dan bergerak dalam tren naik jangka menengah. Meski RSI mulai memasuki zona overbought, dukungan volume dan sinyal beli dari MACD memperkuat potensi lanjutan penguatan. Tapi, di harga saat ini, potensi upside mulai terbatas tanpa adanya katalis baru.

Wahyu menilai, saham ANTM masuk dalam kategori saham yang volatil karena dipengaruhi oleh siklus komoditas, terutama nikel dan emas dan kebijakan pemerintah terkait hilirisasi. Menurutnya, ANTM sedang dalam tren kenaikan yang kuat, didukung oleh fundamental perusahaan yang membaik (seperti yang terlihat dari laporan keuangan Q1 2025) dan sentimen pasar yang positif.

“Saat ini, ANTM sedang dalam tren kenaikan yang kuat, didukung oleh fundamental perusahaan yang membaik (seperti yang terlihat dari laporan keuangan Q1 2025) dan sentimen pasar yang positif. Level Rp3.400-Rp3.600 adalah area resistance kunci. Penembusan dan bertahan di atas level ini akan membuka peluang untuk menguji puncak historis,” ujarnya.

Fundamental Lemah, tapi Jadi Rebound Candidate?

Berbeda dari ANTM, kinerja INCO masih di bawah ekspektasi. Meski pendapatan Q1 2025 mencapai Rp3,3 triliun, laba bersih hanya Rp357 miliar. Margin keuntungan bersih sebesar 10,5 persen terlihat tipis untuk industri tambang, dan arus kas bebas atau free cash flow yang bahkan masih negatif.

Valuasi INCO berada di PE ratio 33,27 dan EV/EBITDA 8,10. Jika hanya melihat valuasi, saham ini tampak mahal. Namun, harga saham INCO naik 48 persen dalam sebulan, namun masih 50 persen di bawah level 3 tahun lalu. Ini memberi ruang bagi investor spekulatif untuk mencoba peruntungan pada potensi pembalikan tren.

INCO bisa menjadi kandidat turnaround. Tapi untuk saat ini, saham ini masih berada di fase konsolidasi dan belum menunjukkan sinyal kuat pembalikan tren jangka panjang.

Wahyu memprakirakan, penurunan laba bersih yang signifikan pada 2024 dibanding tahun sebelumnya disebabkan oleh tekanan harga nikel global. Meski demikian, masih terdapat tanda-tanda pemulihat moderat pada Q1 2025 dan tren TTM.

Menurutnya, dari sisi profitabilitas operasional langsung, margin laba kotor trailing twelve months (TTM) mengindikasikan bahwa PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mungkin beroperasi dengan efisiensi yang lebih rendah dibandingkan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Namun, keunggulan utama INCO, kata dia, justru terletak pada kekuatan struktur keuangannya. INCO memiliki posisi kas bersih yang sangat besar dengan tingkat utang yang sangat minim, menjadikannya salah satu emiten tambang dengan neraca paling solid di sektor ini. 

Menurutnya, keseimbangan keuangan ini memberi perusahaan ketahanan yang luar biasa terhadap gejolak harga komoditas maupun tekanan pasar yang ekstrem.

“Sebagai produsen nikel murni, sangat rentan terhadap fluktuasi harga nikel global. Penurunan tajam harga nikel di tahun 2024 jelas memukul laba bersihnya, namun posisi kas yang kuat membantunya bertahan. Secara keseluruhan, INCO adalah perusahaan dengan fundamental neraca yang sangat kuat, namun profitabilitasnya sangat tergantung pada harga nikel global. Pemulihan harga nikel akan menjadi kunci untuk mengembalikan laba INCO ke level 2023,” ujarnya.

Sementara dari sisi teknikal, pergerakan harga saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dalam dua dekade terakhir menunjukkan dinamika yang mencerminkan fluktuasi siklus komoditas global. Wahyu mengungkapkan, sejak tahun 2004 hingga pertengahan 2025, saham INCO pernah mencapai puncak historisnya pada masa supercycle komoditas tahun 2007–2008, dengan harga menembus kisaran Rp11.500-12.000 per saham.

Namun, pasca-puncak tersebut, lanjut dia, INCO mengalami koreksi tajam dan memasuki fase tren penurunan jangka panjang yang berlangsung hingga sekitar tahun 2016, disertai volatilitas yang cukup tinggi. Mulai 2016 hingga 2018, harga sempat pulih dan naik ke kisaran Rp5.000–6.000, sebelum kembali mengalami tekanan.

Kebangkitan kembali terjadi pada periode 2020–2022, ketika harga nikel global melonjak, mendorong harga saham INCO naik hingga menyentuh level di atas Rp8.000.

Memasuki periode 2023 hingga awal 2025, saham INCO kembali mengalami tekanan signifikan. Setelah mencapai puncaknya pada 2022, harga mengalami penurunan tajam seiring dengan melemahnya harga nikel dunia, hingga sempat menyentuh level di bawah Rp3.000 pada awal 2025.

Namun, grafik menunjukkan adanya tanda-tanda pembentukan support, karena harga terakhir tercatat di Rp3.710, masih berada di atas titik terendahnya di kisaran Rp2.800–3.00, meskipun turun Rp160 atau 4,13 persen dari penutupan sebelumnya.

Sementara itu, analisis volume perdagangan menunjukkan lonjakan signifikan saat terjadi pergerakan harga yang tajam, terutama selama reli 2020–2022. Volume juga kembali meningkat pada awal 2025, mengindikasikan adanya minat beli yang muncul di area harga rendah tersebut.

“Pergerakan harga INCO sangat erat kaitannya dengan harga nikel global. Penurunan tajam harga nikel di 2024 jelas tercermin dari penurunan harga saham INCO pada periode yang sama,” ujarnya.

“INCO adalah saham yang sangat volatil, dengan rentang pergerakan harga yang lebar. Meskipun ada upaya pemulihan di awal 2025 (yang tercermin dari sedikit kenaikan dari titik terendah), harga terakhir masih menunjukkan tekanan jual,” lanjutnya.

Wahyu menuturkan, level Rp3.700-4.000 bisa menjadi area resistance jangka pendek. Untuk membalikkan tren penurunan yang sedang berlangsung, INCO perlu menembus dan bertahan di atas level tersebut.

Kenapa Harga Saham NCKL Belum Melejit?

Sementara itu, NCKL justru mencatat pertumbuhan yang sangat kuat dari sisi fundamental. Laba bersih kuartal I 2025 mencapai Rp1,65 triliun, naik lebih dari 65 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dengan margin laba bersih 23 persen dan ROE menyentuh 21 persen, efisiensi operasional perusahaan ini sangat kompetitif. Bahkan, EV/EBITDA hanya 5,79. Jumlah ini terendah dibanding ANTM maupun INCO.

Secara valuasi, NCKL adalah saham nikel yang paling murah. PE TTM hanya 6,46 dan forward PE 6,23. NCKL mencetak margin kotor tertinggi, tapi valuasinya justru paling rendah. Namun, berbeda dari dua emiten lainnya, saham ini justru mengalami penurunan harga sejak awal tahun, dengan return YTD negatif -4,64 persen.

Salah satu faktornya adalah persepsi pasar terhadap likuiditas saham. NCKL masih tergolong baru dan belum banyak digerakkan oleh institusi besar. Volume perdagangan harian cenderung tipis dan investor cenderung wait and see.

Wahyu melihat, pertumbuhan laba NCKL yang stabil menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang konsisten dari tahun ke tahun meski tidak seeksplosif ANTM pada Q1 2025. Profitabilitas yang baik, kata dia, menunjukkan margin laba kotor yang tinggi dan menunjukkan efisiensi operasional. Ia juga menyebut NCKL memiliki posisi kas yang signifikan.

“Secara keseluruhan, NCKL menunjukkan fundamental yang solid dengan pertumbuhan yang stabil dan manajemen keuangan yang cukup baik, meskipun memiliki struktur utang yang lebih besar dibandingkan ANTM,” ujarnya.

Padahal, dari sisi teknikal, saham NCKL sudah mulai menampakkan sinyal reversal. RSI bergerak naik, dan harga mencoba kembali ke atas MA50. Jika momentum ini berlanjut, potensi kenaikan bisa lebih tajam karena valuasi yang masih tertinggal.

Sejak melantai di bursa melalui penawaran umum perdana (IPO) pada April 2023, kata Wahyu, dengan harga Rp 1.250 per saham, pergerakan harga saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menunjukkan dinamika yang mencolok.

Ia menjelaskan, pada awal perdagangan pasca-IPO, saham NCKL sempat melonjak tajam dan mencatatkan level tertingginya di kisaran Rp 1.500-an, yang tercermin dari batang hijau tinggi pada grafik perdagangan hari pertama.

Euforia tersebut, kata dia, tidak bertahan lama. Saham NCKL segera memasuki fase tren penurunan (downtrend) yang cukup tajam dan berkelanjutan. Sejak mencapai puncaknya, harga saham terus mengalami tekanan jual yang konsisten. Tren penurunan ini membawa NCKL menyentuh level terendah barunya di kisaran Rp 600-an pada awal tahun 2025.

“Meskipun sempat terjadi rally atau upaya pembalikan, tren penurunan masih dominan. Batang-batang merah lebih sering muncul dibandingkan hijau, menunjukkan tekanan jual yang berkelanjutan. Di grafik, harga terakhir yang terlihat adalah Rp720, turun Rp15 (-2.04 persen) dari penutupan sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa harga NCKL saat ini masih jauh di bawah harga IPO-nya,” jelasnya.

Bagi Investor: Mana yang Layak Masuk Watchlist?

Bagi investor jangka panjang yang percaya pada masa depan industri baterai dan kendaraan listrik, maka ANTM dan NCKL bisa jadi pilihan utama. ANTM unggul dalam rekam jejak dan stabilitas keuangan, sementara NCKL menjanjikan dari sisi pertumbuhan dan efisiensi.

Tapi, bagi investor tipe swing trader yang mencari saham dengan potensi rebound teknikal, maka INCO bisa dipertimbangkan dengan catatan harus disiplin dalam manajemen risiko karena saham ini belum sepenuhnya pulih secara fundamental.(*)

*Harun Rasyid berkontribusi dalam tulisan ini.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya