Insight Daily 11 Aug 2025 Penulis: KabarBursa.com

Hatten Bali Siap Tancap Gas di Semester II, Bidik Lompatan dari Produk Premium

PT Hatten Bali Tbk (WINE) optimistis genjot kinerja 2H25 melalui peluncuran lini premium, ekspansi pasar domestik, dan momentum libur panjang.

KABARBURSA.COM – PT Hatten Bali Tbk (WINE), pelaku utama industri wine lokal Indonesia, berhasil mempertahankan tren pertumbuhan pendapatan di tengah tekanan biaya pada semester I 2025. Perseroan mencatat pendapatan Rp130,8 miliar, naik 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didukung oleh solidnya permintaan wisata di Bali, terut...

PT Hatten Bali Tbk (WINE), pelaku utama industri wine lokal Indonesia, berhasil mempertahankan tren pertumbuhan pendapatan di tengah tekanan biaya pada semester
PT Hatten Bali Tbk (WINE), pelaku utama industri wine lokal Indonesia, berhasil mempertahankan tren pertumbuhan pendapatan di tengah tekanan biaya pada semester

Insight Navigator

  1. 01 Analisis Kiwoom: Tekanan Biaya Bersifat Sementara
  2. 02 Momentum Libur, Produk Baru, dan Proyeksi 2025
  3. 03 Analisis Teknis: Sideways dengan Potensi Breakout

KABARBURSA.COM – PT Hatten Bali Tbk (WINE), pelaku utama industri wine lokal Indonesia, berhasil mempertahankan tren pertumbuhan pendapatan di tengah tekanan biaya pada semester I 2025. Perseroan mencatat pendapatan Rp130,8 miliar, naik 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Pertumbuhan ini didukung oleh solidnya permintaan wisata di Bali, terutama dari segmen hotel, restoran, dan kafe (HORECA), yang tetap menjadi tulang punggung penjualan.

Namun, beban pokok penjualan meningkat signifikan akibat kenaikan biaya penyimpanan dan pengadaan anggur impor dari Australia. Kenaikan ini membuat gross profit margin (GPM) turun menjadi sekitar 42 persen, dari 46 persen pada semester I 2024. Laba kotor tercatat Rp54,4 miliar, turun 3,8 persen secara tahunan, sementara laba bersih turun 14,7 persen menjadi Rp17,9 miliar.

Dari perspektif fundamental, data laporan keuangan menunjukkan pola stabil dalam margin jangka panjang. 

Sejak 2021, GPM WINE konsisten mendekati 45–46 persen, sedangkan operating profit margin (OPM) bertahan di kisaran 23–25 persen. Net profit margin (NPM) pada semester I 2025 memang tertekan di 13,7 persen, tetapi proyeksi tahunan menempatkannya kembali mendekati 16,6 persen seperti 2024.

Analisis Kiwoom: Tekanan Biaya Bersifat Sementara

Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai penurunan margin di paruh pertama tahun ini bukanlah sinyal pelemahan struktural. 

Menurutnya, faktor utama berasal dari biaya pengadaan anggur impor yang secara historis bersifat musiman.

“Perseroan tetap berada pada jalur pertumbuhan jangka panjang dengan strategi diversifikasi produk dan ekspansi pasar domestik. Tekanan margin pada semester I ini diperkirakan mereda seiring peningkatan kontribusi segmen premium dan perbaikan efisiensi distribusi,” jelas Liza dalam riset Jumat, 8 Agustus 2025.

Ia juga menyoroti bahwa kombinasi warisan merek yang kuat di Bali dan pipeline inovasi produk akan membantu WINE menjaga pertumbuhan di tengah perubahan preferensi konsumen.

Momentum Libur, Produk Baru, dan Proyeksi 2025

Manajemen menargetkan percepatan kinerja pada semester II 2025 dengan memanfaatkan puncak musim liburan pada kuartal III dan IV. 

Periode tersebut mencakup libur musim dingin Australia dan musim Natal–Tahun Baru, yang secara historis mendorong permintaan wine di Bali.

Dua produk baru menjadi andalan katalis penjualan: Avara, brand eksklusif yang dipasarkan khusus untuk restoran fine dining, dan Two Islands Ekko, lini wine organik yang dibuat dari anggur bersertifikasi asal Australia. Kehadiran kedua produk ini diharapkan mendorong margin melalui segmen premium.

Selain itu, strategi ekspansi pasar domestik di luar Bali dijalankan melalui kampanye edukasi wine dan penyelenggaraan event komunitas di kota-kota besar. 

Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada wisatawan asing dan memperluas basis konsumen lokal yang mulai mengadopsi wine sebagai bagian dari gaya hidup sosial.

WINE tengah menyiapkan diversifikasi portofolio ke kategori minuman beralkohol baru seperti brandy, gin, rum, cider, dan ready-to-drink (RTD). Pengembangan ini dinilai relevan dengan tren konsumen yang mencari variasi rasa dan format konsumsi praktis.

Berdasarkan catatan perusahaan, WINE memimpin pangsa pasar wine lokal dengan porsi 65 persen. Dominasi ini dibangun melalui kombinasi produk Hatten Wines dari anggur lokal, Two Islands dari anggur impor premium, Dragonfly untuk segmen wine manis, dan Dewi Sri untuk minuman tradisional Bali seperti brem dan arak.

Tahun ini, WINE menganggarkan belanja modal sebesar Rp26 miliar. Alokasi ini digunakan untuk memperluas kebun anggur sebesar 5 hektare, menambah mesin filtrasi cross-flow untuk peningkatan kontrol kualitas, serta memperbarui armada distribusi demi menjaga integritas produk selama pengiriman.

Saat ini, perusahaan mengelola 30 hektare kebun anggur sendiri dan bermitra dengan petani lokal untuk tambahan 30 hektare. Sistem kontrak jangka panjang memastikan pasokan stabil dan kualitas terjaga, di bawah supervisi tim winemaker yang berpengalaman dari Australia, Hungaria, dan Bali.

Secara tahunan, perseroan menargetkan pendapatan 2025 sebesar Rp324 miliar, tumbuh 14 persen yoy, dengan laba bersih Rp53,88 miliar, naik 20 persen yoy. Target ini mengandalkan kombinasi peningkatan volume penjualan pada periode liburan, kontribusi produk baru, dan efisiensi operasional.

Bagi investor, capaian ini mengindikasikan potensi pemulihan margin pada semester II. Namun, realisasi target akan sangat dipengaruhi oleh stabilitas biaya bahan baku impor dan keberhasilan penetrasi pasar domestik di luar Bali.

Analisis Teknis: Sideways dengan Potensi Breakout

Secara teknikal, pergerakan harga saham WINE berada dalam fase sideways sejak awal Juli 2025, bergerak di kisaran support Rp212–210 dan Rp200–190, dengan resistance terdekat di Rp220–230. Resistance lanjutan berada di Rp250 dan Rp274.

Indikator Relative Strength Index (RSI) harian berada di kisaran 42, menunjukkan momentum mulai pulih meski belum memasuki area overbought. 

Pola pergerakan ini memberi peluang bagi strategi speculative buy dengan skema average up jika harga mampu menembus Rp230 disertai volume yang signifikan.

Kiwoom Sekuritas menilai peluang kenaikan harga akan lebih kuat jika katalis fundamental semester II terealisasi, khususnya penjualan di musim liburan dan respons pasar terhadap lini produk premium yang baru diluncurkan.

Meski prospek terlihat positif, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati. Ketergantungan pada pasokan anggur impor membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi harga dan nilai tukar. Selain itu, regulasi terkait minuman beralkohol di pasar domestik dapat mempengaruhi distribusi dan akses pasar baru.

Persaingan dari produsen wine impor juga menjadi tantangan, meski pangsa pasar lokal yang dikuasai WINE memberikan posisi awal yang kuat. Di sisi lain, diversifikasi ke kategori minuman baru memerlukan waktu dan modal, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan mungkin belum signifikan dalam jangka pendek. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com