Insight Daily 11 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Harga Saham TOBA Tembus MA200, Akankah Reli Berlanjut?

Saham TOBA melesat hingga 75 persen dalam sebulan. Aksi beli direksi dan breakout MA200 memantik sinyal tren baru pasar.

KABARBURSA.COM - Saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) naik hampir 30 persen dalam dua hari terakhir dan berhasil menembus MA200. Aksi beli lima direksi secara kolektif lewat program MESOP senilai lebih dari Rp33 miliar, memperkuat sinyal bahwa reli ini bukan sekadar spekulasi pasar, melainkan respons terhadap keyakinan internal akan transformasi bisnis TOBA....

PLTM 2x3 MW milik PT Adimitra Energi Hidro (AEH), bagian dari portofolio energi terbarukan TBS Energi Utama Tbk (TOBA), yang telah mencapai Commercial Operation
PLTM 2x3 MW milik PT Adimitra Energi Hidro (AEH), bagian dari portofolio energi terbarukan TBS Energi Utama Tbk (TOBA), yang telah mencapai Commercial Operation

Insight Navigator

  1. 01 Kekuatan reli TOBA saat ini
  2. 02 Momentum TOBA dan Transformasi Hijau

Lonjakan harga TOBA terjadi tak lama setelah seluruh jajaran direksi masuk pasar lewat aksi akumulasi yang terkoordinasi. Pada 4 Juni 2025, lima orang direktur PT TBS Energi Utama Tbk memborong saham perseroan dalam rangka pelaksanaan program Management and Employee Stock Option Program (MESOP). Skema ini dirancang untuk memberi insentif jangka panjang kepada manajemen dan karyawan, dengan memberikan hak beli saham perusahaan pada harga tertentu. MESOP umumnya dipandang sebagai sinyal kepercayaan internal terhadap masa depan perusahaan. Dalam kasus TOBA, sinyal itu datang bersamaan dari semua penjuru direksi.

Nama yang paling menonjol adalah Dicky Yordan. Direktur berdarah Singapura ini membeli hampir 76 juta lembar saham hanya dalam sehari, di kisaran harga Rp258 hingga Rp590. Dengan nilai transaksi sebesar Rp31,47 miliar, Dicky kini menggenggam 1,52 persen kepemilikan di TOBA—naik drastis dari posisinya sebelumnya. Di belakangnya, Direktur Juli Oktarina juga menambah porsi sebesar 1,78 juta lembar saham, disusul Alvin Firman Sunanda dengan 1,87 juta, serta dua direktur lainnya, Mufti Utomo dan Sudharmono Saragih, yang masing-masing membeli 769 ribu lembar saham.

Total saham yang diserap oleh jajaran direksi mencapai lebih dari 81 juta unit. Jika dikalkulasi berdasarkan rata-rata harga beli, nominal dana yang digelontorkan manajemen mencapai lebih dari Rp33 miliar. Seluruh transaksi itu tercatat dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia dan dilakukan tepat satu pekan sebelum saham TOBA melejit nyaris 30 persen hanya dalam dua hari. Momentum ini menguatkan dugaan bahwa pasar bereaksi cepat terhadap sinyal akumulasi dari internal perusahaan, apalagi ketika aksi beli dilakukan sebelum harga bergerak signifikan.

Kekuatan reli TOBA saat ini

Kenaikan harga saham TOBA dalam dua hari terakhir terbilang luar biasa. Pada Rabu siang, 11 Juni 2025, saham ini bertengger di posisi Rp710, naik 5,97 persen dari hari sebelumnya. Sehari sebelumnya, TOBA juga sudah melesat 22,94 persen. Jika dihitung sejak awal pekan, saham ini telah mencatatkan kenaikan 25,66 persen dan dalam sebulan terakhir—setelah masa akumulasi manajemen—sudah terbang lebih 70 persen.

Volume perdagangan juga meningkat drastis. Berdasarkan data perdagangan Stockbit, volume saham yang berpindah tangan mencapai 364,3 juta lembar dengan nilai transaksi Rp252,9 miliar. Angka ini menunjukkan minat beli yang bukan hanya agresif tapi juga tersebar luas di berbagai level harga.

Reli tersebut menjadi semakin signifikan karena harga TOBA berhasil menembus rata-rata pergerakan 200 hari terakhir (MA200) yang selama ini menjadi garis mati saham ini, yakni Rp453. Tak hanya MA200, TOBA juga sudah jauh meninggalkan MA100 (Rp485), MA50 (Rp523), bahkan MA20 (Rp603). Secara teknikal, posisi harga saat ini yang konsisten di atas seluruh moving average utama menandakan konfirmasi tren naik jangka pendek hingga panjang.

Kekuatan tren ini diperkuat oleh indikator teknikal lainnya. Relative Strength Index (RSI) berada di level 78,5—mengindikasikan kondisi jenuh beli (overbought). Meskipun secara umum RSI di atas 70 dianggap sebagai sinyal peringatan potensi koreksi, kondisi ini juga menunjukkan momentum beli masih sangat kuat. Dalam konteks reli seperti yang sedang dialami TOBA, RSI tinggi bukan berarti sinyal jual, melainkan tanda bahwa investor perlu waspada terhadap pullback sehat sebelum tren berlanjut.

Moving Average Convergence Divergence (MACD) TOBA juga memberikan sinyal beli yang kuat. Garis MACD telah menembus garis sinyalnya dengan jarak yang semakin melebar dan menandakan peningkatan momentum kenaikan. Sementara itu, Average Directional Index (ADX) berada di angka 60,6—angka yang sangat tinggi untuk standar tren pasar saham. Umumnya, ADX di atas 25 sudah dianggap sebagai tren yang solid. Angka 60,6 menunjukkan bahwa TOBA bukan sekadar naik karena lonjakan sesaat, melainkan sedang berada dalam arus tren naik yang kuat dan dominan.

Indikator lainnya seperti Commodity Channel Index (CCI), Ultimate Oscillator, hingga Bull/Bear Power semuanya berada dalam wilayah positif dan menyampaikan pesan yang sama: tekanan beli lebih kuat dibanding tekanan jual. Bahkan indikator volatilitas seperti Average True Range atau ATR menunjukkan lonjakan. Ini menandakan TOBA tengah bergerak di fase pasar yang sangat aktif dan penuh antisipasi.

Secara keseluruhan, hampir semua indikator teknikal utama menyatakan sinyal yang sama: strong buy. Tapi bagi investor, sinyal ini juga harus dibaca dengan konteks yang lebih hati-hati. Reli cepat dengan RSI jenuh beli dan volatilitas tinggi juga membuka kemungkinan koreksi teknikal dalam waktu dekat. Karena itu, harga saat ini bisa jadi bukan titik terbaik untuk mengejar, melainkan menjadi petunjuk bahwa strategi akumulasi bertahap di area support baru akan lebih rasional daripada mengejar di puncak.

Momentum TOBA dan Transformasi Hijau

Lonjakan harga saham TOBA belakangan ini menyimpan lebih dari sekadar sentimen jangka pendek. Di balik grafik yang melonjak dan indikator yang menyala hijau, ada fondasi fundamental yang mulai bergeser, yakni transformasi model bisnis dan arah strategis perseroan. Aksi beli kolektif dari lima direktur perusahaan tak hanya menunjukkan kepercayaan internal terhadap prospek emiten ini, tapi juga memberi pesan bahwa manajemen siap mempertaruhkan modal pribadi di tengah fase peralihan besar.

TOBA bukan lagi sekadar perusahaan tambang batu bara. Dalam dua tahun terakhir, TOBA sebagai induk usaha telah melakukan divestasi aset-aset pembangkit batu bara mereka—terakhir PLTU di Minahasa Utara dan Gorontalo—yang totalnya disebut dapat memangkas emisi karbon lebih dari 1,3 juta ton CO2e per tahun. Langkah ini bukan hanya pernyataan etis, tapi juga sinyal kepada pasar bahwa portofolio TOBA kini mengarah ke energi bersih, pengelolaan limbah, dan mobilitas listrik. Di saat yang sama, akuisisi terhadap Sembcorp Environment di Singapura membuka jalan untuk ekspansi regional di sektor waste-to-value.

Meski demikian, tidak semua metrik mendukung euforia ini secara mutlak. Pendapatan kuartal pertama 2025 turun signifikan hingga 42 persen dibanding tahun lalu, imbas dari hilangnya kontribusi PLTU. Namun di sisi lain, cash flow bersih naik menjadi USD44,1 juta dan kas akhir mencapai USD126,1 juta. Artinya, secara likuiditas, TOBA justru semakin solid.

Untuk investor dengan horizon panjang, momentum ini bisa dibaca sebagai tahap awal revaluasi emiten berbasis transisi energi. Selama komitmen pada pengelolaan limbah dan energi terbarukan ini terealisasi secara konsisten, pasar kemungkinan akan mulai membangun ekspektasi baru terhadap nilai intrinsik TOBA di masa depan.

Namun bagi investor jangka pendek, volatilitas harga dan posisi RSI yang sudah jenuh beli juga memberi ruang untuk koreksi teknikal dalam waktu dekat. Dalam konteks inilah, pemetaan strategi yang berimbang antara momentum dan fundamental menjadi kunci.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya