Insight Daily 04 Aug 2025 Penulis: KabarBursa.com

Harga Saham NCKL Melejit, Apakah ESG Jadi Motor Kenaikan?

Harita Nickel (NCKL) mencatat lonjakan harga saham seiring penguatan sentimen ESG, masuk indeks FTSE4Good dan jalani audit IRMA.

KABARBURSA.COM – Lonjakan harga saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dalam beberapa pekan terakhir sangat menarik.Emiten yang dikenal dengan nama Harita Nickel ini tidak hanya mencatat breakout teknikal dari level resistensi penting, tetapi juga mengalami lonjakan volume transaksi yang signifikan. Namun yang menarik, euforia pasar terhadap saham ini t...

Emiten yang dikenal dengan nama Harita Nickel ini tidak hanya mencatat breakout teknikal dari level resistensi penting. (Foto: Dok. Trimegah Bangun Persada)
Emiten yang dikenal dengan nama Harita Nickel ini tidak hanya mencatat breakout teknikal dari level resistensi penting. (Foto: Dok. Trimegah Bangun Persada)

Insight Navigator

  1. 01 Apakah ESG Jadi Motor Kenaikan?
  2. 02 Capaian ESG Perkuat Narasi Ketahanan Harita Nickel?

KABARBURSA.COM – Lonjakan harga saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dalam beberapa pekan terakhir sangat menarik.

Emiten yang dikenal dengan nama Harita Nickel ini tidak hanya mencatat breakout teknikal dari level resistensi penting, tetapi juga mengalami lonjakan volume transaksi yang signifikan. 

Namun yang menarik, euforia pasar terhadap saham ini tidak semata didorong oleh sentimen makro atau faktor teknis, melainkan oleh penguatan narasi keberlanjutan atau environmental, social, and governance (ESG).

Pada Jumat, 1 Agustus 2025, saham NCKL melonjak 13,99 persen dan ditutup di level Rp815, dengan nilai transaksi harian mencapai Rp208,93 miliar. Volume yang dicatatkan saat itu menyentuh lebih dari 190 ribu lot. 

Lonjakan ini kemudian berlanjut pada Senin, 4 Agustus 2025, saat harga saham kembali naik 12,27 persen ke level Rp915. 

Dengan dua hari kenaikan berturut-turut, saham NCKL menembus penguatan lebih dari 28 persen hanya dalam dua hari perdagangan.

Data historis menunjukkan bahwa reli dimulai secara bertahap sejak pertengahan Juli, namun akselerasi signifikan baru terjadi sejak akhir bulan. 

Pada 31 Juli, harga ditutup di Rp715. Hanya dalam dua hari perdagangan berikutnya, harga sudah menyentuh Rp915. Kenaikan ini bukan hanya cepat, tapi juga didukung oleh lonjakan nilai transaksi yang sangat besar, terutama dibandingkan rata-rata volume harian.

Secara teknikal, breakout ini dikonfirmasi oleh lonjakan volume harian yang mencapai lebih dari Rp218 miliar pada 4 Agustus, jauh di atas rata-rata volume Rp46,51 miliar. 

Grafik intraday menunjukkan pergerakan konsisten dalam tren naik sepanjang sesi, mengindikasikan dominasi pembeli.

Di sisi broker summary, data 1 Agustus 2025 menunjukkan bahwa J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) menjadi pelaku net buy terbesar untuk saham NCKL. Total pembelian mencapai Rp15,1 miliar dengan volume 190.716 lot. Aktivitas J.P. Morgan ini menjadi sinyal kuat adanya akumulasi dari investor institusi asing.

Apakah ESG Jadi Motor Kenaikan?

Momentum teknikal ini beriringan dengan katalis ESG yang bersifat struktural. Harita Nickel resmi diumumkan sebagai konstituen FTSE4Good Index Series per Juli 2025, dalam dua kategori sekaligus: Emerging Markets Index dan ASEAN 5 Index. 

Indeks FTSE4Good disusun oleh FTSE Russell untuk mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang memenuhi standar global dalam praktik ESG. 

Masuknya NCKL ke dalam indeks ini secara faktual meningkatkan visibilitas emiten terhadap investor institusional yang memiliki mandat investasi berbasis keberlanjutan.

Masuknya Harita Nickel ke dalam indeks ESG bukanlah hasil dari proses administratif belaka. Emiten ini tercatat tengah menjalani proses audit ketat berbasis The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), yang dikenal luas sebagai standar ESG paling komprehensif dalam industri pertambangan global. Audit dimulai sejak Oktober 2024 dan memasuki tahap audit lapangan pada April 2025. Proses ini direncanakan selesai pada semester kedua 2025, berdekatan dengan dinamika harga saham yang mulai menunjukkan tren naik sejak Juni.

Menurut Lukito Gozali, Head of Investor Relations Harita Nickel, audit IRMA merupakan langkah strategis yang mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan. 

“Dengan mengikuti standar tertinggi dalam industri pertambangan global, kami ingin memastikan bahwa praktik kami tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan,” ujarnya dalam siaran pers pada Jumat, 1 Agustus 2025.

Selain audit IRMA, NCKL juga aktif menjalani proses Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) yang diselenggarakan oleh Responsible Minerals Initiative (RMI). Sertifikasi ini difokuskan pada praktik pengadaan mineral yang bertanggung jawab, khususnya dalam konteks menghindari keterlibatan rantai pasok dari wilayah konflik atau berisiko tinggi. 

Fasilitas refinery PT Halmahera Persada Lygend (HPL), anak usaha NCKL, telah lebih dahulu mengantongi sertifikasi RMI sejak 2024, sementara PT Obi Nickel Cobalt (ONC) dijadwalkan menyusul pada 2025.

Bila ditinjau dari pendekatan pasar modal, pergerakan saham NCKL tidak dapat dilepaskan dari rotasi sektor yang sedang berlangsung. Berdasarkan data STARS sectoral rotation per awal Agustus 2025, NCKL tercatat bergerak dari kuadran PANIC ke kuadran HOPE. 

Artinya, saham ini mengalami percepatan rotasi positif, jauh mengungguli indeks sektoral IDXBASIC maupun indeks komposit. Kombinasi antara rotasi teknikal dan ekspektasi ESG menjadi faktor kunci yang mendorong aksi beli institusional.

Dalam konteks valuasi, katalis ESG memberikan dampak nyata terhadap persepsi risiko dan premium valuasi. 

Harita Nickel membukukan pendapatan Rp14,10 triliun pada semester I 2025, dengan laba bersih Rp4,1 triliun yang dapat diatribusikan kepada entitas induk. 

Kinerja ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun harga nikel global cenderung melemah. Kenaikan laba terutama ditopang oleh volume produksi dan efisiensi dari unit HPAL dan RKEF yang mulai beroperasi penuh sejak awal tahun.

Capaian ESG Perkuat Narasi Ketahanan Harita Nickel?

Namun, yang menjadi sorotan adalah bagaimana pencapaian ESG memperkuat narasi resilien perusahaan. Struktur usaha yang terintegrasi dari hulu hingga hilir memungkinkan Harita Nickel menjaga kontrol biaya, sekaligus memenuhi standar keberlanjutan internasional. Hal ini menjadi nilai tambah strategis di tengah transisi global menuju green supply chain, khususnya untuk logam baterai seperti nikel, MHP, dan NiSO₄.

Dalam hal persepsi pasar, keberhasilan NCKL menembus indeks FTSE4Good memberikan sinyal bahwa kinerja keberlanjutan perusahaan telah memenuhi ekspektasi global. Sejumlah manajer investasi dan fund ESG internasional diketahui menggunakan indeks ini sebagai acuan seleksi portofolio. 

Dengan demikian, masuknya Harita Nickel dapat diartikan sebagai potensi peningkatan likuiditas dan interest dari investor berbasis mandat ESG.

Bila ditelaah dari sisi komunikasi korporat, Harita Nickel juga aktif mempublikasikan capaian ESG melalui saluran resmi dan laporan keberlanjutan. Informasi mengenai pengelolaan air, pengembangan desa Kawasi, serta pemanfaatan solar panel 40 MWp menjadi bagian dari langkah konkret yang tercatat. 

Di sisi lain, keberadaan masterplan pengembangan masyarakat dan due diligence HAM terhadap standar ILO dan PBB menambah kedalaman narasi ESG perusahaan.

Secara keseluruhan, dinamika harga saham NCKL dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan korelasi yang jelas antara faktor ESG dan kinerja pasar. Lonjakan harga yang diiringi volume besar, akumulasi institusional, serta rotasi sektoral bukan semata refleksi dari spekulasi jangka pendek, tetapi juga respons pasar terhadap penguatan fundamental keberlanjutan. 

Di tengah tren global yang semakin menempatkan ESG sebagai tolok ukur daya saing, kasus Harita Nickel menjadi studi relevan bagaimana narasi keberlanjutan dapat bertransformasi menjadi motor valuasi.

Dengan proses audit IRMA yang sedang berjalan dan agenda sertifikasi lanjutan, perhatian terhadap ESG Harita Nickel diperkirakan akan terus meningkat. Bagi investor institusional, hal ini memberi peluang untuk menilai ulang risiko non-keuangan dalam portofolio berbasis sumber daya alam. 

Sementara bagi investor ritel, perkembangan ini menandai pergeseran pendekatan investasi, dari sekadar membaca neraca dan laporan laba rugi, menuju pemahaman yang lebih luas atas tata kelola dan keberlanjutan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya