Insight Daily 20 May 2025 Penulis: KabarBursa.com

Harga PGEO Nyaris Overheat, tapi Belum Tamat

Lonjakan harga PGEO dipicu rencana ekspansi dua lini bisnis baru, tapi indikator teknikal mulai memberi sinyal koreksi jangka pendek.

KABARBURSA.COM - Dalam lima hari perdagangan, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terbang 37 persen—dari Rp945 ke puncak Rp1.385 sebelum mendarat di Rp1.300. Di balik lonjakan itu, ada bisik rencana bisnis baru dan dorongan lokal yang tak menunggu aba-aba asing.

Dari balik jendela geothermal, harga PGEO menanjak di layar bursa. Tapi panasnya pasar kadang datang sebelum tenaga benar-benar siap. Gambar dibuat oleh AI untu
Dari balik jendela geothermal, harga PGEO menanjak di layar bursa. Tapi panasnya pasar kadang datang sebelum tenaga benar-benar siap. Gambar dibuat oleh AI untu

Insight Navigator

  1. 01 Teknikal Masih Kuat, tapi Nafas Mulai Pendek
  2. 02 Menakar Kekuatan Tren dan Sentimen Pasar

Reli yang terlalu cepat sering bikin napas pasar ngos-ngosan. Tapi dalam hal PGEO, euforia ini tidak muncul dari ruang hampa. Pasar mencium aroma ekspansi perusahaan yang tengah bersiap membuka dua lini bisnis baru sekaligus, yakni jasa pengujian laboratorium dan komersialisasi alat ukur fluida dua fasa bernama Flow2Max.

Di atas kertas, proyeksi pertumbuhan pendapatan dari lini laboratorium mencapai 7,72 persen per tahun hingga 2034. Sementara Flow2Max diarahkan untuk pasar internasional dengan membidik negara-negara panas bumi seperti Selandia Baru, Turki, hingga Amerika Serikat.

Keduanya akan dimintakan persetujuan pada RUPS tahunan, 3 Juni mendatang. Artinya, harga yang melonjak belakangan ini bukan hanya mengejar rumor, tapi menyambut proposal bisnis konkret.

PGEO tampaknya sedang membangun sayap non-konvensional—dari sekadar produsen energi panas bumi menjadi penyedia jasa teknologi energi itu sendiri. Jika strategi ini berhasil, margin bisnis bisa terdongkrak tanpa harus menambah kapasitas pembangkit. Di pasar yang makin padat, itu bukan nilai kecil.

Jangan lupakan proyek-proyek besar yang sudah lebih dulu dirancang. Target kapasitas terpasang 1 gigawatt masih jadi misi jangka menengah dengan proyek Lumut Balai Unit 2 (55 MW) yang dijadwalkan beroperasi tahun ini. Capex 2025 pun dinaikkan jadi USD319 juta (Rp5,26 triliun). Dengan kata lain, PGEO sedang menapaki dua jalur sekaligus: memperbesar output dan memperdalam nilai tambah.

Dengan kombinasi ekspansi lini bisnis dan target 1 gigawatt yang terang-terangan ambisius, pasar pun mulai bicara. Lonjakan harga dalam beberapa hari terakhir tampaknya menjadi refleksi awal atas ekspektasi itu. Tapi seperti biasa, pasar tak hanya menanggapi narasi, mereka juga membaca grafik, volume, dan momentum dengan kaca pembesar.

Teknikal Masih Kuat, tapi Nafas Mulai Pendek

Reli yang terlalu cepat sering bikin napas pasar ngos-ngosan. Maka, sebelum buru-buru mengejar harga, mari kita intip dulu seberapa panas mesin PGEO saat ini, dari teknikal, aksi asing, sampai kekuatan volume.

Harga terakhir tercatat di level Rp1.300, terkoreksi ringan dari titik tertinggi sebelumnya. Meski begitu, saham ini masih berada di atas rata-rata pergerakan 20 hingga 200 hari yang secara teknikal mencerminkan tren jangka menengah yang tetap bullish. Namun sinyal jangka pendek mulai menyimpan potensi waspada: Moving Average (MA) harian 5 dan 10 justru sudah menunjukkan sinyal jual, pertanda napas mulai tersengal setelah berlari kencang.

Di sisi momentum, indikator Relative strength index atau RSI (14) tercatat di level 63,41. Ini belum masuk wilayah jenuh beli akut, tapi sudah cukup untuk menyalakan alarm kecil bagi para pemburu cuan jangka pendek. Volume transaksi juga mulai menyusut dalam dua hari terakhir, sebuah indikasi bahwa pasar tengah mengambil jeda—bukan panik, tapi butuh waktu untuk mencerna ke mana arah selanjutnya.

Sementara itu, dari sisi partisipasi asing, tercatat net buy senilai Rp3,12 miliar. Angka ini memang belum fantastis, namun cukup untuk memberi kesan bahwa investor luar mulai melirik PGEO setelah reli yang terlalu menggoda untuk diabaikan. Kendati begitu, porsi asing masih tergolong kecil—sekitar 10 persen—sehingga reli sejauh ini lebih pantas disebut sebagai pesta domestik.

Secara teknikal murni, harga saat ini berada persis di zona Pivot Classic 1.301, posisi netral yang bisa berarti dua hal: mantul ke atas jika dukungan volume kembali kuat atau meluncur ke bawah jika pasar memilih tarik napas lebih panjang. Titik support berada di kisaran Rp1.273 hingga Rp1.250, sedangkan resistensi berikutnya menunggu di Rp1.328 hingga Rp1.357.

Menakar Kekuatan Tren dan Sentimen Pasar

Satu hal yang menarik dari PGEO bukan hanya soal kenaikannya yang tajam, tapi siapa yang mendorongnya. Dalam sepekan terakhir, investor domestik terlihat menjadi dalang utama di balik lonjakan harga. Aksi beli berlangsung dalam frekuensi tinggi, namun dengan volume yang mulai menyusut di dua hari terakhir. Fenomena ini memberi petunjuk bahwa sebagian pelaku pasar tengah memilih untuk mengunci keuntungan lebih awal, ketimbang melanjutkan akumulasi.

Kondisi ini, secara teknikal, bukan tanda bahaya—namun juga belum sepenuhnya aman. Di atas kertas, tren jangka menengah memang masih berada di jalur positif, tercermin dari harga yang tetap bertengger di atas rerata 20 hingga 200 harinya. Tapi tren pendeknya mulai goyah. MA5 dan MA10 telah melintasi harga ke bawah serta RSI mulai melandai ke zona tengah.

Koreksi yang terjadi selama dua hari terakhir bisa dibaca sebagai titik transisi—apakah ini jeda untuk konsolidasi atau awal dari rotasi minat pasar ke sektor lain. Jawabannya akan sangat ditentukan oleh dua hal: apakah PGEO mampu mempertahankan level teknikal Rp1.250 dan apakah sentimen ekspansi bisnis masih dianggap punya daya dorong lanjutan.

Asing memang mulai masuk dengan net buy Rp3,12 miliar, namun jumlah itu baru ibarat hidangan pembuka. Hingga saat ini, 90 persen pergerakan PGEO masih didorong oleh investor lokal. Ini berarti kecepatan reli bisa tinggi, tapi begitu juga dengan potensi volatilitasnya.

Level harga Rp1.270–1.280 menjadi titik pantauan kritis. Jika pada zona ini muncul candle reversal dengan volume menguat, maka peluang PGEO menguji ulang resistance Rp1.328–1.357 akan terbuka. Namun jika tekanan jual terus berlanjut dan Rp1.250 tembus ke bawah, maka tren jangka menengah bisa mulai ternoda.

Investor yang ingin masuk perlu menimbang momentum dengan lebih presisi. Bukan cuma karena saham ini sudah naik tinggi, tapi juga karena mesin fundamentalnya sedang “dipanaskan” lewat proyek ambisius. Pasar sudah memberi ruang bagi PGEO untuk tampil. Tapi apakah sentimen kuat bisa diimbangi daya tahan harga, itu yang kini tengah diuji.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya