KABARBURSA.COM – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menghadapi dinamika kontras antara segmen emas dan nikel.
Di saat emas menikmati reli harga hingga USD3.000/ton, harga nikel justru terpukul oleh oversupply global dan lemahnya permintaan kendaraan listrik.
Namun di tengah tekanan tersebut, ANTM justru mencatatkan lonjakan produksi bijih nikel dan feronikel pada kuartal I 2025.
Laporan riset Ajaib Sekuritas, Rabu, 18 Juni 2025 menyebutkan, bijih nikel menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar pendapatan ANTM secara tahunan, dengan kenaikan penjualan hingga 281 persen year on year (yoy) menjadi 3,83 juta wet metric ton (WMT) pada kuartal I 2025.
Lonjakan Produksi Bijih Nikel dan Feronikel
Produksi bijih nikel ANTM melonjak signifikan pada kuartal I 2025, naik 221 persen yoy menjadi 4,63 juta WMT.
Sementara itu, penjualan feronikel (FeNi) tercatat sebesar 4.839 ton nikel dalam feronikel (TNi), meskipun turun dari kuartal sebelumnya akibat pemeliharaan pabrik.
Kapasitas produksi feronikel ANTM ditopang oleh tiga smelter aktif, FeNi II, III, dan IV, yang berlokasi di Sulawesi Tenggara. Namun kendala teknis dan perawatan berkala membuat volume penjualan turun 38,4 persen quarter on quarter (qoq) dibanding kuartal IV 2024.
“Produksi tetap stabil, tetapi distribusi penjualan sempat tertunda karena aktivitas perawatan pada awal tahun," catat Ajaib Sekuritas dalam riset tersebut.
Meskipun volume produksi naik drastis, tantangan datang dari sisi harga. Harga rata-rata nikel global diproyeksikan hanya mencapai USD15.600/ton pada 2025, turun 8 persen dibanding tahun sebelumnya. Tekanan datang dari:
- Oversupply dari Indonesia dan Tiongkok
- Lemahnya permintaan kendaraan listrik (EV)
- Pergeseran teknologi ke baterai bebas nikel (nickel-free battery)
“Permintaan dari sektor EV global belum cukup kuat untuk menyerap kelebihan pasokan, sementara tekanan harga membuat margin industri tergerus,” tulis tim riset Ajaib.
ANTM mencoba menekan beban produksi nikel melalui efisiensi operasional. Salah satu langkah signifikan adalah transisi sumber energi smelter Kolaka ke jaringan listrik PLN, menggantikan ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM).
Langkah ini diharapkan dapat memangkas biaya bahan bakar hingga dua digit persen dalam jangka menengah. Selain itu, sebagian besar belanja modal nikel juga dialokasikan untuk eksplorasi dan pengembangan tambang baru di Konawe, Pomalaa, dan Buli.
Target RKAB Ambisius dan Hilirisasi Jangka Panjang
ANTM telah mengantongi persetujuan RKAB 2025 dengan target produksi bijih nikel sebesar 13 juta ton, dengan proyeksi kenaikan menjadi 20–21 juta ton dalam dua tahun mendatang.
Target ini mencerminkan kesiapan ANTM untuk memasok bahan baku ke proyek hilirisasi jangka panjang.
Hilirisasi nikel ANTM berfokus pada dua proyek utama di Buli, Halmahera:
- HPAL (High Pressure Acid Leaching): Target produksi 55.000 TPA Mixed Hydroxide Precipitate (MHP)
- RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace): Target 88.000 TPA Nickel Pig Iron (NPI)
Keduanya ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 dan akan didukung oleh mitra strategis, termasuk CBL dan investor Tiongkok.
Adapun kontribusi bijih nikel terhadap pendapatan ANTM mencapai Rp21 triliun dalam estimasi pendapatan 2025 (dari total Rp95,8 triliun). Meski margin masih lebih rendah dari segmen emas, pertumbuhan volume berhasil menjadi penopang profitabilitas secara keseluruhan.
Sementara itu, margin EBITDA konsolidasian ANTM diproyeksikan naik dari 7 persen (2024) menjadi 9,1 persen pada 2025, sebagian besar ditopang efisiensi di sektor nikel dan perbaikan harga jual rata-rata di emas.
Kinerja bijih nikel ANTM di 2025 menunjukkan potensi pertumbuhan volume yang sangat kuat, namun tetap menghadapi risiko margin rendah akibat tekanan harga global.
Strategi hilirisasi hingga 2028 dan ekspansi eksplorasi akan sangat menentukan posisi ANTM dalam rantai pasok baterai EV jangka panjang.
Risiko Utama dan Tantangan Valuasi Antam
Ajaib Sekuritas memberi rating beli dengan target harga Rp3.900, namun mencatat sejumlah risiko yang dapat memukul valuasi ANTM, antara lain:
- Kegagalan eksekusi proyek HPAL & RKEF
- Penurunan harga nikel global lebih lanjut
- Ketidakpastian regulasi ekspor bijih nikel dan pajak ekspor
“Pasar belum sepenuhnya merefleksikan potensi rerating dari nikel jika proyek hilirisasi berjalan sesuai rencana,” tulis Rizal Rafly, analis Ajaib Sekuritas. (*)