KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia menunjukkan kenaikan moderat di tengah dinamika geopolitik global usai meletus perang AS-Israel vs Iran. Berdasarkan data yang dihimpun, harga Brent Crude berada di kisaran USD80,31 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di sekitar USD73,99 per barel pada 3 Maret 2026.
Penguatan harga energi tersebut muncul seiring meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan global. Timur Tengah merupakan salah satu kawasan produsen minyak utama dunia, sehingga setiap eskalasi konflik kerap memicu premi risiko pada harga komoditas energi.
Meski belum terlihat gangguan distribusi secara langsung, pasar cenderung mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan menaikkan harga sebagai refleksi risiko geopolitik.
Kenaikan harga energi tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar keuangan, mengingat sektor-sektor tertentu memiliki sensitivitas tinggi terhadap biaya energi dan daya beli masyarakat.
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,96 persen ke level 7.939,77. Sementara itu, saham PT Astra International Tbk (ASII) turun 0,40 persen ke 6.275 dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) terkoreksi 1,41 persen ke 2.800, mencerminkan pergerakan variatif sektor otomotif di tengah kenaikan harga energi.
Secara fundamental, industri otomotif nasional masih menunjukkan kinerja yang relatif stabil. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menargetkan penjualan mobil nasional sekitar 850.000 unit sepanjang 2026.
Pada Januari 2026, wholesales tercatat 66.447 unit atau tumbuh 7 persen secara tahunan (YoY), sedangkan retail sales mencapai 66.936 unit atau naik 4,5 persen YoY. Data tersebut mengindikasikan permintaan domestik masih berada dalam tren pemulihan, meski pelaku pasar tetap mencermati potensi tekanan jika harga energi meningkat lebih lanjut.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono menilai, dampak perang AS-Israel vs Iran berpotensi menaikkan harga minyak dunia. Menurutnya, kenaikan harga minyak yang signifikan tersebut berdampak terhadap sektor manufaktur dan otomotif.
“Secara umum, lonjakan harga minyak memicu sentimen negatif pada sektor yang memiliki ketergantungan energi tinggi,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com, Selasa, 3 Maret 2026.
Wahyu menuturkan, di sektor manufaktur, tekanan terhadap margin laba terjadi karena kenaikan biaya produksi dan logistik. Jika perusahaan tidak dapat membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen (cost pass-through), laba bersih berpotensi tergerus. Kondisi tersebut biasanya direspons pasar melalui penyesuaian valuasi saham.
Sementara di sektor otomotif, kata dia, industri ini kerap menjadi “korban sekunder” ketika harga energi naik. “Investor cenderung melepas saham otomotif karena mengantisipasi penurunan daya beli konsumen terhadap barang tahan lama (durable goods),” ujarnya.
Risiko pada Saham Grup Astra
Wahyu menjelaskan, kenaikan BBM berdampak langsung pada biaya operasional kendaraan, yang pada akhirnya memengaruhi psikologi pembeli. Untuk saham ASII, lanjut dia, perseroan memiliki kecenderungan sensitif terhadap volume penjualan mobil nasional.
Jika target Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) sulit tercapai akibat lesunya permintaan, valuasi saham ASII biasanya mengalami diskon.
Sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia, Astra memiliki eksposur luas di sektor otomotif, mulai dari distribusi kendaraan, pembiayaan konsumen, hingga komponen suku cadang.
Karena itu, perubahan volume penjualan tidak hanya berdampak pada lini distribusi, tetapi juga pada bisnis pembiayaan dan layanan purna jual yang menopang kinerja grup secara keseluruhan.
Sementara untuk saham AUTO, lanjut dia, relatif lebih stabil karena memiliki pasar komponen pengganti (replacement market). Namun demikian, risiko tetap ada. “Meskipun memiliki pasar komponen pengganti yang lebih stabil, perlambatan produksi mobil baru dari manufaktur (OEM) akan menekan pertumbuhan pendapatan mereka,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, selain kenaikan harga minyak, risiko geopolitik dan rantai pasok turut memengaruhi saham otomotif. Menurutnya, investor menilai risiko geopolitik melalui dua lensa utama, yakni premi risiko dan potensi gangguan logistik.
“Investor akan menuntut imbal hasil lebih tinggi, yang menyebabkan aliran modal keluar dari aset berisiko (risk-off) menuju safe haven seperti emas. Investor memantau indeks biaya pengiriman. Gangguan pada rute pelayaran utama akibat ketegangan politik dapat menyebabkan kelangkaan komponen, yang berujung pada terhambatnya pengiriman produk akhir,” jelasnya.
Dalam situasi risk-off, pelaku pasar biasanya mengurangi eksposur pada sektor siklikal dan meningkatkan kepemilikan pada aset defensif. Pergeseran arus modal tersebut dapat memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan, meski dampaknya terhadap masing-masing saham sering kali bergantung pada kondisi fundamental dan sentimen jangka pendek.
Industri otomotif nasional sendiri masih memiliki ketergantungan terhadap impor komponen tertentu dalam bentuk completely knocked down (CKD) maupun semi knocked down. Jika biaya pengiriman global meningkat atau premi asuransi pelayaran naik, tekanan biaya dapat menjalar ke produsen dan distributor dalam negeri. Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang margin apabila tidak diimbangi dengan efisiensi operasional.
Meski demikian, pergerakan saham otomotif hingga saat ini belum menunjukkan tekanan signifikan yang bersifat sistemik. Secara makroekonomi, kenaikan harga minyak memiliki efek berlapis terhadap perekonomian domestik. Indonesia memang bukan lagi eksportir minyak utama dan masih memiliki ketergantungan pada impor minyak mentah maupun produk BBM tertentu.
Karena itu, lonjakan harga minyak global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi atau mendorong penyesuaian harga di dalam negeri. Jika harga BBM naik, efek rambatannya dapat terasa pada biaya transportasi, logistik, hingga harga barang konsumsi lainnya.
Dalam konteks otomotif, kenaikan harga BBM biasanya berdampak pada psikologi konsumen. Pembelian kendaraan, terutama mobil, termasuk dalam kategori barang tahan lama yang sangat sensitif terhadap ekspektasi pendapatan dan biaya operasional.
Ketika konsumen memperkirakan biaya penggunaan kendaraan akan meningkat, keputusan pembelian kerap ditunda. Situasi ini dapat memengaruhi volume penjualan dalam beberapa bulan berikutnya, terutama jika kenaikan harga energi berlangsung lebih lama.
Namun, pasar saham cenderung bersifat forward looking. Artinya, pelaku pasar tidak hanya bereaksi terhadap kondisi saat ini, tetapi juga mempertimbangkan seberapa besar dan seberapa lama dampak tersebut akan berlangsung.
Selama kenaikan harga minyak masih berada dalam kisaran moderat dan belum memicu perubahan kebijakan domestik yang signifikan, investor cenderung tidak melakukan aksi jual agresif. Respons pasar biasanya akan lebih nyata apabila terjadi lonjakan harga yang lebih tajam, gangguan pasokan yang konkret, atau perubahan kebijakan energi yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Di sisi lain, pelemahan ASII relatif lebih kecil dibanding koreksi IHSG, sementara AUTO masih mencatat kinerja mingguan positif. Volume transaksi pada kedua saham tersebut juga tidak menunjukkan lonjakan ekstrem yang mengindikasikan aksi jual besar-besaran.
Untuk saat ini, respons investor masih berada dalam batas volatilitas normal. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu sambil mencermati perkembangan harga minyak dan dinamika geopolitik global.
Selama kenaikan harga energi masih berada dalam kisaran moderat dan tidak memicu lonjakan inflasi domestik, tekanan terhadap sektor otomotif dinilai belum bersifat luas. Namun, risiko tetap terbuka apabila eskalasi konflik berlanjut dan memicu kenaikan harga energi yang lebih tajam.(*)