KABARBURSA.COM – Kilau emas kian terang di pasar global. Logam mulia ini mengawali 2025 di kisaran USD2.623 per ounce, lalu melesat ke level USD3.433 pada pertengahan Juni, sebelum akhirnya menembus rekor baru USD3.527 per ounce pada awal September.
Kenaikan lebih dari 30 persen sepanjang tahun ini membuat emas menegaskan kembali statusnya sebagai komoditas unggulan sekaligus aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Dorongan utama datang dari ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, sinyal pelonggaran dari Ketua Jerome Powell, melemahnya pasar tenaga kerja Amerika Serikat, serta meningkatnya permintaan bank sentral.
“Pemangkasan suku bunga yang semakin dekat menjadi bahan bakar reli emas,” tulis Reuters dalam laporannya pada 2 September 2025.
Tak hanya emas, perak juga mencatat reli serupa hingga menembus USD40 per ounce, yang berarti kedua logam mulia ini sudah berlipat ganda dalam tiga tahun terakhir.
Tujuh Saham Pilihan Analis
Momentum harga emas yang menembus rekor diyakini memberikan keuntungan bagi sejumlah emiten tambang dan energi dengan eksposur besar ke logam mulia. Riset Verdhana menyoroti tujuh saham unggulan:
- BRMS – PT Bumi Resources Minerals Tbk memiliki cadangan 12,4 juta ons emas dan 1,9 juta ton tembaga. Perseroan menargetkan produksi 170 ribu ons emas pada 2028. Saham BRMS telah naik 25 persen sejak rekomendasi awal dan berpotensi menerima arus masuk pasif sekitar USD79 juta jika masuk ke indeks MVGDX.
- ANTM – PT Aneka Tambang Tbk membukukan laba kuartalan rekor Rp2,6 triliun, naik 95 persen yoy dan 20 persen qoq. Didorong penjualan emas dan nikel, saham ANTM diperdagangkan dengan P/E 8 kali dan proyeksi imbal hasil dividen 12 persen pada 2026.
- ARCI – PT Archi Indonesia Tbk diproyeksikan meningkatkan produksi 40 persen pada 2025, dengan laba bersih melonjak sembilan kali lipat. Eksplorasi Marawuwung dan proyek Kopra disebut sebagai pendorong pertumbuhan selanjutnya.
- MDKA – PT Merdeka Copper Gold Tbk memiliki proyek besar Pani Gold dan TB Copper. IPO Pani Gold diperkirakan membuka valuasi baru, sementara pembaruan studi TB Copper dijadwalkan rilis paruh kedua 2025.
- AMMN – PT Amman Mineral Internasional Tbk menargetkan ekspansi pabrik pengolahan rampung kuartal IV 2025. Smelter baru berpotensi menghasilkan 1 juta ons emas per tahun sebagai produk sampingan, sekaligus menekan biaya tembaga.
- UNTR – PT United Tractors Tbk mencatat kontribusi emas sebesar 23 persen pada laba kuartal II 2025. Dengan P/E 5,6 kali dan dividen yield 8 persen, saham UNTR dinilai menarik sebagai kombinasi stabilitas dan eksposur emas.
- INDY – PT Indika Energy Tbk masih dinilai pasar hanya berbasis batu bara. Padahal, perseroan memiliki proyek emas yang akan beroperasi akhir 2026. Dengan PBV 0,36 kali dan kapitalisasi Rp8 triliun, eksposur emas INDY yang tersembunyi bisa menjadi rerating besar.
Tren Harga Emas 2025
Lonjakan harga emas tahun ini terbilang signifikan. Data Exchange-Rates.org mencatat, harga emas sempat berada di level terendah USD2.623,91 pada Januari 2025, sebelum melonjak ke USD3.433,48 pada 13 Juni 2025, lalu memperbarui rekor di atas USD3.500 pada September.
“Dalam periode krisis keuangan, harga emas hampir selalu melampaui inflasi, kinerjanya jauh lebih stabil dibanding aset lainnya,” ungkap analis World Gold Council, dikutip oleh New York Post.
TradingEconomics menambahkan, pada 1 September 2025 harga emas mencapai USD3.475,77 per ounce, naik 39,2 persen secara tahunan. Analis memperkirakan tren bullish ini bisa mendorong harga ke kisaran USD3.700–4.000 dalam waktu dekat.
Tabel Perkembangan Harga Emas 2025
| Periode | Harga (USD/oz) | Keterangan |
|---|---|---|
| Awal Januari | 2.623,91 | Titik terendah 2025 |
| 13 Juni | 3.433,48 | Rekor pertengahan tahun |
| 1 September | 3.475,77 | +39,2 persen yoy |
| 2 September | 3.527,5 | Rekor terbaru, catatan Reuters |
The Guardian menyebut reli emas tahun ini sebagai “penegasan kembali posisi emas sebagai aset paling dicari saat ketidakpastian ekonomi meningkat”.
Dengan kombinasi harga emas yang menembus rekor, proyek tambang baru, IPO, dan ekspansi smelter, saham-saham emas diyakini tetap menjadi magnet bagi investor sepanjang 2025. (*)