KABARBURSA.COM – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) resmi memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan aksi pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal USD 200 juta atau sekitar Rp3,28 triliun (kurs Rp16.400 per USD), dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPST dan RUPSLB) yang digelar Rabu, 18 Juni 2025.
Rencana ini merupakan bagian dari restrukturisasi strategi pengelolaan modal yang diajukan manajemen, berbarengan dengan penyegaran besar-besaran di jajaran direksi dan komisaris.
Direktur Utama GOTO, Patrick Walujo, menyatakan bahwa langkah ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam meningkatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada para pemegang saham atas dukungannya yang tercermin dari persetujuan terhadap seluruh agenda yang diajukan," kata Patrick dalam pernyataannya usai RUPS.
Dalam dokumen agenda RUPS, manajemen GOTO menjelaskan bahwa dana hasil buyback akan digunakan untuk dua tujuan utama. Pertama, menstabilkan harga saham GOTO yang masih berada dalam kisaran rendah. Kedua, untuk mendukung program kepemilikan saham bagi manajemen dan karyawan (ESOP/MSOP) melalui pengalihan saham treasuri.
Langkah ini menjadi lanjutan dari inisiatif penguatan tata kelola internal pasca pengumuman laba positif unit GoTo Financial dan efisiensi operasional di segmen on-demand.
GOTO menyatakan akan melakukan pembelian kembali saham dalam rentang waktu 18 bulan ke depan, secara bertahap melalui transaksi di Bursa Efek Indonesia.
Simulasi Skema Buyback: Hitung-hitungan untuk GOTO
Harga saham GOTO per 18 Juni 2025 ditutup pada level Rp63, setelah sempat menyentuh level terendah harian di Rp63 dan tertinggi di Rp65. Dengan asumsi dana maksimal buyback USD 200 juta atau setara Rp3,28 triliun, berikut simulasi jumlah saham yang dapat dibeli kembali oleh perusahaan:
- Simulasi konservatif (harga rata-rata saham Rp64):
Rp3.280.000.000.000 / Rp64 = 51.250.000.000 lembar saham - Simulasi optimis (harga rata-rata saham Rp60):
Rp3.280.000.000.000 / Rp60 = 54.666.666.667 lembar saham
Jumlah saham yang bisa dibeli kembali akan bergantung pada fluktuasi harga selama periode buyback. Dengan total saham beredar GOTO saat ini lebih dari 1 triliun lembar, aksi ini berpotensi menyerap sekitar 5 persen dari total saham publik, yang dapat mengurangi tekanan jual dan meningkatkan likuiditas pasar.
Buyback saham akan memangkas jumlah saham beredar di pasar, yang pada gilirannya meningkatkan earning per share (EPS) perusahaan. Dalam laporan tahunan 2024, GOTO mencatat rugi bersih yang menyempit dan EBITDA yang menuju titik impas. Jika tren ini berlanjut, buyback akan memperkuat persepsi investor terhadap efektivitas strategi profitabilitas.
Selain itu, rasio keuangan seperti Return on Equity (ROE) juga dapat meningkat, karena total ekuitas dibagi atas jumlah saham yang lebih kecil.
Namun, perlu dicatat bahwa pembiayaan buyback menggunakan kas internal akan mengurangi fleksibilitas investasi jangka pendek, terutama untuk ekspansi bisnis atau akuisisi.
Simulasi Dampak bagi Investor: Estimasi Gain
Dari perspektif investor ritel dan institusi, aksi buyback cenderung mendorong harga saham ke atas, terutama jika disertai penguatan kinerja fundamental. Dengan asumsi GOTO membeli saham pada harga rata-rata Rp63 dan terjadi apresiasi moderat ke Rp80 dalam 12 bulan pasca-buyback, berikut potensi keuntungan (capital gain) yang bisa diraih:
- Investor ritel beli di Rp63, jual di Rp80:
(Rp80 - Rp63) / Rp63 × 100 = 27 persen - Investor institusi yang ikut serta dalam momentum buyback bisa memanfaatkan spread harga, terutama jika disertai aksi distribusi strategis atau rotasi portofolio.
Dukungan Kepemimpinan untuk Jalankan Buyback Saham
Namun, potensi ini sangat tergantung pada keberhasilan GOTO dalam mengeksekusi restrukturisasi internal, terutama peran dari lima direktur baru yang diangkat: Monica Lynn Mulyanto, R.A. Koesoemohadiani, Ade Mulyana, Wuzhen Xiong, dan Sudhanshu Raheja.
Komisaris Utama GOTO, Agus D. W. Martowardojo, dalam keterangannya menyebut bahwa keputusan RUPS mencerminkan kepercayaan berkesinambungan terhadap arah strategis Perseroan.
"Rapat hari ini mencerminkan kepercayaan dan dukungan yang berkesinambungan dari para pemegang saham kami," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh langkah yang disahkan dalam RUPS bertujuan memperkuat pondasi bisnis GOTO agar tetap responsif terhadap perubahan di ekosistem digital Indonesia.
GOTO juga mengesahkan pengalihan saham treasuri untuk mendukung program kepemilikan saham manajemen dan karyawan (ESOP/MSOP). Program ini diyakini akan memperkuat loyalitas talenta kunci dan menciptakan alignmen kepentingan antara manajemen dan pemegang saham.
Dengan buyback yang mendanai MSOP, maka sebagian dari saham hasil pembelian kembali tidak akan kembali ke publik, tetapi dialokasikan secara internal.
Perspektif Bursa: Aksi Buyback Picu Sentimen Positif?
Buyback saham bukan hal asing bagi GOTO. Pada 2023, perusahaan juga melaksanakan buyback senilai lebih dari Rp1 triliun, meski dampak terhadap harga kala itu terbatas akibat tekanan eksternal dan profitabilitas yang belum tercapai.
Kini, dengan kondisi keuangan yang lebih stabil dan laba operasional dari unit fintech, buyback senilai USD 200 juta berpotensi memiliki efek psikologis positif terhadap pasar, selama dilaksanakan secara disiplin dan transparan.
Volume perdagangan harian GOTO per 18 Juni 2025 tercatat sebesar 1,91 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata volume mingguan sebesar 4,41 miliar saham.
Nilai transaksi harian mencapai Rp122 miliar, menunjukkan bahwa terdapat ruang cukup luas bagi aksi pembelian kembali untuk mempengaruhi keseimbangan pasar.
Tantangan dan Risiko Pelaksanaan
Meskipun buyback bisa mendorong harga saham, namun GOTO tetap harus mempertimbangkan:
- Ketersediaan kas dan likuiditas jangka pendek
- Kepatuhan terhadap ketentuan OJK dan BEI
- Risiko pasar dan tekanan makroekonomi yang bisa menekan harga saham meski ada buyback
Dalam skenario pesimistis, jika saham GOTO turun ke batas bawah auto reject Rp55, maka jumlah saham yang dibeli bisa lebih banyak, tetapi nilai pasar saham GOTO justru akan tergerus.
Oleh karena itu, aksi pembelian kembali saham oleh GOTO senilai USD200 juta bukan sekadar strategi teknis, tetapi juga sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Pelaksanaan buyback yang disiplin berpotensi mendukung stabilisasi harga saham, memperkuat EPS, dan memberikan gain positif kepada investor yang mampu menangkap momentum.
Namun, hasil akhirnya akan sangat bergantung pada eksekusi operasional, komunikasi manajemen, serta respons pasar terhadap perubahan fundamental yang dijalankan oleh tim direksi baru GOTO. (*)