KABARBURSA.COM – Dalam tiga hari terakhir, saham J Resources Asia Pasifik atau PSAB melaju kencang bagai kereta emas tanpa rem. Tapi pertanyaannya, apakah kereta ini masih layak dinaiki, atau justru waktunya turun dan mengunci cuan?
Saham PSAB memang sedang menjadi pembicaraan hangat di pasar modal. Dalam tiga hari terakhir, pergerakannya mencuri perhatian setelah melonjak lebih dari 80 persen dan menyentuh level Rp580 pada awal sesi perdagangan Rabu, 4 Juni 2025.
Kenaikan tajam ini dipicu oleh aksi auto reject atas (ARA) yang terjadi berturut-turut sejak awal pekan, menyusul rilis laporan kinerja kuartal I-2025 yang disambut positif oleh pelaku pasar.
Namun, di balik reli tajam tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah harga saham PSAB masih menarik secara valuasi?
Valuasi PSAB Tidak Lagi Murah
Valuasi saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) saat ini berada di titik yang cukup menarik untuk diamati, terutama setelah lonjakan harga yang tajam dalam beberapa hari terakhir.
Dengan return lebih dari 73 persen dalam sepekan dan lebih dari 235 persen dalam setahun, tak heran jika investor mulai bertanya-tanya, apakah kenaikan ini masih punya ruang, atau justru sudah saatnya waspada?
Secara fundamental, PSAB memang menunjukkan perbaikan kinerja yang tidak bisa diabaikan. Di kuartal pertama 2025, laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp187 miliar, melonjak tajam dibanding periode sama tahun lalu yang hanya Rp35 miliar.
Margin keuntungan juga cukup solid. Margin kotor berada di 59,6 persen, sementara margin laba bersih mencapai 17,1 persen. Angka-angka ini mencerminkan efisiensi operasional yang cukup baik, khususnya untuk perusahaan tambang.
Namun, ketika bicara valuasi, narasinya menjadi lebih kompleks. Rasio price to earnings (P/E) tahunan PSAB tercatat di 19 kali, sedangkan P/E trailing twelve months (TTM) mencapai 47,8 kali.
Sebagai pembanding, median P/E IHSG saat ini ada di kisaran 8 kali. Artinya, saham PSAB saat ini diperdagangkan dengan premi yang cukup tinggi dibanding pasar secara umum.
Hal ini menunjukkan ekspektasi pasar terhadap masa depan perusahaan, namun juga memberi sinyal bahwa sebagian besar sentimen positif sudah tercermin dalam harga.
Rasio price to sales (P/S) PSAB berada di angka 3,72, sementara price to book value (PBV) tercatat 2,74. Untuk perusahaan di sektor pertambangan, angka-angka ini relatif tinggi, mengindikasikan valuasi yang sudah tidak murah.
Meski begitu, valuasi yang premium masih bisa diterima jika dibarengi dengan pertumbuhan laba yang kuat—dan sejauh ini, PSAB memang menunjukkan tren tersebut.
Dari sisi arus kas, perusahaan juga masih dalam posisi yang cukup aman. Free cash flow kuartalan tercatat sebesar Rp478 miliar, dan total kas setara kas per kuartal sebesar Rp406 miliar.
Meskipun likuiditasnya belum bisa dikatakan ideal, dengan current ratio hanya 0,82 dan quick ratio 0,53, struktur utangnya masih tergolong konservatif. Debt to equity ratio tercatat 0,34, dan total utang terhadap aset hanya 13 persen. Artinya, ruang untuk melakukan pembiayaan tambahan masih terbuka lebar.
Yang juga perlu dicermati adalah valuasi berbasis enterprise value (EV). EV terhadap EBITDA PSAB berada di kisaran 10 kali, sementara EV terhadap EBIT berada di angka 8,1 kali. Ini bisa dibilang cukup wajar jika mempertimbangkan performa kuartalannya yang tengah menanjak.
Menariknya lagi, rasio PEG, yakni rasio P/E dibanding pertumbuhan laba, hanya 0,22. Secara teori, angka ini menunjukkan bahwa valuasi PSAB masih efisien jika laju pertumbuhan labanya bisa dipertahankan.
Namun tetap saja, ada alasan bagi investor untuk sedikit berhati-hati. Lonjakan harga yang terlalu cepat dalam waktu singkat sering kali diikuti oleh koreksi. Dan meskipun proyek tambang Doup yang dijadwalkan mulai berproduksi akhir tahun ini menjanjikan, ekspektasi pasar terhadap proyek tersebut tampaknya sudah mulai masuk ke dalam harga saham.
Dengan valuasi yang sudah cukup tinggi dan ekspektasi pasar yang besar, investor sebaiknya tidak hanya berpatokan pada angka-angka teknikal semata. Menimbang prospek jangka panjang, arus kas yang kuat, dan kinerja manajemen bisa menjadi langkah bijak sebelum mengambil keputusan. Di tengah euforia seperti ini, kehati-hatian tetap menjadi kunci.
Sementara itu, analis Stockbit Sekuritas Hendriko Gani, dalam risetnya hari ini menilai, secara valuasi, PSAB tidak lagi tergolong murah. Perusahaan kini diperdagangkan pada valuasi enterprise value (EV) terhadap cadangan emas (reserves) di kisaran Rp8,1 juta per ons.
“Angka ini mendekati valuasi BRMS, salah satu emiten tambang emas dengan reputasi kuat dan rekam jejak eksekusi proyek yang konsisten. BRMS selama ini memang diperlakukan pasar sebagai saham premium di sektor ini,” tulis Hendriko dalam risetnya hari ini.
Kinerja keuangan PSAB memang menunjukkan perbaikan signifikan. Di kuartal I-2025, pendapatan tercatat sebesar USD66,74 juta, naik lebih dari 6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sementara, laba bersih melonjak lebih dari 400 persen menjadi USD11,45 juta. Capaian ini menjadi penopang utama reli harga yang terjadi belakangan.
Valuasi Didorong Ekspektasi, Bukan Realisasi
Meski begitu, ada catatan penting yang perlu menjadi perhatian. Sekitar 60 persen dari total cadangan emas PSAB berada di tambang Doup, Sulawesi Utara. Diketahui, tambang Doup ini adalah proyek yang baru ditargetkan mulai produksi pada akhir 2024 dan diperkirakan baru akan berkontribusi penuh ke kinerja perusahaan di tahun 2025.
Estimasi produksinya sekitar 50.000 ons emas per tahun. Ini berarti, valuasi saham saat ini sebagian besar didorong oleh ekspektasi, bukan realisasi.
Jika dibandingkan dengan BRMS, valuasi PSAB sebenarnya mulai "terlihat mahal". Selain EV/Reserves yang hampir setara, rasio EV/EBITDA PSAB saat ini berada di level 8,7x, dengan price-to-book value 1,4x dan P/E ratio sebesar 52,1x.
Sementara BRMS, meski punya P/E ratio lebih tinggi, dikenal lebih matang secara operasional. Faktor ini memberi alasan mengapa sebagian pelaku pasar mulai mempertimbangkan untuk merealisasikan keuntungan.
Dari sisi teknikal, data perdagangan menunjukkan antusiasme tinggi terhadap saham PSAB. Rata-rata transaksi harian selama Januari 2025 tercatat sebesar Rp42,6 miliar.
Meski data indikator teknikal seperti RSI dan MACD belum tersedia lengkap, lonjakan harga yang agresif biasanya berisiko masuk ke wilayah jenuh beli (overbought), yang bisa memicu koreksi dalam jangka pendek.
Ke Mana Arah PSAB Selanjutnya?
Bagi investor yang sudah masuk sejak harga lebih rendah, kondisi saat ini bisa menjadi momen logis untuk take profit. Sementara untuk mereka yang baru tertarik, ada baiknya bersikap lebih hati-hati. Meskipun proyek tambang Doup menjanjikan, realisasi produksi dan kontribusi ke kinerja masih butuh waktu.
Pasar bisa bergerak cepat, dan sentimen bisa membawa harga saham jauh di atas nilai wajarnya dalam waktu singkat. Tetapi pada akhirnya, investasi selalu kembali pada fundamental.
Di tengah reli seperti ini, keputusan terbaik adalah tetap tenang, berpijak pada data, dan tidak terburu-buru mengejar euforia.(*)