Insight Daily 09 Oct 2025 Penulis: KabarBursa.com

GIAA Menghirup Optimisme Berkat Sinergi RI dengan Uni Eropa & Kanada

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan kombinasi stimulus fiskal dan pembukaan akses dagang global ini menjadi katalis yang berpotensi mendongkrak pendapatan Garuda Indonesia di semester II 2025.

KABARBURSA.COM - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tengah diselimuti angin segar berkat kerja sama antar negara yang dilakukan Indonesia.Setelah mendapat suntikan modal sebesar 6,65 triliun dari PT Danantara Asset Management (Persero) (DAM), Garuda Indonesia kembali diterpa angin segar soal Penandatanganan Indonesia–European Union Comprehensive Econom...

Ilustrasi Garuda Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi Garuda Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

Insight Navigator

  1. 01 Imbas Positif ke Garuda Indonesia (GIAA)
  2. 02 Kinerja di Semester I 2025

KABARBURSA.COM - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tengah diselimuti angin segar berkat kerja sama antar negara yang dilakukan Indonesia.

Setelah mendapat suntikan modal sebesar 6,65 triliun dari  PT Danantara Asset Management (Persero) (DAM), Garuda Indonesia kembali diterpa angin segar soal Penandatanganan Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU–CEPA) dan Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA–CEPA). Kolaborasi ini diklaim membuka peluang signifikan bagi berbagai sektor penting, salah satunya pariwisata.

Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah sekaligus Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan perjanjian strategis tersebut diyakini akan memberikan dorongan berantai bagi perekonomian nasional, dengan meningkatnya transaksi perdagangan barang dan jasa dan tumbuhnya peluang bisnis dan investasi.

Kemudahan akses pasar dan arus investasi yang lebih besar dari Eropa dan Kanada tersebut secara simultan juga akan meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara karena maraknya kunjungan bisnis dan perdagangan, sehingga diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata unggulan di kawasan.

“Kedua kesepakatan ini tidak hanya menjadi tonggak penting dalam memperkuat kerja sama ekonomi, tetapi juga akan membuka jalan yang semakin luas bagi pengembangan sektor pariwisata Indonesia," ujar dia dalam keterangannya, Sabtu, 4 Oktober 2025. 

Haryo menambahkan perjanjian itu  akan membawa dampak positif tidak hanya pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga  dorongan investasi dan peluang usaha baru.

Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal DPP Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Budi Ardiansjah menilai  berbagai kemudahan yang dihasilkan dari kesepakatan tersebut, termasuk pemberlakuan Visa Cascade oleh Uni Eropa yang memungkinkan pemegang Visa Schengen yang telah memperoleh izin sebelumnya untuk mendapatkan masa berlaku hingga lima tahun, akan memudahkan perjalanan wisata maupun bisnis ke Eropa.

Imbas Positif ke Garuda Indonesia (GIAA)

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan kombinasi stimulus fiskal dan pembukaan akses dagang global ini menjadi katalis yang berpotensi mendongkrak pendapatan Garuda Indonesia di semester II 2025.

"Normalisasi volume penerbangan dan penurunan tekanan biaya bahan bakar," ujar dia kepada Kabarbursa.com, dikutip, Kamis, 9 Oktober 2025.

Tak hanya itu, Liza menyebut Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar bulan ini dengan agenda perubahan pengurus juga menjadi sorotan investor.

Rumor masuknya petinggi Singapore Airlines (SIA)  ke posisi Direktur Keuangan Garuda, kata Liza,  dinilai positif karena membawa disiplin finansial dan tata kelola korporasi yang lebih kuat, dua hal yang masih menjadi tantangan utama pascarestrukturisasi utang.

"Jika benar terealisasi, langkah ini bisa menjadi 'confidence booster' bagi pasar karena menandakan keterbukaan Garuda terhadap praktik manajemen internasional yang lebih efisien dan transparan," ungkapnya.

Namun, lanjut Liza, dampak finansial jangka pendek tetap bergantung pada eksekusi program restrukturisasi, efisiensi operasional, serta realisasi sinergi dengan SIA Group yang kini juga menjadi mitra strategis lewat jaringan codeshare.

Dari segi saham, ia memandang prospek saham GIAA  berpotensi membaik secara bertahap di semester II 2025, ditopang oleh kombinasi stimulus pemerintah, potensi lonjakan penumpang asing dari pasar Eropa dan Kanada, serta reformasi manajemen keuangan.

Meski demikian, valuasi GIAA masih akan dibayangi faktor risiko seperti ekuitas negatif, utang yang besar, dan volatilitas biaya avtur.

"Dengan katalis reformasi manajemen dan stimulus eksternal yang kuat, pasar cenderung menilai arah perbaikan GIAA positif tetapi masih berhati-ati menunggu bukti peningkatan arus kas dan laba operasi kuartal berikutnya," pungkasnya.

Hal senada juga diungkapkan pengamat pasar modal, Wahyu Laksono. Ia mengatakan perjanjian kemitraan ekonomi (IEU-CEPA dan ICA-CEPA) yang membuka akses pasar ke Eropa dan Kanada adalah sentimen positifbagi Garuda Indonesia.
Ia menilai hal ini diharapkan bisa meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia.

"Sebagai maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia berpotensi besar untuk mendapatkan keuntungan dari lonjakan permintaan penerbangan internasional tersebut," katanya kepada Kabarbursa.com.

Wahyu mengungkap dengan meningkatnya jumlah wisatawan dan kunjungan bisnis, pendapatan Garuda dari penjualan tiket (baik domestik maupun internasional) akan bertambah. Ini bisa mengurangi defisit yang dialami perusahaan.

Ia menambahkan, dana segar memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan rute penerbangan, melakukan perawatan pesawat, dan meningkatkan layanan, yang semuanya berkontribusi pada efisiensi operasional.

Namun, perlu dicatat, bahwa dampak katalis positif ini kemungkinan tidak langsung terlihat secara dramatis. Selain itu, kata Wahyu, perbaikan ini juga akan tergantung pada beberapa faktor.

"Seperti seberapa cepat dan efektif implementasi perjanjian tersebut dalam meningkatkan pariwisata, kondisi ekonomi global, dan kemampuan Garuda sendiri dalam mengelola utang dan operasionalnya," tuturnya.

Berdasarkan grafik harga saham, Wahyu menyampaikan saham ini menunjukkan tren penurunan jangka panjang yang signifikan. Namun, ada potensi perubahan arah jika sentimen positif dapat diterjemahkan menjadi perbaikan fundamental.

Untuk outlook jangka menengah dalam rentang 6 bulan - 2 tahun, Wahyu menerangkan saham GIAA saat ini menunjukkan fase konsolidasi atau pergerakan sideways setelah mengalami penurunan tajam.

"Ini terlihat dari pergerakan harga yang cenderung mendatar pada rentang harga yang sempit, disertai dengan volume perdagangan yang bervariasi," jelasnya.

Fase ini, ujar dia, bisa menjadi indikasi bahwa tekanan jual mulai mereda dan investor mulai mengakumulasi saham di level harga rendah.

"Sentimen positif dari suntikan dana pemerintah dan potensi peningkatan pariwisata akan menjadi katalis utama untuk pergerakan harga ke depan," pungkasnya.

Kinerja di Semester I 2025

Sebelumnya diberitakan, Garuda Indonesia kembali mencatat kerugian besar pada semester I 2025. Dalam enam bulan pertama tahun ini, maskapai pelat merah ini menanggung rugi bersih USD143,71 juta, melonjak 41,36 persen dibanding periode sama tahun lalu. Akibatnya, defisit perseroan per 30 Juni 2025 membengkak hingga USD3,65 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2025 yang dirilis Rabu 24 September 2025, Garuda hanya mampu meraih pendapatan USD1,55 miliar. Angka ini turun dari capaian USD1,62 miliar pada paruh pertama 2024. Penurunan tersebut terjadi di tengah beban usaha yang berat, mencapai USD1,5 miliar, ditambah beban lain-lain sebesar USD205,77 juta. Kondisi itu membuat rugi sebelum pajak menggelembung menjadi USD162,29 juta, atau naik 43,67 persen secara tahunan.

Perseroan sempat terbantu manfaat pajak sebesar USD19,45 juta. Namun hal itu tidak cukup untuk menahan kerugian periode berjalan yang tetap melebar menjadi USD142,84 juta, naik dari USD100,35 juta pada semester I-2024. Rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan menyentuh USD143,71 juta, membengkak dari USD101,66 juta tahun lalu.

Akibat kerugian tersebut, saldo laba defisit Garuda membengkak ke USD3,65 miliar per Juni 2025, naik dari USD3,51 miliar di akhir 2024. Defisiensi modal pun makin dalam, menembus USD1,5 miliar pada pertengahan 2025 dibanding ekuitas negatif USD1,35 miliar per Desember tahun sebelumnya.

Di sisi kewajiban, total liabilitas Garuda tercatat USD8,01 miliar, sedikit lebih tinggi dibanding posisi Desember 2024 sebesar USD7,97 miliar. Lonjakan utang jangka pendek yang mencapai USD1,32 miliar menjadi salah satu pemicunya.

Sementara itu, total aset perseroan turun tipis 1,66 persen year-to-date menjadi USD6,51 miliar. Posisi kas dan setara kas juga terkikis, hanya menyisakan USD211,28 juta per akhir Juni 2025, turun 3,6 persen dari USD219,17 juta di penghujung 2024.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com