KABARBURSA.COM – Bank Indonesia (BI) resmi memangkas suku bunga acuan menjadi 5,00 persen pada Rapat Dewan Gubernur 20 Agustus 2025.
Level tersebut adalah yang terendah sejak siklus pengetatan moneter beberapa tahun lalu. Pemangkasan dilakukan secara bertahap, dari 5,75 persen ke 5,50 persen pada Mei, lalu ke 5,25 persen pada Juli, dan akhirnya ke 5,00 persen pada Agustus.
Dasar keputusan BI cukup jelas. Inflasi berada dalam sasaran 2,5±1 persen, nilai tukar rupiah stabil, sementara pertumbuhan ekonomi perlu didorong di tengah ketidakpastian global akibat meluasnya tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).
Inflasi Juli 2025 tercatat rendah, yakni 2,37 persen year on year (yoy) dengan inflasi inti 2,32 persen yoy. Dari sisi eksternal, cadangan devisa pada akhir Juli 2025 berada di USD152 miliar atau setara 6,3 bulan impor, memberi kepastian stabilitas rupiah.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 sebesar 5,12 persen yoy, lebih tinggi dibanding kuartal I yang tumbuh 4,87 persen. Semua indikator ini memberi landasan kuat bagi BI untuk mempercepat siklus pelonggaran moneter.
Penurunan suku bunga diharapkan memberi ruang pada perbankan untuk menyalurkan kredit lebih agresif, sekaligus menurunkan beban biaya dana.
Namun, data kredit Juli 2025 baru tumbuh 7,03 persen yoy, melambat dibanding Juni 2025 yang sebesar 7,77 persen yoy. Angka ini menunjukkan perbankan masih berhati-hati menyalurkan kredit meski bunga sudah turun.
Sebagai barometer Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), saham big banks, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), menjadi cerminan reaksi investor terhadap arah kebijakan moneter.
Menilik riwayat harga saham sepanjang fase suku bunga turun, terdapat pola menarik yang mengisyaratkan peluang sekaligus tantangan ke depan.
Fase BI Rate 5,75 persen: Titik Awal Pelonggaran
Awal 2025 ditandai dengan suku bunga di level 5,75 persen. Investor saat itu masih berhati-hati, meski BI mulai memberi sinyal pelonggaran. Tekanan eksternal dari kebijakan tarif AS membuat pasar global penuh ketidakpastian.
Dalam periode Januari–Mei 2025, saham big banks bergerak tanpa arah konsisten. BBCA mencatat harga tertinggi Rp9.925 dan terendah Rp7.275, dengan rata-rata Rp8.816.
Pelemahan mencapai sekitar 13 persen dari puncaknya. BBRI juga menunjukkan gejolak, dengan level tertinggi Rp5.700 dan terendah Rp4.260, menghasilkan selisih hampir Rp1.500.
Sementara itu, BMRI bergerak di kisaran Rp6.825–Rp5.000, turun sekitar 27 persen dari puncaknya. BBNI tidak kalah volatil, dengan rentang harga Rp5.800–Rp4.050.
Data ini mencerminkan bahwa sebelum BI benar-benar memangkas bunga, investor masih menahan diri, bahkan cenderung melepas saham big banks.
Volatilitas tertinggi saham big banks jelas tercatat pada periode awal 2025 saat BI Rate masih berada di level 5,75 persen. Investor waktu itu menghadapi ketidakpastian global akibat kebijakan tarif AS, sementara arah kebijakan BI baru sebatas sinyal tanpa pemangkasan nyata.
Data harga memperlihatkan gejolak yang tajam, misalnya BMRI turun hingga 27 persen dari puncaknya di Rp6.825 ke level terendah Rp5.000, sedangkan BBNI melemah hampir 30 persen dari Rp5.800 ke Rp4.050. BBRI pun tidak luput, terkoreksi sekitar 25 persen, dan BBCA sempat melemah 13 persen dari level tertinggi Rp9.925.
Fluktuasi besar ini mencerminkan fase penuh ketidakpastian, ketika ekspektasi investor belum sejalan dengan kebijakan moneter, sehingga big banks menjadi sasaran utama aksi jual.
Fase BI Rate 5,50 persen: Pasar Masih Ragu
Ketika BI memangkas suku bunga ke 5,50 persen pada Mei, pasar modal tidak serta merta menyambut dengan penguatan harga saham perbankan.
Sehari setelah RDG BI, saham jumbo justru tertekan. BBRI melemah 0,51 persen, BBCA minus 1,93 persen, BMRI turun 0,49 persen, dan BBNI minus 1,38 persen.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, saat itu menilai investor masih wait and see. “Secara teknikal, pergerakan big banks belum solid untuk mengonfirmasi tren naik. Pasar menunggu konsistensi kebijakan BI dan arah likuiditas global,” katanya dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat, 22 Agustus 2025.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa penurunan suku bunga belum dianggap cukup untuk mengubah ekspektasi investor.
Kredit perbankan saat itu memang masih tumbuh sekitar 7 persen yoy, namun belum menunjukkan akselerasi.
Perbankan memilih menahan ekspansi, sementara pelaku usaha cenderung mengandalkan pembiayaan internal.
Fase BI Rate 5,25 persen: Awal Rebound Saham Perbankan
Keputusan BI memangkas suku bunga lagi menjadi 5,25 persen pada Juli memberi sinyal lebih tegas.
Reuters melaporkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari siklus easing sejak September 2024, sejalan dengan ekspektasi pelonggaran global, termasuk potensi penurunan Fed Funds Rate di AS.
Respons di bursa mulai bervariasi. Data pada 16 Juli 2025 menunjukkan saham BBCA sempat menguat 0,29 persen sebelum berbalik turun tipis, sedangkan BMRI direkomendasikan buy oleh analis dengan target Rp6.300.
Herditya Wicaksana, menilai BMRI berpeluang memimpin rebound. “BMRI relatif lebih kuat secara teknikal dibanding big banks lain. Selama bertahan di atas Rp5.700, peluang menuju Rp6.300 cukup terbuka,” ujarnya, dikutip Jumat, 22 Agustus 2025.
Secara fundamental, posisi likuiditas perbankan memang memadai. Rasio kecukupan modal (CAR) ada di level 25,81 persen, sementara rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,08 persen.
Artinya, perbankan punya ruang untuk menyalurkan kredit bila permintaan membaik.
Fase BI Rate 5,00 persen: Momentum Berbalik
Akhirnya, pada 20 Agustus 2025, BI memangkas BI Rate ke 5,00 persen. Reuters menyebut langkah ini mengejutkan sebagian pelaku pasar, tetapi sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan yang diproyeksikan di atas 5,1 persen pada tahun ini.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma, menilai keputusan BI akan memberi katalis baru. “Penurunan suku bunga memberi sentimen positif jangka menengah. Likuiditas lebih longgar, cost of fund perbankan turun, dan permintaan kredit berpotensi pulih,” ujarnya, dalam keterangan tertulis.
Menariknya, net inflow asing mulai tercatat di pasar saham pada Agustus. Ini menandai titik balik penting, karena investor global melihat prospek lebih baik dari sektor keuangan domestik. Dengan imbal hasil SBN yang terus menurun, saham perbankan menjadi alternatif menarik.
Jika menilik data sepanjang Januari–Agustus 2025, saham big banks memang belum pulih ke puncak harga. Namun, tekanan mulai mereda.
Rata-rata harga BBCA di Rp8.816 dengan penurunan 13 persen dari puncak, BBRI turun 25 persen, BMRI 27 persen, dan BBNI 30 persen. Koreksi tajam ini justru bisa menjadi peluang akumulasi, apalagi likuiditas makin longgar dan kebijakan insentif makroprudensial diperkuat.
Prospek Saham Big Banks ke Depan
Ke depan, dengan suku bunga di level 5 persen, ruang pertumbuhan kredit akan lebih luas. BI memproyeksikan pertumbuhan kredit 2025 di kisaran 8–11 persen.
Meski permintaan dari pelaku usaha masih lemah, insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang mencapai Rp384 triliun akan mendorong sektor-sektor prioritas seperti pertanian, real estate, konstruksi, dan UMKM.
Bagi investor, ada beberapa hal penting untuk dicermati:
- BBCA tetap jadi pilihan defensif, dengan basis dana murah (CASA) yang kuat sehingga lebih tahan pada fluktuasi biaya dana.
- BBRI menarik lewat eksposur besar ke UMKM, yang akan diuntungkan bila permintaan domestik pulih.
- BMRI mendapat sentimen positif dari rekomendasi analis dan potensi rebound sektor korporasi.
- BBNI relatif lebih volatil, tetapi potensi valuasi undervalued bisa memberi ruang penguatan lebih besar bila kondisi makro membaik.
Dengan inflasi rendah, rupiah stabil, dan arah kebijakan global cenderung longgar, saham big banks punya peluang menjadi magnet masuknya dana asing di semester II 2025. (*)