Insight Daily 07 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

Fundamental Terjaga, Saham AMRT Masih Bergerak di Bawah Nilai Wajar

Pada aspek profitabilitas, kinerja AMRT tercermin dari return on assets (ROA) sebesar 7,66 persen secara trailing twelve months (TTM) dan return on equity (ROE) sebesar 17,74 persen (TTM)

KABARBURSA.COM - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) menunjukkan kondisi yang menarik. Kinerja fundamental emiten ritel ini relatif terjaga, namun di satu sisi, pergerakan sahamnya masih di bawah harga wajar.Mengutip data Stockbit, kondisi fundamental AMRT masih menunjukkan struktur keuangan yang relatif solid. Sejumlah indikator utama mulai dari solvabiki...

Salah satu gerai Alfamart. (Foto: Wikimedia Commons)
Salah satu gerai Alfamart. (Foto: Wikimedia Commons)

Insight Navigator

  1. 01 Pergerakan Harga Saham
  2. 02 Saham Terpantau Diserok Investor Asing

KABARBURSA.COM - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) menunjukkan kondisi yang menarik. Kinerja fundamental emiten ritel ini relatif terjaga, namun di satu sisi, pergerakan sahamnya masih di bawah harga wajar.

Berdasarkan perhitungan dari tim Kabarbursa.com, harga wajar saham AMRT adalah di kisaran Rp3.266, lebih tinggi dibanding harga saat ini di level Rp1.180.

Pada perdagangan terakhir pekan ini atau Jumat, 6 Februari 2026, saham AMRT ditutup menguat 2,26 persen atau 40 poin ke level Rp1.180.

Mengutip data Stockbit, kondisi fundamental AMRT masih menunjukkan struktur keuangan yang relatif solid. Sejumlah indikator utama mulai dari solvabikitas, profitabilitas, hingga kebijakan dividen, menggambarkan posisi bisnis AMRT stabil.

Dari sisi solvabilitas, AMRT mencatat current ratio sebesar 1,04 pada periode kuartalan. Rasio ini mengindikasikan bahwa aset lancar perusahaan masih cukup untuk menutup kewajiban jangka pendeknya.

Sementara itu, quick ratio berada di level 0,39,  mencerminkan karakteristik bisnis ritel modern yang sangat bergantung pada perputaran persediaan sebagai bagian utama dari aset lancar.

Di sisi lain, struktur permodalan AMRT terlihat konservatif dengan debt to equity ratio (DER) sebesar 0,11, menunjukkan tingkat leverage yang rendah dibandingkan ekuitas perusahaan.

Pada aspek profitabilitas, kinerja AMRT tercermin dari return on assets (ROA) sebesar 7,66 persen secara trailing twelve months (TTM) dan return on equity (ROE) sebesar 17,74 persen (TTM). Angka tersebut menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mengelola aset dan modal pemegang saham untuk menghasilkan laba.

Dari sisi margin, gross profit margin kuartalan tercatat 20,61 persen, menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga margin kotor di tengah persaingan dan tekanan biaya di sektor ritel.

Namun demikian, margin pada level operasional dan laba bersih masih relatif terbatas. Operating profit margin berada di level 1,93 persen, sementara net profit margin tercatat 1,41 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun skala usaha besar dan volume penjualan tinggi, efisiensi operasional tetap menjadi tantangan utama bagi bisnis ritel modern dengan model margin tipis.

Secara keseluruhan, data keuangan tersebut menggambarkan AMRT sebagai emiten ritel dengan fundamental yang relatif terjaga serta struktur permodalan yang sehat. Perbedaan antara kekuatan fundamental dan pergerakan harga saham di pasar menjadi salah satu aspek yang menarik untuk terus dicermati oleh pelaku pasar dalam menilai valuasi dan prospek saham AMRT ke depan.

Merujuk laporan keuangan perusahaan hingga 30 September 2025, AMRT membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp94,47 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp88,22 triliun.

Seiring dengan kenaikan penjualan, beban pokok penjualan juga meningkat menjadi Rp74,17 triliun dari Rp69,35 triliun pada sembilan bulan 2024. Dengan demikian, laba bruto AMRT tercatat sebesar Rp20,30 triliun, naik dari Rp18,87 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, tekanan mulai terlihat pada sisi beban operasional. Beban penjualan tercatat sebesar Rp16,56 triliun, naik dari Rp15,04 triliun pada periode sebelumnya. Sementara itu, beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp1,7 triliun dari Rp1,57 triliun. Kenaikan beban ini membuat ruang laba operasional menjadi lebih terbatas, meskipun pendapatan keuangan tercatat naik menjadi Rp117,08 miliar.

Secara keseluruhan, laba sebelum pajak AMRT tercatat sebesar Rp2,98 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,11 triliun. Setelah memperhitungkan beban pajak, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk tercatat sebesar Rp2,31 triliun, turun tipis dari Rp2,40 triliun pada sembilan bulan 2024.

Dari sisi posisi keuangan, total aset AMRT per 30 September 2025 mencapai Rp40,02 triliun, meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp38,80 triliun. Aset lancar tercatat relatif stabil di kisaran Rp20,31 triliun, dengan komponen persediaan mencapai Rp12,69 triliun, mencerminkan karakter bisnis ritel yang padat stok. Sementara itu, aset tidak lancar meningkat menjadi Rp19,71 triliun.

Kinerja arus kas operasional AMRT masih menunjukkan posisi positif. Hingga akhir September 2025, kas bersih dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp4,88 triliun, meskipun menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,69 triliun.

Pergerakan Harga Saham

Dalam periode mingguan, saham AMRT mengalami kenaikan sebesar 3,72 persen. Meski demikian, penguatan jangka pendek tersebut belum cukup untuk menutupi tekanan yang terjadi dalam periode yang lebih panjang.

Jika ditarik ke horizon satu bulan, saham AMRT masih mencatatkan penurunan sebesar 9,27 persen. Dalam tiga bulan terakhir, koreksi tercatat sebesar 4,74 persen, sementara dalam enam bulan saham ini melemah hingga 21,98 persen.

Tekanan paling dalam terlihat pada periode satu tahun, di mana harga saham AMRT telah terkoreksi 38,85 persen. Secara year to date (YTD), saham ini juga masih berada di zona merah dengan penurunan 8,35 persen.

Data historis menunjukkan bahwa posisi harga AMRT saat ini masih cukup jauh dari level puncaknya. Dalam satu tahun terakhir, saham ini sempat berada di area Rp3.080, sementara dalam rentang tiga hingga lima tahun, level tertinggi historis tercatat di kisaran Rp3.650.

Di tengah tekanan harga tersebut, pandangan analis relatif solid. Dari total 30 analis yang memberikan penilaian terhadap saham AMRT, sebanyak 29 analis merekomendasikan beli  dan tidak terdapat rekomendasi jual.

Adapun target harga rata-rata analis untuk saham AMRT berada di level Rp2.563 per saham. Angka ini menunjukkan potensi selisih yang cukup lebar dibandingkan harga pasar saat ini yang berada di kisaran Rp1.810.

Sementara itu, estimasi target tertinggi analis berada di level Rp3.100, dan estimasi terendah di Rp2.200 per saham.  Dengan kondisi tersebut, pergerakan saham AMRT saat ini memperlihatkan jarak yang cukup signifikan antara performa harga di pasar dan ekspektasi analis.

Di satu sisi, tekanan harga historis masih membayangi, sementara di sisi lain, konsensus analis tetap menilai saham ini memiliki ruang pemulihan yang layak dicermati pelaku pasar.

Saham Terpantau Diserok Investor Asing

Pada perdagangan pekan lalu periode 2-6 Februari 2026, saham AMRT  terpantau mulai diakumulasi investor asing melalui beberapa broker.

Dari sisi pembelian, broker ZP tercatat sebagai pembeli terbesar dengan nilai transaksi mencapai Rp39,4 miliar atau setara 226 ribu lot, dengan harga rata-rata beli di 1.752. Angka ini menempatkan ZP sebagai penggerak utama sisi demand selama periode tersebut. 

Di bawah ZP, broker OD juga mencatatkan nilai beli yang cukup signifikan, yakni Rp23,1 miliar dengan volume 128,4 ribu lot di harga rata-rata 1.796.

Sementara itu, RX membukukan pembelian senilai Rp16 miliar dengan harga rata-rata 1.752, relatif sejalan dengan rata-rata harga ZP. Broker lain seperti IF dan AK masing-masing mencatat nilai beli Rp11,4 miliar dan Rp7,7 miliar, dengan harga rata-rata di kisaran 1.742–1.767.

Dari sisi penjualan, tekanan suplai terbesar datang dari broker CC dengan nilai jual mencapai Rp28,1 miliar atau sekitar 161,5 ribu lot.

Setelah CC, broker KZ dan BK masing-masing mencatatkan nilai jual Rp20,7 miliar dan Rp13,9 miliar, dengan volume yang juga cukup besar.
Menariknya, sejumlah broker lain seperti PD, YP, DR, dan MI turut mencatatkan nilai jual di kisaran Rp6–9 miliar. 
 

Secara keseluruhan, dinamika broker pada periode ini memperlihatkan interaksi aktif antara akumulasi dan distribusi di level harga yang relatif sempit. Aktivitas tersebut mencerminkan fase pasar yang masih fokus pada penyesuaian posisi, dengan harga bergerak mengikuti keseimbangan antara permintaan dan penawaran yang terbentuk di orderbook.

Bagi pelaku pasar, data ini membuka ruang untuk mencermati lebih lanjut bagaimana perubahan distribusi broker ke depan dapat memengaruhi struktur pergerakan harga AMRT dalam jangka pendek maupun menengah. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya